
Virus covid-19 sudah menyebar luas diIndonesia, Sudah seminggu berturut-turut Febri tak mendengar kabar Fadly sejak kejadian malam itu. Entah ia lari dari tanggung jawab entah dia sudah mati. Namanya juga pria brengsek, Jika sudah mendapatkan apa yang ia mau, Ia akan menghilang begitu saja.
Satu hari setelah kejadian malam itu , Ibu Salmi sudah diperbolehkan pulang kerumah untuk rawat jalan. Kondisi Ibu Salmi sudah membaik, Disisi lain , Keuangan Febri juga sudah menipis sehingga tidak memungkinkan Ibunya dirawat dirumah sakit berhari - hari.
Febri duduk didepan rumahnya dengan secangkir teh hangat tanpa memikirkan apapun. Ia memandangi langit-langit pagi berjam-jam. Ia juga tak tahu mulai kapan ia suka seperti ini. Tak lama kemudian nada pesan di ponselnya berbunyi. Ia langsung membuka pesan tersebut dan membacanya bahwa Yudia mau datang kerumahnya. Febri langsung membalas pesan yudia memeberi tahu alamat rumah yang selengkapnya.
Setelah Beberapa menit Febri membalas pesan Yudia, tiba-tiba Yudia sudah berada dihadapannya dengan membawa dua kantong pelastik makanan yang sempat ia beli dimini market.
“Feb , bagaimana kabarmuu ? aku ada bawak makannan nih untuk kamu dan ibumu!!” kata Yudia sambil memberi pelastik yang ia pegang.
“Alahhh Yud… Yud, repot-repot loh, kaya apa aja lah!!”
“Hee,,, ko tuh bersyukur yaa sudah aku belii itu, jarang-jarang lo aku baek!” ledek Yudia.
“Hahaha iya deh iyaaa, makasih yaaa.” jawab Febri. Kemudian Febri menerima kantong pelastik tersebut dan membawanya kedalam. Ia juga langsung membuatkan coklat hangat untuk Yudia, Karena Febri tau bahwa Yudia sangat suka dengan coklat hangat. Kebetulan Yudia juga membawakan coklat bubuk untuk Febri. sebenarnya sih kode bahwa Febri disuruh buatin coklat hangat untuknya, namun ia berpura - pura untuk memeberi ke Febri.
“Ini Yud, silahkan dicicipi roti dan coklat hangatnya !!” kata Febri sambil membawa nampan dan tertawa tipis.
“Hahah ini kan yang aku bawakkan??” Tanya Yudia
“Hehehe iyaa, aku tau kok maksud kamu yang sebenarnya!” Jawab Febri.
“Hehehehehe memang lah ko yaa. Sahabat terbaik. Oh ia Feb, bagaimana hubungan mu dengan Fadly ??” Tanya Yudia sambil mengaduk coklat hangatnya.
“Entah la Yud, aku juga nggak ngerti, padahal aku sangat merindukannya. Aku nggak bisa Yud jauh dari dia, tapi malah seminggu terakhir ini dia menjauh dari ku. Aku juga nggak tau apa penyebab utamanya. Ya aku tau, kami baik-baik saja!!” jawab Febri yang menutupi kejadian yang sebenernya.
“Tu uda ko tanya kenapa dia berubah??"
“Belum sih Yud, aku nggak berani menghubungi dia duluan. Kalau dia menghubungi aku , baru aku berani menanyakanya. Tapi malah dia nggak ada sama seali menghubungi aku!!”
"Iii… mentel amat ko ! ngapa ko nggak berani ??”
“Ih malu lah yud, masak cewek duluan yang menghubungi. Nanti kesannya aku menggatal sama dia!!”
“Berat kan pisah sama diaaa??”
“Berat banget Yud.”
“Tuh ngapa ko rela membuat perasaan lo sendiri tersakiti ? ayo dong hubungi diaaa!!”
“Aku maluuu.”
“Ah mati la ko!!” kata Yudia. Lalu ia meneguk minumannya.
Kemudian Yudia mengajak Febri pergi kesuatu tempat, yang mana Febri merasa bahwa ia sudah pernah melewati jalan tersebut. Febri hanya terdiam saja melihat kemana Yudia membawanya pergi. Semakin jauh perjalanannya semakin kenal pula Febri jalan tersebut. Kemudian Yudia berhenti didepan salah satu rumah.
“Loh Yud, ini kan rumahnya Fadly, mau ngapain ??” Tanya Febri heran.
Geram dengan sifat Febri yang gengsi untuk menghubungi Fadly duluan, Yudia membawanya kerumah Fadly untuk menemui Fadly langsung dan menanyakannya.
“Ia Feb,aku sudah nggak tahan lagi liat kalian ! padahal kalian sama sama sukaa, sama cinta kok malah menjauh!!” kata Yudia lalu turun dari motornya.
Yudia juga langsung mengetuk pintu rumah Fadly berkali-kali. Tapi hasilnya nihil, tak ada satu pun suara terdengar dari dalam rumah. Febri hanya melihati aksi Yudia diatas sepeda motor dan berharap Fadly keluar dari rumah.
“Kayaknya rumah ini kosong lah !!”pikirnya dalam hati.
Setelah mengetuk pintu secara terus menerus sambil memanggil nama Fadly, akhirnya keluar lah salah satu tetangga Fadly dan menghampiri Yudia.
“Ada apa ya mbak??” Tanya tetangga Fadly tersebut.
“Eehhh bujuk, kenapa malah ibu ini yang keluar !! perasaan nggak di panggil deh!” ucap Yudia dalam hati.
Yudia mengabaikan ibu tersebut dan terus memanggil-manggil Fadly dan mengetuk pintu.
“Ealahhh setan-setan ! awak uda datang kemari menghampirinya , malah dicueki gitu ajaaaa !” sindir ibu tersebut. Namun Yudia tidak memperdulikan omongan ibu tersebut. Febri kaget melihat tingkah Yudia mengabaikan ibu tersebut. kemudian ia turun dari sepeda motor dan menghampiri ibu yang sedang berjalan pulang kerumahnya.
"Ibu !! ibu !! maaf bu !”kata Febri sambil menarik tangan ibu tersebut.
“Maafkan teman saya bu, saya Cuma mau nanya, orang dirumah ini kemana ya buk ?” tanya Febri.
“Bilang ya mbak sama temannya, kalau ada orang itu dianggap ! jangan di cuekin gitu ajaaa!!”
“iya iya bu , maaf yaaa !” Kata Febri.
“Orang dirumah ini pergi kerumah sakit, katanya Fadly anak pak Windra yang bekerja jadi dosen lagi di isolasi dirumah sakit. Seminggu yang lalu petugas RS menjemput mereka sekeluarga setelah dinyatakan kalau Fadly positi corona.” jelas ibu tersebut
"Apaaa ? Isolasi ? Fadly terkena Corona bu ?" Tanya Febri kaget.
__ADS_1
"Ahh masa sih ? Kemarin orang tua Fadly menghubungi aku, Aku disuruh kemari. Nggak ada bahas corona gitu !!" Sambung Yudia yang mendengar pembicaraan mereka berdua dan ia langsung menghampirinya.
"Yaudah ! terserag mbak saja. Mau percaya atau tidak!!" Kata ibu tersebut. Kemudian ibu itu pergi meninggalkan mereka berdua. Febri langsung mengambil ponselnya lalu langsunh menelpon Fadly.
Ia terus Mencoba berkali-kali menghubungi Fadly namun sama sekali tidak ada jawaban. Bahkan Ponselnya nya ia matikan sehingga nomornya Tidak aktif.
“Kalau sudah positif berarti Fadly dibawak ke RSUD???” Kata Febri.
"Bisa jadi Feb!!" Kata Yudia.
“Yud ayokkk kita langsung ke RSUD aja!!” Ajak Febri yang langsung berlari menuju kesepeda motor. Yudia juga langsung mengendarai sepeda motornya dengan sangat laju. Febri yang sangat panik takut kehilangan Fadly , selalu menepuk punggung Yudia agar Yudia menambah kecepatan laju sepeda motornya. Hingga lampu merah dilewati dan ia dikejar polisi karena sudah melanggar aturan lalu lintas.
Kemudian Polisi berhasil memberhentikan Yudia karena memang lebih dari satu sepeda motor polisi yang mengejarnya hingga ia memberhentikan perjalanannya.
“Selamat siang mbak, bisa saya lihat SIM, STNK nya ?” kata salah satu polisi yang mengahampiri mereka berdua. Kemudian polisi yang lain melanjutkan tugasnya hingga tinggal dua polisi yang mengendari dalam satu sepeda motor yang menghampiri Yudia dan Febri.
“Jujur ya pakk, semua yang bapak minta saya punya ! Cuma saya malas aja memberinya. Nanti ditahan!!” jawab Yudia.
“Yud… kok kau gitu ngomongnya sama polisi, kasih aja lah, biar kelar urusannya.” Bisik Febri ketakutan.
“Udah pak, tolong ya ngertiin kami ! kami lagi buru-buru mau ngejar seseorang ! dia naek pesawat pakkkk, susah ngejarnya ! nggak mungkinkan saya lajukan motor saya kemudian saya terbang kayak layang-layang” kata Yudia berbohong.
“Itu bukan urusan saya ! kalau kamu tidak mau memberikannya kamu saya tilang!!” ucap polisi dengan tegas.
“aaaaaaaaakkkk” teriak Yudia. “Pak ada kecelakaan !!!” sambil menunjuk kearah belakang untuk memancing pandangan polisi aga mengalihkan pandangannya kebelakang.
Kemudian Polisi tersebut berbalik arah dan Yudia langsung menarik gas motornya dan kabur dari polisi tersebut.
Sebenarnya itu adalah trik Yudia untuk kabur. Ia membohongi polisi bahwasanya kecelakaan tersebut tidak ada. Polisi dengan cepat langsung mengejar Yudia.
“Hahahaha Dada Polisiiiiii!!” kata Yudia ketika melewati dua orang polisi tersebut.
Mereka berdua tertawa terbahak bahak melihat polisi berhasil ia kibulin. Namun baru beberapa jauh ia mengendarai motornya, tiba-tiba motor Yudia mogok ditengah jalan. Ia bingung kenapa motornya bisa mogok , ternyata ketika dicek bensinnya habis. Yudia lupa mengisi bensin disepeda motornya.
Polisi yang mengejarnya tadi berhasil menghampirinya dan menilang sepeda motornya.
“Alaaa, ketangkap jugaaa ! sia sia lah kabur!!” kata Yudia.
“Auduh bagaimana ini Yud ??” kata Febri panik. Sebelum polisi tersebut pergi, membawa motor Yudia, Yudia mendekati polisi tersebut.
“Iya dong, jadi maksud kamu saya sudah pakai baju seragam gini kamu bilang saya polisi palsu ???”ucap polisi tersebut dengan nada yang agak keras.
“Bah,,, santai la pak kalau ngomong, nggak usah sampe keluar gitu otot-ototnya!” kata Yudia
“Habisnya tingkah kamu bikin saya emosi.”
“pak, bapak polisi kan ? bapak pelindung masyarakatkan ??? tolong bapak antari temen saya ini ke RSUD. Karena ia mau nemui calon suaminya yang sedang dirawat, tolong laa dulu ! saya ngebut karena ngejar itu pak. Bapak nggak bisa nolak ! kalau bapak nolak berarti bapak bukan polisi, melainkan bapak sama seperti koruptor. Rela melihat orang semakin susah.” Kata Yudia.
“Ok ok , naik laaa ! biar saya antar!!” kata polisi tersebut dengan pasrah.
“Yakin yud nggak papa nih ??” Tanya Febri.
“Iya nggak papa Feb, biar aku ngurus motor ku ! nanti dibawak kabur pula sama polisi itu.oh iyaaa, salam ya sama Fadly ”
Kemudian Febri langsung naik kesepeda motor polisi tersebut, lalu polisi tersebut membawa Febri ke RSUD dengan cepat. Sepanjang jalan ia hanya terdiam, bingung , takut dan gerogi.
“Kenapa Fadly sakit nggak bilang-bilang yaaa?” pikirnya dalam hati.
Febri pun kesal ia lampiaskan amarahnya ke punggung polisi tersebut. Ia memukuli punggung polisi tersebut beberapa kali. Polisi tersebut bingung mengapa ia dipukuli dengan Febri.
“Heyy ! sakit ! apa maksud kamu mukuli saya ?” Tanya polisi tersebut.
“Aku bingung, kenapa Fadly sakit nggak bilang-bilang sama ku !! apa salah ku ?? perasaan aku sudah beri apa yang ia minta!” Teriak Febri.
“Ya mana saya tau." Jawab Polisi tersebut.
“Uda la pakk diam !!” kata Febri.
Akhirnya mereka sampai RSUD, Febri langsung mengambil uang disakunya yang hanya berjumlah dua ribu rupiah, kemudian ia langsung menyalamkan uang tersebut ketangan polisi yang sudah mengantarkannya. Sebelum polisi itu melihatnya, ia langsung berlari dan langsung menuju masuk ke RSUD.
“Kurang ajar, ini namanya penghinaan!!” kata polisi tersebut setelah melihat uang pemeberian dari Febri.
"Mbakk korban positif Corona bernama Fadly dimana yaa ?" Tanya Febri ke seorang receptionis RSUD.
"Untuk korban Virus corona tidak bisa dijenguk. Mohon Maaf , segera pulang dan dirumah saja. Doakan korban tersebut cepat sehat." Jawab Reciptionis RSUD.
Kemudian Febri duduk di kursi dimana kursi tersebut memang disediakan pihak RSUD untuk menunggu. Febri menundukan kepalanya dan ia meneteskan airmata.
__ADS_1
“Mengapa ini semua terjadi ! dimana aku telah hancur aku malah ditinggali gini saja. Mengapa Tuhan tidak memberikan kebahagiaan untuk ku ??” Ucap Febri.
Tak lama kemuadian datang seseorang pria berdiri didepan Febri dan memegang pundak Febri.
“Febri, Bukan tuhan tidak ingin memberikan kebahagiaan untuk mu, Namun tuhan ingin melihat sejauh mana perjuanganmu, sekuat apa kesabaran mu dan sekeras apa kamu melalui ini semua!!"
Ferbi merasa kenal dengan suara itu dan ia langsung melihat seorang yang menyapanya. Ia langsung berdiri dan memeluk orang tersebut.
"Bang Dedri” kata Febri. Ternyata orang yang menghampirinya adalah Dedri, Kakak kandungnya Fadly.
“Bang bener Fadly positif Corona??” tanya Febri sambil melepas pelukannya. Dedri menjawab hanya mengangguk saja.
"Abang di tes juga ?" Tanya Febri.
"Iya Feb , tapi abang sudah dinyatakan negatif. Sekarang abang disuruh isolasi mandiri di rumah." Jawab Dedri.
"Abang , aku ada masalah sama Fadly." Kata Febri.
"Abang tau Feb." Jawab Dedri.
"Apaa bang ?" Tanya Febri kaget.
“Pulang sana Feb. Istirahat lah dirumah. disini sangat bahaya , ada beberapa orang sudah di isolasi karena virus corona nih!!” Kata Dedri.
“Enggak bang, aku mau disini aja, Sampai aku bertemu dengan Fadly.” kata Febri.
Tak lama kemudian, Beberapa Perawat dan Dokter mendorong tempat tidur pasien dan diikuti Oleh Pak Windra dan Buk Mede menuju ruang ICU.
"Itu pasti Fadly !!Tapi kenapa tidak ada penyemprotan disinfektan atau pun pelindung dari Virus Corona ? kenapa Para dokter tidak menggunakan Pakai APD bang ? seperti nya ada yang abang tutupi dari ku !! Fadly bukan kena Corona kan bang ?" tanya Febri heran dan penuh kecurigaan.
Tak menjawab apapun , Kemudian Dedri membawa Febri pergi dan menangantarkannya ke Taxi.
“Bang lepasin akuuu!!” Kata Febri yang berusaha melepaskan tangan Dedri dari tangannya.
"Kamu pulang sana Feb !!!" kata Dedri.
Tak lama kemudian , Ambulan RSUD lewat dan didalam mobil tersebut terlihat ada orang tua Fadly.
"Itu Fadly mau dibawak kemana bang ?" tanya Febri yang berusaha mengejar ambulan. Namun Dedri mengejar Febri dan menariknya.
"Abang Bohong !!!" kata Febri sambil memukuli dada Dedri dipelukannya.
“Febri!!" tiba - tiba terdengar suara teriakan dari kejauahan memanggil nama Febri. Kemudian suara itu semakin lama semakin dekat dan ternyata orang tersebut Rahil
“Bang, lo harus bersiap - siap. Segera pergi bang !!” kata Rahil.
"Ok Hil, Abang pergi ya Feb. Jaga dirimu baik baik!!” Kata Dedri.
Kemudian Dedri pergi terburu-buru dan Febri melihatinya saja dengan penuh air mata yang menetes. Ia merasa ada sandiwara yang mereka lakukan. Rahil yang berada disamping Febri langsung memeluknya karena ia tak tega melihat Febri sesedih ini.
Kemudian Rahil membawa Febri ke parkiran, dan akan mengantarkan Febri pulang kerumannya. Namun belum lagi mereka naik mobil tiba-tiba mereka berdua melihat Yudia yang baru saja datang dan menuju keparkiran sepeda motor.
“Yudiaaaaa!!” teriak Febri.
Yudia langsung menoleh ke arah sumber suara, Yudia langsung mengahampiri Febri. Yudia juga sudah melihat mata Febri bengkak dan memerah karena menangis. Lalu Yudia langsung memeluk Febri.
“Ko kenapa Febb ??” Tanya Yudia.
“Fadly Yuddd, Fadly!!” jawab Febri terbata-bata karena sambil menangis.
“Kenapa Fadly Feb” Tanya Yudia.
Karena Febri sedang menangis sederas itu, Febri tak mampu menjelaskannya dan Rahil lah yang menjelaskan ke Yudia.
“Eh mbak-mbak pelakorrr ! lo kepo amat sih , lo sedih nggak bisa lihat Fadly lagi ? Fadly sudah pergi !!”
“Apaa ?? pergi ? bakal selamanya dia pergi???” Tanya Yudia.
“Bohong Yud !! Ada rencana dibalik ini semua !! Fadly tidak terkena Virus corona Yud!!"
"Febb, plis percaya !! Fadly positif corona !!!" Jelas Rahil.
"Bohong !!! kamu bohong Hil !!" Kata Febri.
"Yaudah , Ayok kita pergi Feb !! biari aja pembunuh ini berbong!!" kata Yudia.
Yudia membawa Febri pergi, dan meninggalkan Rahil di parkiran RSUD sendiri.
__ADS_1