Takdir Bersamamu

Takdir Bersamamu
Siapakah dalangnya?


__ADS_3

Mohon pembaca bijak untuk membaca alur episode ini, khusus 21+


Membenciku dan mencintaiku sama-sama menguntungkan ku. Membenciku maka aku ada di pikiranmu. Mencintaiku maka aku ada di hatimu. ( William Shakespeare)


****


" kasusmu sudah diselidiki, ini hasil sementara penyelidikannya!" ujar Gilang yang merupakan detektif kepolisian menyodorkan berkasnya.


"Aku ingin mendengar langsung dari mu!" ujar Dzikra menyederkan badannya di sofa sambil memejamkan matanya.


"kebiasaan banget males! anehnya bisa jadi direktur kamu!"ujar Gilang kesal.


"Itulah hoki! Tidak semua pembaca jadi pemimpin, tapi semua pemimpin pasti pembaca," ujar Dzikra sambil tersenyum dalam tidurnya.


"Terus! aku rasa itu gak cocok kalimat sama perilaku mu, aneh banget gak nyambung!" ujar Gilang menggelengkan kepalanya.


"Udah cepetan, 15 menit lagi mau rapat!" ujar Dzikra sambil memejamkan matanya.


"Aigooo, kamu begadang terus!"ujar Gilang


"Isteri ku membuat ku bergadang terus!" ujar Dzikra membuat Gilang termenung.


"Dzik, isterimu terlibat dikasus mu!". ujar Gilang seketika Dzikra membuka matanya.


"kenapa dia terlibat?" tanya Dzikra berubah dingin.


"Pembelian obat tidur, alat-alat montir atas namanya!" ujar Gilang.


"Kenapa bisa atas namanya?" tanya Dzikra.


"Aku tidak tahu pasti nya! tapi ini ada hubungannya dengan balas dendam." ujar Gilang.


kk


"Mungkin! tapi kenapa harus menghancurkan pernikahan ku juga?" ujar Dzikra mengepalkan tangannya.


l*****


Dzikra tengah berada dikamar mandi, air shower mengucur membasahinya. Hera sedang menunggu suaminya, dia sudah menyiapkan baju tidur untuknya. Dzikra keluar dari kamar mandi dengan sehelai handuk melilit di pinggangnya. Ia menggosok rambutnya dengan handuk kecil. Hera tersenyum pada Dzikra.


"Kenapa?" tanya Dzikra cukup dingin.


"Tadi aku belanja dengan ibu, aku membelikanmu pakaian," ujar Hera menunjukan kemeja lengan panjang.


tentu saja kalian sangat akrab karena kalian bersekongkol. Batin Dzikra.


"Kok diem aja? gak suka?" tanya Hera cemberut.


"Suka! kamu tidak membeli untukmu juga? " ujar Dzikra menatap kaca, melihat bayangan Hera.


"Aku juga beli, tapi ibu memilihkan bajunya, dia bilang wanita yang sudah menikah harus punya banyak koleksi baju seksi." ujar Hera tersipu.

__ADS_1


"Tunjukkan! aku ingin melihatnya. Apakah baju seksi cocok untuk mu!" ujar Dzikra masih membelakangi Hera.


"Aku harus memakainya sekarang?" tanya Hera tapi tidak ada jawaban dari Dzikra.


Hera tidak bertanya lagi segera berlari ke kamar mandi menganti pakaiannya, ia berjalan ke arah Dzikra mengenakan lingerie warna merah maroon. Lekukan tubuhnya dan rambutnya tergerai ke belakang sepanjang punggung. Dzikra berbalik melihat Hera dari ujung kepala hingga kakinya. Seketika Dzikra langsung mendorong Hera, hingga Hera terjatuh diatas kasurnya.


Mungkin kita harus bermain-main dulu! aku akan biarkan kamu menikmati nya batin Dzikra.


Lingerie yang dikenakan Hera tersingkap, Hera segera menutupi. Namun dengan sigap Dzikra mengunci Hera diatas kasur. Matanya penuh tatapan dingin tidak berekspresi. Hera merasa sedikit tidak nyaman. Dia segera menundukkan pandangannya. Tapi Dzikra mengangkat dagunya, kemudian menciumnya dengan kasar. Hera mendorongnya tidak nyaman, matanya menatap Dzikra sendu.


"Ada apa?" tanya Hera.


"Aku hanya ingin!" Jawab Dzikra singkat.


.


"Jangan kasar!" ujar Hera cemberut.


Dzikra langsung menciumi pipi Hera, kembali beralih mencium bibir Hera dengan lembut, keduanya bertautan. Sambil tangan Dzikra nakal meremas dengan kuat ******a Hera. Hera ingin menjerit karena diremasnya dengan kuat tapi terkunci mulutnya oleh cumbuan suaminya. Dzikra langsung mempreteli lingerie yang dikenakan Hera. Akhirnya Dzikra juga melemparkan handuknya, dan melancarkan aksi penyatuan. Malam itu Dzikra tidak memberi ampun pada Hera.


Setengah Tiga keduanya berpelukan lemas. Hera meletakan kepalanya di bahu suaminya. Ia membelai dagu suaminya.


"Bang, janggutnya dipanjangin" ujar Hera tersenyum.


"Hm.." jawab Dzikra sambil matanya terpejam.


"Bang, jangan diperpanjang ya kasus kecelakaan itu!" ujar Hera seketika membuat Dzikra terbelalak.


"Jangan? Kenapa?" Tanya Dzikra dingin.


"Kenapa harus menutupi kebenaran? Siapa yang sedang coba kau lindungi? Kakak mu atau dirimu sendiri?" Ujar Dzikra tajam dan dingin.


"Apa maksudnya bang? kok bicara gitu?" ujar Hera menatap Dzikra yang sudah tidak bersahabat.


"Kenapa kau ingin membunuh ku dan ayahku?" ujar Dzikra.


Hera bangkit dari bahu Dzikra, menatap lekat wajah suaminya, emosi bersemayam di sorotan mata Dzikra. Hera menghembuskan nafasnya.


"Ayahmu penghianat!" ujar Hera dengan dingin.


Dzikra mendengar hal tersebut membuang wajahnya, dan mendecih, ia mengejek Hera.


" Benar-benar sempurna skenario kalian ingin menjatuhkan ku, mengirim wanita yang pura-pura polos tapi dia p****** dan pembunuh!" ujar Dzikra.


Hera seketika itu naik pitam mendengar perkataan Dzikra yang menyakitkan hatinya. Dia merasa tidak melakukan yang dituduhkan suaminya. Sebuah tamparan mendarat di pipi Dzikra. Hera langsung menanggis.


"Kamu tidak pantas berbicara kotor tentang isterimu!" ujar Hera.


"Kenapa aku tidak boleh menyerahkan pelaku pembunuhan kecelakaan mobil itu? jawab aku!" ujar Dzikra dengan emosi meledak.


"Kamu akan menyakiti dirimu sendiri dengan mengungkit masalah itu! mari kita maafkan saja Dzik!" ujar Hera sambil terus menitikan air matanya.

__ADS_1


"Maafkan? kau pikir nyawa ayahku akan kembali dengan kata Maaf!Tidak!" ujar Dzikra dengan emosi.


"Dzik! pikirkan dengan benar siapa lawanmu itu!" ujar Hera.


" Dalang dibalik semua ini bukankah kamu?" ujar Dzikra sambil menyilangkan tangan didada.


" Aku? kenapa kau menuduh aku?" ujar Hera mulai kebingungannya.


"Kamu sangat terobsesi padaku dari dulu! itu cukup menjawabnya!" ujar Dzikra.


"Dzik?" jawab Hera menggelengkan kepala.


"Aku benar bukan?" ujar Dzikra menatap Hera dengan dingin.


"Iya kamu benar!" ujar Hera sambil menanggis membalikan badannya membelakangi Dzikra.


****


Dimeja makan, semuanya sarapan dalam keheningan, Dzikra nampak tidak bersahabat dengan Hera. Kakek merasakan atmosfer permusuhan pasangan tersebut.


"Dzik, lehermu banyak warna merahnya?" ujar kakek tersenyum dikulum.


"Ah iya kek," ujar Dzikra kaget langsung mengusap lehernya.


"Ah kau sedang membuat Dzikra kecil akhir-akhir ini! hehehe bukankah begitu nak Hera?" ujar Kakek balik bertanya pada Hera.


"Ah eh hmm" jawab Hera kaget dan kebingungan ia menoleh melihat Leher suaminya.


Ah, benar kakek terlalu teliti, kenapa aku membuat tanda merah begitu banyak, ini sungguh memalukan, batin Hera.


Semuanya melirik pada Hera yang gelagapan. Hera tertunduk malu, berbeda dengan Dzikra yang terlihat stay cool dikondisi menegangkan pun. Rahel melihat itu merasa jijik, sedangkan Alfarid sedikit cemberut melihat hal tersebut.


*****


Hera berjalan memasuki kantornya seseorang menyenggol dan menyelipkan kertas ditelapak tanganya, Hera langsung terperjat dan hendak menangkap sosok yang memberikan secarik kertas padanya. Hera memutuskan membukanya.


Hati-hati kamu sedang diawasi! isi dalam surat tersebut.


Hera merasa kebingungan segera membuang kertas tersebut dan melanjutkan masuk ke dalam kantornya. Meskipun dia merasa hampa saat berada dikantor tanpa kehadiran Rangga. Hera masih merindukan sahabatnya.


****


Sekitar pukul delapan malam lewat Hera sudah sampai di pekarangan rumahnya, ia berjalan memasuki pekarangan rumah, lagi-lagi seseorang menyenggolnya, orang tersebut mengenakan jas hujan. Sesuatu disimpan ke dalam tasnya. Hera melirik ke arah orang tersebut tapi ia melangkah dengan cepat.


"Pak tunggu! " ujar Hera.


Orang tersebut malah mempercepat langkah kakinya. Hera kemudian menghembuskan nafasnya, ia masuk kamar dan masuk ke dalam kamar mandi, saat menanggalkan pakaiannya, ia melihat darah ditangannya, ia kebingungan segera memeriksa bagian tubuhnya tidak ada yang terluka. Hera kembali mengingat kejadian seorang pria paruh baya menyenggolnya tadi dipekarangan.


"Apaa mungkin!" ucap Hera berlari keluar kamar mandi lupa tidak mengenakan handuk.


Saat itu Dzikra tengah memegang tasnya, melirik pada Hera yang muncul seketika keluar kamar mandi. Dzikra terkejut melihat Hera tanpa sehelai kain, matanya membulat. Hera yang menyadari itu segera masuk ke kamar mandi dengan malu. Hera memandang bajunya yang terkena darah tersebut, segera mencucinya. Dia tidak mau berurusan dengan polemik keluarga ini. Cukup lama Hera di kamar mandi. Ia berjalan keluar kamar dan mendapati secarik kertas bertuliskan.

__ADS_1


Permainan sedang dimulai! Hati-hati kamu! isi tulisan tersebut membuat Hera bergindik.


BERSAMBUNG....


__ADS_2