
Disebuah Kantor bercat putih itu, dipenuhi para karyawan yang sedang sibuk mengerjakan tugasnya masing -masing, dibagian resepsionis mereka sibuk melayani tamu yang tidak kunjung habis. Mereka berdatangan bagaikan air yang mengalir, memang ini jam sibuk bagi semua pekerja dikantor tersebut. Ruang pengajar berada di belakang resepsionis itu, semua pengajar sibuk dengan urusannya masing-masing, ada yang sibuk melayani konsultasi, ada yang sibuk membuat bahan ajar, ada yang sibuk dengan handphonenya, dan ada juga yang sibuk berbincang-bincang. Hera duduk di kursi dekat lemari, jemari tangannya sibuk menekan tut keyboard netbooknya, dia tidak memperdulikan hilir mudik orang, dia hanya fokus membuat bahan ajar untuk hari itu, jamnya cukup sibuk, dia akan pulang pukul 20.00 pada hari ini. Tapi kemudian handphonenya berbunyi, dia langsung meraihnya.
" Assalamualaikum, Hallo." Ucap Heran.
" iya, halo, wa'alaikumusalam." Jawab suara wanita disebrang sana.
Hera tahu siapa yang menelponnya, dia hanya terdiam sejenak, kemudian memilih keluar dari ruangan menuju ke taman belakang kantornya, dia duduk disalah satu kursi sembari menatap langit yang cukup cerah. Hatinya sangat panas dan bergemuruh, meski hanya mendengar suaranya saja. Hera hanya diam seribu bahasa menunggu si penelpon berbicara terlebih dahulu.
" Hera, kamu masih disana". tanya si penelpon.
" Iya Hel. Ada apa kau menelpon ku? Jawab Hera.
" Kamu mau membantuku?" Tanya Rahel yang dipanggil Hel oleh Hera.
" Apa yang harus ku bantu?"
" Menikahlah dengan Dzikra. Aku tahu kamu menyukainya sedari waktu SMA, bahkan kau saat ini pun masih mencari tahu tentangnya di akun medsosnya. Aku rasa kamu patut mendapatkannya, kau sudah menunggunya cukup lama. Ini mungkin buah kesabaranmu."
Hera menghela nafas, jantungnya berdegup kencang, air matanya tak terbendung lagi, Hera sangat ingin menahan air matanya, dia tidak dapat berkata, dia tidak mau menunjukan kondisinya, Hera memang mencintai lelaki itu, sekaligus dia bahagia. Tapi Hera mencoba mengendalikan diri, dia masih merasa heran dan tidak percaya. Kenapa Rahel meminta hal seperti.
" Aku butuh penjelasan atas permintaanmu, tolong jelaskan, kenapa kamu Hel meminta aku menikah dengannya?"
" Hera.. Hera aku sudah bilang kamu pantas mendapatkan Dzikra. "
" Bukan jawaban itu yang aku inginkan."
" Baiklah Hera, aku akan menjelaskannya kalau kamu menjawab IYA." ucapa Rahel dengan menekan ucapannya.
" Kau pikir pernikahan keputusan sendiri, bagaimana dengan Dzikra?" Hera masih berusaha bertanya dengan tenang.
" Jadi jawabanmu apa? kalau kamu tidak mau, aku akan mencari orang lain." Rahel mulai menunjukkan kekesalannya, karena Hera terus bertanya.
Jadi kamu mengancamku Rahel. Apa yang kamu inginkan. Kamu memang memiliki seribu misteri.
" Baiklah." jawab Hera, dengan sedikit kesal. Yang diujung sana tersenyum puas.
" Baguslah Hera. Aku akan menjemputmu sepulang kerja."
" Iya, pukul 20.00!"
" Oke, aku mengerti, dan siapkan dirimu berdandanlah terlebih dahulu, jangan tunjukan wajahmu yang udik." Intimidasi Rahel.
Hati Hera cukup bergejolak, dia langsung menutup telpon, hatinya mengumpat.
Dasar wanita ini tidak pernah berubah, dia selalu merasa diatas angin saat menindasku. Memangnya aku sangat jelek.
__ADS_1
Tanpa disadari Hera sambil memperhatikan dirinya dikaca.
Aku tidak jelek, aku juga cantik, aku juga manis. hanya saja kulitku sedikit kusam. Tapi sungguh aku tidak jelek tidak udik, dasar Rahel iri padaku.
Rangga (temannya Hera semasa kuliah, pengajar Matematika) berada dibelakang Hera, merasa heran melihat tingkah Hera. Hera yang kemudian membalikan badannya terkejut dan langsung bertanya.
" Iya kan?"
" Apa?" jawab Rangga. Hera hanya menghela nafas.
" Laki-laki memang tidak akan memahaminya."
" ya iyalah, gue gak paham, kamu tiba-tiba bertanya 'iya kan', heuu siapa yang paham, monyet juga gak bakal paham, JoJo." Jawab Rangga seraya berjalan meninggalkan Hera dengan kesal. Hera langsung membuntuti Rangga.
" Ga.."
Rangga tidak menyahutnya terus berjalan. Hera sedikit kesal bertolak pinggang sembari menarik nafas dan memanggil Rangga dengan formal.
" Pak Rangga yang terhormat."
Rangga yang mendengarnya langsung berbalik kebingungan sembari memegang telinganya.
" Iya ibu Ratu yang terhormat."
"Tadi kamu mendengarkan pembicaraan aku?"
" Tak pantas mendengarkan pembicaraan orang lain. Dan jangan panggil aku Jojo, siswa disini jadi memanggiku bujo."
" Tapi itu memang cocok gue rasa. Jojo itu maksud gue jomblo jorek. Ha Ha Ha..." ucap
Rangga seraya mempercepat langkahnya menunggalkan Hera, Hera yang sudah kesal dengan hinaan Rahel ditambah Rangga meledeknya semakin panas hatinya ingin marah. Namun, Hera yang mulai ingin marah, langsung merubah mimik wajahnya karena ada siswa yang lewat dihadapannya dan mencium tangannya. Salah satu siswa bertanya.
"Bu, nanti masuk kelas kita kan bu?"
"Iya nanti jam 13.30. Oke jangan pada pulang ya."
"Asyiiiik yes yes" seru siswa itu kegirangan berlari menuju kelas.
Hera merasa sangat senang melihat tingkah bocah kecil kelas 5 SD itu. Itulah alasanya, ia memutuskan menjadi seorang guru, dia bisa melihat ekspresi banyak manusia dihadapannya, meski dia tidak mengajar disekolah, dia hanya mengajar di salah satu lembaga Swasta, baginya yang penting tidak menjadi pengangguran.
Hera kembali berjalan masuk ke ruang pengajar, dan melanjutkan kembali pekerjaanya yang sempat tertunda. Namun ponselnya kembali berdering, beruntunan pesan masuk ke ponselnya.
08xxxxxx: *I*ni nomor gue, Rahel, di save. Oh jangan lupa nanti. Ok, thank you so much. Aku tau kamu akan membantuku. Bye selamat kerja.
Pesan di ponsel itu dari Rahel. Rahel cukup kenal dengan Hera karena satu SMA, dan Hera siswa cerdas yang selalu mendapatkan juara umum disekolah, jadi tidak ada yang tidak mengenalnya. Hera tidak berniat membalas pesab Rahel dia hanya membacanya, karena memang bel sudah berbunyi dia harus bersiap masuk kelas.
__ADS_1
****
Pukul 20.00
" Materi hari ini cukup sekian, semoga kalian dapat memahaminya, jika masih ada yang belum dipahami silahkan konsultasi. Terima kasih, hati- hati diperjalanan pulang, Assalamaualaikum warohmatullahi wabarokatuh." Ucap Hera menutup pelajaran dikelas 11 SMA.
" Waalaikumusalam warohmatullahi wabarokatuh". Jawab siswa dikelas tersebut sembari merapihkan bukunya dan berjalan menyalami Hera.
" Bu, besok bisa konsul?" tanya siswa yang terakhir pulang.
" Hmm , iya boleh" jawab Hera dengan melemparkan senyumannya.
" Oke deh bu, nanti ya bu jam 14.30 setelah aku pulang sekolah. bolehkan bu?"
" Hehe, boleh dong."
"Oke bu, makasih ya bu".
"Iya, sama-sama."
Setelah siswa itu berlalu, ponsel Hera berdering terus, Hera melihat ada pesan dari Rahel.
Cepat aku sudah didepan kantormu.
Hera seraya bergegas menuruni tangga dan masuk ke ruangan pengajar, langsung merapihkan tasnya.
" Jojo belum pulang, gue duluan ya." ucap Ranggas sambil cengegesan.
Hera hanya melihatnya kemudian menganggukan kepalanya. Hera langsung menuju halaman parkir, sebuah mobil merah menyala terparkir dan seorang wanita muda dengan dandannan glamor, mengunakan high hill menyender di mobil memainkan kunci mobil. Hera mendekatinya seraya menyapanya.
"Maaf menunggu lama," ucapnya datar.
" Wah.. kau marah padaku, lihat ucapanmu sangat datar sekali."
" Aku tidak marah, aku hanya lelah." ucap Hera.
" Baiklah, oke aku akan menjelaskannya selama diperjalanan."
" Oke."
Hera pun masuk ke dalam mobilnya Rahel. Rahel mulai menghidupkan mobilnya dan keluar dari parkiran menerobos, jalanan.
_
_
__ADS_1
_
BERSAMBUNG.........