
Mentari pagi memancarkan sinarnya, Dzikra membantu Hera memasak bersama. Setelah resign dari perusahaan itu, Dzikra memiliki banyak waktu dirumah dan jadi lebih tahu pekerjaan isterinya. Saat ini Dzikra sedang memotong wortel membantu Hera memasak sayur sop ayam.
"Wortelnya dipotong tipis-tipis, nanti lama matengnya kalo tebel," protes Hera melihat Dzikra memotong wortel setebal 3 centimenter.
"Yah yang! sama aja ujung-ujungnya juga pasti mateng, lagian udah dimakan gak penting ukurannya. Udah nih biar cepet beres!" bela dzikra membuat Hera bertolak pinggang dan menatap tajam.
K
"Iya deh aku potong lagi," lanjut Dzikra setelah melihat tatapan tajam Hera.
Keduanya kembali hening sibuk dengan tugasnya masing-masing.
"Yang sudah, "ujar Dzikra sambil menyodorkan potongan wortel.
Hera tersenyum puas melihat hasil pekerjaan Dzikra, segera mengambilnya dan dimasukan ke kuah yang sudah mendidih. Hera berbalik dan melihat Dzikra memamerkan wortel berbentuk hati hasil ukiran pisau. Hera tidak kuasa menahan tawanya. Dzikra kegirangan melihat isterinya tertawa lagi.
"Yang, hari ini kita jalan-jalan ke taman yuk! ajak Dzikra.
"Tumbenan," ujar Hera singkat.
"Abang mau ketemu temen bisnis," ujar Hera.
"Oh," ujar Hera masih sibuk memasak.
Akhirnya Dzikra memeluk isterinya dari belakang sambil mengelus perut besarnya, Dzikra setengah berbisik ditelinga Hera.
"Mau gak kita jalan-jalan?" ujar Dzikra sambil menahan dagunya dipundak isterinya.
"Ide bagus, boleh, " ujar Hera.
Dzikra mengecup samping leher jenjang isterinya, karena rambutnya sedang dicepol.
"Habis makan ya, siap-siap, " ucap Dzikra mengendurkan pelukannya.
"Iya," ucap Hera tidak fokus dengan perbincangan dengan Dzikra, Ia segera mengiyakan agar suaminya tidak menganggu acara masaknya.
****
Udara pagi sangat menyegarkan, pepohonan yang cukup rimbun dan hamparan bunga mewarnai taman tersebut, ditaman ini banyak anak muda, orang tua, dan pedagang memenuhi taman tersebut. Hera memilih jalan-jalan kecil melihat-lihat bunga yang bermekaran. Sedangkan Dzikra duduk disatu kursi bersama rekan bisnisnya, tapi mata Dzikra terus memantau Hera yang sedang berkeliling ditanam.
"Dari tadi lihatin bini mulu Lo, kayak orang jarang ketemu aja! " ujar Adit mendengus sambil meminum jus alpukat.
__ADS_1
"Sorry bro!" ujar Dzikra mengalihkan pandangannya menatap dua sahabatnya didepannya yang sudah cengir.
"Sorry gue iri aja Lo udah nikah sih! Nah Lo punya rancangan gak buat acara di cafe kita? "tanya Adit.
"Gue pengen ada mushola di cafenya, terus varian kopinya gue pengen ada kopi tradisional sama modern, yang utama kopi asli kita yang berbeda dari yang lain!"
"Oke gue suka ide Lo," ujar Adit.
"Ruangan khusus peroko juga, soalnya gue gak tahan asap roko! " ujar Dzikra.
"Parah Lo, kagak laki amat! jangan bilang Lo gak pernah nyobain roko! " ejek Roki.
"Yeah, Si Dzikra emang gak pernah ngeroko bro, sorry temen gue yang ini suci banget, " celoteh Adit sambil ketiganya tertawa.
"Laki baru dibilang beneran Laki kalo udah berhasil ngebuntingin cewe kayak gue! " ujar Dzikra menimpali ledekan temannya yang disambut gelak tawa.
Disisi lain Hera sedang memanjakan dirinya dengan pemandangan bunga-bunga yang terhampar, lalu Hera berjalan ke dekat kolam ikan memperhatikan gerakan ikan hias didalam kolam tersebut.
Byuuuuuuuur
Tiba-tiba seseorang mendorongnya keras hingga tercebur ke dalam kolam, semua orang kaget melihat Hera masuk ke dalam kolam, tidak ada yang berani menolongnya, Hera berusaha mengapai sisian kolam tapi beban perutnya menyulitkan dirinya untuk berenang.
Suara riuh orang-orang membuat Dzikra dan teman-temannya kaget. Dzikra langsung mencari keberadaan isterinya, tidak nampak sang isteri Dzikra langsung berlari kencang ke arah kerumunan. Dzikra melihat isterinya berada didalam kolam sedang kesulitan berenang, langsung loncat ke dalam kolam meraih tangan Hera dan merangkulnya ke sisian kolam.
Sedangkan petugas berlarian menghampiri Dzikra yang tengah membawa isterinya naik dari kolam. Petugas nampak langsung menyerahkan handuk, Dzikra meraihnya dengan cepat dan menutupi badan isterinya. Dzikra tidak berapa lama langsung mengendong isterinya. Hera yang sudah malu menyembunyikan wajahnya didada suaminya. Dzikra masuk ke parkiran dan menuju ke mobilnya.
"Buka pintunya yang, " suara bass Dzikra terdengar lembut, Hera segera meraih pintu mobil dan membukanya.
Dzikra mendudukan Hera didalam mobil, tapi tangan Hera masih mengerat erat dilehernya, membuat Dzikra tidak tega meninggalkannya sendirian. Dzikra mengecup keningnya memberikan ketenangan pada isterinya. Hera malah merangkulnya kuat sambil menanggis.
"Gak apa-apa sayang, aku disini! kenapa menanggis?" tanya Dzikra mengelus jilbab isterinya.
"Aku malu, " ujar Hera masih terbenam dalam pelukan Dzikra.
Dzikra menghembuskan nafasnya, ia segera melepaskan pelukan isterinya, kemudian beralih duduk di bangki sopir. Hera nampak terkejut.
"Kita mau kemana? bukannya belum beres diskusinya? " tanya Hera menapat Dzikra.
"Gak apa-apa kita pulang aja ya, " ujar Dzikra membalas tatapan isterinya dengan senyuman sambil mengelus pipinya.
Dzikra langsung menyalakan mobilnya dan meluncur keluar dari parkiran taman tersebut. Hera duduk terdiam, sedikit mengigil karena bajunya basah kuyup. Tatapannya terus melirik ke arah jalanan.
__ADS_1
"Pengen bakso! " ujar Hera saat jalanan melewati tukang bakso.
"Hmm? "Dzikra melirik ke arah Hera.
"Pengen bakso, " ujar Hera dengan malu-malu.
Dzikra tersenyum lalu menghentikan mobilnya dibahu jalan dan keluar dari mobil tersebut menghampiri tukang bakso, ia memesan dua porsi bakso.
Dzikra kembali ke dalam mobil sambil membawa dua mangkok bakso, Hera bersemangat menyantap bakso yang dibelikan suaminya. Dzikra senang karena Hera tidak murung lagi.
*****
Sesampai di apartement Hera tidak bisa bangkit. dari kasurnya, ia demam tinggi. Dzikra bolak-balik menganti air kompresan untuk isterinya. Dzikra mengajak Hera ke dokter tapi ditolak terus. Dzikra pun mengalah, ia pergi ke dapur memasak bubur sambil menelpon temannya.
"Gue minta maaf gak pamit tadi, gue panik isteri gue kecemplung kolam! " ujar Dzikra pada adit ditelpon.
"Santai aja bro, tadi pas Lo ngilang tiba-tiba gue juga ada urusan tiba-tiba. Kita bisa lanjut besok aja!" ujar Adit.
"Tapi isteri gue lagi sakit, kita lewat webex diskusinya gimana?" tawar Dzikra sambil mengaduk bubur dipanci.
"Hmm, oke boleh lah!" ujar Adit.
"Oke thank you bro! " ujar Dzikra sambil menutup telpon.
Dzikra segera mematikan kompornya, diambil mangkok dan memasukan bubur kedalam sana. Bubur pun segera dibawanya ke kamar sang isteri yang terbaring lemah.
"Yang, makan bubur dulu ya, " ujar Dzikra sambil menyimpan mangkok bubur dinakas. Hera yang terbaring didudukan.
Hera menatap lemas Dzikra, tangannya meraih pipi suaminya sambil tersenyum. Dzikra membalas senyuman itu sambil membawa bubur tersebut dan menyuapinya.
"Tadi makan bakso lahap banget ya, tapi giliran makan bubur susah ya! " gerutu Dzikra.
"Makasih ya, " ujar Hera sambil kembali berbaring.
Dzikra menyelimuti isterinya, saat hendak pergi Hera meraih tangan Dzikra.
"Jangan kemana-mana!" ujar Hera.
"Aku cuma mau diskusi aja didepan lewat internet kook yang," ujar Dzikra sambil tersenyum.
"Disini aja, " ujar Hera lemah.
__ADS_1
Dzikra akhirnya berdiskusi lewat webex didalam kamarnya sambil memeluk isterinya yang tidak mau jauh-jauh.
BERSAMBUNG....