Tak Pantas

Tak Pantas
BAB 22


__ADS_3

Alaram tak mampu membangunkan Febri yang tertidur sehingga membuat bibik membangunkan Febri dari tidurnya. Bibik melihat Febri mengigau memanggil Nama Fadly sambil meneteskan airmata. Oleh sebab itu bibik langsung membangunkannya.


Setelah Febri terbangun, hal yang pertama kali ia lihat adalah bibik. Febri melihat cahaya matahari yang berusaha menembus gorden kamarnya yang tertutup rapat. Hal itu menandakan jika pagi sudah tiba. Febri kembali melihat kearah jam dinding, jarum jam yang tepat berada di angka delapan, ternyata benar, pagi benar sudah tiba. Febri langsung lompat dari tempat tidurnya lalu ia mengambil handuk yang berada samping lemarinya kemudian ia berlari menuju kekamar mandi.


Setelah selesai mandi, Febri langsung bersiap - siap untuk bekerja dan ia langsung menuju dapur untuk sarapan. Ia pun melihat seorang lelaki menggunakan kaos warna hitam lengan pendek dan mengenkanan celana jeans hitam dengan jaketnya yang terletak dicantolan kursi makan.


Febri kaget melihat lelaki tersebut kemudian ia langsung mendekati lelaki tersebut dan ternyataaa, lelaki tersebut adalah Fadly yang sedang menyantap nasi goreng buatan bibik.


“Hay Feb, lo uda siapan ? lama betol!!” sapa Fadly yang menyuapkan sesendok nasi kemulutnya.


Febri langsung menarik kursi makan dan duduk disamping Fadly. Lalu ia mengambil nasi goreng dari tempat nasi dan meletakkan ke piringnya yang telah disiapi oleh bibik.


“Fadly, terimakasih ya!!” kata Febri.


“Terimakasih atas apa ??” jawab Fadly bingung.


“Terimaksih aja karena hal semalam yang terjadi!!”


“Bye the way, lo belom bisa move on dari Rio yaaa ?” Tanya Fadly kepo.


Namun Febri tidak meresponya sama sekali, Febri tetap meneruskan sarapannya hingga selesai. Mereka berdua berangkat kerja menggunakan sepeda motor, karena mobil Fadly basah sehingga ia mengirimkamnya ke cucian mobil.


Sesampai dikampus, nggak seperti biasanya Yudia yang biasanya ribut kini hanya terdiam memandangi ponsel milikny tanpa memperdulikan kehadiran Febri. Febri jadi agak bingung saja melihat kelakuan Yudia yang benar-benar berubah 80 %.


“Yud, ko sakit yaaa??” Tanya Febri yang memulai percakapan.


“Iya aku sakit. Sakit hati!!” jawab Yudia jutek.


“Hahahahaha ? kenapa ?” Tanya Febri yang menganggap Yudia bercanda.


“Kau ini masih nanya aja yaaa, kenapa aku diami kau. Harusnya kau bisa berpikir dengan jeli dong!! ” bentak Yudia sambil mengambil tasnya dan pergi meninggalkan Febri.


“Kenapa sih anak itu??” pikir Febri


Jam tepat menunjukan pukl 09.00 WIB, jam perkuliahan sudah dimulai. Dosen-dosen pada masuk kekelas sesuai dengan mata kuliahnya. Berbeda dengan Yudia dan Febri, mereka tidak masuk kekelas melainkan mereka harus mengurus untuk akreditasi kampus.


Dua orang perwakilan dosen jurusan mewakili untuk rapat akreditasi. Dari Fakltas pertanian ada Febri dan Yudia, Dari fakultas Teknik ada Fadly dan reakannya, dan lain-lain.


“Hay Feb!!” tegur Fadly yang melihat Febri dan Yudia berada dimeja rapat.

__ADS_1


Yudia merasa kesal banget karena yang ditegur oleh lelaki yang ia cintai hanya Febri saja.


“Betek !!! betek !! betek!” sindir Yudia.


“Oh iya Febb, kenali dong rekan kerja aku. Kebetulan dia dosen baru difakultas Teknik!” Kata Fadly


“Hay !! febri.” sapa Febri sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman .


“Rahli.” balas Rahil melakukan hal yang sama yang dilakukan oleh febri.


“Rahil!!" Kata Rahil yang menegur Yudia.


“Yudia!!!” jawab yudia yang juga melakukan hal yang sama.


Semua dosen perwakilan fakultas mulai rapat dengan Rektor universitas. Mereka merapati agar akreditasi kampus naik dan bisa jadi kebanggan mahasiswa lulus di universitas yang akrediatsinya bagus. Sekitar sudah lebih dari dua jam, mereka semua selesai rapatnya dan pada bubar. Yudia yang terburu-buru keluar sambil berlari menghindari Febri. Namun Febri tak hanya diam saja, ia ikut berlari mengejar Yudia.


“Yudia, Yudiaaa,,,, kamu kenapa sih?” ucap febri yang berhasil mengejar Yudia dan menariknya dengan nafas yang ngos-ngosan.


“Lepasi Feb, aku uda muak sama drama ini. Kau nggak usah pasang muka lebih dari satu yaaa, lepasi semua topeng mu! Aku tau kau dikhianati sama Reiza sahabat mu sendiri tapi apaa ? hati kau busuk, kau balas semua ini sama ku” Yudia langsung berlari meninggalkan Febri. kali ini Febri tak mengejarnya melainkan ia hanya diam memikirkan apa yang diucapi oleh yudia.


Ting tung nada ponsel Febri berbunyi yang merupakan tanda ada pesan masuk. Febri langsung merogo ponsel di tasnya dan ia menemukan ponsel tersbut. Ternyata pesan tersebut dari Yudia yang mengirimkan gambar Febri berpelukan hujan-hujan semalam melalui pesan WhatsApp. Febri langsung kembali menuju ke ruang rapat untuk menemui fadly, karena ia belum ada melihat fadly keluar dari ruang rapat tersebut.


Fadly tampak kebingungan mengapa Febri siap rapat langsung berlari begitu saja. Fadly terbengong di kursi ia duduk sedangkan Rahil, bersiap-siap menyusun semua barang milik mereka.


“Nggak papa hil, semua barang-barang sudah disusun kan ? yok kita kembali ke pergi!!” ajak Fadly.


Mereka berdua langsung berjalan pergi meninggalkan ruang rapat dan kembali menuju ke Fakultas teknik.


“Ahh nggak seru ah, liat lo galau mellow gini!” kata Rahil yang melihat Fadly seperti suntuk gitu.


“Hil, lo bisa tenang nggak ?”


“Ah nggak seru lo dly, ngape lu ? putus cinta ???” Tanya Rahil kepo.


Dari kejauhan Fadly melihat Febri yang berjalan kiranya mau menemuinya.


Wajah Fadly yang tadi merengut suntuk kini ia kembali ceria lagi.


“Haaaa , lo kenapa senyum-senyum sendiri fad?”

__ADS_1


“Fadly, sebaiknya kau menjauh dari ku !! aku nggak mau ditinggalkan sahabat ku karena kedekatan kita!!” ucap febri yang tiba - tiba menghampiri Faldy dan ia langsung berbalik arah untuk pergi.


Tetapi sebelum pergi, Fadly menangkap tangan Febri telebih dahulu.


“Tapi alasannya apa gue harusnya menjauh dari lo Feb ?”


“Udaa ahh, lepasi Fadly” kata Febri yang berusaha melepaskan pegangan Fadly yang begitu kuat. Akhirnya Febri lepas dari genggaman Fadly dan ia langsung pergi meninggalkan Fadly. Fadly kembali memikirkan ucapan Febri, apa semua maksud dari omongannya. Ia berjalan sambil memikirkan hal itu hingga ia ta fokus berjalan dan menabrak tembok


“Hahahaha Fadly fadly, lo galau galau ! kalau jalan tengok-tengok juga!!” ucap Tahil yang menertawai Fadly.


“Lo bisa diam nggak ??”


“Hahaha ya enggak lah, uda la dly, lo nggak usah pikiri apa kata cewek lu, paling ntar lagi dia balik lagi” Jelas Rahil.


“Lo ni plin plan, terkadang manggil gue Fad, terkadang Dly, konsisten dong manggil nama gue !”


“Emang nama lo siapa ?” Tanya Rahil.


“Fadly. F A D L Y, dibaca Fadly!!”


“Tu kan depannya Fad belakangnya Dly kan ? nggak salah dong gue!!”


“Ha iya deh terserah lo mau manggil apaan!!"


“eh bye the way cewek lo cantik juga yaaa!!”


“Yang mana cewek gue ??"


“yang tadi laa!!!" Jawab Rahil.


“Dia bukan cewek gue, dia hanya teman gue saja!!”


“Apaa ?? tu kalau sudah berantam cewek sendiri nggak diakui. Kebiasaan lelaki ya gitu !!”


“Gue itu ya maunya lurus-lurus aja, nggak mau ada yang berantam kayak gini!!”


“ih nggak seru kali kalau pacaran sama elo, enaknya didalam hubungan itu ada berantamnya, kan seru!"


Tak ada jawaban apa apa dari Fadly, ia langsung meniggalkan Rahil yang celotehnya minta ampun. Rahil teriak-teriak memanggil Fadly namun Fadly mengabaikannya begitu saja.

__ADS_1


Yudia hanya diam saja mengota ngatik ponselnya, Yudia dan Febri satu ruangan yang sama. Febri langsung mendekati Yudia dan berusaha menejelaskan yang sebenarnya terjadi kepada Yudia. Febri juga menanyakan dari siapa ia mendapatkan gambar tersebut. Bukannya mendapatkan jawaban, malah Febri mendapatkan celoteh-celoteh yudia yang memarahinya.


Plakkkkk suara tamparan Yudia ke pipi Febri. Ia benar-benar sangat kecewa dengan tingkah laku Febri yang menjadi-jadi. Ia tak mau mendengarkan satu penjelasan dari Febri. Yudia langsung pergi meninggalkan ruangan karena ia sangat suntuk didalam ruangan. Begitu juga sebaliknya, Febri juga pergi meninggalkan kampus dan pulang dengan menggunakan angkutan umum.


__ADS_2