Suamiku Ternyata Seorang Juragan

Suamiku Ternyata Seorang Juragan
Galau


__ADS_3

Dewa melangkah masuk ke bale-bale dan diikuti oleh kedua orang tuanya dan juga Rosid


Dewa telah duduk


"Juragan, sekalian sarapan, Juragan?" Tawar Rosid


Ibu Fitri berjalan, lalu ikut duduk disamping Putranya "Loh, loh, loh. Jam segini kok belum sarapan ? Pantesan rambutmu gondrong. ncrengungus. Gimana to Lee... Lee" Ibu Fitri menjambak rambut Putranya yang sudah terlihat gondrong


"Mah Mah, malu Ma" Tangan Dewa mempertahankan asetnya


Tangan Bu Fitri terlepas "Biarin, Mama gemes sama Kamu. Rambut gondrong. Kulit hitam. Mama jadi gemes banget ingin gundulin Kamu" Ucapnya diakhiri dengan mencubit pipi Dewa


"Gemes sih gemes, tapi tidak menyakiti kali Ma. Terus, gimana kaitannya gondrong sama belum sarapan"


Ibu Fitri menggulung lengan bajunya, yang menampakkan gelang kerincing besar dan cincin permata yang mewah pula


Beliau berdiri, bahkan tidak menjawab pertanyaan Putranya "Mana dapurnya. Mama ingin memasak"


"Lah, lah Ma. Yang Masak sudah ada, Ma. Cuma, Dewa saja yang belum ingin sarapan"


"Nggak bisa. Kamu itu kurus, ceking, item, hidup, lagi"


Rosid dan Pak Yudha cengar cengir melihat aksi Ibu dan Anak ini. Ternyata mereka lucu juga


"Ma" Dewa menarik tangan Ibunya "Dapurnya basah semua Ma, Dewa takut Mama terpeleset"


"Tak masalah" Tolaknya dengan mengibaskan tangan Dewa


"Sandal Mama nanti nancep dipasir loh, Mah"


"Memangnya Mama nggak punya otak. berjalan dipasir pantai pakai jengkrik. Lama nggak bareng, Kamu kok jadi tulalit gitu sih"


Rosid tergelak ingin tertawa


Dewa menatap Rosid tajam "Jangan ikut campur"


"Maaf Juragan. Saya pasti tidak berani"


Beberapa menit kemudian


Bu Fitri dibantu Sumi membawa nasi hangat dan lauk ikan kepala manyung bertaburkan petai yang menggugah selera


"Hmmm.. Kayaknya enak Ma" Saut Pak Yudha saat Pak Yudha menghirup kepulan asap yang keluar dari lauk itu


"Iya dong Pa" Bu Fitri mengambilkan nasi kepiring untuk mereka berdua "Ini Pa" Kemudian menyodorkan nasi ke Putranya juga "Ini milikmu" Dengan cekatan, Bu Fitri mengambilkan kepala manyung itu kepiring Pak Yudha dan juga Dewa "Nih makan yang banyak"


"Mah, banyak banget ini nasinya" Protes Dewa


"Itu terlihat banyak karena kepala manyungnya sudah gede. Makan. Jangan brisik" Putus Bu Fitri


Dewa menghela nafas "Yang tukang jaga diesel aja makannya nggak tinggi begini, Ma"


"Sudah, cerewet banget. Kamu, kalau dibiarin makannya dikit melulu, Mama bisa jadi nggak ngenalin Kamu. Jika Mama saja tak mengenali anaknya, gimana dengan Naraya" Bu Fitri berdiri lagi


Sejenak Dewa hanya terdiam melihat Mamanya berjalan lagi menuju dapur umum


"Ingin perang lagi dengan wajan, Ma?" Tanya Dewa mengikuti Mamanya, berharap si Mama jangan konyol ditempat asing terlalu lama


"Dewa.. Biarin Mamamu berdemo dulu dengan kompor. Kita para lelaki, lebih baik mengobrol santai sambil makan saja" Ujar Pak Yudha menengahi


"Tapi, Pa. Lihat kaki Mama. Jorok banget penuh pasir basah. Ini, ini apa Pa" Dewa menunjuk lantainya penuh pasir


"Sudah biarin, yang penting happy Mamamu"

__ADS_1


Hening beberapa detik


"Lihat saja, palingan bentar lagi datang" Sambung Pak Yudha


Dan benar. Apa yang dikatakan Yudha


Bu Fitri membawa kerupuk yang menggunung dari dalam mobil


Mata Dewa melotot "Mama dari Jakarta, repot-repot hanya membawa karung-karungan krupuk??"


"Mama tadi mampir dipasar Comal. Mama belanjalah, murah-murah disana"


"Memangnya pasar itu pagi-pagi sekali sudah buka Ma?" Tanya Dewa lagi


"Sudah lah. orang pasar tumpah gitu kok dihalamannya. Bukan didalamnya"


"Oh.. Kirain Dewa, Mama masuk kedalam pasarnya"


"Kenapa emang"


"Mama salah kostum"


"Salah kostum gimana, maksudnya?"


"Heel Mama akan nancep didalam pasar"


"Heleh, Haal heel haal heel. Ngurusin jengkrik Mama dari tadi. Makan gih"


Setelah debat, mereka berempat mulai bersarapan. Sedangkan Sumi tadi keluar tidak ingin bergabung Karena sudah sarapan


Semuanya makan dengan lahap kecuali Dewa


Dewa terlihat menyingkirkan irisan petai dipinggiran piring


"Mama ini sengaja atau lupa sih. Dewa nggak suka ini" Dewa memindahkan irisan petai itu kepiring Mamanya


"Loh, loh, loh. Kok malah ditaruh dipiring Mama"


"Dewa nggak doyan" Ucapnya seraya makan dengan lahapnya


"Mama itu ngelatih Kamu agar terbiasa makan petai. Buktinya, itu doyan. Lahap lagi"


"Ini nggak ada petainya, Ma"


"Tapi, tadi Mama campurin, berarti bau dong"


"Sudah, sudah. Didepan nasi kok debat, saja. Pamali. Senyap. Makanlah dengan hikmad"


"Kayak mau ijab kabul aja hikmad, Paa Pa" Gerutu Bu Fitri yang disenyumin oleh Rosid


-


Sementara ditempat lain


Nara menjalani aktifitasanya. Hari ini dengan kesibukan seperti biasanya. Yaitu sidang dan sidang diakhir kuliahnya


Sementara sang Bapak. Yaitu Pak Raden, hanya bisa melamun ditoko perabotannya yang terbesar dan teramai di pasar Comal


"Pak haji, lemari ini harganya berapa?" Tanya pembeli


"Kabinet itu harganya 425.000, Bu"


"Nggak bisa kurang, Pak haji"

__ADS_1


"Itu isi 5 laci. Dan bahan plastiknya bagus"


"Jadi harga pas nih, nggak boleh digoyang" Ucap sipembeli tadi


"Nggak Bu" Jawabnya lesuh, tidak seperti biasanya bergurau pada Pelanggan


Suaib sebagai asistennya, ikut bersedih melihat bosnya tidak semangat seperti biasa


Tiba-tiba Pak Raden berdiri "Eb, jaga toko. Aku nggak enak badan"


"Terus, Tuan mau kemana?"


"Pulang" Kemudian Pak Raden masuk ke dalam mobil


"Sendiri, Tuan?"


Tin tin


Pak Raden mengklakson sambil melongok lewat kaca jendela bagian kemudi "Iya. Aku sendiri. Kamu pulangnya ngojek, ya. Titip toko"


"Si siap tuan"


Ada sedikit khawatir. Kemudian, Soaib masuk lagi ketokonya dan duduk dikursi kasir


-


Pak Raden bingung. Ingin rasanya menjemput Nara. Tapi Dia tidak mau berdebat lagi pada Ibunya yaitu Winda


Pak Raden berhenti sejenak di gang rumahnya. Lama menepihkan mobilnya "Jam segini, Nara pasti masih dikampus"


Sementara dirumah Winda


Winda menjahit tidak konsentrasi. Ia berhenti mematikan mesinnya sambil melamun memilin meteran yang mengalung pada lehernya "Apa, si Raden itu marah ya, sama Aku. Raden muda memang menyebalkan. Setelah tua, ahhhkk... Pastilah sangat menyebalkan"


Tiba-tiba mobil berplat B berhenti didepan rumahnya


4 orang dewasa keluar dari mobil tersebut


Winda keluar. Ia belum ngeh siapa gerangan yang datang siang-siang kerumahnya


Windapun lupa dengan wajah Dewa. Mungkin karena kemarin melihat diwaktu malam, dan kini diwaktu siang


"Winda... Win" Perempuan paruh baya tinggi berisi itu menghambur memeluk Winda "Apa kabar, Win"


Mereka mengurai peluk


Winda mendongak "Pit. Pitri, ya"


Bu Fitri tersenyum "Iya Win. Ini Aku, Pitri"


Mereka kembali berpelukan


"Mana mantuku, Win?"


"Ma" Protes Dewa


"Diam!! Ini urusan orang tua. Urusan besan"


Tiba-tiba


"Assalamualaikum" Seorang gadis cantik masuk kedalam rumah


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2