Tak Pantas

Tak Pantas
BAB 17


__ADS_3

Dalam hidup tidak selamanya kebahagiaan datang menghampiri. Terkadang, dengan datangnya sebuah masalah akan mengajari seseorang untuk menjadi lebih dewasa dalam menghadapinya.


Pagi ini Febri tidak bersemangat untuk meneruskan hidup. Isi kamarnya berantakan semua tanpa ada yang tersusun satu pun. Keadaan Febri hari ini bener - bener kusut sekali. Seolah-olah ia seperti orang setres. Rambut berantakan, kamar berantakan, mata bengkak, air kran terus mengalir dan ia terduduk lemas ditempat tidrunya tepat didepan jendela kamarnya.


Ia mengunci pintu kamarnya sehingga tidak ada satu pun yang bisa masuk. Kebetulan mamanya Febri rapat dengan supplier di luar kota dan tinggal Febri dan bibik saja yang berada di rumah. Ia dari semalam tidak ada mengisi perutnya sedikit pun dengan makanan dan minuman. Ia hanya melamun, menangis, tanpa peduli lagi dengan dunia.


Kringgggggggg alaram febri berbunyi yang berada tepat pukul 08.00 WIB. Karena jam segitu ia seharusnya sudah pergi kekampus untuk mengajar.


Ia langsung mengambil alaramnya dan langsung membantingnya hingga pecah. Kemudian Ia teriak-teriak nggak jelas dikamarnya, lalu Ia bangkit untuk membantingi semua bingkai foto dan memecahakan kaca dilemarinya. Semua kaca bertaburan dilantai, Ia tidak perduli dan ia malah menyentuh kaca tersebut dengan kakinya tanpa ada alas apapun. Lantai juga dipenuhi dengan jejak kaki berwarna merah yang merupakan sebuah darah yang mengalir dari telapak kakinya karena tersobek oleh kaca. Ia juga berusaha sekuat mungkin untuk mendorong lemarinya yang berat itu kearah pintu kamarnya agar tidak ada orang yang bisa mendobrak pintunya.


“Non, uda non istigfar!” ucap bibik dari balik pintu.


Febri tidap merespon apa pun malah ia lemparkan vas bunga ke lemari yang sudah menutupi pintunya. Bibik langsung mengambil ponsel dan segera menelpon Fadly.


“Haloo mas, mas dimana ? mas tidak jemput non febri ??” Tanya Bibik tergesa - gesa


“Ha iya bik, maaf bik hari ini saya tidak kekampus. Karena hari ini saya libur bik.” kata Fadly yang merubah sebutan dirinya dari yang biasanya gue kini menjadi saya.


“Aduhhh mas, tolongi bibik mas , non Febri ngamuk-ngamuk dikamarnya, semua dibantinginya, pintu dikuncinya mas!!"


“Apa bik ??? saya lagi dijalan pulak nih mau pulkam ke rumah nenek !”


“Oooh ya sudah mas, tidak apa-apa. Biar bibik yang rayu non Febri lagi. Maaf ya mas sudah mengganggu." Kata bibik yang langsung mematikan telfonnya.


"Apa yang terjadi dengan Febri kemarin ?" Tanya Fadly ke Dedri sambil menyetir mobil.


Dedri menceritakan semua kejadian yang terjadi kepada Fadly. Dedri sudah mengetahuinya karena kemarin Febri yang menjelaskannya.


Tanpa berpikir panjang lagi, Fadly langsung memutar arah mobilnya dan ia langsung menuju kerumah. Ia mengendari mobil dengan kekuatan penuh seperti ninja hahahaha.


Lebih dari 30 menit ia dijalan , akhirnya ia sampai kerumah Febri.


“bik !! bik !!!” ucap Fadly sambil mengetuk-ngetuk pintu.


“Iya!! tunggu sebentar ! ” teriak bibik dari dalam rumah dan bibik langsung berlari untuk membuka pintunya.


“Mas, monggo masuk." Ucap bibik sambil mempersilahkan masuk.


“Mana Febri bik ???” tanya Fadly tergesa - gesa


“Dikamarnya mas!!" jelas bibik sambil menunjukkan kamar Febri.


Fadly langsung berlari menuju kekamarnya. Ia berteriak memanggil Febri sambil menggedor-gedor pintu kamar Febri. Tapi ia sama sekali tak bisa mendobrak pintu kamarnya Febri.


Dedri mendapatkan ide untuk masuk melalui jendela kamar dan memberitahunya ke Fadly. Akhirnya Fadly segera berlari keluar rumah dan ia berhasil masuk kekamarnya Febri melalui jendela yang tidak terkunci.


“Febri !!!” teriak Fadly dari jendela dan melompat ke tempat tidur , ia bingung mau turun ke lantai bagaiamana, karena banyak sekali pecahan kaca yang berserakan.


“Pergi Fadly, aku ingin sendiri!!” kata Febri yang terduduk di dekat lemari.


Fadly dengan tekad mendekati Febri dan langsung memeluknya.


“Kamu kok kayak gini Feb, ayok kita keluar!!" ajak Fadly sambil memeluk Febri dan ikut juga menetesi air matanya dan merubah kembali panggilannya yang biasanya Lo kini berubah menjadi kamu.


"Lepasi aku Fadlyyyy, pergi sana, tinggali a..” belom lagi Febri menyelesaiakan perkatannya, ia sudah jatuh pingsan dipelukan Fadly.


Fadly pun langsung mengangkat Febri ke tempat tidur dan mendorong kembali lemari yang menutupi pintu kamarnya. Fadly langsung membuka pintunya dan langsung meminta bibik untuk membersihkan kamar Febri. Ia meminta untuk terlebih dahulu membersihkan lantai.


Fadly kembali mengangkat Febri dan membawanya ke rumah sakit menggunakan mobilnya.


Febri berada dipangkuannya sedangkan Dedri yang mengendarai mobilnya.


Setelah sampai kerumah sakit, Febri langsung ditangani dokter dengan cepat. Karena Febri sudah banyak kehilangan darahnya.


Dokter meminta ke Fadly untuk mencari sekantong darah , karena stok di rumah sakit kosong. Kebetulan darah Fadly sama dengan Febri namun ia tak bisa mendonorkan darahnya karena ia juga kekurangan darah. Akhirnya ia meminta Dedri untuk meberikan darahnya. Mau tidak mau Dedri rela untuk menyumbangkan darahnya.


Sekitar sudah 59 menit ditangani dokter, Fadly diperboleh kan masuk keruangan Febri dirawat. Kok tanggung kali yaaa 59 menit, satu menit lagi satu jam.


Banyak pecahan kaca yang menancap dikaki Febri sehingga harus di tangani seorang dokter.


Fadly begitu khawatir melihat keadaan Febri begini. Ia merasa gagal menjaga Febri. Lalu Fadly duduk di samping Febri yang terbaring lemah ditempat tidur rumah sakit.


"Bagaimana keadaan Febri ?" Kata Dedri yang tiba - tiba datang sambil memakan sebuah telur dan meminum sesedot susu kotak.


"Ya masih lemah ! tinggal nunggu ia sadar lagi !!" Jawab Fadly lemah


Mereka menunggu Febri tersadar dari komanya. tapi belum lagi 15 menit mereka menunggu Febri sadar , akhirnya Febri sadar dari komanya.


“Aku dimana?” kata Febri lemes sambil membuka matanya secara perlahan.


"Kamu dirumah sakit Feb!!”


“Fadly!!" ucap Febri sambil bangun dari tidurnya dan langsung terduduk lalu ia memeluk Fadly.

__ADS_1


“Kamu tenang yaaa, jangan begini - begini amat laaa!!"


“Kenapa ini harus terjadi pada ku Fadly?”


“Ini yang namanya takdir Feb. kamu yang sabar yaaaa, masih banyak laki-laki didunia ini Feb ! termasuk adek aku!!" Sambung Dedri.


Febri tetap memeluk Fadly dan Fadly membalasnya sambil membelai rambut Febri yang terurai. Dedri yang melihat pun hanya merespon dengan senyuman manisnya.


Tak lama kemudian, Tiba tiba bibik datang dengan membawa keperluan Febri selama di rawat dirumah sakit.


Febri pun langsung melepaskan pelukannya kepada Fadly karena tersentak kaget melihat pembantunya datang.


“Oh iya bik, bibik jagain Febri dulu yaaa, besok Fadly datang lagi kemari. Karena Hari ini Fadly sudah berjanji akan datang ketempat nenek. Kalau ada apa-apa hubungi dokternya ya bik." Kata Fadly


"Feb kami pergi dulu yaaaa, ingat saran aku, dia bukan yang terbaik untuk mu. Masih banyak lelaki diluar sana yang benar-benar baik untuk kamu, termasuk adikku!” Sambung Dedri . Sebelum pergi, Fadly pamit pergi dan ia mencium keningnya Febri.Dan Febri tidak merespon apa - apa .


Tak lama Fadly pergi, Yudia teman dekat Febri tiba - tiba datang entah dari mana wujudnya dengan membawa sekantong plastik penuh dengan makanan.


“Permisi!!” ucap Yudia sambil membuka pintu.


“Masuk non!!” Sapa bibik.


“Febriii !!!" Teriak Yudia kaget yang melihat keadaan Febri seperti ini dan ia langsung berlari mendekati Febri kemudian langsung memeluknya.


“Yudiaaa!!” ucap Febri sambil membalas pelukan Yudia.


“Kenapa Feb?? Kenapa bisa seperti ini ? apa yang sebenarnya terjadi ?"


“Maafkan aku Yud, aku tidak percaya dengan kata-kata mu kemarin. Malah aku memarahi mu !! maaf kan akuu Yud !!”


“Jadi kamu sudah percaya dengan apa yang aku bilang Feb??”


Febri hanya mengangguk saja tanpa ada jawaban apapun lagi.


Kemudian Febri kembali tertidur karena keadaannya masih melemah dan banyak butuh istirahat.


“Bik jadi kata dokter kapan Febri bisa pulang?” Tanya Yudia ke bibik yang masih menemani bibi untuk menjaga Febri.


“kalo nggak salah, non Febri sudah agak baikkan sudah diperbolehkan pulang. Tapi non Febri belum boleh jalan melaikan ia harus menggunakan kursi roda hingga jaitan dikakinya kering Non!!” jelas bibik


“Oh jadi buk Salmi dan pak Agus sudah dihubungi bik?”


“Belum non, kata non Febri jangan dikasi tau ke orangtuanya non."


“Oooh, ok lah bik !!!"


Kawan yang seperti ini yang pantas dijadikan kawan yaaa. Yudia terus memandangi Febri yang nasibnya sangat sial banget.


Tak lama kemudian, tiba-tiba Reiza dan Rio datang kekamar dimana tempat Febri dirawat.


Yudia langsung menarik Rio dan Reiza menuju keluar kamar.


“Mau apa kalian kemari ??” Tanya Yudia judes.


“Santai bro, kita kesini mau ngasi tau ke Febri jangan mati dulu. Karena bulan depan aku dan Rio mau melangsungkan perniakahan kami!!” jawab Reiza songong


“Oh iya Yud, ini amanah yaaa! Harus kamu sampaikan!” sambung Rio.


“Saya sama sekali tidak perduli. Dan asal kalian tau yaaa, besok pun kalian nikah itu tidak urusan Febri” jawab Yudia.


“Hey,,,,, Yudiaa !!! kamu jangan sok yaaa, biar aku yang sampaikan langsung ke Febri agar kamu tau apa yang kamu bilang itu benar atau salah !!” jawab Reiza sambil masuk ke kamar Febri. Tetapi sebelum ia masuk, Yudia langsung menarik tangan Reiza dengan sekuat kuatnya.


“Apaan sih loo, lepasi Yudiaaa!!!” jawab Reiza kesakitan.


“Kamu apa-apaan sih Yudiaa” jawab Rio sambil melepaskan genggaman Yudia yang amat kencang dilengannya Reiza.


“Satpam….Satpam…” teriak Yudiaa.


“kalian lebih memilih pergi sekarang apa aku panggilkan satpam untuk mengusir kalian ??” Ucap Yudia sekali lagi.


“Kamu pikir kami mau lama – lama disini?? ogah banget aku lama-lama disini, bauk jomblo!!” jawab Reiza sambil pergi dan menabrakkan bahunya ke bahu Yudia.


“Hisss Persetann, sombong amat sih jadi Wanita murahan!” Ucap Yudia.


“Ada apa non, kok mas Rio langsung pergi ??” tanya bibik yang tiba-tiba keluar dari kamar Febri.


“Bibik ya yang menghubungi Rio ?” Tanya Yudia sinis.


“Iya non”


“Saya ingatkan ya bik, jangan pernah hubungi Rioo lagi dan kalau Rio menghubungi kembali jangan pernah diangkat yaa!!”


“Baik non.”

__ADS_1


“Ok lah , saya mau keluar dulu ya bik mau cari batagor makanan kesukaan Febri!” ucap Yudia.


“Ok non.”


Yudia langsung mengambil tas nya dan langsung pergi keluar dari rumah sakit.


Yudia pergi ke dekat-dekat kampus mencari batagor untuk Febri, sebenarnya dia sih yang kepingin, Cuma mumpung Febri juga sukaa ya alasannya buat Febri.


Ketika sampai, Yudia langsung memarkirkan mobilnya di parkiran sekitar kampus. Kemudian Yudia turun dari mobilnya dan langsung menyebrang jalan mencari tukang batagor. Sebelum ia sampai, ternyata Yudia diserempet seorang lelaki, Yudia langsung terjatuh , lututnya pun memar. Memang sih tidak terlalu parah karena pengemudi tersebut mengendarai sepeda motornya tidak bgitu laju.


“Mbak, mbak, maaf ya! mbak tidak papa ?” Tanya pria tersebut yang langsung turun dari sepeda motornya dan menghampiri Yudia.


“Kamu ?? dogan ??” ucap Yudia . Orang yang menyerempet Yudia ternyata pria yang ia idolakam selama ini. Ternyata oh ternyata pria tersebut adalah Fadly. Ia memanggil Fadly dengan sebutan Dogan yang artinya Dosen Ganteng.


“mbak, mbak nggak papa ??” ucap Fadly sambil membantu Yudia berdiri. Ia langsung menggandeng Yudia dan mengajaknya duduk.


“Nggak papa kok dogan!!” ucap Yudia centil


“Oh yaudah , sekali lagi aku minta maaf yaaa, kalau gitu aku pergi yaaa!!" ucap Fadly sambil bangkit dari duduknya dan langsung berbalik untuk pergi. Tetapi sebelum ia melangkahkan kakinya, tiba-tiba Yudia menarik tangannya.


“Dogan, kaki aku sakit nih, susah dibawak untuk jalan, kamu bisa nggak temaniaku cari batagor ? soalnya temen aku lagi sakit dan dia mau batagor!!”


“Hmmm!!! yaudah. Ayok lah!!”


“Akunya digandeng lagi dong!!”


“oh gandeng yaa??”


Karena merasa bersalah, Fadly menggandeng Yudia untuk menemaninya mencari batagor. Sebenernya kaki Yudia tidak apa-apa, ia masih bisa jalan sendiri, tapi ia ingin bersama Fadly karena ia sangat mengidolakan Fadly.


Setelah berjalan beberapa meter, akhirnya mereka berdua menemukan tukang batagor. Fadly langsung membawa Yudia ketempat duduk.


“Bang batagor, dari tadi kemana aja sih, liat nih kaki saya, gara-gara mencari abang saya sampai kayak gini” ucap Yudia sambil memarahi tukang batagor.


Fadly langsung menutup mulut Yudia dengan jari telunjuknya. Ssssssstttttt


“Bang, batagornya dua yaaa untuk makan disini dan yang dibungkus satu yaaaa!!" pesan Fadly ke abang batagor.


“Kok satu yang dibungkus ??” Tanya Yudia heran.


“Tapi untuk temen kamu !” Jawab Fadly.


“Ya masak nanti dia makan aku enggak? nggak enak lah!!”


“Ya udah deh, bang yang dibungkus dua yaaa !! ” pesan Fadly ke tukang batagor.


“Loh kok dua yang dibungkus gan ?” Tanya yudia kepada Fadly.


“Laa tadi kata kamu dua !!”


“Aah enggak ah, perasaan kata ku 3 deh!!”


“Yauda deh, karena aku sudah serempet kamu, ini sebagai tanda maafnya ya !! bang pesan tiga yaa" Ucap Fadly.


“Haa ? kok tiga dogan ??? empat dong !!” Pinta Yudia.


“Hmmmmm, bg yang dibungus lima yaaa bang!!" kata Fadly ke tukang batagor.


“Wahhhh kok lima ?? dogan apa nggak kebanyaa….” Tanya Yudia. Belum lagi ia selesai ngomong, Fadly langsung memotong pertanyaan Yudia.


“Bang yang dibungkus 10 yahhh. dah kamu diam ya mbak, sudah banyak gue pesan kan untuk mbak!!!" Kata Fadly kesal.


“Heheh iya deh, kenalkan nama aku Decan!!” Kata Yudia sambil menjulurkan tangannya.


“Decan ???” jawab Fadly bingung.


“He’eh, orang-orang manggil aku dedek cantik, jadi disingkat decan!!” jelas Yudia.


“Oh!!”


“Oh doang??”


“Kamu ini maunya apasih sebenarnya?” ucap fadly sambil garuk kepala.


“Aku mau nikah sama kamu!!”


“Ha , saya belum mau nikah!!”


“Ya udah, nunggu kamu mau aja, baru kita nikahh. Ok ?"


Fadly tidak merespon omongan Yudia. Ia sangat geli melihat posisi Yudia yang berada disampingnya. Ia ilfil dengan wanita yang kecentilanya seperti Yudia. Biasa , cowok itu kan pemilih hahahah.


Ketika batagornya datang. Fadly dengan cepat menyantap batagornya hingga habis. Ia terburu-buru menghabiskan karena ia sudah risih dengan kecentilan Yudia yang semenit sekali ia mencolek-colek Fadly.

__ADS_1


Ketika batagor di piring sudah ludes tanpa tersisa sedikit pun, ia langsung membayar semuanya dan langsung cabut dari tempat tersebut meninggalkan Yudia.


“Dogannn, tunggu !!” ucap Yudia merengek sambil berlari manjah mengejar Fadly. Karena fadly lari begitu kenceng, Yudia pun tak bisa mengejarnya.


__ADS_2