
Febri keluar dari mobil setelah Fadly membukakan pintunya. Ia berjalan menjijinjing sepatu hak tinggi miliknya, membiarkan telapak kakinya menyentuh butiran-butiran tanah. Pandangan tetap mengarah kedepan, tu sedikit-sedikit ia melirik ke fadly.
“Febri, kenapa sepatunya dijinjing??dipakai dong!!” kaget ketika melihat Gebri turun dari mobil menjinjing sepatunya.
“Aku nggak bisa memakai sepatu yang beginian Fadly, aku nggak biasa ! apa lagi setinggi ini. Goyang rasanya serasa mau jatuh!”
“Yuk kita duduk dulu dulu. Coba aja pakai dulu sepatunya, sekalian latihan sebelum kita sampai keacara wedding Reiza!” kata fadly sambil mengambil sepatu yang dipegang Febri lalu memakaikannya kekaki Febri.
“Dah beres !! coba berdiri” kata Fadly.
Febri langsung mencoba berdiri dan ia mencoba berjalan lagi, tak disangka - sangka ia terjatuh lalu Fadly menangkapnya. Mereka saling pandang memandang menatap kedua mata yang berkaca-kaca.
“Ehhhh makannya badan tu dikuruskan lagi, biar nggak susah jalannya!” kata Fadly, sambil melepaskan Febri ditankapannya.
“Mau kurus semana lagii gilak, ini aja uda berat 55 kg aku. Kamu tuh nyebelin banet sih, suka banget bilang aku gendut la!” kata Febri yang memukuli Fadly.
“Aduhh,,,, kan gue kagak ada bilang lo gendut, Cuma lo gue suruh kurusan lagi badannya !!”kata Fadly yang menangkis pukulan Febri.
“Tapi kan maknanya sama aja itu!”
“ini, gue pinjamkan lengan gue, untuk pegangan lo agar tidak jatuh lagi !” kata Fadly yang memberikan lengannya.
“Enggak aku bisa jalan sendiri! ” Febri langsung sok-sokan berjalan lagi, eh ternyata dia jatuh yang kedua kalinya lagi-lagi Fadly menangkapnya.
"Makannya lo itu kalau nggak bisa jangan sok-sokan!! gengsi amat megang lengan gue depan orang ramai!!"
“Ya udah, sini kan lengan mu!!”
Fadly langsung memberikan lengannya ke Febri agar ia tak begitu susah berjalan menggunakan sepatu hak tingginya. Kini tepat sudah dipintu masuk salah satu hotel ternama di Pekan baru Riau dimana tempat acara wedding Reiza dan Rio diadakan. Febri memberhentikan langkah kakinya ketika sudah masuk dipintu masuk. Tetapi Fadly tetap merayunya untuk masuk kepesta tersebut agar ia bisa terlihat tegar di depan Rio dan Reiza.
Setelah melangahkan kakinya berapa langkah, Febri dan Fadly memasuki lift, dan menuju ke lantai 3 hotel tersebut. Febri semakin tidak kuat melihat acara tersebut. Jantung yang berdetak kencang dan perasaan yang merinding.
Fadly tetap membawa Febri masuk dengan tangan yang saling berpegangan layaknya sepasang kekasih. Dan mereka berdua sudah tepat dipintu hotel yang sudah ramai oleh pegawai-pegawai yang menyambut tamu dan menerima undangan yang telah dibawa. Dikarena kan syarat masuk keacara tersebut membawa bukti undanganya kembali. Karena tidak semua orang bisa masuk keacara tersebut. Ntah karena takut makanannya habis entah takut yang datang anak-anak kos yang Cuma cari makan gratis, heheheheh.
__ADS_1
“Fadly, sebaikanya kamu saja yang masuk. Sepertinya aku menunggu diluar saja yaaaa!!” kata Febri sambil berjalan menempel ke tembok dengan mata yang berkaca-kaca. Fadly tetap merayunya agar ia masuk keacara tersebut.
“lo nggak boleh kelihatan lemah Feb, lo harus kuat. Ini sudah takdir. Bukan kita yang menentukan takdir. Tapi allah , apa yang kita harapkan tidak akan diberi allah kalau itu bukan yang terbaik untuk kita, melainkan allah akan memberikan yang terbaik untuk kita. Dalam artian, Rio itu bukan yang terbaik untuk lo dan allah sudah mempersiapkan orang terbaik untuk lo!!” kata Fadly, lalu ia memagang dagu Febri yang kepalanya tertunduk lalu mendungakannya. Tau nggak mendungakan ?? itu lo dagunya kan kebawah lalu dikeataskan agar Fadly bisa menatap mata Febri.
Fadly menatap kembali mata febri yang berkaca kaca “bisa jadi gue Feb yang terbaik untuk lo !!” kata Fadly dalam hati.
“Tuan , Nona jadi masuk enggak ??? undangan sudah saya terima tapi malah berpacaran disitu!!!” ucap salah satu pegawai penerima tamu.
Fadly dan Febri kompak memutar kepala mengahadap ke pegawai tersebut dan bergegas berjalan untuk masuk. Karpet merah sudah terbentang untuk tamu berjalan melewatinya. Dari kejauhan Rio tampak terlihat tampan yang sedang duduk bersanding dengan seorang sahabat Febri dengan raut muka yang bahagia. Febri tak menyangka yang seharusnya duduk bersanding dengan Rio di pelaminan adalah Febri. Mengapa kini malah sahabatnya sendiri. Fadly kembali membawa febri berjalan mengambil segelas air yang telah disediakan dalam jumlah yang banyak. Fadly juga melirik kekursi yang kosong untuk mereka berdua. Fadly pun menemukannya kursi kosong tersebut dan membawa Febri ke kursi tersebut. Jarak kursi mereka ke pelaminan Rio dan Reiza tidak lah jauh,hanya perlu beberapa langkah lagi sudah sampai ke pelaminan Rio dan Reiza. Lalu mereka berdua hanya terduduk diam dengan segelas air saja. Febri tidak meberanikan diri untuk melihat ke Rio dikarenakan mata yang sudah berkaca-kaca bisa meneteskan air mata.
“Lo mau makan feb ? biar gue ambilkan!!” kata Fadly.
“Enggak Fadly, aku nggak mood makan !” jawab Febri yang meneguk air.
“Yaudah, aku ambil makan dulu yaa, laper ni!!” kata Fadly sambil berdiri dan melangkahkan kakinya ke hidangan yang sudah di sediakan. Fadly mengambil tak kira kira ia mengambil makanan dalam porsi yang banyak. Orang disekitar hanya meliriknya dengan ekspresi muka yang jijik. Mungkin pikiran orang tersebut ni orang rakus amat yaa. Tetapi Fadly tidak memperdulikan hal itu karena pikirnya, ia mengambil banyak dalam satu piring untu dua orang. Fadly kembali kekursi tersebut dan menaruh makanannya diatas meja.
“Astagfirullah Fadly, kamu ngambil makan kok kayak tumpeng gitu. Kamu apa nggak malu ? badan tegap, muka ganteng, baju rapi berkemaja berdasi, masak ngambil makannya segitu, jaim sikit kenapa!!” kata Febri yang kaget melihat nasi Fadly.
“He Fadly, kau nggak usah ge’er yaa, untuk hari ini saja kamu ganteng, kemarin dan esok kamu tuh jelek!!”
“Hahaha jadilah, yang penting gue pernah ganteng dimata lo walaupun Cuma sehari. Tapi lo hari ini juga cantik, nggak tau kalau esok!!”
“Aku tuh yaaa, cantik selamanyaaaa dan itu sudah dihak patenkan bahwa aku itu cantikk. Ngerti ?? eh ko apa nggak malu ambil makan sebanyak itu ??”
“Huekkkk, wihhh enggak dong, lagian gue ngambil makan sebanyak ini bukan untuk gue saja, tapi kita berdua kongsi. Sssttttt nggak boleh nolak!!” kata Fadly menyuruh Febri diam yang baru saja Febri mengangakan mulutnya untuk ngomong melalui jari telunjuk Fadly yang ditempelkan ke bibir Febri.
Fadly langsung menyantap makanannya dan juga ia menyuapkan ke Febri, walaupun Febri sempat menolaknya, tetapi Fadly memaksanya terus. Hingga Febri mau disuapkan oleh Fadly. Tetapi yang anehnya, setiap fadly makan 5 kali suap baru ia suapkan kembali ke Febri, begitu juga seterusnya hingga makanan tersebut habis tanpa sisa. Kue – kue yang disediakan dimeja hidangan rasanya akan mubazir jika Fadly tak mencicipinya. Fadly pun kembali bangkit dan melangkahkan kakinya menuju kemeja hidangan kue. Tak berapa lama Fadly menjauh dari Febri, tiba - tiba Reiza melirik ke tamu undangan dan terlihat lah Febri sedang duduk seorang diri. Reiza langsung menemui orang sound dan ia mengambil mikropon dan kembali berdiri dipelaminan.
“Selamat malam semuanya, dimakan yaa makanan yang telah disediakan!!” kata Rezia yang berbicara menggunakan miropon agar tamu dari ujung ke ujung bisa mendengar suaranya. Semua tamu undangan melirik ke Reiza semua dan pada diam hingga situasi sangat senyap.
“Oh iya sebelum kami potong kue bolu pernikahan kami, ada sedikit cerita nih dari suami saya, semuanya bisa melihat wanita yang duduk sendirian disudut sana!!” Kata Reiza sambil menunjuk ke Febri. Semua tamu undangan langsung berputar arah dan langsung melirik ke Febri.
"Tau kan wanita itu ?? itu merupakan mantan pacar suami saya, dia itu nangis sampai masuk rumah sakit gara-gara dia mendapakan berita kami ini mau menikah. Dia sangat cemburu dan ia mengemis kepada suami saya untuk memintanya kembali behubungan dengan dirinya dan ia meminta suami saya untuk melepaskan saya. Tapi suami saya lebih sayang sama saya dan suami saya menolaknya mentah-mentah, dan akhirnya ia niat berbuat jahat kepada kami. Dan akhirnya kami menikah dan dia !!! lagi menyusun strategi untuk menghancurkan acara kami. Betulkan suamiku ??” kata Reiza.
__ADS_1
“Betul” jawab Rio menggunakan mikropon . Febri hanya melihatinya saja, mula-mulai matanya hanya berkaca-kaca saja lalu ia mengedipkan matanya kemudian meneteslah air mata yang telah ia tahan. Semua tamu undangan pun menyoraki Febri.
“Bohong” ucap Fadly yang tiba-tiba muncul dari arah tamu undangan dan menuju ke kursi pelaminan lalu mengambil mikropon yang ada ditangan Rio.
“Itu semua bohong, wanita ini!!” sambil menunjuk ke Reiza “Merupakan salah satu perebut pacar orang dan Ia rela menjadi simpanan laki laki ini!!” sambil menunjuk ke Rio “Mengapa ia rela menjadi simpanan laki-laki ini ? mengapa ia sebagai wanita simpanan tidak meminta untuk memutuskan hubungannya dengan wanita yang ada disana ??” sambil menunjuk Febri. “Karena, ia menunggu uang yang dikumpulkan oleh laki-laki matre ini untuk biaya nikah. Uang itu merupakan hasil dari meminta ke wanita yang ada disana, dalam artian biaya nikah ini hasil dari memeras seorang wanita yang sudah percaya kepadanya. Sudah tau laki-laki ini mencari uang dari hasil meminta, dengan bodohnya wanita ini mau menikahi lelaki ini!!” kata Fadly dengan suara tingginya lalu melemparkan mikropon kemudian mengejar Febri yang berlari sambil menjinjing sepatunya.
Febri trus berlari dengan air mata yang keluar begitu deras menuju keluar hotel.
Cuaca malam ini menggambarkan Susana hati Febri, bintang dan bulan yang biasanya mewarnai langit pada malam hari, kini tak muncul. Keadaan diluar sangat dingin dan petir yang sangat kuat. Febri tetap berlari menyusuri jalan dengan tetesan hujan yang sangat deras. Dari dalam hotel tak terasa diluar sudah hujan deras, ketika keluar baru keliahatan hujanya.
Fadly tetap berlari mengejar Febri walaupun lagi hujan deras. Tak peduli Air yang membasahi tubuhnya. Akhirnya Fadly berhasil menangkap Febri
"Febri kenapa lo harus berlari ?? masih banyak yang mau aku omongi agar semua orang tau bagaimana buruknya sifat Reiza dan Rio!!"
“Nggak perlu Fadly, nggak perlu. Kenapa harus aku yang mengalami ini. Mengapa harus semenderita ini hidup kuuuu tuhannnnnn” teriak Febri.
“Mungkin emang sudah begitu jalannya Feb, lo nggak perlu tangisi hal itu. Emang sudah takdir lo menghadapi semua ini Feb. lo jangan berpikir lo itu paling menederita. Di dunia ini banyak yang menderita malah lebih parah dari lo. Tuhan memberi cobaan ini karena tuha tau kalau kau sanggup menjalankannya."
Febri langsung berbalik arah dan mengarah ke Fadly “ko nggak tau gimana rasanya hidup ku Fadlyyy, aku nggak pernah merasa dicintaiii, nggak peduli sebaik apa aku!!” ucap Febri yang memukul-mukuli badannya Fadly.
“Siapa ? siapa yang peduli dengan ku ? orang tua ? mereka sibuk dengan karir nya meraka, teman, sahabat ? bahkan mereka tidak memperdulikan akuu. Siapa orang yang selalu ada untuk aku ketika aku bersedih ? siapa yang nggak pernah bosan mengahadapi sifat ku yang begini ? siapa ? siapa yang mencintai aku dengan tulus ?? nggak ada Fadly, nggak ada !!"
“Gue !! Gue orang yang selalu ada untuk lo Feb, gue yang mencintai lo dengan tulus Feb !!! Andai kalimat itu bisa gue ucapkan secara lisan didepan lo Feb**!! ” ucap Fadly dalam hati.
“Suatu saat akan ada orang yang mencintai lo dengan tulus Feb, akan ada orang yang selalu untuk lo Feb!!” kata Fadly sambil menarik tubuh Febri dan memeluknya.
Febri hanya bisa pasrah dan meneteskan air matanya yang begitu deras dipelukan Fadly. Ehm.. tisu mana tisu mana ???heheheh
Keadaan Febri yang melemah membuat Febri pingsan dipelukan Fadly, Fadly langsung mengangkatnya lalu membawa ke mobilnya. Febri diletakkan disamping Fadly. Mereka berdua sama-sama basah kuyup. Walaupun dengan keadaan basah kuyup, Gadly tak perduli seberapa basah mereka yang menyebabkan kursi mobilnya akan ikut basah. Fadly kembali menatap wajah Febri yang sangat kelelahan. Ia mengenggam tangan Febri dan menciumnya.
Fadly kembali menyetir mobilnya dengan kelajuan yang sangat laju dan segera membawa Febri pulang kerumahnya. Ketika sampai dirumah Febri, Fadly langsung mengangkatnya dan membawanya kekamar tidur Febri.
Setelah itu Fadly kembali kemobil dan langsung menuju pulang kerumahnya.
__ADS_1