
"Lek, Pak, Mas Bro... Tau nggak. Hari ini, orang kota itu mulai beraksi. Tahu nggak kalian?? Mereka sedang nguras laut. Herman Aku" Ucap pria jangkung yang baru masuk kewarung makan Mbak Ikus
"HERAAAANNNNN...." Saut seisi warung yang sedang bersarapan sambil bergunjing
Kemudian mereka mulai bergunjing lagi
"Hah?? Benarkah?? Lautan dikuras??" Saut seorang Simbah yang sedang menyeruput kopi panasnya dari cangkir
"Inggih Mbah" Jawab pria itu yang bernama Warnad
"Kamu lihat sendiri War"
"Inggih Mbah. Tadi malam, Aku sama teman-teman mancing kepiting disungai sembilang itu yang dekat laut. Penasaran Aku Mbah, tak intip Mbah. Mosok, diesel penyedot air itu berderet dempet-dempet dipinggir laut. Puluhan Mbah jumlahnya diesel itu. Eh, nggak nding. Ratusan kalau nggak salah. Wong satu desa ini kok yang mereka sewa. Padahal kan panjang lautan desa Kita Mbah. Aslinya pingin sekali Aku ngakak Mbah. Segoro kok dikuras. Kalau bukan orang stres, opo namae Mbah"
"Ya bener. Pemuda kota itu sudah gila. Masa air laut mau dikuras. Buang-buang uang. Buang-buang waktu"
"Mungkin Pemuda itu terobsesi ingin menikahi Roro Jonggrang. Makanya, lautan yang sudah menelan banyak perkebunan itu mau Ia kuras. Benar-benar stress Dia" Saut Bapak lain yang masih sibuk sarapan dengan lauk pare "Kus, isi parenya kok nggak dibuang to Kus. Dari tadi Aku nggigitin isinya terus. Tas tus, tas tus" Protesnya pada Yu Sikus
"Tapi rasane masih pahit to, Pak?" Gurau Warnad
"Hiyo. Kayak uripku iki, War. Pahit"
"Lah, apa njenengan nggak dapat duit sewah tanah to, Pak??"
"Dapat, War. Tapi tanahku semuanya, sudah milik anak-anakku"
"Oh, jadi yang dapat bayaran mereka to, Pak?"
"Hiyolah. Kan sudah Ku hibahkan sama anak-anak semua"
"Eh..??"
"Harusnya Sampean dapet dong Pak Daryo.. Walaupun itu sudah diberikan pada anak. Anake Sampean seharusnya ngasih. Mosok kejem" Saut Simbah yang sedang menyesap kopi tadi
Itulah topik gunjingan mereka hari ini. Sarapan habisnya 10.000, ngobrolnya lupa daratan
-
Pagi itu, puluhan pegawai Juragan telah mengaktifkan ratusan diesel untuk menguras lautan
Kedua selang sudah tertata rapih dan kuat. Dari arah laut, selang itu sudah mulai menyedot air dan pasir. Sedang selang satunya mengarah ke perkebunan yang lebih rendah untuk menampung air dari kejauhan lautan
Sekilas, memang geli melihat aksi ini. Banjir terlihat dimana-mana. Persawahan, perkebunan, yang Juragan sewah, semuanya menjadi lautan air
__ADS_1
"Gila, gila. Pemuda kota ingin membanjiri wilayah Kita" Ucap warga yang berkeinginan mengusir sang Juragan
"Betul. Lihat saja. Jika air laut itu merembes kerumah Kita, sudah Kupastikan. Aku sendiri yang akan mengusir Pemuda itu" Saut warga kaya yang tidak punya tanah, tapi rumah dan mobilnya banyak
"Betul Bos. Usir saja Pemuda itu"
Ya, dikampung melati ini, beratus hektar perkebunan bunga melati hampir saja punah. Warga yang masih memiliki kebun disamping rumahnya, yang tidak terjamah Juragan, terpaksa mereka sulap menjadi kebun bunga melati tersebut disisi rumah, asal mereka berpenghasilan.
Semua warga memutar otak agar bisa hidup dikrisis ekonomi yang makin keras ini
Kalau seorang pegawai, mungkin lumayan karena gajian. Beda sekali dengan seorang petani. Jika uang kurang, terpaksa mereka ngutang kesana kemari. Apalagi harga pupuk kian merangkak
Apa yang mereka bisa. Mereka, hanya bisa seperti ini. Bertani
Mau bagaimana lagi, karena mata pencaharian mereka hanya bertani
-
Disisi lain, tanah khusus perkebunan luas yang berada diutara pemukiman, semuanya hampir tenggelam
Sebenarnya tanah perkebunan itu masih terlihat tata letaknya. Namun, seiring terkena roob secara tiba-tiba dan dipastikan setiap sore hari itu menerjang, akhirnya tanah tersebut menjadi lembab dan asin. Akhirnya, apapun yang ditanam petani, semuanya mati
Perkebunan yang sangat luas dan pernah jaya, kini menjadi hening, tanpa aktifitas lagi. Terkecuali para warga yang pandai memancing kepiting dimalam hari. Itupun sudah nyawa taruhannya. Ular buas, air laut yang tiba-tiba pasang disetiap malamnya. Benar-benar mencekam dan uji nyali
"Ah, yang penting Kita sudah dibayar sewanya. Yuk ah, jangan urusin si kaya"
"Iya. Hayuk pergi. Biarin Dia mendidih. Rambutnya sampai kebakar juga bodoh amat"
-
Sehari dua hari, mungkin belum terlihat hasilnya. Tapi Juragan Krisna yakin. Suatu hari nanti, kampung ini akan kembali jaya
Hari demi hari, sawah, ladang yang tadinya terendam air laut, kini mulai terlihat dasarnya yaitu tanah yang telah berlumut kehitam-hitaman
Dan disisi lain, pasir halus yang terbawa air lewat selang diesel sudah menggunung dimana-mana
Desa lain yang melihat dampaknya, sudah menggeleng-geleng takjub" Sawahku kering Lek" Teriaknya gembira
"Wah, bagus dong. Musim hujan nanti bisa ditanam padi"
"Mudah-mudahan Lek. Siapapun Pemuda itu, semoga selalu dilindungi. Disehatkan, dan dikayakan"
"Aamiin.. "
__ADS_1
"Aku acungin jempol Lek"
"Iya, semoga mereka berhasil"
Tanah tetangga desa ini memang tidak disewa oleh Juragan. Prioritas Juragan Krisna, hanya kampung mamanya dan istri kecilnya yang dulu pernah Ia nikahi
"Ah, ada-ada saja" Krisna geleng-geleng mengingat dulu Dia pernah menikah diusia muda "Mana bisa Aku ingat wajah bocah itu"
Dulu, Krisna pernah datang kekampung ini. Tentu, dengan kedua orang tuanya
Orang tuanya bilang, Krisna dan gadis itu sudah dijodohkan waktu gadis itu lahir. Gadis berumur seminggu sudah dilamar oleh pewaris konglomerat itu yang setelahnya hidup di Ibukota
Setelah gadis itu berumur 10 tahun, kedua orang tua Krisna mengajak Krisna kekampung lagi, untuk menikahi gadis kecil yang pernah mereka lamarkan untuk putranya sewaktu sigadis itu masih bayi
Aneh memang kedua orang tua mereka. Bisa-bisanya hanya karena orang tua mereka bersahabat, anaknya yang jadi korban
Waktu itu, Krisna masih berusia 17 tahun. Masih duduk dibangku SMA, ingusan pula. Tau-taunya disuruh menghafal "Qobiltu"
Oh Tuhan....
Jangankan mahar. Uang saku saja masih mengemis sama orang tuanya. Krisna geleng-geleng lagi
Namun apalah daya, orang tuanya yang meminta
Kini, Krisna hanya bisa mengingat lewat foto yang terbingkai dikalung yang selama ini Ia simpan dikotak kecil
"Naraya Maheswari" Jemari tangan Krisna mengusap-usap foto jadul yang tersimpan dengan rapih
Iya. Nama gadis imut itu adalah Naraya Maheswari, usianya 10 tahun. Imut sekali bukan??
Krisna tersenyum "Masa iya. Dulu, Aku pernah mengucapkan ijab kabul ?? Lucu. Seperti permainan anak kecil"
Kemudian, Krisna kembali mengingat dirinya yang pernah disituasi yang menegangkan penuh adrenaline, yaitu deg-degan didepan Pak Kyai dan seluruh keluarganya
"Saya terima nikahnya, Naraya Maheswari binti Ali Dawam, dengan mas kawin tersebut dibayar Tuu.... Nai"
"Sah"
"Sah"
"Sah"
Hari itu pula, Krisna mengalungkan sebuah kalung emas, Persis yang Ia pegang sekarang dileher istri yang dulu sempat Ia nikahi
__ADS_1
"Haha.. Ternyata Aku Diam-diam sudah beristri ya..."
BERSAMBUNG......