Tak Pantas

Tak Pantas
BAB 37


__ADS_3

Pagi ini terakhir Febri kembali mengajar dikampus, dikarenakan keesokan harinya mahasiswa sudah diliburkan karena sudah maraknya perkembangan virus corona . Oleh sebab itu ia sudah bisa tidak masuk kekampus lagi dan mencari kerja yanga baru.


Tidak seperti biasanya, setiap pagi Fadly menjemput Febri untuk berangkat kekampus. Namun kali ini tidak, karena rumah Febri sudah sangat jauh dan tak searah lagi dengan Fadly. Oleh sebab itu Febri harus berjalan kaki dari gang rumahnya menuju ke halte dengan jarak kurang lebih sekitar 1 km. yaa memang sangat jauh dari simpang jalan raya kerumahnya. Sebenarnya angkot,becak ada tapi Febri memang benar-benar harus menghemat.


Febri tiba dikampus, ia membawa sekantong plastik hitam yang berisi dua tempat makan. Febri melirik-lirik kefakultas teknik dari Fakultas pertanian, seperi ada yang ia cari.


Tak lama kemudian Rahil melihat Febri dari lantai dua. Rahil langsung turun lalu pergi menuju kefakultas pertanian untuk menghampiri Febri. ingat yaaa, Rahil dari fakultas teknik ke fakultas pertanian.


“Feb!!” tegur Rahil yang tiba mengahmpiri Febri.


“Eh Rahil. Ko apa kabar ?” tanya Febri sambil melakukan hal selayaknya dilakukan oleh kaum wanita jika bertemu yaaa selalu cium pipi kanan kiri. Beda yaa sama lelaki.


“Sehattt gue Feb, bagaimana kabar mbak mbak pelakor itu ?? masih hidup apa sudah mati?”


“Yudia maksud kamu hil ?”


“Iya Feb, kan waktu itu gue dorong dia sampai mau mati gitu!!”


“sssst !! nggak boleh ngomong gitu Hil. Eh btw Fadly mana yaaa ? kok belum kelihatan ? aku mau ngasih bontot ini ke dia untuk makan siangnya” Kata Febri .


Tak lama kemudian Yudia datang menghampiri Febri yang sedang mengobrol dengan seseorang yang tak ia kenal. Yudia sudah sembuh dari sakitnya yang menyebabkan ia koma pada waktu itu, hehehehehe


“Febriii!!” Yudia yang mengageti Febri. kemudian Yudia melirik keteman ngobrolnya Febri


“haaa? Kamu pembunuh itu kan??” kata Yudia.


“Heee, mbak mbak pelakor ! gue bukan pembunuh. Lo nya aja yang lebay, didorong sikit langsung jatuh, kenak tembok, berdarah, pura-pura matiii ! dasar drama queen.” jawab Rahil.


“Heeee ko tu yaa udah salah masih aja ngeles.”


“Stop !!stop !! stop!! Ini bukan saatnya untuk berantam lagi ! yang merasa dewasa wajib minta maaf, karena meminta maaf bukan berarti salah dan meminta maaf juga tidak menjatuhkan harga diri kita!” kata Febri sambil memisahkan Rahil dan Yudia karena adu mulut.


“Ya udahhh, mbak-mbak pelakor ! gue minta maaf , atas kesalahan lo yang menyebabkan gue bersalah !” kata Rahil sambil menjulurkan tangannya dengan perasaan yang .


“Hee, ko niat tidak minta maaf ? ” Kata Yudiayang mengabaikan tanganya Rahil.


“Hee, mbak mbak pelakor ! yang penting ada niat gue mau minta maaf sama lo , lo sekarang mau maafi enggak ? kalau mau ya mau, kalau nggak mau ya enggak usahhh. Nggak penting juga jawaban maaf dari lo!!” Kata Rahil.


“Sudah sudah, percuma yaaa ! kalian itu sama sama keras, nggak bakal ada yang mau ngalah!!” Sambung Febri.


“Oh iya Feb, itu ko bawak apa ! keliatannya ko bawa bontot duaa, untuk apa ???” Tanya Yudia kepo yang melihat kantong plastik yang ditangan Febri.


“aoooh, i..i..ini un..tuk…” kata Febri gugup. Ia takut menjawab bahwasanya bontot yang ia bawa untuk Fadly.


“Satu lagi untuk Fadly ! kenapa emang ???”sambung Rahil.


Febri pun langsung kaget mendengar jawaban Rahil yang sama sekali tidak memikirkan perasaan Yudia.


“Oh, kamu nggak usah takut Feb, aku sudah tidak mencintai Fadly lagi. Ya Fadly itu cintanya sama kau, jadi aku tidak bisa memaksa kehendak dia kan?” jelas Yudia.


“Benar Yud ??? jadi aku sudah boleh dekat dengan Fadly ??” Tanya Febri riang.


“Boleh kok Feb!!”


“Febb, lo itu nggak perlu izin sama mbak mbak pelak bor ini. Fadly itu bukan siapa siapa diaa, jadi siapa saja berhak mendekati Fadly!” kata Rahil.

__ADS_1


Kemudian Yudia tak meresponya, melainkan Yudia menatap kedua bola mata Rahil sambil melotot.


Tak lama kemudian, Febri melihat Fadly lewat, Lalu Febri berlari mengejarnya.


Febri langsung memberi bontot yang ia bawa. Fadly menerima dengan senyuman tanpa merespon satu kata apa pun lalu ia pergi meninggalkan Febri.


Ketika Yudia dan Rahil melihat kejadian itu, mereka langsung berlari menghampiri Febri.


“Feb, kenapa Fadly ?? tumben ?” Tanya Rahil.


“Iyaaa, lagian wajah Fadly kusut gitu hari ini. Mungkin ia ada masalah kali yak.” sambung Yudia.


“Aku juga nggak tau dia kenapa !” Jawab Febri.


Yudia dan Febri kembali menuju ke Faperta sedangkan Rahil, langsung berlari mengejar Fadly.


“Ikan tomannn !! Ikannn toman!!” Teriak Rahil dari kejauhan memanggil Fadly.


Fadly hanya melirik kebelakang dan lanjut jalan saja tanpa memperdulikan Rahil. Kemudian Rahil tetap mengejar Fadly hingga ia benar benar dapat. Ketika sudah dekat, Rahil langsung menarik baju Fadly dari belakang.


“Lo apaan sih ?” Tanya Fadly sinis yang melepas genggaman Rahil ke bajunya.


“Lo nih kenapa sih ? katanya cinta sama Febri, tapi dia uda ngodein lo malah begini!!”


“Nggak penting!!” kata Fadly cuek langsung pergi. Rahil tetap berjalan disamping mengikutinya.


“Ikan toman, lo jangan gini- gini amat deh, lebay banget sih.”


“Lo bisa diam enggak ??” bentak Fadly.


“Heran gue, katanya semalam ia cinta sama Febri ! ini Febri sudah datang untuk membalas cintanya malah dicuekinnya begitu saja ! lo punya otak enggak ?? kalau nggak ada ayo kita ketukang ayam dulu beli otak ayam untuk mengisi kepala lo!” sambung Rahil.


Fadly hanya terdiam dan melanjutkan berjalan menuju ruangannya.


“Sumpah gue nggak habis pikir liat lo Fad, ingat yaaa ! kesempatan itu tidak datang dua kali. Wanita yang lo sia-siakan akan pergi bersama lelaki lain dengan begitu cepat ! ingat sesayang apapun wanita kepada lelaki, ketika lelaki tersebut mulai membuatnya tidak nyaman, wanita tersebut bisa berpaling ke lelaki lain yang bisa membuatnya jauh lebih nyaman!” Jelas Rahil sambil pergi meninggalkan Fadly.


Kemudian Fadly hanya berdiri tegak diam memikirkan apa yang dikatakan Rahil. Fadly langsung mengejar Rahil


“Hil !! hill ! tunggu” ucap Fadly yang menarik tangan Rahil dari belakang.


“Hil, ada yang mau gue ceritaan ke elo ! jadi lo jangan salah paham gini dong!!”


“apaa ??” jawab Rahil jutek.


Mereka berdua langsung duduk dibangku yang disediakan dibalkon lantai dua Fakultas teknik.


“Lo tau kan gue mau menikah ketika gue sudah beli rumah ??” Tanya Fadly yang menatap kedua mata Rahil.


“Tauuu , lo kan juga sudah pernah bilang, uang lo sudah cukup untuk beli rumah. Tinggal untuk biaya nikah lagi!!”


"Iyaa Hill, tapi itu semua uangnya sudah habis ! gue gagal nikah tahun ini Hil. Gue harus mengumpulkan lagi Hill.” Jawab Fadly kecewa.


“Haaa ? kenapa ? kemana semua uang lo yang untuk beli rumah ? dirampok ?di maling ? dijambret ? dibegal ?? makannya waktu itu gue bilang langsung beli rumah itu biar nggak hilang uangnya!!”


“Terossss, semua aja disebut !!! bukan itu penyebabnya Hill , ini la yang mau gue ceritakan sama lo ! tapi jangan lo bilang ke siapapun yaa!!”

__ADS_1


“Ok sip!”


“Uang gue habisss untuk membayar hutang mamanya Febri dibank. Gue nggak tega liat Febri harus kerja keras gitu untuk melunasi hutang ! nggak tega gue Hil. Apa lagi dia juga memikirkan biaya perobatan mamanya!!” Jawab Fadly.


“Whattt ??” Ucap Rahil terkejut.


“Nggak usah lebay kagetnya!!” kata Fadly.


“Paling enggak gue harus menghilang dari dia untuk setahun belakangan ini Hil, gue akan mencari uang lagi diuar kota atau diluar negri Hil!!”


“Aimakkkk ! lebay kali yang mau cari uang ini bah!”


“Yeee ! kok dibilang lebay, bukannya disemangati . gue akan mencari uang pokoknya Hill. Setelah gue mendapatkan uang untuk beli rumah, gue baru datang dan melamar Febri!!”


“Iya kalau Febri belum dilamar orang, kalau udah bagaiamana ??” Tanya Rahil.


“Berarti kami nggak jodoh Hil. Jika dia tidak ditakdirkan untukku, sehebat apapun aku berjuang aku tak akan pernah bisa mendapatkannya. Begitu juga sebalikanya, Jika dia di takdirkan untukku sejauh apapun posisi kami akan bertemu untuk menyatu seperti Adam dan Hawa. Oleh sebab itu gue mulai menjauh darinya agar gue bisa lupa sama dia ketika gue sedang jauh disana!!”


“Betol juga kata loo , yaudah !! lo semangat aja yaaa, gue hanya bisa bantu doa!!”


“Ia hil, makasih yaaaa” kata Fadly.


Kemudian Fadly pergi meninggalkan Rahil dan ia menuju kekelasnnya. Mereka melaksanai kewajiban mereka masing-masing. Setelah beberapa lama kuliah, Fadly memutuskan untuk pulang karena sudah tidak ada jam lagi. Ia langsung mengambil mobilnya diparkir dan mulai mengendarainya. Ia berjalan melewati Halte busway yang memang halte tersebut harus dilewati ketika keluar dari kampus. Ia melihat Febri sedang duduk termenung di halte sambil memeluk tas ransel miliknya.


Fadly tak tega melihat ekspresi wajah Febri. kemudian ia memberhentikan motornya dan menyuruh Febri masuk kemobilnya. Karena memang sudah terbiasa Febri menumpangi mobil Fadly, ia pun tak segan-segan lagi untuk menumpangi mobil Fadly. Sepanjang perjalanan, Fadly hanya diam tidak mengeluaran satu kata pun. Begitu juga dengan Febri yang menjadi canggung. Fadly membuat suasana menjadi Hening sehingga Febri segan untuk mengeluarkan satu kata pun. Namun tak seperti biasanya, yang biasanya Febri duduk disamping fadly kini sudah tidak seperti itu lagi . melainkan Febri disuruh duduk dibelakang dan kursi didepan untu Rahil yang sengaja Fadly bawak agar ia tidak hanya bedua dalam satu mobil dengan Febri.


“untung saja yaa gue masih diperpustakaan dekat kampus. Lain kali Faddd, kalau mau bawak gue pulang jangan mendadak gini dong!” kata Rahil yang baru masuk ke mobil sambil memasang Safety belt


“Loh ada Febri ??”ucap Rahil yang melirik ke kursi belakang. Febri hanya mersepon dengan mengangguk saja.


“Feb kalau tidak lo yang didepan dong, biar gue dibelekang!!” kata Rahil yang segan dengan Febri karena ia menggantikan posisi tempat duduk Febri.


“Nggak usah, biar lo saja yang didepan.” jawab Fadly.


Situasi menjadi semakin tegang sehingga tak ada satu pun yang bersuara. Fadly tetap fokus mengendarai mobilnya dengan kelajuan yang sangat laju.


"Fad, bisa tidak antarkan aku sampai ke gang simpang rumahku ? soalnya ada yang aku kejar dengan cepat” ucap Uebri yang memulai percakapan.


“Apa tu feb yang lo kejar ??” Tanya Rahil kepo.


“Aku mau jualan baju Hil kepasar, takut nggak terkejar kepasarnya. Tenang deh Fad, besok aku teraktir!!” kata Febri yang menegur Fadly yang dari tadi diam saja.


“ Tu Fad, sampai depan gang saja lo diteraktir, kalau sampai depan rumah kira-kira lo dikasih apa ?”


Tiba-tiba Fadly menyahut omongan Rahil


“Dikasih hati yaaa Feb."


“Segelas air putih saja” jawab Febri dengan senyum puasnya karena melihat Fadly sudah berbicara.


“Kalau air putih atau kopi bisa lah aku beri, namun kalau hati, agak susah. Karena kalau ke hati harus masuk dengan cara yang benar!!”


“Hemsss” jawab Fadly.


Kemudian Febri turun didepan gang sesuai permintaannya. Fadly melanjutkan perjalannya bersama Rahil. Karena untuk menuju kerumah Febri dari jalan besar , ada beberapa gang dan simpang yang harus dilewati. Febri juga mengerti bahwa Fadly terburu-buru untuk pulang kerumah neneknya. karena memang jadwal rutin Fadly hari ini pulang kerumah neneknya.

__ADS_1


__ADS_2