
Fadly kembali terbaring lemah di tempat tidur, dari hidungnya mengeluarkan cairan merah yang kerap di sapa darah. Febri yang panik bingung harus melakukan apa dan ia ingin memanggil sorang perawat. Namun Fadly melarangnya dan ia meminta Febri untuk membersihkan hidungnya.
Febri langsung bergegas mengambil sapu tangan dari tasnya dan membersihkan hidung Fadly.
"Aduhhh... Pelan - pelan dong Feb!!" Ucap Fadly yang meritih kesakitan.
"Iya ini uda pelan Fad!" Jawab Febri. Tangan kirinya memegang dagu Fadly dan tangan kanannya yang membersihkan darah dari hidung Fadly. Fadly pun memegang tangan kanan Febri agar Febri tidak terlalu kuat membersihkannya.
"Feb , Kalau gue mati lo gemana Feb?"
Febri terdiam sejenak kemudian ia menjawabnya. "Ya bagus dong , enggak ada lagi orang nyebelin dimuka bumi ini !" Ucap Febri .
"Jangan sampai Fad, aku belum siap kehilangan kamu ! kamu yang bisa menghadirkan senyum indah diwajahku!!" Ucap Febri dalam hati.
"Lo tu gengsi amat yaaa jadi orang ! tinggal ngaku aja kalau lo sedih kehilangan gue beres kan ?"
"Kau nih jadi orang terlalu PD yaa!!"
"Kok ni orang bisa tau ya dalam hati aku!" Ucap Febri dalam hati.
"Hahahaha uda Feb , nggak usah bohong lagi lo ! mana ada orang senang kehilangan seseorang tapi raut mukanya bersedih gitu !! hahahah." jawab Fadly.
"Bahkan dalam keadaan sakit lo tetap bisa sebahagia ini ya Fad?" Ucapnya sekali lagi dalam hati.
"Lo kenapa sekarang lebih suka melamun ya Feb ?" Tanya Fadly yang sadar akan hal itu.
"Haa tidak, Perasaan kamu saja itu!"
Ketika mereka asyik bercanda ria , Tiba - tiba datang seorang pria tampan kekamar Fadly dengan mengucapkan salam. Febri pun terdiam dan memandangi lelaki itu dari masuk hingga duduk disebelah kiri Fadly.
"Ini siapa lagi yang datang?" Kata Febri dalam hati
"Bagaimana kabar mu broo ?" Tanya pria tersebut.
"Kapan lo datang ?" Tanya Fadly.
__ADS_1
"Ketika mama menghubungi ku dua hari yang lalu , aku langsung beli tiket dan baru bisa berangkat sekarang!"
"Apa ? mama ? apa mereka kakak adik ? Oh tidak. sungguh beda jauh , Badan Fadly kurus tinggi , Sedangkan dia Gemuk kecil. Tapii wajahnya mereka hampir serupa . Sama - sama putih dan berjerawat." Ucap Febri lagi dalam hati yang hanya mendengarkan percakapan Fadly dan pria yang baru datang tersebut.
"Ini siapa Fad ? Cewek mu ?" Tanya pria tersebut sambil menunjuk Febri. Febri pun berusaha membuka mulut dan ingin menjawab pertanyaan tersebut, namun Fadly sudah duluan menjawabnya.
"Iya!!" Jawab Fadly
"Apa dia bilang iya ? sejak kapan kita jadian !" ucap Febri dalam hati dan ia ingin mengatakan sejujurnya , namun Fadly sudah mengkodenya dengan mencubit tangan Febri yang berada didekat tangannya.
"Yaa kenalkann, saya Dedri!" Ucap pria tersebut sambil menjulurkan tangan kananya.
"Aduhh apa - apaan sih ini ! buat apa coba dia harus berbohong segala?" ucap Febri dalam hati lagi.
"Febriiii!!" Kata Fadly sambil berusaha mensadarkan Febri dari melamunnya.
"E...e..eh , Iya !! saya Febri" sambil membalas juluran tangan Dedri. Mereka berdua pun bersalaman.
"Oh iya Fad, tadi mama bilang mama pulang, Soalnnya papa ada urusan mendadak dan aku di suruh jaga kamu disini. Dan tadi mama ada bawak nasi 2 bungkus itu buat aku dan pacarmu. Tapi kalau Febri mau makan dulu tidak apa - apa . Saya mau keluar dulu nemui Osi. sudah lama saya tidak jumpa dengannya." Kata Dedri.
Dedri langsung mengambil nasi yang dibawak mamanya tadi yang terletak di kursi dan langsung memberikannya ke Febri.
"Apaaa ? dia mencium kening Fadly ! Dia ini sebenarnya siapa sih?" Tanya Febri kepo dalam hati.
"Oh iya Feb , kamu disini saja dulu yaa . temankan saya nanti malam jaga Fadly. kamu bisa izin dulu sama orang tua" Sapa Dedri kemudian ia langsung mengambil jaketnya dan pergi.
"Hehe Iya!!" jawab Febri. bibir nya sudah tak tahan melontarkan seribu pertanyaan ke Fadly. Sebelum Febri bertanya, Fadly sudah mengenalkannya terlebih dahulu.
"Dia kakak gue , Dia sekang tinggal di Jakarta mengurus perusahaan papa disana!"
"ooohh kakak mu !! Kalian dekat kali ya sampai dia harus mencium mu ?" Tanya Febri yang benar - benar kepo
"Iya gitu laa , Secara gue adik semata wayangnya."
"Pasti ko manja yaa?"
__ADS_1
"Tidak laaa, dia aja yang terlalu sayang sama gue , Semenjak pertama kali aku di rawat di RS, 5 tahun yang lalu la ."
"Berarti pas lo kuliah S1 ?"
"Iya bener sekali ! entah kenapa mama , papa dan kakak gue , memperlakukan gue seperti anak kecil."
"Emang ko sakit apa si Fad ? plisss cerita dong!!"
"Nggak boleh kepo!" Sambil mensentil kening Febri.
"Aduhhh !! sakit tauu !" Rintih Febri kesakitan. Fadly pun meminta Febri untuk memijat kaki dan tangannya. Karena Iba hati Febri melihat Fadly , ia pun tak memikirkan harga dirinya lagi , Ia rela memijat kaki dan tangannya Fadly.
"Ohiya Fad!" ucap Febri sambil menguap. "Kenapa tadi ko bilang kalau aku pacar mu ?"
"Hahaha tapi lo senengkan ?"
"Is GR." Kata Febri sambil memukul kaki nya Fadly.
"Dia itu meminta gue untuk cepat nikah dan mempunyai anak. Tapi gue belum mau pacaran dan menikah ! Oleh sebab itu gue mengakui lo sebagai pacar. karena jika tidak , Pasti gue dicarikannya pacar lagi." Jelas Fadly.
"Bahkan kakak nya sendiri ingin dia cepat nikah dan punya anak , Sakit apa sih sebenernya Fadly ? apa dia sakit parah sehingga resiok matinya tinggi ? jadi kan kalau dia punya anak pasti ada keturunan dari nya jika ia sudah meninggal !! Ohhh tidakk febri jangan berpikiran seperti itu. Fadly kuat kok , pasti kuat !" Ucap Febri dalam hati.
Setelah Febri memijat tangannya Fadly ,Fadly pun menutup matanya dan mengarahkan ke Febri.
"Aduhh Fadly kenapa wajah mu tampan sekali ketika kamu tidur begini ?"
Karena sudah tidak ada teman ngobrol , Febri pun ketiduran dengan posisi duduk dan kepalanya berada di ketiak Fadly yang menghadap ke tangan Fadly di impus. Fadly yang belum tidur kembali membukakkan matanya dan membelai kepala Febri dengan tangannya.
"Feb ! gue belum siap untuk meninggalkan mu ! jika aku pergi jaga dirimu baik - baik yaa!" Kata Fadly. Namun Febri sudah tertidur pulas hingga tak menyadari apa - apa lagi.
Fadly tetap mengelus kepala Febri
dan teringat bahwa Febri belum ada makan sama sekali. Ia tidak tega untuk membangunkannyw dan ia membiarkannya tertidur di sampingnya. Ia merelakan bagian tubuhnya sebagai bantal Febri.
Malam semakin larut Fadly tanpa sadar pun ikut tertidur dengan tangan dikepala Febri. Dedri pulang dan melihat mereka begitu romantis seperti di film - film.
__ADS_1
Ia kembali mendekati adiknya dan melihat wajahnya "Akankah bakal lama aku melihat senyum di wajah mu lagi Dik?" Ucap Dedri sambil mengelus kening adiknya.
"Sampai kapan kamu bisa bertahan dan menebarkan senyum mu seperti ini dik?" Ucap dedri yang meletakkan keningnya ke tangan Fadly