
Pagi ini tepal pukul 07.00 WIB , Febri dan keluarga sedang bersiap siap mulai dari sarapan hingga mengantarkan papa nya kebandara karena sang papa akan kembali keKalimantan. Mereka diantarkan kebandara oleh supir pribadinya. Lalu supir pribadinya langsung membawa mobilnya ke Kalimantan dan Ibu Salmy selaku mamanya Febri langsung cus untuk bekerja, sedangkan Febri harus menunggu Fadly menjemput. Tapi sebelum papanya Febri terbang kekalimantan, Fadly sudah sampai bandara dan masih sempat bertemu oleh papanya Febri.
“Fadly, kamu jaga Febri baik-baik yaaaa, om minta tolong sama kamu karena oom tidak bisa menjaga Febri dari kejauhan. Jika Febri salah tolong ditegur, jika dia juga tidak bisa dibilangi kamu telfon aja oom yaaa!”
“baik, om ! hati-hati ya om.” ucap fadly sambil menyalam papanya febri dan memeluknya
“papa, kamu hati-hati yaaa, nanti jika sudah sampai langsung kabari mama.” ucap ibu Salmy
“Febri , jaga diri kamu baik baik yaaa, jangan nakal!”
“Baik paa, papa hati-hati yaaa!” jawab Febri sambil memeluk erat papanya, karena Febri sangat dekat dengan papanya dibanding sama mamanya.
Papa nya Febri langsung pergi dan mereka semua pada turun kebawah untuk pergi melaksankan tugas masing-masing. Febri dan Fadly jalan berdua menuju keparkiran
“Kenapa harus lo si yang jadi anak pak Agus?” Tanya Fadly. Agus merupakan nama papanya Febri
“Iya sudah, kau tidak usah lagi harus jemput dan antar aku. Aku bisa pergi sendiri kok!”
“Enggak bisa, gue harus memenuhi kemauan papa kamu. gue tidak mau mengkhianati kepercayaanya pak Agus terhadap gue.”
“Alay!!”
“Biar!”
“Mana mobilmuu ??”Tanya febri
“Maaf gue tidak membawa mobil. Tapi hari ini gue membawa sepeda motor. Tu di pojok parkirnya!” jelas Fadly
“Ooh”
“Nggak papa kan?”
“Ini terakhir aku pergi sama kau, besok-besok nggak usah jemput aku. Ngerti ? aku nggak suka!”
“Nggak bisa , kalau lo nggak mau biar gue telfon pak Agus biar langsung dinikahi lo sma pak Rogo, mau ?? hahahaha !”
“Ko nggak usa bilang lo lo lah didepan aku. Jijik dengar nya!”
“Ha , iya iya, nah pakai helm nya!” ucap Fadly sambil memberi helm ke Febri “Udah cepat naik”
Febri dan Fadly mulai meniggalkan bandara. Febri fokus memandangi ponsel miliknya. Sedangkan Fadly berjalan mengendarai sepeda motor dengan kekuatan penuh karena mengejar lampu hijau agar tidak kena lampu merah, hal itu membuat Febri takut dan spontan memeluk Fadly dari belakang. Selama Fadly ngebut, Febri tidak bisa berbuat apa apa , ia hanya bisa memeluk Fadly seerat eratnya sambil memejamkan matanya.
“Eh mbak kepala batu, jangan ditarik baju gue, nanti kusut nih!” ucap Fadly
“Apaan sih, nggak dengar lo kau ngomong apa?” jawab Febri sambil membuka kaca helmnya.
“ Lo ni yaa, uda oon budek juga iyaaaa.”
“Apaan sih?” ucap Febri sambil melepas pelukannya. Fadly pun mulai santai membawa sepeda motornya karena ia tau bahwa tadi Febri ketakutan. Fadly tetap fokus membawa motor, tetapi ketika ia melihat tukang durian, ia membelokkan sepeda motornya.
“Ih ini ngapain balik ?” Tanya Febri kaget
“Lo mau durian nggak, kita beli durian dulu yaaaa!”
__ADS_1
Fadly langsung memakirkan sepeda motornya dan langsung turun untuk memilih milih durian. Ia memulai dari menciumi bauk duriannya, memegang megang duri duriannya , dan melihat sisi bawah durian apakah sudah kebuka atau belum untuk menentukan durian yang sudah masak.
“Woi, kepala batu sini turun, bantui gue milih durian!” ucap Fadly
“Enggak ahh, aku di sini aja!”
Akhirnya Fadly menemukan durian yang masak, ia langsung meminta tukang duriannya untuk membuka duriannya dan ia makan disitu juga.
“Nah, lo mau durian nggak, enak lo!” ucap Fadly yang tiba-tiba datang membawa durian menghampiri Debri.
“Enggak ah, kamu aja yang makan.”
“Nah” sambil mendekati Febri
“Ih, jauhkan buahhh ituuu, bauk tau!” Kata Febri dengan ekspresi jijik
“Lebay lebay, mulai lebay mbak kepala batu.” sambil mengganggui Febri dengan mendekati durian ke dia
“Fadly!!!” bentak Febri
“Mau feb?” mengulangi perbuatannya
“Fadly!!” bentak Febri sekali lagi dengan nada suara yang agak kuat. Fadly semakin senang menggangguin Febri dan akhirnya ia memberanikan diri mencolek tangganya yang penuh dengan durian ke mulut Febri. Istilahnya durian yang tersisa ditangannya.
“Hueeekkk.” Febri mulai mengeluarkan muntah karena ia emang tidak suka dengan aroma durian.
“Feb, Feb lo kenapa ?? maaf maaf!” ucap Fadly sambil terburu-buru mengambil air munim dibotolnya dan menuanggkan air tersebut ke saputangannya dan langsung ia bersihkan mulut Febri yang belepotan durian.
“Makannya kalau nggak suka sama durian bilang, biar nggak kayak gini” ucap Fadly sambil membersihak mulut Febri menggunakan saputangannya. Fadly pun menatap kedua mata Febri dan begitu juga sebaliknya. Mereka berdua saling tatap menatap.
“Mana lo bilang, lo hanya bilang enggak saja”
"Ini memang laah, masih juga ngeles”
Fadly langsung membayar durian yang ia makan dan ia kembali mengendarai sepeda motornya menyelusuri jalan. Sepanjang jalan perut Fadly sudah mulai bunyi menandakan bahwa ia sedang lapar. Sudah seperti demo cacing-cacing diperut Fadly. Kamudian Fadly membawa Febri makan ditempat langganan ia makan.
“Ini kita kemana lagi sih ??” Tanya febri sambil mencubit bahunya fadly
“Aduhhh, sakit oon!”
“ Ya makannya ayok kita kembali ke tempat tujuan utama kitaa!!”
“Bentar dulu mbak kepala batu, kita cari makan dulu. Dari tadi gue belum makan. Lapar nihh. Kita makan ditempat langganan aku yaaa!”
"Ini kan banyak rumah makan yang kita lewati, kenapa harus ditempat langganan kau!”
“Iya jelas lahh, disini mahal tauuu, tempat langganan gue murah, hanya sepuluh ribu, uda banyak, dapat nasi berserta lauknya!”
“Masih jauh lagi nggak?”
“Enggak kok, kira kira 100 km lagi!”
“Apaaaaaaaaaaaa???” kata Febri sambil mengeluarkan se isi perutnya yang berisi tang, kunci inggris, obeng dan baut. Hahahaha ngeri kali bah yang ditelan Febri sehingga ia mengeluarkan itu semua. Itu hanya ibarat yaaaaa
__ADS_1
“Hahaha ya enggaklah, palingan hanya 2 km lagi, lo pegangan gue yang kuat. Mumpung masih gue kasih, kalau nggak gue kasih bingung lo mau pegangan apa?” ucap Fadly
“Ogahhh!” jawab Febri cuek. Tiba-tiba Fadly langsung menaikkan gas sepeda motornya dan ia dengan laju mengendarai sepeda motornya. Febri refleks langsung memeluk Fadly dan memejamkan matanya. Belum sampai 15 menit dijalan, mereka berdua sampai ketempat rumah makan langganan Fadly.
“Udah sampai , turun cepat!” suruh Fadly
“Kau bawak motor memang kayak setan yaaa!” ucap Febri sambil mencubit Fadly
“Aduh sakit oon!”
“Apaaaaaaa ? jadi ini kau sebut rumah makan??” ucap Febri kaget dengan nada suara yang agak keras. Fadly pun langsung menutup mulut Febri dengan tanganya dari belakang.
“Lo tu kalau ngomong pelan-pelan, nanti sempat orang yang punya rumah makan ini dengar gimana ?”
“Iiiii lepas tauuuu!” ucap Febri sambil melepas tangan Fadly, Febri langsung berbalik arah mengarah ke Fadly.
“He,,, ini itu bukan rumah makan yaaa, tapi ini itu warung makan. Uda tempatnya beginiii, kumuh , pantes lah sepuluh ribu dapat banyak. Paling yang dijual ayam sakit!”
“Sssssttttt… pelan-pelan kalau ngomong, ayok masuk!” ucap Fadly sambil menarik febri masuk
“Lepasin,,,Fadly, sakitttt!”
“Mbak nasi nya yaaa lauknya ayam penyet” pesan Fadly kepada orang rumah makan tersebut “Lo mau makan apa Feb??” Tanya Fadly
“Biar aku yang pesan sendiri!” jawab Febri sambil melangkahkan kakinya mendekati karyawan rumah makan tersebut “Mbakkk, ayam yang ketika dipotong dalam keadaan sehat adaaa ? bukan ayam tiren yaaaaa!” pesan Febri. belum selesai Febri ngomong dengan orang rumah makan tersebut, Fadly langsung menyambungnya.
“Maaf mbak, dia ini emang suka bercanda. Dia makan sama kayak yang saya pesan tadi ya mbak!”ucap Fadly sambil menarik Febri dan menutup mulutnya Febri dengan tangnya menuju ke kursi. Febri langsung menggigit tangannya Fadly karena kesal gara-gara ulah Fadly hari ini
“Aduhhh sakitt oon!”
“Makannya, tangan kau jangan biasakan menutup mulut ku ketika aku sedang ngomong. Nggak sopan tau!”
“Iya pulaknya lo ini ada ada aja si Feb, masa mesan makannya yang kayak gitu. Jagalah perasaan mereka!”
“Kan kalau….” Belum lagi Febri menyelesaiakan omongannya Fadly langsung memotongnya “Uda diam diam, lagian uda dipesankan!”
Mereka saling diam-diaman sampai makanan yang dipesan datang. Ketika makannya datang, Fadly langsung menyantap makannya hingga habis. Berbeda dengan Febri yang makan dengan perasaan yang amat jijik.
“Lo makannya lambat amat sih, niat makan apa enggaknya ?”Tanya Fadly
“Aku nggak selera makan lihat kondisi yang seperti ini, susah nelannya , ini aja aku makan sambil minum agar tertelan nasinya. Uda aahhh,aku nggak selera!”
“Sini gue habiskan” ucap Fadly sambil mengambil nasi Febri untuk dihabisinya.
“mau ko bekas aku ?” Tanya Febri heran
“Nggak ada racunnya kan ?? lagian kalau ini tidak dihabiskan mubazir, mubazir tuh sifat setan” jelas Fadly “Oh iya gue lupaaa, lo kan setan!”
“Ihh apaan sih!” ucap Febri sambil mau mencubit Fadly, tapi sebelum dia mencubit Fadly , Fadly nya mengelak. mengelakk ? tau arti mengelakkan ? mengelak itu menghindarr yawww
“Apa lo ?? mau cubit lagi ? ha?”
Lalu Fadly bergegas menyelesaiakan makannya dan segera pergi dari tempat tersebut menuju ke rumahnya Febri, kebetulan hari ini Febri dan Fadly izin tidak masuk kekampus .
__ADS_1
Hubungan Febri dan Fadly mulai akan dekat dikarenakan Fadly berjanji kepada papanya Febri untuk menjaganya. Fadly membawa Febri keliling-keliling kota Pekanbaru, dari mulai ke bioskop, ke mall beli baju Fadly dan membeli buku untuk Febri di toko buku.