
Dzikra kembali ke kantornya dengan wajah kusut, matanya merah. Perut lapar belum makan siang, sudah tidak dirasa lagi, berkali-kali sekertarisnya mengetuk pintu tidak dibukanya.
"Maaf bu Larisya, Pak Dzikra sedang tidak bisa diganggu, sebaiknya ibu pulang saja," ujar Risma.
"Huh! dia kenapa? tidak seperti biasanya," ujar Larisya.
"Saya tidak tahu bu, pak Dzikra tadi keluar terus kembali ke kantor dan mengunci ruangannya," ujar Risma.
"Baiklah, sampaikan kalau aku datang menemuinya, dan suruh dia menelponku, aku sangat khawatir, dari kemarin aku tidak bisa menghubunginya," ujar Larisya.
"Huh wanita ganjen, yaelah situ lagaknya kayak isterinya ajah, menyebalkan, ingin aku sumpal pake daun sirih!" batin Risma sambil mengepalkan tangan.
"Kamu dengar aku kan Ris?" tanya Larisnya karena perkataannya tidak digubrik.
"Oh iya, saya denger kok, nanti saya sampaikan!" ujar Risma.
"Oke makasih Risma," ucap Larisya.
Larisya pun melangkah keluar, Risma dibelakang Larisya sudah mengangkat salah satu sepatu high heel ditangannya untuk dilayangkan ke kepala Larisnya tapi diurungkan karena ada karyawan lain lewat.
****
Langit sudah menghitam, hujan akan segera tiba menguyur hamparan daratan dan lautan dibumi. Digedung megah, sudah menunjukan pukul 20.00. Dzikra yang termenung akhirnya memutuskan untuk pulang ke apartemennya, saat pintu dibuka nampak sekertarisnya masih menunggunya di meja kerjanya.
"Kamu belum pulang?" tanya Dzikra.
"Iya nunggu bapak pulang!" ujar Risma.
" oh iya, terima kasih, sekarang kamu boleh pulang!" ujar Dzikra.
"Oh iya pak, tadi ada pesan dari pak komisaris besok ada jadwal makan siang di restoran seafood."
"Iya, saya akan datang. Terima kasih!" ujar Dzikra.
"Ada satu pesan lagi pak, " ujar Risma
"Apa?" tanya Dzikra.
"Mmm.. Bu Larisya tadi datang kemari mau mengajak makan siang bapak, terus bu Larisya. minta bapak untuk menghubunginya," ujar Risma.
"Jika dia datang lagi sampaikan kesepakatan kita sudah selesai, jangan datang ke kantor saya lagi, jangan menghubungi saya lagi, jangan mengajak makan siang! jangan biarkan dia masuk ke ruangan saya!" perintah Dzikra sambil berjalan berlalu menuju Lift.
__ADS_1
"Baik pak!" ucap Risma sambil mengembangkan senyuman.
*****
Dzikra berjalan lesu keluar dari lift lantai 5 memasuki apartemennya, pintu dibukanya ruangan tersebut sudah menyala lampunya dan bau masakan sudah memenuhi hidungnya, Hera sedang memasak di dapur. Tapi sayang, itu hanya ilusi, bayangan kehidupan sehari-hari dia saat pulang kerja.
Kini ia hanya bisa tersenyum ketir, Hera sudah tidak lagi berada di apartemennya, hatinya benar-benar merasa sesak dan hampa tanpa kehadiran isterinya. Ruangan yang masih gelap itu ditatapnya. Tidak ada gairah menjalani hidup tanpa Hera.
Dzikra berjalan menuju kamarnya, semuanya sama tidak ada wanita yang dicintainya duduk dikasur sambil membaca buku. Semuanya benar-benar sakit sehari tanpa Hera. Dzikra masuk ke kamar mandi membersihkan dirinya, kembali lagi masuk kamar tidak ada pakaian tidur yang biasa disiapkan isterinya diatas kasur, ia pun membuka lemarinya semua pakaiannya tertata rapi. Dzikra hanya bisa menghela nafasnya begitu berat.
Setelah itu Dzikra berjalan ke dapur membuka kulkas dan mengambil kopi instan sambil berjalan ke balkon. Suasana disana bisa dilihatnya gedung-gedung megah dengan pantulan cahaya, hiruk pikuk kota besar dimalam hari.
"Ra, kamu dimana?" lirih Dzikra.
Ia segera meraih ponselnya menatap layar ponselnya, segera ia menghubungi Hera kembali tapi ponsel itu kali ini tidak aktif.
"Ra, aku lebih baik kamu disini, sekalipun kamu marah-marah padaku daripada kamu perlakukan aku seperti ini," lirih Dzikra.
****
Pagi sudah menyampa, Dzikra terbangun dari tidurnya dirabanya sebelahnya tidak ada siapa-siapa. Dzikra kembali pada kenyataan bahwa ia sudah ditinggalkan oleh seseorang yang teramat dicintainya. Dzikra memutuskan untuk mandi.
Suara pintu dibuka, tidak menyadarkan Dzikra yang masih terdiam di kamar mandi. Hera berjalan memasuki kamar, suara shower terdengar menandakan suaminya sedang mandi. Hera segera merapihkan kasur yang sudah koyak karena pergulatan orang dalam mimpi. Hera menyiapkan pakaian kerja Dzikra diatas kasur kemudian melangkah ke dapur.
Hera terdiam dari aktivitasnya, Dzikra memeluknya begitu erat bahkan sepertinya dia menanggis tanpa suara. Hal itu begitu terasa karena pundakny terasa basah.
"Kau akan berangkat kerja, pakai dulu pakaianmu! aku akan memasak untukmu!" ujar Hera datar.
Dzikra pun melonggarkan pelukannya, lalu memutar tubuh isterinya agar menghadap ke arahnya. Ditatap wajah manis isterinya, kedua tangannya menangkup wajah yang sudah chubby itu.
"Maafkan aku! Aku bilang jangan pergi, kenapa kamu pergi," lirih Dzikra.
Hera hanya menghela nafasnya, mengusap lengan Dzikra. Kondisi suaminya membuatnya hampir luluh, tapi semua dienyahkannya lagi karena bayangan sikapnya masih menghantui pikiran Hera.
"Aku akan memasak makan untukmu, cepatlah berpakaian! nanti kau terlambat kerja," ujar Hera.
"Aku akan mengundurkan diri, hari ini aku akan katakan pada kakek, aku menolak permintaanya dan aku tidak butuh kedudukan direktur!" ucap Dzikra menatap Hera.
" Kenapa kau meninggalkannya? kau akan kerja apa?" tanya Hera.
"Aku punya tabungan, tadinya untuk membeli rumah untuk kita, tapi aku akan mengunakannya untuk memulai bisnis baru dulu!" ujar Dzikra, Hera pun terdiam sejenak.
__ADS_1
"Baiklah, segera berpakaian hari ini terakhir kerja," ujar Hera.
Dzikra pun tersenyum, sekalipun Hera masih bersikap tidak semanis dulu, tapi hatinya sangat senang, setidaknya Hera masih berada disampingnya.
"Aku tidak akan membiarkanmu dan anak kita kelaparan," ujar Dzikra sambil mengecup perut buncit isterinya dan mengelusnya.
"Iya," ucap Hera pelan.
" Hari ini aku akan ketemu kakek, sepertinya akan ada ayahnya Larisya dan Larisya juga," ujar Dzikra takut-takut dalam ucapannya menyinggung Hera.
"Iya," ujar Hera menganggukan kepalanya.
"Aku akan jemput kamu nanti siang, kita makan di luar!" ujar Dzikra.
" Iya" ujar Hera.
Dzikra hanya bisa tersenyum mirip menghadapi Hera yang tidak hangat seperti dulu. Dzikra pun segera kembali ke kamar mengenakan pakaian yang sudah disiapkan sambil tersenyum, merasa kembali hidup.
****
Dzikra mengenggam tangan Hera begitu erat memasuki restoran seafood, senyumannya tidak henti, ada kebahagiaan dalam dirinya. Meja besar yang sudah dipesan, sudah ada tiga orang penunggu, Larisnya, ayahnya Larisya, dan kakek.
Wajah tidak suka sudah ditampilkan oleh ketiga orang tersebut, saat melihat Dzikra mengandeng Hera mendekat ke meja tersebut.
"Maaf saya terlambat," ujar Dzikra sambil menarik satu kursi untuk Hera.
Hera sengaja didudukkan dekat Larisya, sedangkan dirinya duduk dekat kakeknya. Tangan Dzikra tetap mengenggam Hera, membuat semua mata jengah.
"Sudah pesan makanan?" tanya Dzikra menebarkan tatapannya ke arah ketiga orang tersebut.
"Baru saja," jawab kakek
"oh baiklah saya juga akan pesan, sayang mau makan apa? kamu kan suka sekali seafood," Dzikra menoleh pada Hera.
"Ikan salmon, kepiting rebus." ujar Hera.
Dzikra segera memanggil pelayan dan memesan makanan, setelah itu barulah suasana kecanggungan dimeja tersebut dipecahkan oleh Dzikra.
"Baiklah, saya disini akan meluruskan segalanya, saya menolak menikah dengan Larisya, saya tidak menyukainya, silahkan tuan Riechoten jika ingin menarik sahamnya, saya juga akan mengundurkan diri dari jabatan saya kakek!" ujar Dzikra membuat kakek merah padam dan ayah Larisya gusar.
" Nona Larisya saya minta maaf, saya sudah memenuhi permintaan anda, dan saya sudah melakukan sesuai permintaan anda, keputusan saya tetap tidak bisa, karena saya tidak suka wanita yang lebih tua dari saya, dan masih banyak alasan lain." lanjut Dzikra berganti menatap dingin Larisya.
__ADS_1
BERSAMBUNG....