Tak Pantas

Tak Pantas
BAB 23


__ADS_3

1 bulan kemudian


Fadly berbaring ditempat tidurnya melihat kipas angin yang terus berputar dan membiarkan waktu begitu saja berputar. Sudah satu bulan ini ia tak mendapatkan kabar dari Febri. Ketika ia datang kerumah Febri, Febri terus-terusan menghindar dan tidak mau menemui Fadly. Ketika dikampus Febri menghindar terus - terusan dari Fadly. Padahal benih cinta sudah tertanam dihati Fadly, rasa rindu yang terus-terusan menghantui membuat Fadly menjadi resah dan gelisah serasa ia ingin bertemu dengan Febri. Tak lama kemudian, tiba tiba ada suara yang mengetuk pintu kamar Fadly.


Tok tok tok


“Siapa ??? masuk !!” teriak Fadly.


“Hey Fadly, ih mellow gitu mukanya!!” ucap Rahil yang baru saja datang dan melihat Fadly mellow gitu.


“He lo mikiri apa sih ? sampai kek gini amat yak?" Tanya Rahil sekali lagi.


“Hil, gue lagi rindu sama seseorang. Kenapa ia menghilang ketika aku sudah mulai menyimpan rasa dengannya??”


“Mcmcmcmcmc kasiannya lo !hahahahah!!"


“Percuma kan gue cerita sama elo, yang ada lo malah menertawai gue!”


“Ya habisnya, lo itu sebagai lelaki harus memperjuangkan cinta lo! Jangan hanya diam menunggu kehadarinnya disini. Nggak akan pernah Lo dapati dia Fadly, kamu buktikan kalau kamu sayang dengannya!!”


Fadly berpikir sejenak


“Betul kata lo hil.” Fadly langsung lompat dari tempat tidurnya dan mengambil baju dilemari lalu bersiap-siap untuk beregegas menuju kerumah Febri. ia memencet tombol alaram yang ada dikunci mobilnya sehingga mobilnya berbunyi. Ia membuka pintu mobil dan langsung masuk. Tetapi sebelum ia mengendarai mobil miliknya, tiba-tiba ada seorang wanita yang membuka pintu mobil Fadly dan ikut masuk disamping Fadly. Ya ternyata oh ternyata yang baru masuk kemobil Fadly adalah Rahil.


“Lo ngapain ?” Tanya Fadly heran melihat Rahil masuk kedalam mobilnya.


“Ya gue ikut, masak gue baru datang kerumah lo, dan lo pergi begitu saja setelah dapat saran dari gue, mungkin belom ada 10 detik gue berada disini!!” kata Rahil sambil memasang safety belt atau yang lebih dikenal dengan sebutan sabuk pengaman.


“Tapi lo janji ya disana jangan heboh dan buat malu gue !!”


“janji.”


Fadly langsung berangkat menuju rumah Febri bersama Rahil. sepanjang jalan Rahil sangat banyak celotehnya, dari yang meledek, bergurau, curhat sampai menertawai Fadly, semua dilakukan Rahil memang karena dia orangnya yang begitu. Walaupun Rahil banyak celotehnya, tapi Fadly tidak banyak merespon omongan dari Rahil. Wajar dong, Fadly memang sudah agak muak lihat Rahil yang sangat cerewet.


“Mana dly rumahnya cewek lo??” Tanya Rahil.


“Ehm, Hil, sekali lagi lo bersuara janji gue, gue akan turuni kamu dijalan!!”


“Oiya iyaaaa Fad, janji nggak bersuara!!”


“Ya udah diam!” Kata Fadly


“ok.” jawab Rahil yang masih bersuara


“Diam!!” Ucap Fadly sekali lagi.


“he’eh !!"


Fadly kembali mengendarai mobilnya dengan santai, ia juga berpikir apa yang akan ia lakukan sehingga membuat dirinya dan Febri akur seperti semula lagi.


Seolah-olah Febri pergi tanpa alasan apapun beberapa menit kemudian, Fadly sudah berada tepat didepan rumah Febri, dengan pagar yang tertutup, ia menyuruh Rahil untuk membukan pagarnya, karena memang sudah berapa belakangan ini rumah Febri sudah tidak ada lagi satpamnya.


“Cepat turun buka pagarnya!!” Pinta Fadly.


“Lo kok gue Fad,bunyikan aja klaksonnya. Paling nanti securitynya keluar!!”


“Dirumah ini sudah tidak ada lagi security, cepat kamu buka pagarnya!!”


“hiiiii lo ini ngesalin banget si Fad.”


“Cepat buka!!”


“Enggak!!” Kata Rahil yang enggan membukakan pagarnya.


“Rahil, lo mau pulang naik busway atau taxi ??” Tanya Fadly.


“eee.. ya sama elo dong!!” Rahil menjawab ngotot.


“Makannya buka!!”


"Apanya ? baju gue di buka ??"


"Pagarrr nya la dodoll !!" Jawab Fadly sambil menarik hidung Rahil.


“iya deh iyaaa, ikan toman suka galau!!” kata Rahil pasrah sambil keluar dari mobil lalu membuka pagar.

__ADS_1


“Uda man !! uda cukup belom mobil lo masuk ???” Teriak Rahil sambil membuka pagarnya dengan lebar.


Fadly hanya merespon dengan mengeluarkan jempol tangannya lewat jendela mobilnya. Ia pun menekan gas mobilnya melewati Rahil sehingga Rahil hanya terkena angin dari kelajuan mobilnya .


Fadly meninggalkan Rahil mulai dari masuk depan pagar hingga ke depan pintu rumah Febri.


“heeee, ikan Toman suka galau, resek amat sih lo!!” Kata Rahil sambil mengejar Fadly.


Jarak dari pagar menuju depan pintu rumah Febri sekitar dua belas meter, ya sejauh itu lah Rahil berlari.


“Ikan toman suka galau, lo suka amat ganggui gue!” kata Rahil dengan suara ngos - ngosan karena kelelahan berjalan.


“Apa ??? ganggui lo ? nggak salah dengar gue ?”


“Ini pun rumahnya jauh kali dari pagarnya, entah apa tujuan dia buat rumah sejauh ini dari pagar!!”


“He lo bisa diam enggak ????”


“Gue lelah ikan toman suka galau!!”


“Kalau lo nanti mau pulang sama gue lagi, lo ganti julukan untuk gue. jangan Ikan toman sukaa, ntah suka apa itu !!”


“Suka galau” sambung Rahil


“Ha iya itu!!”


“Suka suka gue dong!!!” kata Rahil sambil berjalan meninggalkan Fadly dan mendekat pintu rumahnya Febri.


Kemudian ia langsung memencet bel rumah Febri secara berkali-kali.


“He !! hee !! heee, lo apaan sih Hil?” kata Fadly yang mengejar Rahil dan langsung memberhentikan kejailan Rahil yang memencet bel rumah Febri berkali-kali.


“Ikan toman suka galau, lo yang apaan, gue tuh mau mencet bel, biar orang yang didalam sini keluar, tapi belnya rusak, nggak bisa bunyi dia makannya aku pencet berkali-kali. Nih coba dengar, ada nggak suara nya??” jelas Rahil yang mengulangi perbuatannya memencet bel secara berkali-kali.


“Madesuuuuu, Rahil kamu nggak usah katrok lah, ini bel bukan rusak, tapi karena kita diluar jadi nggak kedengaran suara belnya. Tapi kalau didalam kedengaran!!”


“Masak iya sih ??? tapi kok cewek lo nggak keluar keluar ?”


“Rahil uda berapa kali gue bilang kalau Febri bukan cewek gue!!”


“Febri,,,, Febriii” teriak Rahil. Pintu langsung terbuka dan bibik langsung keluar.


“Oh mas Fadly, nyarii non Febri yaaa ? maaf mas bukan tidak mau mempertemukan non Febri dengan mas, tetapi non Febri yang minta kalau mas datang ia bilang non Febri nggak ada” jelas bibik.


“Tapi Febrinya ada didalam ??" tanya Rahil.


“ya udah bik, salam ya samaaaaa…….” kata Fadly yang memberhentikan pembicaraannya karena kaget melihat Rahil asal masuk kerumah orang sembarangan tanpa diizini masuk. Ia mendorong bibik sehingga ia berhasil masuk kedalam rumah


“Oh my god, rumah nya besar banget kayak studion bola kaki!!” kata Rahil yang takjub melihat sekeliling rumah Febri.


Bibik dan Fadly langsung mengejar


Rahil yang sembarang masuk rumah orang, ia juga berlari kesenangan karena dikejar dan ia memutar mutar sofa. Selanjutnya ia berlari menuju ke salah satu pintu yang ada dirumah Febri.


“Mana ya kamar Febriiii?” ia kebingungan mencari kamar Febri karena ada empat pintu yang ia lihat.


ia menerobos masuk kamar yang pintu kamarnya agak sedikit terbuka, Fadly dan Bibik terus mengejar Rahil.


Setelah masuk , Rahil mengunci pintu kamar tersebut dengan cepat.


“untung gue nggak tertangkap!!” kata Rahil yang menempelkan badannya ke balik pintu Kamar.


“Hey, siapa lo?” ucap salah satu penghuni kamar tersebut.


“ha ada orangnya. Lo Febri kan ??” kata Rahil sambil menunjuk orang tersebut.


"Ia!!" ternyata kamar yang ia masuki tepat sasaran.


“Kamu siapa ??” Tanya febri kebingungan.


"Guee Rahil, masak lo nggak kenal ?? yang kita bertemu setelah rapat, ingat ???? ingat,ingat,ingat ??” kata Rahil yang mendekati Febri.


“Sedikit lupa ? kenapa tuh ??”


“Nanya pulak kenapa, nona sableng, kamu harusnya bersyukur dicintai oleh seorang lelaki tampan, baik seperti Fadly.” jelas Rahil

__ADS_1


“Maksud kamu ?? dicintai seperti Fadly?”


"Ini kuping sebesar gembor tapi budek juga ternyata. LO ITU HARUSNYA BERSYUKUR DICINTAI FADLY!!!” teriak Rahil.


“Apa alasan kamu berkata seperti itu ?” Tanya Febri kurang yakin atas perkataan Rahil.


“Ia dong, Fadly itu galau setelah kamu tinggal berapa bulan ini!!"


“Jadi Fadly suka sama ku?” Tanya Febri kaget.


“Ya lo jangan ge’er dulu, karena gue juga belum ada dengar dari mulutnya berkata langsung seperti itu, tapi emang kenapa sih lo harus menjauhi Fadly tanpa alasan ? kelen becewek macam anak-anak. Berantam sikit merajuknya berbulan-bulan!!”


“Maaf maksud dari kata becewek itu pacaran yaa ? maaf ya kami belum pacaran!!”


“Hele ratu gombal !!”


“Why??”


“Uda yaa, yang pasti gue capek ngomong sama lo, tu Fadly menunggu lo diluar!!” Kata Rahil.


Kemudian Rahil meninggalkan Febri dan membuka pintu kamar Febri, ternyata didepan pintu kamar, sudah tegak Fadly dan bibik. Fadly langsung menarik telinga Rahil dan membawanya keluar untuk pulang.


“Fadly, stop!!" kata Febri yang tiba –tiba keluar dari kamarnya. Febri lalu mendekati Fadly dan langsung melayangkan tanganya.


Plaakkkkkk suara tamparan terdengar ke pipi Fadly


“Kamu jangan menyalah artikan pertemanan kita, kamu jangan pernah jatuh cinta sama ku karena aku jijik liat kau!!”


belum sempat Fadly menjawab apa - apa , Febri langsung berlari kembali menuju kekamarnya dan menutup dengan kencang pintunya, ia bersandar dibelakang pintu kemudian ini terduduk dan menangis.


"Fadly, maafkan aku. Aku nggak bisa mendekatimu lagi, Yudia suka fad sama mu!!”.


Teriang-iang kata kata Febri dibenat Fadly "karena gue jijik liat lo!!!". Fadly hanya berdiri diam dan menundukkan kepalanya . Rahil kembali menuju pintu kamar Febri dan menggedornya.


“Febri, lo jadi cewek kasar banget yaaa ! Febriii !!!” teriak Rahil sambil menggedor-gedor pintu kamar Febri. Fadly menghampiri Rahil dan menariknya lalu membawanya pulang.


Selama diperjalanan, Fadly hanya terdiam dan fokus menyetir mobil nya.


"Kasian ya lihat ikan toman suka galau. Pasti terpukul banget dia tuh !!”ucap Rahil dalam hati.


“ikan toman suka galau, yang sabar yaaa ! kalau lo cinta beneran sama dia, lo harus memperjuangkannya ! kamu itu lelaki, bukan melemah untuk disakiti tetapi kamu harus terus berjuang untuk memperjuangannya !!!" Kata Rahil.


Fadly tidak menjawab apapun omongan Rahil. Ia tetap fokus menyetir mobilnya dan langsung mengantarkan Rahil pulang kerumahnya. Fadly terus kepikiran apa yang dikatakan Febri pada dirinya. Ia galau, steres , kecewa sehingga ia ingin melepaskan semua bebanya.


Akhirnya Fadly memutuskan pergi ke club untuk meminum segelas minuman yang beralkohol.


Setelah sampai, ia langsung memesan minuman yang kadar alkoholnya sangat tinggi. Ia menghabiskan satu botol, sehingga menyebabkan Fadly mabuk berat . Ia juga digoda dengan beberapa wanita-wanita nakal yang merayu Fadly.


Tak lama kemudian, seorang wanita datang lalu menarik Fadly dari wanita-wanita nakal tersebut. Ia mengenakan baju kaos putih lalu dilapisi dengan jaket kulit dan memakai celana jeans berwarna hitam dengan rambut yang diikat. Wanita tersebut langsung menggandeng Fadly dan membawanya keluar dari tempat tersebut. Semua keringat bercucuran karena sakin ramai dan panasnya club tersebut.


jumlah orang dengan kapasitas tempatnya tidak sebanding.


Wanita tersebut lalu membawa Fadly menuju ke mobilnya dan meletakkan Fadly disamping kursi supir. Wanita tersebut adalah Febri, ketika Fadly pergi dari rumahnya, Mamanya Febri datang dan menyuruh Febri untuk mengejar Fadly, dengan cepat Febri bergegas mengejar Fadly dan mengikutinya kemana ia akan pergi.


Febri kembali memandang Fadly ia menguhirup bau alcohol dari Fadly dan melihat badanya basah kuyup karena keringatan yang terlihat jelas baju Fadly basah kebas.


Tampakknya Fadly sangat kelelahan sehingga ia tertidur pulas walaupun dengan keadaan baju basah. Febri menghubungi asisten mamanya untuk menjemput mobil di Club tersebut.


Selanjutnya , Febri mengendarai mobil milik Fadly tak tentu kemana arah dan tujuannya, lalu terlintas dipikiran Febri untuk membeli selimut tebal ditoko. Kemudian ia berbalik arah menuju ke toko selimut yang sempat ia lewati tadi. Sebelum Febri turun untuk membeli selimut, ia membuka kaca mobil agar Fadly tidak gerah ketika semua pintu ditutup dan Ac mati.


Febri membeli selimut tebal yang ada gambar hello kitty nya, kebetulan Febri sangat menyukai hello kitty. Febri kembali mengendari mobil menyelusuri jalanan perkotaan. Malam ini cuaca sangat mendukung, dari bintang yang bertaburan, sinar bulan yang menyinari dan lampu jalan yang menerangi jejalan sehingga jalan tersebut tampak indah. Namun, tak seindah perasaan Fadly dengan keadaan seperti ini. Beberapa menit sekali Fadly mual dan sesekali ia mengeluarkan muntahnya begitu saja dengan keadaan yang tertidur pulas ke bajunya. Febri yang melihat sungguh tak tega melihat Fadly yang seperti itu. Kemudian Febri membeli air putih dan mencari air kelapa yang dipercaya bahwa air kelapa dapat mencegah terjadinya mabuk dan air kelapa dapat menetralisir tubuh. Setelah mengelilingi kota pekanbaru, Febri sama sekali tak menemukan tukang air kelapa muda karena memang jam sudah menunjukan tepat pul 22.59 wib, satu menit lagi jam 23, kita tunggu aja semenit lagi………23.00 WIB. Pas jam 23.00


Febri berhenti disalah satu tempat dimana tempat tersebut menjual air kelapa muda tetapi karena sudah malam ia tutup. Ia menanyakan pada warga yang sedang duduk disekitar situ dan warga tersebut memberi tahu rumah penjual air kelapa tersebut. Ia langsung menuju ke gang-gang perumahan masayarakat. Nasib masih berkata baik, akhirnya ia menemukan rumah penjuak air kelapa tersebut dan membeli satu kelapanya lalu dibuka dan ditaruk ke gelas.


“Fadly, Fadly, minum sikit nahh!!” kata Febri yang membangunkan Fadly dan Fadly terbangun tetapi masih keadaan belum sadar karena mabuk.


Kemudian Febri meinumkan air kelapa tersebut ke Fadly.


“Pak berapa ?” ucap Febri yang membalik arah mengahadap kebapak penjual tersebut.


"Biasa neng, sepuluh ribu saja neng!!”


Febri langsung mengambil uang ditas nya lalu memberikannya kepada bapak tersebut. Selanjutnya Febri membuka jaket Fadly yang terkena muntahnya , lalu membuka baju kaos dalaman Fadly dan mengelapkannya kemulutnya Fadly. Kebetulan Fadly memakai baju dua lapis. Yang dalam baju kaos yang luar jaket. Sekarang posisi Fadly bertelanjang dada kemudian Febri memindahkan Fadly kekursi belakang agar Fadly bisa tidur dengan luasa.


Setelah setengah perjalanan sepertinya Fadly mengigil gitu dan Febri meminggirkan mobilnya lalu berhenti. Ia merelakan selimut barunya untuk menutupi tubuh Fadly yang kedinginan.

__ADS_1


“Febri, aku sayang sama kamu!!" kata Fadly sambil memegang kedua pipi Febri yang sedang menyelimutinya dengan keadaan ngingau.


Febri melepaskan tangannya Fadly dari pipinya kemudian kembali ke kursi depan untuk menyetir. Febri juga sangat lelah dan ngantuk, akhirnya Febri memutuskan untuk ke spbu yang tidak palah jauh dari rumahnya. Mereka berdua pun tidur dalam mobil. Dengan posisi Febri dikursi depan dan Fadly telentang dikursi belakang.


__ADS_2