Takdir Bersamamu

Takdir Bersamamu
Ambivalen


__ADS_3

Ambivalen dalam istilah psikologi adalah kondisi yang mengambarkan perasaan tidak sadar dalam diri seseorang yang bertentangan, seperti ada rasa benci namun cinta, kesal tapi sayang, benci tapi rindu, dan sebagainya.


Malam ini, tidak ada kehangatan seperti malam kemarin. Mereka tidur saling membelakangi, banyak hal yang bergelut dalam pikiran Hera, suaminya yang tidak bisa dipahami sikapnya dan juga orang-orang yang aneh ditemui hari ini.


Berlainan dengan Dzikra, perasaannya sangat tak bisa diungkapkan. Bukan tidak ada rasa cinta pada Hera, justru Hera adalah wanita pertama yang singgah dihatinya. Tapi kini keadaan membuat hatinya membencinya tapi juga sangat mencintainya.


Dzikra hatinya bergejolak saat pertemuan pertama di restoran itu. Hera sangat mengemaskan, namun dia tidak menunjukkannya. Saat Rahel menjodohkannya, perasaan terpendam itu sedikit demi sedikit muncul lagi tapi dibarengi rasa benci juga karena surat cinta dimasa SMA.


****


Seorang gadis bermata coklat mengenakan seragam SMA memasuki kelas yang kosong membawa surat, matanya mengedar mencari sesuatu, dan pandangannya jatuh ke satu tas yang yang berwarna hitam, ia tersenyum kemudian memasukan surat tersebut. Dari kejauhan dilapangan sekolah Dzikra memperhatikannya, sebuah senyuman terukir melihat gadis itu menyimpan surat di tasnya.


Namun, Dzikra tidak pernah tahu ada mata yang lain menyaksikan hal tersebut, saat Dzikra mengalihkan pandangannya, seorang wanita dengan rambut sebahu melangkah memasuki kelas dan membaca surat cinta itu. Ia menuliskan sesuatu di kertas itu, lalu ia melihat ada kalung liontin disana, senyumannya menyerigai, diambilnya kalung tersebut.


Dzikra ketika membuka tasnya dirumah, ia tersenyum memandangi surat tersebut. Namun, matanya terbelalak saat membaca surat itu, gadis itu dibagian awal surat kalimatnya dirangkai manis, tapi diakhir dia mengajak Dzikra tidur bersama. Dzikra sangat kecewa dengan gadis itu. Ia mengirimkan pesan, ia ingin marah tapi dia malah mengirim pesan 'Aku sayang padamu'.


Esok harinya Dzikra terkejut dari kejauhan, gadis itu sedang memegang liontin miliknya, gadis itu tersenyum saat membuka bentuk hati di liontin. Dzikra sudah mengepalkan tangannnya, ingin rasanya segera merebutnya. Tapi kemudian gadis itu terlihat menyerahkan liontinnya pada gadis rambut pendek.


Gadis rambut pendek berjalan menghampirinya, ia tersenyum ke arah Dzikra, dan menyerahkan Liontin tersebut.


"Aku tahu ini milikmu! Dia hanya penasaran dengan liontinmu!" ujar gadis berambut sebahu itu.


" Iya terima kasih!" ujar Dzikra menatap wanita tersebut.


"Dzik!🤔😁12 aku mencintaimu!" ujar gadis berambut sebahu.


Dzikra melirik pada gadis pujaannya, gadis itu tersenyum padanya, Dzikra hatinya berdesir, tapi dia tidak suka gadis itu terlalu lancang. Ia kemudian memilih menembak gadis berambut sebahu tersebut, tepat di depan gadis pujaannya. Terlihat kekecewaan yang mendalam dihati gadis pujaannya.


Dzikra sedetik pun tidak pernah berpaling hatinya pada gadis cerdas pujaannya meski ia telah berkasih, tidak jarang itu membuatnya sering bertengkar dengan kekasihnya. Hingga kelulusan tiba, Dzikra harus melepaskan perasaannya terhadap gadis pujaannya. Walau sesekali ia mengintip media sosial gadis tersebut, terkadang sesak saat melihat foto-foto di media sosialnya menunjukan gadis pujaannya bersama pemuda lain.


Ketika memasuki semester akhir, ia sibuk dengan skripsi dan kekasihnya dengan telaten menemaninya disaat sulit, mereka lulus bersama dan kemudian Dzikra diberikan posisi sebagai Direktur oleh ayahnya diperusahaan GWO. Setelah menjalani berkasih 8 tahun dengan gadis yang berambut sebahu, Dzikra mantap melamarnya. Namun, dalam seketika hubungannya kandas dalam kecelaan yang merenggut nyawa ayahnya.

__ADS_1


Dzikra dilarikan ke rumah sakit, ia dibawa ke ruang UGD. Selama seminggu dia tidak sadarkan diri, selama itu pula bayangan gadis pujaannya hadir kembali dalam komanya. Dzikra terbangun dari koma nya dan ia harus menerima banyak kenyataan, kakinya lumpuh, ayahnya meninggal, kakak tirinya menikahi calon isterinya, dan dia dicabut kedudukannya sebagai Direktur.


Selama menjalani perawatan, ibu tirinya sibuk mengenalkan gadis-gadis untuk mengantikan calon isterinya, ia selalu menolak dengan keras. Sampai wanita itu turun tangan mencarikan calon isteri untuknya. Semua foto gadis yang diserahkan selalu ditolaknya. Sampai wanita itu menjatuhkan pilihannya kepada gadis yang pernah disukai Dzikra.


Wanita itu berharap Dzikra juga akan menolak menikah, tapi ternyata semua diluar dugaan. Dzikra menerima gadis pujaannya. Meski sepenuh hati Dzikra masih tidak sepenuhnya menyukai lagi gadis tersebut, hal itu cukup menyenangkan mantan calon isterinya. Bukan tanpa alasan gadis pujaan Dzikra dipilih karena wanita mantan calon isterinya sudah mengetahui sebuah konspirasi besar mertuanya.


*Flashback selesai*


****


Dzikra sedang mandi dikamar mandi, Hera berjalan mondar mandir depan pintu kamar mandi. Ketika pintu dibuka, Hera tersenyum pada Dzikra yang dibalas tatapan dingin.


"Cepet bang, aku kebelet!" ujar Hera wajahnya memelas.


Dzikra langsung keluar dari kamar mandi, di tersenyum tipis melihat ekspresi Hera tadi. Sedangkan, Hera langsung menghambur masuk ke kamar mandi. Dzikra berjalan mendapati pakaian kerjanyaa sudah disiapkan oleh Hera diatas kasur. Sejenak matanya memandang pakaian tersebut.


Tidak berapa lama Hera keluar dari kamar mandi, ia menghampiri Dzikra yang sedang merapihkan kemejanya depan cermin. Hera melangkahkan kakinya dengan hati-hati mendekti Dzikra kemudian mengambil dasi biru tua, ia segera membalikan tubuh Dzikra menghadapnya. Dzikra cukup terkejut tapi ia juga diam saja mendapatkan perlakuan manis dari Hera yang memasangkan dasi untuknya. Hera tersenyum menatap mata Dzikra yang tajam. Hera mengelus pipi Dzikra.


" Maafkan aku menamparmu, jangan marah lagi." ujar Hera.


"Apa masih sakit?" tanya Hera pada Dzikra yang tidak bergeming lalu berjalan melaluinya.


"Ayo selesaikan masalah ini bersama! kita selesaikan kasusmu bang!" ujar Hera dibelakang Dzikra.


Perkataan itu cukup menghentikan langkah Dzikra, kemudian berbalik kepalanya miring, senyuman sinis dilemparkan pada Hera, hal itu cukup melukai hatinya. Dzikra keluar dari kamar tersebut.


****


Hera duduk termenung diruang kerjanya, entah pada siapa harus berbagi ceritanya, mungkin bungkam adalah jawabannya. Ingin sekali bercerita dengan Dzikra kalau dirinya mendapatkan teror dari orang asing. Lamunannya terpecah saat salah seorang staf memanggilnya.


"Bu, ada yang minta konsul buat UAS." ujar staf tersebut pada sambil tersenyum.

__ADS_1


"Boleh," jawab Hera bangkit dari duduknya berjalan menuju meja konsultasi.


wajah-wajah polos anak remaja berjilbab putih, tersenyum sumringah melihat Hera, ia langsung mengambil posisi diantara anak-anak tersebut.


" Bawa kisi-kisinya?" tanya Hera sambil tersenyum.


"Bawa dong bu," ujar siswaa tersebut serentak.


Hera pun langsung membaca tabel kisi-kisi tersebut, selanjutnya ia mulai membahas materinya dipapan tulis.


****


Saat matahari sudah tertidur dalam gelap, Hera melenggangkan kakinya masuk ke rumah tersebut, namun ia tersentak polisi sudah berada di rumah menatap Hera. Semua orang dirumah tersebut memandang ke arah Hera.


"Ada apa ini?" tanya Hera.


"Maaf bu, anda saudara Hera?" tanya seorang polisi.


"Iya pak," jawab Hera masih dalam kebingungan.


"Maaf bu ada ditangkap, atas kecelakaan yang menewaskaan saudara Alfedro al ghifari," ujar polisi satunya.


"Maksudnya?" ujar Hera masih kebingungan.


"Ibu bisa menjelaskannya nanti dikantor!" ujar polisi sambil memborgol Hera.


Semua yang hadir disana termasuk Dzikra hanya diam, mereka membubarkan diri saat melihat Hera sudah ditangkap polisi.


"Dziiiik! apa maksud semua ini!!" teriak Hera pada Dzikra yang menaiki tangga.


"Kau ingin menyelesaikannya bukan? sekarang sudah selesai masalahnya!" ujar Dzikra menoleh pada Hera.

__ADS_1


Hera terdiam melihat satu keluarga ini tidak ada yang memberikan penjelasan, atau membelanya saat ia ditangkap semuanya terlihat acuh, air matanya mengalir. Terasa sesak dadanya menghadapi kenyataanya tersebut. Polisi menyeret ke mobil polisi. Dzikra memandangi dari balik kaca lantai dua, menyaksikan Hera ditangkap polisi, tidak terasa air matanya juga mengalir entah karena apa.


BERSAMBUNG...


__ADS_2