
Pagi itu Febri menghubungi Fadly untuk meminta bantuan. Febri merasa bahwa Fadly orang satu - satunya yang bisa menolongnya. Namun takdir berkata lain , Faldy menolak panggilan Febri dari ponselnya.
Febri mencoba beberapa kali menghubungi Fadly. Namun hal yang sama dilakukan Fadly hingga membuat Febri lelah untuk menghubunginya.
Febri mengingat, mungkin Rahil bisa membantunya dalam luka ini. Ia menganggap Rahil berada dipihaknya. Hingga akhirnya, Rahil menerima permohanan bantuan dari Febri.
Rahil menjemput Febri dan mengantarkannya kerumah sakit menggunakan mobil pribadinya. Entah apa yang ada dipikiran Rahil mau mengantarkan Febri kerumah sakit dengan keadaan yang bener - bener maraknya perkembangan Virus Covid-19.
Langkah ini salah satu rencana Rahil untuk mendekatkan diri kepada Febri. Rahil tak mengerti apa yang ada dalam pikiran Febri, Mencintai namun tak berani mengungkapkan. Begitu juga dengan Fadly.
"Lo sudah mencoba untuk menghubungi Fadly Feb ?" Tanya Rahil yang berada didepan ruang ICU rumah sakit.
"Sudah Hil, Tapi Fadly memblokir semua panggilan !!" Kata Febri.
"Jadii Ibu lo sakit apa ??" Tanya Rahil Kepo. Ternyata Febri meminta tolong ke Rahil untuk mengantarkan ibunya ke Rumah Sakit karena kondisi ibunya yang sudah sangat parah.
Febri tak menjawab apapun. Ia tertunduk diam dengan membiarkan airmata mengalir di pipinya. Rahil mengerti dengan kondisi Febri saat ini.
Rahil memutuskan untuk tidak bertanya apapun tentang ibunya Febri. Rahil berusaha menjauh dari Febri dan mengambil ponselnya untuk menghubungi Fadly.
Febri tak kuasa menahan kesedihan ini. Ia terjatuh pingsan dan segera dibawa ke ruangan untuk di istirahatkan. Rahil menganggap Febri kelelahan mengahdapi masalah ini.
Rahil diminta ke ruangan oleh seorang Dokter yang menangani Ibu Salmi. Pembicaraan antara Dokter dan Rahil benar - benar serius. Rahil pun sempat tersenta kaget mendengar penjelasan dari doker tersebut. Rahil langsung keluar, dan membawa Febri untuk melihat kondisi ibunya.
keadaan Ibu Salmi sangat kritis, sehingga beberapa selang sudah menancap ditubuhnya dengan keadaan koma.
"Feb !! mohon iklasnya kepergian ibu loo !!" ucap Rahil bersedih.
"Maksud kamu apa Hil ?" Tanya Febri heran mendengar perkataan Rahil.
Menatap kedua mata Febri, Rahil langsung memeluk Febri seerat - eratnya sambil meneteskan airmatanya.
"Hill ada apa sebenernya Hil ?" Tanya Febri.
"Pliss !! lo jangan sedih ya ? lo harus kuat." Kata Rahil.
__ADS_1
Febri langsung menjerit dan menangis lalu ia memeluk tubuh ibunya. Rahil belum menceritakan apa - apa kepada Febri, namun dari gerak gerik Rahil Febru sudah mengerti apa yang terjadi.
"Maamaaaa !!!" Teriak Febri sambil memeluk ibunya. Febri terus - terusan meneteskan airmatanya.
"Feb!!! lo harus kuat. Tadi dokter bilang , harapan ibu lo untuk hiduo hanya 10%. 90% lagi tuhan yang menentukan. Lo banyak berdoa saja ya ? semoga tuhan masih memberikan kesempatan hidup untuk ibu lo !!" kata Rahil menenangkan Febri.
Febru hanya terpaku diam , dan membiarkan air matanya membasahi baju ibunya.
Sepanjang malam , Febri terus mengaji dihadapan ibunya. Ia belum siap untuk ditinggali ibunya selama - lamanya.
"Feb, Lo makan dulu nah !! dari tadi pagi sepertinya lo belum makan Feb." Kata Rahil sambil membawa sebungkus nasi.
"Makan lah Hil , aku nggak selera makan !! sampai sekarang mama saja belum ada makan nasi. Padahal mama sakit !" Jawab Febri yang masih meratapi mamanya.
Rahil mendekati Febri kemudian langsung memeluknya. Mata sudah bengkak karena Febri terus - terusan menangis tanpa henti.
"Febb!!"
Febri dan Rahil langsung melirik ke arah sumber suara. Febri langsung tersenyum puas melihat ibunya sudah sadarkan diri. Rahil langsung memanggil dokter kemudian pihak rumah sakit memindahkan Ibu Salmi dari ICU keruang rawat inap.
"Feb, Pegangi mama Feb !! perasaan mama, mama mau jatuh saja Feb." kata Ibu Salmi.
"Perasaan mama kok tempat tidurnya kecil sekali ya Feb! Perasaan mama, mama selalu mau jatuh saja Feb !"
"Iyaa maa , Mama istirahat yaa !! aku mau pulang dulu maa, mau ambil baju dulu dan mau masak maa!!!" Kata Febri.
"Mama tidak mau jauh - jauh dari kamu Feb !!" Kata Ibu salmi yang menggenggam tangan Febri.
"Tenang maa , Febri sebentar saja kok !! Febri cuma mau ganti baju saja maa dan mau masak untuk besok. Agar pengeluarab tidak terlalu besar maa. Mana disini saja yaa ? ada Rahil kok yang menemani mama !!"
"Hay Tantee!!" Sapa Rahil.
Febri pergi meninggalkan rumah sakit menuju rumahnya menggunakan ojek online.
Langit malam ini sangat sepi Tanpa ada bintang dan bulan. Hanya ada Awan mendung dan petir yang menghiasi langit malam. Sepertinya malam ini akan turun hujan deras sehingga menyebabkan Febri mempercepat geraknya. Febri terus - terusan memukul pundak supir ojek tersebut dan meminta supir tersebut menaikan gas motornya.
__ADS_1
"Fadly!!!" Kata Febri ketika sampai rumah dan melihat Fadly berada depan pintu rumahnya.
"Alhandulilah akhirnya lo datang juga Feb!!! Gue dengar dari Rahil, katanya mama lo masuk Rumah Sakit ? Rumah sakit mana ? Tadi ketika Rahil memberitahu lokasi rumah sakit tempat mama lo dirawat , ponsel gue matii. Jadi gue memutuskan untuk datang kerumah lo!!" Jelas Fadly.
"Oh iya udah ayok masuk dulu!!" Kata Febri sambil membuka pintu.
Apa yang dipikirkan Febri terjadi , Hujan lebat mengguyur kota Pekanbaru disertai angin yang begitu kencang.
"Faddd , aku mandi dulu yaa ! dari tadi pagi belom ada mandi ni !!!" Kata Febri.
"Ok Feb!!" Jawab Fadly.
Tak lama kemudian , Febri selesai mandi, Pakaian dan langsung menuju kedapur untuk memasak.
"Lo masak apa Feb ?" Tanya Fadly yang tiba - tiba menghampir Febri yang tetang memotong cabe.
"Sambal tempe saja Fad !!" Jawab Febri.
"Lo mau masak ayam tidak ?" Tanya Fadly.
"Tidak ada ayamnya Fad!!" Jawab Febri.
"Biar gue beli ayamnya yaaa !!!" Kata Fadly sambil berjalan pergi meninggalakan Febri dan mencari kunci sepeda motornya.
"Tunggu Fad" Teriak Febri. Kemudian ia mengejar Fadly yang masih berada diruang tengah.
"Tapi ini sedang hujan looo!!! lebat juga hujannya!!" Kata Febri.
"Biarlah ! sama hujan kok takut."
"Tapi Fadd , nggak usah ajalah. Biar aja aku masak sambal tempe. Ayam besok - besok aja masaknya." Jawab Febri.
Fadly tak menghiraukan Febri. Ia tetap nekad pergi dengan keadaan hujan lebat untuk membeli ayam potong. Febri yang berusaha mencegah, Akhirnya lelah dan mengikuti apa kata Fadly.
Febri hanya menunggu Fadly dirumah saja. Perasaan Febri yang tak karuan memikirkan Keadaan ibunya dirumah sakit dan Fadly yang pergi dengan keadaan hujan lebat.
__ADS_1
Febri takut terjadi apa - apa dengan Fadly hingga ia menunggu kehadiran Fadly didepan pintu. Sesekali ia melihat jam diponselnya karena ia khawatir dengan Fadly.
Waktu terus berputar , Tapi Fadly tak kunjung datang. Padahal baru 30 menit Fadly pergi , Namun Febri merasa sudah begitu lama Fadly pergi meninggalkannya. Hal itu terjadi dikarenakan menunggu itu adalah hal yang paling membosankan