Takdir Bersamamu

Takdir Bersamamu
Pura-pura Amnesia


__ADS_3

Hera masih terbaring dikasur rumah sakit, dia hanya melihat para dokter hilir mudik. Mereka sibuk menjelaskan sesuatu kepada polis yang berada diluar ruangan. Seorang suster memasuki ruangan membawa buah-buahan dan bubur sambil tersenyum ke arah Hera.


" Jangan lupa dimakan bu, anda harus menjaga kesehatannya." ujar suster yang dibalas senyuman oleh Hera.


Seorang dokter masuk setelah suster tersebut meletakan makanan dimeja samping kasur. Dokter tersebut langsung menghampir Hera. Tangannya memeriksa perut Hera, dalam pikiran Hera dia merasa baik-baik saja, orang-orang disekitarnya begitu khawatir.


" Bagaimana dok? perut saya baik-baik saja bukan?" seru Hera menatap dokter tersebut.


"Iya alhamdulillah, bayinya juga baik-baik saja," ujar dokter tersebut setelah mengecek kondisi Hera.


"Bayi? apa saya hamil?" ujar Hera.


"Bu Hera sedang hamil usia satu minggu!" ujar dokter tersebut tersenyum sumringah.


"Oh benarkah?" ujar Hera tersenyum bahagia sampai menitikan air matanya, dokter hanya menganggukan kepalanya.


Namun seketika raut wajahnya berubah, dia mengingat suaminya yang tidak memperdulikannya. Kehamilannya juga tidak akan ada artinya baginya. Dia juga merasa sedih, ia harus hamil dalam penjara, air matanya meluncur.


"Bu Hera kenapa menanggis?" tanya dokter tersebut.


"Aku hanya merasa senang sekali, tolong rahasiakan kehamilan saya dari siapapun," ujar Hera sambil menghapus air matanya.


"Termasuk dari suami bu Hera?"tanya dokter kandunan kebingungan.


"Suami? Ya tentu aku punya suami!" ujar Hera sambil tersenyum kecut.


"Apa bu Hera tidak bisa mengingat sesuatu?" tanya dokter tersebut mulai resah mendengar ucapan Hera.


"Apa yang harus saya ingat?" tanya Hera dengan polos.


"Saya ingin memastikan, siapa nama suami anda nyonya?" tanya dokter.


"Suami?" ujar Hera menghembuskan nafasnya mulai berpikir, mulutnya terkunci malas mengatakan nama suaminya.


"Apa bu Hera ingat namanya?" tanya dokter sekali lagi.


"Mungkin aku akan mengingatnya nanti!" ujar Hera sambil tersenyum.


Dokter tersebut melonggo, matanya gusar melihat pasiennya tampak ingatannya kurang baik setelah delapan jam mati suri. Dokter tersebut tersenyum pada Hera, ia segera keluar terburu-buru dari kamar pasiennya, berbicara kepada petugas kepolisian. Mereka tampak serius sambil sesekali menoleh paada Hera yang memepehatikannya dibalik kaca.


Seorang lelaki dengan terburu-buru menghampiri petugas polisi, mereka tampak berbicara. Hera mengenal lelaki itu.


Untuk apa dia kemari, gerutu Hera dalam hatinya.


Dzikra menoleh ke arah Hera melalui kaca pintu rumah sakit, Dzikra segera berjalan cepat memasuki kamar Hera.


Apa ini, mau apalagi dia? mau membunuhku? mau aku balik lagi ke penjara! Ah kenapa dia ini, aku lelah dengan semua ini, aku hanya ingin istirahat sebentar diranjang empuk gerutu Hera dalam hatinya.


Dzikra menatap Hera dengan sendu, ia mendekat ke Hera. Air matanya menetes lagi, tangan Hera sudah tidak sedingin terakhir kali dia memegangnya. Hera hanya menatap lelaki itu sebentar, lalu membuang wajahnya.


"Aku suamimu, maaf membuatmu jadi begini," ujar Dzikra sambil mengengam tangan isterinya.

__ADS_1


"Oh jadi kau suamiku?" ujar Hera menoleh dan menatap Dzikra.


"Iya, Ra." Ujarnya sambil menunduk tak kuasa melihat Hera amnesia.


" Oh, kalau begitu siapa yang berdiri dekat pintu itu?" ujar Hera menunjuk ke arah pintu.


Dzikra mengangkat wajahnya, menoleh ke arah yang ditunjukan tangan Hera. Kaget bukan main disana tidak ada siapa-siapa, di ruangan tersebut hanya mereka berdua. Dzikra menelan ludahnya sambil menatap Hera.


"Kenapa dia begitu pucat? apa dokter tidak mengobatinya, dia banyak darah dipakaiannya" ujar Hera sambil menoleh pada Dzikra yang masih membisu.


"Kenapa diam saja? Panggilkan dokter untuk mengobatinya!" lanjut Hera sambil menatap Dzikra yang tidak bergeming.


"Jangan terlalu memperhatikannya, istirahatlah!" ujar Dzikra sambil bangkit bulu kuduknya sudah berdiri, ia mengelus rambut Hera, dan keluar ruangan.


****


"Dok, kenapa isteri saya sepertinya melihat sesuatu yang kasat mata?" ujar Dzikra.


"Wajar saja, mungkin karena dia baru terbangun dari NDE. Semacan delusi bisa menyerang orang yang terbangun dari koma. Sebaiknya biarkan saja dulu, nanti juga akan baik-baik saja." ujar Dokter tersebut yang disambut anggukan oleh Dzikra.


Dzikra keluar dari ruang dokter tersebut, kepalanya sedikit pusing, ia kurang istirahat dan juga asupan dari kemarin. Dia melintas ke kamar Hera, Ia melihat Hera tampak bercakap-cakap dengan seseorang dan sesekali tersenyum. Dzikra hanya menunduk.


Ini tidak bisa dibiarkan! lama-lama Hera bisa gila! dia tidak boleh sendirian, ujar Dzikra.


Dzikra segera menerobos masuk ke ruangan, dengan nafas yang sulit diatur. Hera nampak terkaget dengan sikap Dzikra.


Ra, kamu sudah makan?" tanya Dzikra sambil membelai kepala Hera.


Hem...kenapa jadi sok manis! ujar Hera dalam hatinya.


"Syukurlah, aku berangkat ke kantor dulu! Selama aku pergi, istirahatlah! kalau bosan bicaralah dengan dokter atau suster, atau kau boleh menelponku," ujar Dzikra menyodorkan ponsel pada Hera.


Dzikra segera mengecup pucuk rambut Hera, mengenggam tangannya, sesekali mengelusnya kemudian ia keluar dari kamar tersebut.


"Zidan, jagain isteri gue! Tidak boleh ada yang menemuinya!" ujar Dzikra kepada Zidan.


"Emang gue bodyguard Lo!" ujar Zidan acuh.


"Ayolah, gue sepenuhnya serahin kasusnya ke Lo!" ujar Dzikra sambil menepuk pundak Zidan.


"Oke, tapi Lo harus ngikutin syarat-syarat gue!" ujar Zidan.


"Iya gue ikutin!" ujar Dzikr.


"Pihak kepolisian sudah melaporkan kematian Hera ke publik! Jangan coba konfirmasi tentang Hera yang hidup lagi!" ujar Zidan.


" Terus!" ujar Dzikra.


"Ikutin arahan gue! jangan main sendiri!" ujar Zidan.


"Ada lagi!" tanya Dzikra

__ADS_1


" Masih banyak, nanti gue kasih tahu!" ujar Zidan.


"Gue harus sembunyin sampai kapan?"tanya Dzikra.


"Hmm.. Sampe bidadari turun dari langit!" ujar Zidan cengegesan.


"Ah, gak bener Lo!"ujar Dzikra yang meninju lengan Zidan.


"Lo, serius amat sih!" ujar Zidan menghindar dari tinjuan Dzikra.


"Gue merasa jadi orang asing dimata Hera sekarang!" ujar Dzikra tertunduk lesu.


"Sabar Bro, eh bukannya Lo mau kerja kok malah curhatt.!"ujar Zidan.


"Eh iya gue lupa, gue cabut dulu! makasih ya!" ujar Dzikra berlalu meninggalkan rumah sakit.


****


Dzikra tengah berada diruangan rapat, ponselnya berkali-kali bergetar membuatnya tidak fokus, dilihatnya panggilan itu dari Hera, tersembul senyuman diwajahnya.


"Bagaimana pak? Anda setuju?" tanya seorang presentator.


"Oh iya, mungkin kita bisa lanjutkan sambil makan siang, dekat sini ada restoran yang menyediakan makanan cukup lezat," ujarnya ingin segera mengakhiri rapatnya.


"Baik, dengan senang hati pak!" ujar Presentator wanita dengan wajah blasteran kesenangan.


Dzikra hanya mengangguk sambil segera keluar dari ruang rapat, ia menelpon balik Hera. Nada sambung terdengar, Dzikra tidak sabaran, tapi kemudian berubah nada sambung dengan suara merdu wanita.


"Aku ingin makan rujak! bakso tetelan pedas! sama seblak sekarang!"ujar suara disebrang sana.


"Kau menelpon hanya untuk ini?" tanya Dzikra.


"Ya sudah, aku akan beli sendiri!" ujar Hera hendak menutup telponnya.


"Tunggu aku akan membelinya!" ujar Dzikra.


*****


Hera menyantap makanan yang dibawakan oleh Dzikra, semua makanan habis dilahap Hera, Dzikra melonggo melihat Hera yang tidak seperti biasanya, setelah selesai makan ia mengosok giginya, kemudian membaringkan badannya dikasur. Dzikra hanya memperhatikan Hera disamping ranjangnya.


"Kau bisa mengingat makanan, tapi kau tidak bisa mengingat suamimu?" ujar Dzikra menatap tajam Hera.


"Itu instingku yang mengingatkannya," ujar Hera sambil hatinya dag dig dug.


"Kau tidak sedang pura-pura?" tanya Dzikra menelisik.


"Ah sepertinya aku mengantuk sekali, aku tidur dulu," ujar Hera membelakangi Dzikra sambil memejamkan matanya.


Hera tidak berapa lama merasakan ada hembusan nafas mendekati wajahnya, ia pun membuka matanya, dia terkejut wajah Dzikra begitu dekat, Hera lepas kontrol ia berteriak.


"Dzikra apa yang kau lakukan!" teriak Hera tanpa sadar.

__ADS_1


"Oh jadi kau tau namaku?" ujar Dzikra matanya sambil menyipit.


BERSAMBUNG....


__ADS_2