
Hera terbangun tepat adzan subuh berkumandang, ia tidak mendapati Dzikra disampingnya. Hera pun terduduk, ia memungguti piyama dilantai dan pergi ke kamar mandi membersihkan dirinya. Tidak butuh waktu lama, Hera pun keluar dari kamar mandi sudah memakai pakaiannya. Ia berjalan ke lemari mengambil mukena lalu menunaikan ibadah sholat subuh.
"Assalamualaikum warohmatullahi wabarikatuh," Hera mengucapkan salam sambil mengusap wajahnya.
Hera melihat kesebelah meja riasnya, terdapat amplop. Ia segera bangkit meraih amplop tersebut yang berisi beberapa lembar uang dengan secarik kertas.
Ini bayaran untuk pelayanan semalam, Terima kasih. Dzikra ~Suami sejati~
Mata Hera terbelalak membaca tulisan itu, kesal sekaligus ingin marah dengan perilaku suaminya yang menganggap dirinya bagaikan wanita penghibur.
"Apa ini! Dia pikir aku wanita murahan!" teriak Hera.
Hera segera turun ke lantai bawah mencari sosok Dzikra. Tapi rumah itu tidak menampakan wajah suaminya. Kesal bukan main Hera yang dilampiaskan dengan merobek robek kertas tersebut.
Dzikra melihat perilaku Hera dilayar ponselnya yang sudah terhubung dengan cctv dirumahnya, senyumannya mengembang sambil menyetir mobil menuju Jakarta.
Hera lalu duduk disofa ruang tamu termenung, langit masih gelap. Pintu rumahnya tidak berapa lama diketuk dari luar. Hera beranjak dari duduknya membukakan pintu, seorang lelaki berpakaian serba hitam dengan setelah jas, mirip seorang bodyguard itu tanpa senyuman menyerahkan kotak besar pada Hera.
"Ini apa?" tanya Hera.
"Dari tuan, silahkan dibuka saja!" ujar orang tersebut.
Hera termenung mengamati kotak tersebut, kemudian beralih memandang bodyguard yang tanpa ekspresi itu, Hera tersipu melihat bodyguard yang begitu serius.
"namamu siapa?" tanya Hera.
"Yoga, madam!" jawabnya singkat padat membuat Hera terkekeh.
" Oke , Yoga. Boleh aku pinjam ponselmu?" kata Hera.
" Madam tidak diperbolehkan memegang ponsel!" ujar Yoga.
"Kenapa?"
"Jika ingin berbicara dengan Tuan silahkan Madam tulis surat!" jawab Yoga.
"Hah! ini sudah bukan zamannya surat menyurat Yoga!" ujar Hera mulai kesal.
"Ini perintah Tuan, Madam!" ujar Yoga.
"Huh! aku ingin jalan-jalan kalau begitu!" ujar Hera.
"Madam dilarang keluar dari rumah ini!" ujar Yoga.
Hera memutar bola matanya mendengar segala larangan yang disebutkan Yoga.
"Terus apa yang harus aku lakukan disini!" ujar Hera.
__ADS_1
"Melayani Tuan!" ujar Yoga.
"Ya sudah, terima kasih Yoga!" ujar Hera
" Baik madam!" ujar Yoga undur diri berjaga kembali.
Hera membawa kotak besar tersebut, ia menaiki tangga, ART nampak sudah sibuk didapur, Hera tahu karena mencium bau masakan. Hera melanjutkan naik ke kamar utama, ia segera membongkar kotak tersebut. Matanya terbelalak melihat isi kotak yang memuat beberapa pakaian dalam berwarna cerah, gamis, dan lingerie.
"Lelaki memang pikirannya selalu mesum!" ujar Hera.
Ia merebahkan badannya diatas kasur yang berserakan pakaian hasil membongkar kotak pemberian Dzikra. Matanya menatap langit-langit, disebelah pojokan dekat pintu, ia menangkap cahaya kerlap-kerlip, matanya melebar mengetahui ada sebuah cctv didalam kamar.
"Dasar Mesum! Cabul!" umpat Hera melihat cctv di kamar.
****
Di perusahan PT Perkebunan Jawadwiva yang didirikan oleh Abdul Razaq Al Ghifari alias Alfedro. Perusahaan yang bergerak dibidang perkebunan karet, mengalami kebocoran data. Kode keamanan perusahaan di retas. Sehingga pagi-pagi buta, pihak pimpinan Dewan Komisaris yang dipegang oleh Ahmad Rizqy Al Ghifari (kakeknya Dzikra) harus mengadakan rapat dengan para direktur diantaranya Direktur Utama (Dzikra Al Fairuz), Direktur produksi (Alfarid Al Ghifari), direktur pemasaran, direktur keuangan, direktur SDM dan Biro Direksi.
"Kenapa bisa terjadi hal ini!" kata dewan komisaris.
"Kami sedang menananganinya agar kebocoran data bisa dihentikan!" ujar Dzikra sebagai direktur utama.
"Apa yang sudah dilakukan!" ujar dewan komisaris.
"Tim IT sudah dikerahkan untuk membuat pengamanan data penting!" ujar Dzikra.
"Bukan hanya menghentikan kebocoran data! tapi bagaimana mengembalikan kepercayaan para pemegang saham! kebocoran ini bisa menyebabkan pemegang saham menarik modalnya diperusahaan ini!" ujar Dewan Komisaris dengan nada yang tinggi.
Dewan komisaris segera mengambil remote televisi di ruang rapat dan menyalakan siaran berita pagi, dan beralih menatap semua yang hadir.
"Sudah tersebar! kapan kebocoran terjadi?" ujar Dewan komisaris.
"Tim IT memberitahukan kebocoran terjadi pada jam 2 dinihari," ujar Alfarid.
"Bagus! kalian tidak sigap dengan hal ini, lihat perihal pembakaran hutan secara sengaja oleh perusahan tersebar! Dan ini saat kamu memegang sebagai direktur utama Alfarid!" ujar Dewan komisaris.
Alfarid terdiam mendapatkan amukan dari kakeknya. Seisi ruangan menjadi hening tidak ada yang berani bersuara menimpali Dewan Komusaris yang emosinya tengah mengebu-ebu. Memang wajar Dewan Komisaris naik pitam, sebab dialah orang yang akan bertanggungjawab dihadapan para pemegang saham, selain itu jabatannya menjadi taruhan. Seorang wanita memasuki ruangan rapat.
" Maaf pak menganggu rapatnya, para wartawan sudah berkumpul didepan gedung. Mereka memaksa ingin berbicara dengan pak komisaris dan direktur." ujar resepsionis gugup.
"Suruh mereka menunggu diruang konferensi," ujar dewan komisaris.
"Baik pak!" ujar resepsionis sambil undur diri keluar dari ruang rapat.
"Sudah, segera temukan hackernya, data-data penting mengunakan double keamanan terutama dibagian keuangan. Back up semua data penting! Dan kamu Dzikra ikut dengan saya ke ruang konferensi, kamu Alfarid temui saya setelah konferensi!" ujar dewan komisaris menutup rapat segera keluar ruangan.
Ruang rapat sudah ditinggalkan pesertanya, menyisakan dua lelaki yang masih duduk terdiam. Dzikra mengepalkan tangannya. Ia berjalan ke arah Alfarid dan mencengkram kerah kemejanya. Mata mereka saling melotot penuh emosi.
__ADS_1
"Gini kerjaan Lo selama gue tinggalin!" bentak Dzikra.
Alfarid yang tidak terima dicengkram kerah bajunya mendorong Dzikra kemudian meninjunya.
"Harusnya Gue yang marah disini!" ujar Dzikra sambil melayangkan tinjuan diwajah Alfarid.
"Lo harusnya berterima kasih sama gue! semua perluasan lahan hasil gue!" ujar Alfarid sambil melayangkang tinjuan.
"Hasil pekerjaan HARAM Lo!" ujar Dzikra.
Dzikra menahan tinjuan dengan menangkis tangan Alfarid. Mereka saling mencengkram pundak, Dzikra mendorong Alfarid ke tembok, terdengar benturan keras punggung Alfarid menghantam tembok. Adu jotos pun tidak bisa dihentikan hingga ponsel Dzikra berbunyi. Dzikra langsung menjauh dari Alfarid mengangkat telpon.
"Ada apa?" tanya Dzikra.
"Madam, menanyakan tuan akan pulang jam berapa?" jawab suara diujung telpon
"Sampaikan aku tidak akan pulang! tidak usah menunggu!" tutup Dzikra.
Dzikra langsung berjalan melewati Alfarid yang masih meringgis menuju ruang konferensi. Dzikra membersihkan wajahnya dan penampilannya dulu sebelum bertemu para wartawan.
Di ruang konferensi kakek Dzikra sudah membuka konferensi dengan para wartawan. Dzikra hanya memperhatikan kakeknya yang berbicara tenang sesekali tersenyum.
"Perusahaan kami baru diretas itu benar! kami akan menuntut orang yang melanggar kode etik IT.Untuk segala informasi tentang perusahaan kami yang tersebar di dunia maya mohon disikapi bijak, para wartawan mohon tidak menyebarkan berita yang belum tentu kebenarannya. Terima kasih!" ujar dewan komisaris.
Dzikra langsung segera berjalan duduk menghadap wartawan mendampingi dewan komisaris. Dzikra berusaha memberikan jawaban sebaik mungkin kepada wartawan.
****
BRAK!
Map berwarna hitam dilemparkan di meja oleh kakek. Badannya membelakangi cucunya yang sedang tertunduk.
"Jelaskan!" ujar kakek.
"Maaf kek, aku hanya berusaha memperluas lahan perkebunan!" ujar Alfarid.
"Apa tidak bisa dengan cara yang benar!" bentak kak yang kini berbalik menatap Alfarid.
"Maaf!" hanya itu yang keluar dari Alfarid.
Alfarid bersimpuh dibawah kaki kakeknya, ia menanggis menjadi-jadi mengakui kesalahan yang fatal telah diperbuatnya.
****
Dzikra sedang termenung dikursi kantornya, tangannya menyilang didada, menghirup udara dengan perlahan. Suara ponsel menyadarkan dirinya dari renungannya.
"Kenapa Dan?" tanya Dzikra.
__ADS_1
"Ada yang perlu gue omongin!" ujar Zidan.
BERSAMBUNG...