
Hari ini, Bu Fitri diperbolehkan pulang. Dan hari ini pula, Nara mulai bekerja dihari pertamanya
Nara ditempatkan dibagian administrasi, bagian awal ketika calon pasien datang ke UGD
Hari pertama Nara belum memiliki teman. Dan saat jam istirahat tiba, salah satu teman se divisinya memberikan nasi kotak pada Naraya "Nara, ini nasi untukmu"
Nara menerimanya bingung "Maksudnya ini??"
"Jatah untukmu, hari ini" Kata Ruth pada akhirnya
"Oh. Makasih, ya Mbak"
"Kita makan dipantry saja yuk" Ajak Riska teman satu kubikel yang berada didepan tadi
Diruangan ini, sekarang jadi ada tiga orang yang jaga. Yaitu Ruth, Riska, dan Naraya
Ruth yang tempatnya sekarang tergeser oleh Naraya, sekarang tugasnya hanya membantu keduanya, jika pekerjaan mereka keteter
Disamping membantu, Ruth juga mendampingi Naraya yang notabene adalah anak baru yang masih butuh bimbingan
-
Ditempat lain
Ghani berdiri didepan jendela, dengan kedua tangannya yang berada didalam saku
Tiba-tiba salah satu pegawai HRD mengetuk pintu
"Masuk"
Tyas masuk
"Gimana Tyas, apakah Naraya bisa bekerja menyesuaikan teman-temannya?"
"Ruth bilang lumayan, Pak. Anaknya cekatan, dan cepat beradaptasi"
Ghani manggut-manggut "Bimbing Dia sampai bisa. Saya tidak mau ada karyawan yang membuatnya tidak betah"
Tyas senyam-senyum "Cie.., Apakah Dia itu pacarnya Bapak ?" Candanya saat mendengar karyawan baru tadi dianak emaskan
"Maumu?"
Tyas mengacungkan kedua ibu jari nya "Incaran Pak Ghani cantik. Lebih cantik yang ini, daripada yang sudah terlepas" Ucap Tyas jujur
"Kau berani mengungkit masa laluku? Apa Kau ingin Saya pecat sekarang, hmm?"
"Jangan dong Pak. Kedua anak-anakku gimana kalau Bapak main pecat aja"
Ghani tersenyum, kemudian menggeser tumpukan makanan kearah Tyas "Bagi sana. Makasih ya, sudah bantu"
"Pak Ghani.. "
"Sudah sana" Usirnya
"Makasih banyak ya, Pak?"
Ghani mengangguk, Tyas pun segera berbelok
"Eh Tyas, tunggu"
"Iya, Pak"
"Ini ada sedikit uang untuk Anakmu. Jangan Kau makan, awas. Itu milik Anakmu"
"Siap, pak. Sekali lagi makasih banyak"
Ghani mengangguk
-
Hari demi hari, kaki Dewa sudah pulih. Ia sudah berjalan, meskipun jalannya dibantu dengan tongkat buatan Palawi. Ya, gadis itu bernama Palawi
__ADS_1
Tetapi untuk kembali kekota, Dewapun butuh uang untuk membawanya pergi kesana
Sore ini, Palawi sedang sibuk menggiring biri-birinya sambil bersenandung
Meloncat kesana kemari, karena biri-birinya ingin berpencar. Mungkin masih berantem, jadi biri-birinya susah diatur
"Palawi...!! Aku berhasil menangkapnya!!" Teriak Dewa dengan memeluk biri-biri nya yang berbadan gempal
Palawi tersenyum "Iya. Jangan sampai terlepas. Aku akan kesitu.. "
Sore itu, biri-biri yang terlihat montok, sudah dipisahkan, untuk dijual besok di pasar
Hari rabu adalah hari pasar hewan
Berbagai jenis hewan apapun, besok disana akan dijajakan. Termasuk hewan peliharaan milik Palawi
-
Pagipun tiba
Palawi sudah menyewa mobil bak untuk mengangkut hewan-hewannya
Dewa yang sudah sehat, Iyapun ikut serta
Dipasar tradisional, sudah berkumpul berbagai macam jenis hewan yang sudah dipertontonkan untuk dijual
Dari jenis unggas-unggasan hingga hewan sapi yang besar, semuanya dijajakan
Dewa yang baru pertama kali ikut, perutnya terasa teraduk-aduk dan rasanya eneg ingin muntah
Bau air kencing hewan yang bercampur bawur dengan kotoran hewan, membuat perut Dewa menolak untuk diam
Dewa muntah-muntah
"Huekk"
"Mas Dewa. Kau baik-baik saja?"
"Entahlah" Dewa sudah berpegangan kepala "Kapalaku rasanya mau meledak, Palawi"
Dewa mengangguk
Setelah sampai dipenjual ikan hias, Palawi membantu Dewa untuk duduk disana
"Tunggu disini ya Mas, sebentar" Palawi langsung kabur
"Palawi..!!" Teriak Dewa
"Sebentar"
Setelah beberapa menit, Palawi datang sudah dengan membawa makanan dan minuman yang hangat "Sekarang Mas Dewa istirahat disini ya, itu kambingku sudah ada yang pegang-pegang" Tunjuk Palawi pada biri-birinya yang sudah dikerumuni para calon pembeli "Bantu doa ya, Mas"
Dewa mengangguk
-
Dari kejauhan, Dewa melihat Palawi begitu tangguh menyeret-nyeret biri-birinya yang telah dilamar oleh sang pembeli. Begitu bayaran usai, Palawi ikut mengangkat biri-birinya keatas mobil pembeli
Setelah terlihat sang pembeli pergi, Palawi berlari menuju kearah Dewa "Mas Dewa, Mas Dewa ingin beli apa? Celana? Kaus?" Tawarnya sambil menunjuk stand-stand yang menjajakan kaus-kaus impor lolosan dari supermarket yang sudah tertinggal jaman namun masih layak "Kalau mau, ayo kesana"
Dewa tidak bisa menolaknya, apalagi Dewa memang tidak punya kaus. Hari-harinya hanya memakai baju bekas milik almarhum Bapaknya Palawi. Itupun sudah lusuh
Palawi memilihkan kaus untuk Dewa "Yang ini ya, Mas?" Palawi mengangkat kaus berwarna hitam yang cocok untuk Dewa
"Tapi Aku merepotkanmu, Palawi. Nanti uangmu habis"
"Uangku masih banyak. Tadi Aku kan habis bayaran. Ini, seratus ribu dapat 3 buah. Mas Dewa bisa ambil 3"
Tiba-tiba
"Palawi...!! Embeknya nooo"
__ADS_1
Palawi langsung berlari. Begitu ingatannya pulih, Palawi berlari lagi kearah Dewa "Mas Dewa pilih-pilih dulu ya, Aku akan kesana. Doain ya Mas, biar sukses"
Dewa tersenyum "Iya, pergilah"
-
Sementara dirumah sakit
Seperti biasa, Nara tidak bisa makan dengan baik. Ghani baru tahu jika Nara mengalami hal seburuk itu tentang makanan
Seperti siang ini, Nara makan siang sambil meneteskan air mata. Makan nasi tidak pernah dikunyah. Lauknya utuh, nasipun masih banyak
Teman-temannya bingung, akhirnya terpaksa memberi tau pada Ghani
Ghani datang, dan duduk disamping Nara "Naraya, kenapa nasinya masih banyak"
Nara langsung mengusap air matanya
"Ayo makan, Aku suapi, ya"
Nara langsung mendongak menatap Ghani
Nasi sudah diudara "Ayo. Kita makan bersama, ya?"
Nara masih menatapnya bingung
Ghani tersenyum "Aku bekerja disini. Tidak usah takut. Makanlah. Ayo" Bujuknya
Lagi-lagi, Naraya terdiam sambil terus berderai
"Baiklah, karena Aku lapar, Akupun ingin makan" Dewa terpaksa makan lagi untuk memancing Naraya, agar ikut makan
"Aku lapar" Ucap Naraya pada akhirnya
YES, pancingannya berhasil
Ghani menyuapi Naraya
Pelan tapi pasti, akhirnya makanan itu habis tak tersisa. Naraya kenyang, Ghanipun kenyang sekali
-
Hari demi hari, Naraya dan Ghani sudah terlihat akrab
Hingga akhirnya, diakhir pekan, Ghani datang bertamu
"Nara.." Ghani mengungkapkan, bahwa Ghani mencintainya
Nara langsung menolak "Tidak. Aku ini seorang janda. Tidak pantas wanita janda sepertiku mendapatkan bujangan sepertimu. Aku tidak mau"
"Tapi Aku tulus mencintai mu, Naraya"
Nara terdiam
"Apa kau ragu dengan ketulusanku, Naraya ?"
Nara masih diam
"Baiklah, mungkin suatu saat, Kau akan menerimaku"
Setelah itu, Ghani berpamitan. Ia masuk untuk berpamitan pada Ibu Fitri
"Loh, Nak Ghani kok cepetan?"
"Iya, Bu. Tapi ada satu masalah yang masih mengganjal dihatiku"
"Apa itu Nak Ghani "
"Saya ingin menikahi Naraya" Ucapnya lugas
Nara dan Bu Fitri kaget
__ADS_1
"Maksudnya??!!!"
BERSAMBUNG.....