
Clak
Clak
Clak
Cairan darah menetes dari benda tajam, perlahan kesadarannya hilang. Seseorang yang sudah pernah mendekati pintu kematian hanya diberikan penangguhan untuk hidup sementara, sebelum akhirnya kembali ke menjumpai pintu kematian.
Darah sudah berlumuran memenuhi tubuhnya, sayup-sayup langkah kaki yang berjalan cepat menghampiri. Semua terasa semakin gelap, tapi pendengarannya mampu mendengar suara yang sangat tidak asing.
"Bertahanlah Hera, kumohon," suara itu terdengar semakin jauh dari pendengarnya.
"Tangkap dia!! " teriak sesorang dengan geram.
"Hahhahah, "ujar mbak Siti tertawa saat dirinya diborgol oleh dua polisi dan dibawa ke mobil polisi.
Ambulan dan mobil polisi sudah berjejer memenuhi halaman gedung apartemen. Dzikra yang segera tiba di gedung apartemen seperti orang linglung, berjalan mendekati mobil ambulan yang memasukan satu korban.
"Sabar Dzik," ujar Zidan sambil menepuk punggung.
"Maksud Lo? " dengan nada masih menahan sesak.
"Sorry gue telat, Hera..hmm.. temenin dia didalem," ujar Zidan sambil menunduk.
Dzikra tidak memperdulikan lagi ucapan Zidan langsung menghambur ikut masuk ke dalam mobil ambulan. Ditatapnya wajah isterinya yang sudah pucat pasi. Ini kedua kalinya Dzikra melihat Hera dalam kondisi mendekati kematian. Sebagai seorang lelaki air mata tetap tidak dapat dikontrolnya meluncur dengar deras melewati pelupuk matanya.
"Ra.. " lirihnya.
"Bangun, ini aku disini, "lanjutnya.
"Maafin aku ninggalin kamu sendirian, " ujarnya sambil mengusap air mata yang terus mengalir.
Tidak ada respon dari Hera, petugas kesehatan sibuk menutup darah yang meengucur dikepala dan perut Hera. Dzikra terus mengengam tangan dingin itu hingga sampai di Rumah Sakit. Tubuh Hera segera dibawa ke ruang UGD. Dzikra hanya bisa berharap kesempatan kedua menatap kembali Hera dalam keadaan sehat.
Dalam ruangan dokter dan perawat sibuk melakukan tindakan cepat. Semua alat sudah dipasang. Pintu ruangan UGD terbuka seorang dokter keluar langsung diburu oleh Dzikra.
"Bagaimana dok?" tanya Dzikra gusar.
"Kita harus melakukan operasi pengangkatan janin," ujar Dokter.
"Lakukan dok, asalkan isteri saya selamat," ujar Dzikra sambil bergetar bibirnya.
"Saya bukan Tuhan yang bisa menyelamatkan jiwa manusia dari kematian pak, apapun yang terjadi setelah ini mohon bapak berlapang dada," ujar Dokter membuat Dzikra tertegun.
"Silahkan bapak tanda tangan terlebih dahulu persetujuan operasinya, " ujar Dokter.
"Iya, " lirih Dzikra pelan.
__ADS_1
Lampu operasi dimulai...
Dokter mulai melakukan pembedahan mengambil janin dalam perut Hera. Detak jantung Hera sangat lemah untuk bisa terselamatkan. Tapi dokter harus menyelamatkan salah satunya setidaknya. Perawat berlarian mengambil stok darah memasuki ruang UGD.
Dzikra hanya mampu tertegun, operasi akan berlangsung sampai 2 jam, ia sangat gusar menunggu memilih masuk ke mushola melaksanakan sholat, setiap sujudnya memohonkan yang terbaik.
Sementara diruang operasi dokter berhasil menyelamatkan bayi dalam kandungan Hera. Bayi sudah di masukan ke dalam inkubator. Sedangkan kini Hera memiliki banyak luka, sudah banyak kehilangan darah.
"Saya ikhlas dengan keputusanmu ya Rabb, " ujar Dzikra dalam doanya sambil air matanya mengalir.
Sekalipun lelaki tetap akan menanggis jika ditinggalkan oleh pasangannya untuk selamanya. Dokter sudah memindahkan bayi ke ruang perawatan bayi. Mendengar bayinya selamat, Dzikra segera menuju ruang perawatan bayi melihat anaknya yang lahir kedunia. Bayi itu tertidur pulas dalam inkubator, Dzikra mengadzaninya.
"Alhamdulillah nak, selamat datang ke dunia ini anakku, papah memberi nama kamu Muhammad Istaz," ujar Dzikra tersenyum dengan bulir air mata menetes.
Hatinya masih gelisah, karena Hera belum juga keluar dari ruang operasi. Dzikra berlari ke depan ruang UGD. Belum ada tanda-tanda operasi selesai. Hanya nampak dokter dan perawat masih sibuk.
Zidan dengan seragamnya datang menghampiri Dzikra yang terduduk lesu di bangku tunggu. Tidak jauh Larisya juga menatap Dzikra yang terlihat kacau, larisya merasakan kesedihan yang mendalam dari Dzikra.
"Bro, yang kuat Lo," ujar Zidan yang berada di sampingnya.
"Terima kasih, " ucap Dzikra pelan.
"Hera sudah pernah melewati masa kritis, sekarang juga pasti bisa, " ucap Zidan menguatkan Dzikra.
Dokter pun keluar dari ruang operasi, Dzikra langsung berdiri menghampiri dokter yang keluar sambil membuka maskernya.
"Maafkan saya pak.. Saya tidak mampu menyelamatkan isteri bapak, " ucap Dokter tersebut lesu.
2 tahun kemudian...
Seorang anak digendong ayahnya, sang anak memegang bunga mawar. Senyuman riang dari dua wajah bagai pinang dibelah dua itu terpancar saat memasuki pemakaman.
"Hari ini kita ketemu mamah dulu ya, " ujar Dzikra berkata kepada anak yang digendongnya.
"Dede ketemu mamah? yeeee, " riang bocah yang belum fasih berbicara tersebut.
"Iya, dede bawa apa buat mamah? " tanya Dzikra sambil menurunkan anak dalam gendongannya.
"Dede bawaa apa ya?" ujar bocah tersebut sambil telunjuknya menunjuk ke dagu seolah tengah berpikir.
"Ra, anak kita sudah dua tahun, " Batin Dzikra tersenyum dalam tangisnya.
"Itu yang ditangan bawa apa? " ujar Dzikra sambil tersenyum.
"Eh iya ini buat mamah, pasti suka kan pah," ucap anaknya sambil ikut berjongkok disamping Dzikra.
"Iya mamah suka banget, ayo dede kirimin doa buat mamah, " ujar Dzikra pada puteranya.
__ADS_1
"Mama, dede kangen sama mama, " ujar puteranya sambil meletakan mawar merah diatas kuburan.
Dzikra tidak mampu menahan air matanya mendengar anaknya yang masih polos mengatakan kerinduan kepada sosok ibunya. Hatinya merasa sedih, kecewa. Tapi tidak mungkin dia akan menyalahkan Tuhan yang telah membuat takdirnya seperti ini.
"Mama, dede kirim doa buat mamah, alohuma bariklana fi ma rojaktana wakina adza banar, " Ujar puteranya membuat Dzikra tersenyum.
"Itu kan doa mau makan de, " ujar Dzikra.
"Doa makan ya pah? " tanya bocah polos tersebut.
"Iya, doa alfatihah aja ya, " ucap Dzikra dengan lembut.
"Tapi alfatihah kata nenek buat bobo pah, " ujar bocah polos tersebut.
Dzikra rasanya kesal dan gemas pada anaknya yang semata wayang tersebut.
"Ya udah papa aja yang bimbing, dede ikutin bacan papa ya, " ujar Dzikra memimpin doa.
*****
Perusahaan megah itu, seorang lelaki dengan gagah, ditemani anak berusia dua tahun yang sedang asyik mewarnai dimeja dekat sofa. Dzikra masih sibuk memeriksa berkas. Seorang wanita memasuki ruangan.
"Dzikra, " ujar Rahel.
"Kenapa Hel? " jawab Dzikra menyambut kedatangan Rahel.
"Apa kamu tidak berniat menikah lagi? " ujar Rahel sambil menghampiri Istaz anak Dzikra yang sedang mewarnai.
"Memangnya kenapa? " tanya Dzikra.
"Aku kan sudah cerai dengan Alfarid," ujar Rahel menatap Dzikra yang memperhatikan puteranya.
"Lalu? " tanya Dzikra.
"Kamu tidak merasa kasihan dengan Istaz yang merindukan sosok ibu?" ujar Rahel.
Kamu harus menikah denganku Dzikra, karena kamu untukku. Kematian Hera dan semua permasalahan kalian itu adalah rencanaku, batin Rahel sambil tersenyum pada Dzikra.
"Apa kamu pantas menjadi seorang ibu? padahal kamu sendiri membunuh seorang ibu! " ujar Dzikra dingin.
Rahel terbelalak mendengar ucapan Dzikra, ia bangkit hendak menghampiri Dzikra.
"Masuk! " teriak Dzikra.
"Anda di tangkap nona Rahel! " ujar Polisi yang langsung menyergap Rahel dan membawanya ke kantor polisi.
Dzikra langsung mengendong puteranya, tersenyum melihat kepergian Rahel bersama para polisi.
__ADS_1
_END_
Terima kasih untuk dukungan kakak-kakak yang sudah setia membaca ceritanya sampai saat ini. Ini adalah karya pertama saya, mohon maaf ya ending tidak memuaskan.