
Mereka bertiga sudah sampai di Jakarta
"Aduh, cucu Oma dateng. Sini sayang, ikut Oma" Bu Fitri langsung menyambutnya
Juna malu-malu dan masih digendongan Dewa, Bapaknya
"Sayang, ini Oma. Masa sama Om Rosid saja susah dipisahkan. Giliran sama Omanya nggak mau" Bu Fitri terus merayunya
"Papa dimana, Ma?" Tanya Dewa sambil menurunkan Juna dari gendongannya
Juna sudah berpelukan sama Bu Fitri "Papa didalam sama tamu" Jawabnya pada Dewa "Ini rumah Oma. Seneng nggak ke Jakarta, hmm?" Tanya Bu Fitri sama Juna, seraya membungkuk agar tingginya sama dengan cucunya
"Juna pusing, Oma"
"Loh, kenapa pusing. Ayo masuk. Kamu masuk angin pasti" Bu Fitri merangkul Naraya dan juga Juna. Tetapi Juna malah bersembunyi dibalik rok ibunya
"Sepertinya iya Ma, soalnya tadi muntah. Tumben Juna mabuk kendaraan" Jawab Dewa sambil menyeret kopernya masuk kedalam rumah
Rumah ini terlihat ramai
"Ma, kok ramai banget. Ada apaan Ma?" Tanya Naraya sambil menggandeng Juna. Karena Juna belum mau ikut neneknya
"Kok ada apaan, gimana sih" Jawab Bu Fitri pura-pura kesal
"Nara.. " Pak Raden muncul dari ruang tengah
"Bapak.." Naraya sontak terlonjak "Bapak kapan kesini?" Naraya mencium punggung tangan Pak Raden "Salim sama Akung, Sayang"
Juna mendekat dan sudah di ciumi oleh Akungnya "Beberapa jam yang lalu" Jawab Pak Raden
"Kok Bapak nggak ngomong, kalau mau kesini"
"Untuk apa ngomong. Kelamaan" Saut Bu Winda tiba-tiba
"Ibu.. Ibu juga dateng? Ada apaan sih ini" Terlihat Naraya kebingungan
"Kau ini gimana sih. Mau menikah kok nggak pamitan sama Ibu dan Bapak. Orang tuamu kan masih hidup" Sergah Bu Winda
"Ibu... Nara jadi bingung. Ini ulah Mas Dewa ya? Iya Mas? Jawab Mas" Naraya sudah memukul lengan Dewa meminta jawaban
Dewa hanya tersenyum
"Udah jangan berantem. Didepan anak kok malah berantem gitu" Saut Bu Winda menengahi
"Lagian, ini kerjaan Mas Dewa, Bu. Dia bilang ingin ngajak ke Jakarta, gitu doang. Nggak ngomong apa-apa"
"Ya sudah-sudah. Sekarang istirahat"
Dewa dan Naraya berjalan bersama menuju kamar Dewa
"Eh, eh. Kalian belum sah. Sebaiknya Nara tidur dengan Juna dikamar bawah. Dan Dewa, biar tidur sendiri dulu dikamarnya. Jangan ditemenin, udah gede"
-
Pagi harinya
Penghulu dan seperangkatnya sudah datang kerumah ini
Naraya dan Dewa sudah dimake over oleh MUA yang disewa oleh Bu Fitri
"Mudah-mudahan, pernikahan ini sampai ke Jannanya Allah ya, Nak. Jangan ada perpisahan. Kalian harus bersatu kembali, dan saling ikhlas" Ucap Bu Fitri yang sudah menggandengi keduanya untuk duduk kehadapan Pak penghulu
Nara dan Dewa sudah duduk bersebelahan. Sedangkan putranya duduk bersama kedua nenek dan kakeknya
"Ehem" Pak penghulu berdehem "Krishna Dewa Yudhayana"
"Iya Pak" Jawab Dewa
Pak penghulu membaca status sebelumnya "Duda" Kacamatanya diplorotkan "Anak satu?" Tunjuknya pada anak kecil yang diapit oleh nenek dan kakeknya
"Iya, Pak. Itu anak Kami berdua" Jawab Dewa lagi
__ADS_1
"Maksudnya kalian rujuk atau.." Pak penggantung pertanyaannya
"Iya Pak. Bisa dibilang begitu"
"Ya sudah. Apapun masa lalu Kalian, Kita jadikan pelajaran berharga. Kita songsong masa depan yang akan Kita jalani, sebaik-baiknya"
"Iya pak"
"Semoga dipernikahan mereka yang ketiga.."
Belum ucapannya Bu Fitri selesai, seseorang sudah memotongnya
"Apa Bu??" Semua orang kaget kecuali keluarga
"Iya pak. Mereka sudah menikah dua kali. Dan ini yang ketiganya" Jelas Bu Fitri pada akhirnya
"Kok bisa"
"Ceritanya panjang, Pak. Karena Mereka menikah itu dari bayi. Jadi putus nyambung gitu deh"
"Oh, ya sudah. Semoga pernikahan ini yang terakhir ya, Aamiin"
"Aamiin...!!!"
Dan pada akhirnya mereka sah kembali menjadi pasangan suami istri
-
Sorot sinar matahari tembus ke dalam kamar, terlihat bahwa kedua pasangan yang tengah tidur tanpa jarak ini terlelap diatas satu kasur kembali
Dewa dan Naraya terlihat lelah dan kusut, setelah permainan mereka berdua semalaman suntuk cukup membuat mereka kelelahan
Dewa menatap Naraya yang tertidur pulas, kemudian memeluknya erat dari belakang
Sepertinya Dewa begitu tentram mengarungi bahtera rumah tangga lagi bersama Naraya
Naraya menggeliat dan berbelok berhadapan dengan Dewa
Naraya terbangun "Good morning Mas dewa"
Mereka saling bertatapan
Senyum Naraya memabukkan hati Dewa. Dewa kembali mencumbunya
Tiba-tiba
"Papaaaa.... Mamaaaaa..."
Dor gedor gedor
Suara gedoran pintu sudah mengganggu konsentrasi Dewa
Naraya langsung menatap Dewa "Mas!! Pintu Kita"
Dewa tepuk jidat "Waduh... Pengantin baru, uda ada yang gangguin"
"Itu anak Kita Mas"
"Mama!! Papa!!"
"Mas!! Buruan, bajunya pakai"
Dewa segera memakai baju sedangkan Naraya berlari kekamar mandi
Dewa membukakan pintu
"Papa..." Juna mengangkat tangannya sambil menangis
"Tuh, bangun tidur nyariin Kamu. Dari tadi anaknya mau pingsan, Bapaknya kelonan aja"
Dewa mengangkat Juna kegendongan "Namanya juga pengantin baru Ma"
__ADS_1
"Pengantin baru sih pengantin baru. Tapi ingat, Kamu sudah punya buntut" Cerca Bu Fitri seraya berbelok meninggalkan kamar Dewa
Dewa menelan ludah 'Ya juga sih'
"Mama mana, Pa?"
"Mama sedang mandi"
"Kok mandinya siang banget. Rambut Juna sudah kering" Ucap Juna sambil memegang rambutnya
Dewa menatap pengukur waktu yang tertempel didinding 'Busyet.. Jam sembilan. Pantesan si bocil sudah bangun'
"Sayang, Juna sudah makan belum?"
"Udah Pa, sambil nangis tapi"
"Waduh. Kenapa sambil nangis?"
"Papa, ditungguin lama. Juna nggak ada teman. Papa sih, kenapa si Rohid sama si Karan nggak di ajak. Kalau diajak kan seru"
"Huh, Kamu satu aja ganggu. Apalagi se er-te. Rusak acara Papa"
"Papa punya acara? Kok Juna nggak di ajak"
Dewa tepuk jidat "Mana bisa ikut. Ini urusan orang dewasa. Anak kecil nggak boleh tau"
-
Siang harinya
"Nara, Kamu kenapa? " Tanya Dewa saat mengekori Naraya berjalan sambil kesakitan
"Perutku sakit, Mas. Sepertinya Aku kedatangan tamu"
"Walah, baru sekali pakai kok udah bocor"
"Mas, ih"
Dewa terus mengikuti "Terus"
"Terus apaan"
"Pembalutlah, punya apa nggak?"
"Ada Mas. Aku sudah persiapkan"
"Memang jadwalnya atau bagaimana?"
"Iya ih, cerewet banget"
Dewa terduduk, kemudian merebahkan tubuhnya dengan kaki yang masih menjuntai kelantai
"Sudah puas kan semalam? Sudah puas bisa dapatin mahkotaku lagi" Ucap Naraya sambil mencibir
"Tapi Aku kecewa Ra, cuma sekali doang udah libur. Padahal udah lama puasa" Dewa melirik Naraya
"Ya sudah, bangun yuk. Aku ingin belanja. Sambil jalan-jalan"
Dewa langsung bangkit dari tempat tidur, sementara Naraya bebenah
"Nara... " Dewa kembali memeluk tubuh Naraya dari belakang
"Sudah Mas jangan peluk-peluk. Ntar Juna datang"
"Biarin, Aku ingin seperti ini. Sebentar saja"
Tak lama setelah itu terdengar Juna menangis, tangisan tersedu-sedu yang membuat Dewa dan Naraya berlari ke arah pintu
"Ada apa sayang?"
BERSAMBUNG
__ADS_1