Suamiku Ternyata Seorang Juragan

Suamiku Ternyata Seorang Juragan
Foto???


__ADS_3

Nara masih berdiri menatap Pemuda itu


Tiba-tiba


"Ada apa ini"


Dua pengendara motor datang. Yang diduga adalah, tukang ojek pangkalan


Nara langsung menciut. Antara ingin pilih yang mana menjadi bimbang. Nara menatap si Pemuda tadi bermaksud tanya 'Gimana nih'


Sipemuda itu rupanya faham. Dengan tidak ingin merendahkan siapapun, Pemuda tadipun melepas helmnya "Saya Mas nya" Kemudian Ia meletakkan helmnya dilengan kirinya "Ayo Dek, naik" Pintahnya sambil menepuk-nepuk jok yang berada dibelakangnya


"Oh.. Kirain Lu tukang ojek juga yang nyerobot calon penumpang Gue" Ketus si tukang ojek


Nggak mungkin dong Bang, tukang ojek pakai motor balap model sport yang harganya fantastis


"Nggak Bang, ini Adikku" Akui saja adiknya dululah, biar cepet. Urusan gadis yang ada dibelakang nanti mencak-mencak, urusan terakhir. Yang penting saling kerjasama dulu biar tidak malu-maluin karena bohong. Seketika Pemuda itu terkekeh sendiri


Nara melotot 'Ngakunya??' Kemudian tidak tahu malunya, kepalanya juga merespon cepat. Nara mengangguk pasrah. Ingin mengelak, tapi Pemuda itu sudah membuatnya terkesima sesaat itu "I - iya Mas" Narapun mengangkat kaki kanannya untuk membonceng model jangka


Terlihat Nara begitu kesusahan saat naik kemotor sang Pemuda itu karena joknya terlalu tinggi


Pemuda itu menepuk pundak kanannya dengan tangan lainnya "Pegangan pundakku"


Masih belum ada reaksi dari Nara "Ayo" Sambungnya sambil menepuk-nepuk pundaknya lagi


"Beneran nggak papa ??" Ucap Nara sedikit gamang


Pemuda itu mengangguk kecil "Iya, Aku tahu Kamu kesusahan. Peganglah"


Nara mulai memegang pundak tersebut "Aku naik ya?"


"Iya, Dek..."


Setelah dirasa Gadis itu sudah naik dengan benar, akhirnya dengan segera Ia menjalankan mesinnya sambil menoleh kebelakang sedikit "Sudah siap Dek?"


"Sudah Mas ojek.." Guraunya membuat keduanya terkekeh geli seketika


Di perjalanan


"Pulangnya kemana?" Tanya Krisna yang tak lain adalah Dewa nya


Dewa melirik kebelakang melalui kaca spionnya. Dewa tersenyum ketika melihat sang gadis yang diboncengnya terusap angin yang menerjang wajah dan rambutnya


"Mas sendiri kemana?" Teriak Nara dari boncengannya


Bukannya menjawab, Nara malah bertanya


Dewa tersenyum kecil "Aku pulangnya keujung dunia. Mau ikut ?"


"Ish.. Ditanya malah becanda"


"Kamu sendiri ditanya malah balik nanya"


Mereka tergelak bersamaan


"Aku tinggal didaerah pesisir" Akuh Dewa pada akhirnya


"Masa.. Tinggal dipesisir kok motornya bagus"


Dewa kembali tergelak "Memangnya tidak boleh??"


"Boleh sih, tapi kan jarang. Apalagi disana daerah yang sering banjir kan? Aku dengar gitu"


"Kok tahu. Pernah kesana?"

__ADS_1


"Eh, desa apa dulu. Desa Melati bukan?"


"Iya. Pernah kesana?" Tanyanya lagi


"Dulu malah pernah tinggal disana"


"Oiya?"


"Iya, tapi dulu banget. Sekarang malah nggak pernah"


"Oh.. Oiya, ngomong-ngomong turunnya dimana nih. Apa, beneran mau ikut Aku kepesisir?"


"Ih, enggaklah. Aku nggak punya teman disana"


"Oiya. Kan ada Aku"


"Ish, baru aja kenal"


Dewa tergelak "Benar juga ya. Oiya, ngomong-ngomong siapa namanya ? Masa sudah satu jok bareng gini belum kenalan"


Tiba-tiba


"Turun depan"


"Kamu rumahnya sini?" Tanyanya sambil menepihkan motornya didepan gerbang rumah milik orang. Yang tahunya Dewa ini pasti rumahnya. Betul nggak? Secara Gadis ini minta diturunkan didepan rumah bagus yang terlihat sepi namun bersih dari kotoran debu ataupun lainnya


Nara turun kemudian mengangguk "Iya. Ini rumah Bapakku" Bohongnya


Lagi-lagi, Dewa tergelak "Ya iya. Ntar kalau ada Nenek, Kamu bilang ini rumah Nenekku betulkan?" Dewa menjulurkan tangan


Nara menatapnya kaget


Bener-bener ini orang, ingin sekali cari masalah


Nara menyambutnya


'Dewa?' Nara sedikit teringat pada seseorang tapi bodohlah. Nama Dewa kan banyak. Lagian Dewa yang dulu pernah ada jalinan juga hidup dikota. Dan selama ini juga tidak mencari dirinya sama sekali


"Mahes" Sengaja Nara memalsukan namanya. Tapi nggak ding. Kan itu memang namanya


Dengan cepat Nara langsung menarik tangannya


"Kenapa? Takut ketahuan pacarnya?" Tebak Dewa begitu saja. Nggak mungkin kan, Nara secantik ini tidak memiliki pacar?


"Ish, pacar. Langkahi dulu mayat Bapakku"


Nara memang patuh pada Bapak angkatnya. Jika ada Pemuda yang datang kerumah, Pak Raden yang akan menyambutnya


"Ish, gawat bener. Memangnya Bapak Kamu galak ?"


"Super"


"Eng... Bagus dong"


"Ya sudah kalau begitu. Pulang gih" Usir Nara sedikit takut jika ada orang yang melintas dan kenal dengan dirinya, akan mengadu sama Bapaknya


"Nggak bilang makasih gitu"


"Kan udah kenalan"


"Oh.... Terus kalau sama tukang ojek. Kamu juga mengusirnya setelah Kalian berkenalan"


"Ish.. Mana ada tukang ojek ngajak kenalan kayak Mas"


"Jadi???"

__ADS_1


"Makasih. Sana pulang" Usir Nara lagi


"Masuk dong" Suruh Dewa sambil menunjuk rumah itu dengan dagunya


Nara masih kokoh berdiri didepan rumah yang masih tertutup gerbangnya "Jalan dong" Usirnya lagi dan lagi


"Busyet... Ada ya, cewek kejam ngusirin orang dari tadi"


"Ada lah, Aku orangnya"


"Dasar galak"


"Apa katamu ??!" Naraya sudah mendelik tak terima


Dewa sudah menjalankan mesin motornya "Haha... Jangan kangen ya.. Semoga Kita akan bertemu lagi" Teriaknya sambil memakai helm


Nara langsung jongkok mengambil kerikil, bermaksud untuk mengancam dengan lemparannya


"Oke oke. Aku pergi dulu bye.... "


Roeeeeeeng


Motor Dewa melaju kencang


Setelah Dewa sudah tak terlihat, Nara langsung berlari melewati kebun warga


"Aman...." Nara merebahkan tubuhnya dikasur yang empuk


-


Malam harinya


Nara tidak bisa tidur


Diatas kasur yang nyaman, Ia gelimpungan sambil memeluk guling dan terus-terusan tersenyum sambil mengusap-usap liontin pada kalungnya yang melekat dilehernya


Kalung panjang itu tiba-tiba terbuka liontinnya


"Hah" Nara terkejut ketika tahu liontin itu bisa terbuka


Nara langsung terduduk sila dan melepas kalung tersebut tanpa melepas pengaitnya


Nara membukanya "Foto ?? Bener ini foto?? Foto siapa?"


Foto itu sudah sedikit rusak disisi pinggirannya. Mungkin karena sudah lama dipakai, dan sering terkena air yang sedikit masuk


Nara mengusap foto dari keduanya yang fotonya berhadapan, tetapi sendiri-sendiri


Nara mengusap foto satunya. Terlihat seperti foto gadis kecil tetapi tidak jelas dengan wajahnya "Sepertinya, dulu Aku pernah pakai baju ini. Tapi dimana ya, lupa"


Kembali Nara mengusap foto satunya yang wajahnya masih bisa dilihat. Foto itu menampilkan wajah pemuda remaja yang masih terlihat imut "Kok bisa ini ada foto cowok. Atau jangan-jangan...??"


Nara kembali teringat ke kejadian belasan tahun lalu


Kepingan puzzle mulai terlintas ada gambaran


"Ah.. Aku ingat. Yang memakai kalungku" Nara mengusap kembali kalung yang ada gambar pemuda itu "Apa benar, ini pria yang menikahiku??? Ahhhhhh..." Teriaknya frustasi membuat sang Bapak berlari menggedor pintu kamar Nara


"Nduk!! Buka pintunya ada apa Nduk??"


"Aku pusinnnnngggg !!!" Teriaknya lagi dari dalam


"Nduk. Buka pintunya... Kalau nggak dibuka, Bapak dobrak ini !!"


Ceklakkkkk

__ADS_1


BERSAMBUNG......


__ADS_2