Tak Pantas

Tak Pantas
BAB 36


__ADS_3

Srenggggg suara penggorengan terdengar dari dapur seperti seseorang yang sedang memasak membuat Fadly terbangun dari tidurnya. Kemudian ia langsung menuju kekamar mandi untuk mencuci mukanya.


Ia keluar dari kamar mandi, terlihatlah Febri yang sedang memasak nasi goreng untuk sarapan pagi ini.


“Feb lo Nampak baju gue ??” Tanya Fadly.


“Itu baju lo gue cuci, ko pake kain kenapa, nggak malu ko didepan aku telanjang dada gitu ??” Kata Febri sambil memperhatikan tubuh Fadly dihadapannya.


“Loh ? bukannya lo pernah membuka baju gue ketika gue sedang mabuk ???” ledek Fadly.


“Ya udah la sana , aku biar ambil baju kaos aku !” Kata Febri sambil mendorong Fadly yang mendekat dengannya.


“Ha ? nggak usah Geb, males banget gue pake baju wanita!!”


“Ih ini bajunya umum tau, baju dari batam ! jadi untuk lelaki dan wanita bisa!” Kata Febri yang meyakinkan Fadly.


“Oh yaudah, ambil laaa!” kata Fadly.


Lalu Febri meletakkan piring nya ke atas meja kemudian ia menuju kekamar untuk mencari baju batam oleh-oleh dari Reiza. Fadly pun langsung bergegas mandi, dan mengambil handuk yang ada dikamar Febri.


Baju batam yang dicari Febri ia temukan di lemari mamanya.


“Fad, ko mandi ??” Tanya Febri dari balik pintu kamar mandi.


“Iya Feb!!”


“Ini baju buat lo!!”


“Taruk aja diatas meja, nanti gue ambil!!”


“Ok lah, aku keluar dulu yaaa mau mengantarkan mama!!”


“Pakai saja sepeda motor gue ! kan gue bawa motor matic mungkin lo bisa memakainya!!”


“Ok. Baik-baik ko disini. Jangan ada yang ko curi barang dirumah ini yaaa, bukan punya ku ! tapi punya alm nenek yang pernah tinggal disini!!” Gurau Febri.


“Amaaan, lo pikir gue pencuri!!” Jawab Fadly.


Febri langsung mengantarkan mamanya ke puskesmas mengunakan sepeda motor milik Fadly, ternyata pihak puskesmas memberikan saran untuk membawa mamanya ke rumah sakit umum dikarenakan alat-alat dipuskesmas tidak selengkap di rumah sakit. Perawat puskesmas hanya bisa memberi obat hasil dari keluhan pasien.


Kemudian Febri langsung bergegas untuk pergi menuju ke rumah sakit Karena ia tak ingin ada sesuatu yang terjadi pada mamanya.


“Ada keluhan buk ?” Tanya dokter pada buk Salmi.


“Ini dok saya sering sekali ngerasakan nyeri pada punggung bawah, perut bagian bawah dan pada tulang saya dok!!” Jawab buk salmi.


“selain itu buk ?” tanya dokter yang mencatat keluhan dari bu Salmi.

__ADS_1


“Urin saya berdarah dan penurunan dok. Rambut saya juga banyak kali yang rontok!” Jawab bu Salmi.


Dokter spesialis penyakit dalam langsung memeriksa keadaan ibu Salmu, banyak sekali proses-proses pemeriksaannya sehingga butuh waktu yang cukup lama. Febri tidak melihat langsung mamanya diperiksa, dikarenakan ketika pemeriksaan Febri diminta keluar oleh doker. Selesai pemriksaan, dokter kembali memanggil Febri dan berbicara secara empat mata diruangan dokter tersebut.


“mohon maaf saya harus menyampaikan informasi ini kepada mbak…. Mbak siapa namanya ??” Tanya Dokter tersebut.


“Febri dok!!” jawab Febri.


“Iya mbak maret!!” Kata dokter.


“Febri dok bukan maret!!” Jelas Febri.


“Hehehe iya ,kamu jangan tegang-tegang amat lah mukannya!!”


“Ya sudah !! dokter langsung to the point aja. Apa yang mau disampaikan ?” Kata Febri yang mulai tak mau bercanda.


“Mama kamu terkena kanker serviks. Setelah dilakukan pemeriksaan, sel kanker telah menyebar kekandung kemih. Dalam keadaan ini, kanker telah menyebar ke lokasi yang lebih jauh dalam tubuh seperti menyebar pada bagian tulang,paru-paru dan hati. Mama kamu sudah kanker serviks stadium 4 b, dimana angka harapan hidup hanya lima tahun setelah diagnosis adalah lima belas persen . pada stadium ini , biasanya pengobatan dilakukan dengan radioterapi dan kemoterapi serta pemberian obat. Selain kerap menjadi masalah dan berpengaruh tinggi pada stadium, kanker serviks dan juga angka harapan hidup lima tahun adalah keterbukaan soal penyakit yang diderita pasien. Keterlambatan deteksi dan pengobatan juga penyebab meningkatnya stadium kanker serviks serta menipisnya angka harapan hidup lima tahun. Dan saya rasa mama kamu sudah lama derita penyakit ini!!” Jelas Dokter tersebut.


“Apa dokkkk ?” kata Febri tersentak kaget sambil meneteskan airmatanya.


“Apa nggak ada cara lain dok untuk penyembuhan mama saya ??" Tanya Febri sekali lagi.


"Ada !! Dengan menjalani kemoterapi!!”


Febri langsung berlari meninggalkan dokter tersebut menuju ke balkon rumah sakit. Ia tak siap harus kehilangan mamanya. Ia juga tak kuat menahan air mata kesedihannya ini. Dan Ia juga tak siap mengikuti saran seperti yang dikatakan dokter untuk kesehatan mamanya. Febri terkendala masalah biaya untuk mengobati mamanya, untuk perawatan dan kemoterapi saja sudah sekitar lima belas juta. Sehingga membuatnya bingung harus mencarinya kemana.


Kemudian ia segera menghapus air matanya dan berbalik arah kearah mamanya.


“Ia maa ! mama kok disini ? mama kan harus dirawat dulu!!" Kata Febri yang berusaha menutupi kesedihannya.


“Tidak Feb, mama tidak mau dirawat. Mama mau dirumah saja, ayok kita pulang !” Ajak bu Salmi.


“Enggak ma… mama disini aja sampai mama sembuh total ! aku akan berusaha keras untuk mencari biayanya maaa!!”


“Apa kata dokter sama kamu feb ? penyakit apa yang diderita mama ??” tanya Buk Salmi.


Febri tak bisa berkata apapun. Ia langsung memeluk mamanya dan meneteskan airmata.


“Mama sudah berapa tahun merasakan gejala ini ???” Tanya Febri yang menatap kedua bola mata bu Salmi.


“Sekitar 4 tahun yang lalu lah Feb, makannya sekarang rambut mama semakin lama semakin menipis, rontok semua ! rasa mama ini karena mama salah pakai sampo !” jawab bu Salmi yang berusahan menginngat.


“Enggak maaa, enggak ! ini bukan salah samponya ! tapi mama menderita kanker serviks stadium 4b maaaa!!” jawab Febri.


Febri lalu berteriak menangis dan memeluk mamanya “Aku tau , mama tak akan kuat mendengar kabar ini maaa, maafkan aku maaa!!" Kata Febri.


“Febri,,, Febri,, kamu jangan menangis!!" kata ibu Salmi sambil tersenyum lalu melepaskan pelukan Febri. Kemudian ia kembali menatap kedua mata Febri.

__ADS_1


“Kamu harus kuat, harus sabar mengahadapi semua ini ! kamu tidak perlu memikirkan mama lagi, karena memang sudah saatnya mama kembali pada yang maha kuasa ! Febri jangan kayak anak kecil gini laah!!” jawab Bu Salmi yang berusaha tegar.


“Tapi maaa !!”


“sudah, nggak ada tapi-tapi ! kalau mama mati, kamu jangan pernah hubungi papa kamu yaaa ! cukup kita aja yang tau!!”


“Maaaa, Febri belum siap kehilangan mama !!”


“Yang namanya hidup akan ada yang namanya mati. Sama dengan pertemuan , Setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan. Semua sudah di atur Allah swt. Kita hanya merencanakan tapi Allah yang menentuka. Ayok kita pulang saja” Kata Bu Salmi.


Mereka berdua akhirnya pulang kerumah. Sepanjang jalan Febri terus menangis tanpa berhenti. Lalu ketika sampai kerumahnya, ia langsung berlari menuju kekamarnya untuk melanjutkan menangis. Fadly kebingungan mengapa Febri langsung berlari kekamarnya. Tiba - tiba datang la Bu Salmi dari luar rumah menyusul kekamar dan mengahmpiri Febri. Fadly memutuskan untuk mengintip dari pintu kamar saja.


“Febri, kamu jangan menangis terus, kasian kamunya ! nanti malah kamu yang jadi sakit !!!”


“Biar aja ! dari pada aku melihat mama meninggal biar aku meninggal duluan! ” Kata Febri.


“Feb, kalau kamu meninggal duluan, terus nanti ketika mama meninggal siapa yang urus jenazahnya ? siapa yang memandikan mama ? dan siapa juga nanti yang doakan mama agar mama tenang dialam sana ???” Tanya mamanya Febri.


“Mama !!! aku belum siap sama keadaan ini” lagi-lagi Febri memeluk mamanya sambil menangis. Fadly yang hanya melihat dari jauh tidak begitu jelas mendengar percakapan antara Febri dan mamanya. Kemudian bu Salmi keluar kamar dan melihat Fadly berdiri tegak didepan pintu kamar. ketika melewati Fadly, Ibu Salmi hanya tersenyum saja, dan baru beberapa langkah melewati Fadly, ibu Salmi terjatuh pingsan.


Fadly memanggil Febri dan mengangkat mamanya kekamar. Febri hanya menangis dan meratapi mamanya. Fadly juga melihat Febri terdiam tanpa melakukan apa pun untuk mamanya.


“Feb lo kenapa ??” Tanya Fadly sambil bediri dari duduknya.


“Mama Fad !!!” Kata Febri langsung memeluk Fadly dan kembali menangis.


“Kenapaa mama kamu Feb ?” Tanya Fadly sambil mengelus rambut Febri.


“Mama terkena kanker serviks sudah stadium 4 Fadly!!” kata Febri sambil melepas pelukannya terhadap Fadly.


Febri tak sadar ketika ia memeluk Fadly.


Kemudian Febri duduk di tempat tidur dan Fadly jongkok dibawahnya.


“Apaaa ??? yang bener lo ? itu harus diobati kalau tidak mama lo bisa lewat!” saran Fadly.


“Sudah Fadly, aku sudah suruh mama untuk kemo. Tapi mama nggak mau Fad, dia bilang sayang uangnya, karena tadi mama mendengar percakapan aku dengan Reiza untuk meminta uang. Namun Reiza tak mengasihnya."


“Kalau gitu biar gue bantu yaa??" Tanya Fadly.


“Percuma Fad, mama tak mau diobati. Dia sudah pasrah Fad, katanya dia nggak mau buat aku susah. Karena dia tetap yakin walaupun dia diobati kemana pun pasti ujung-ujung nya mati juga”


“Memang umur sudah ada yang ngatur, tapi selagi kita masih bisa usaha , ya diusahakan !!” kata Fadly.


“Ya itu sudah aku bilang ke mama, tapi dia tidak mau Fad!!”


Tak lama setelah mereka mengobrol didekat mamanya. Febri dan Fadly keluar dari kamar. Fadly yang merasa terlalu lama dirumah Febri kemudian izin pamit pulang Karena ia merasa segan. Ia meninggalkan Febri dan bu Salmi dalam keadaan seperti itu terpaksa. Karena sekarang jam sudah menunjukan tepat pukul dua siang. Lalu Fadly menyalai sepeda motornnya dan ia mulai mengendarai sepeda motornya menuju pulang kerumah.

__ADS_1


__ADS_2