
" Saya nikahkan ananda Dizkra Al Fairuz bin Abdul Razaq Al Ghifari dengan putri saya Hera Nurkholis binti Abraham Muhsin dengan mas kawin 20 gram dan seperangkat alat solat dibayar tunai." Ucap ayah Hera tegas lancar yang diakhiri linangan air mata menahan haru.
" Saya terima nikahnya Hera Nurkholis binti Abraham Muhsin dengan Mas Kawin berupa emas logam mulia 20 gram dan seperangkat alat solat dibayar tunai. Suara Dzikra lancar dan tegas langsung diseru oleh sekian saksi mengucapakan sah dan semuanya memanjatkan syukur dan doa.
Hera yang saat itu berada menyaksikan ijab qobuk itu tertunduk, hatinya senang, hatinya melonjak-lonjak, saat ini statusnya sudah berubah, ia adalah seorang isteri Dzikra.
Semua yang hadir menyuruh dua mempelai saling duduk berdampingan dan melakukan serah terima mahar. Dzikra menyerahkan mahar itu kepada Hera kemudian diterimanya, kamera menangkap moment tersebut. Hera kemudian mencium tangan Dzikra untuk pertama kalinya, yang kemudian Dzikra mengecup keningnya sekilas. Hal itu membuat Hera melayang dibawa ke atas awan. Untung dia masih bisa mengendalikan dirinya. Para tamu yang hadir hanya tetangga dan beberapa teman Hera yang rumahnya dekat dengannya.
Flashback sebelum lamaran
" Kakek mana mungkin kita bisa begitu." Ucap Dzikra.
" Apa yang salah, umurmu sudah cukup menikah, lamar sekaligus nikah tidak ada yang salah." Ucap kakek.
" Tapi Ke, kenapa harus buru-buru. Kita bisa menunggu sebulan setelah lamaran baru menikah."
" Sudah jangan pakai cara kuno". Ucap kakek tegas.
" Iya tidak ada yang salah Dzikra, ibu juga rasa tidak apa apa jika kamu langsung menikah setelah lamaran, toh kenapa harus dilama-lamakan."
Dzikra yang tidak menyangka harus menikah secepat itu, hanya bisa dia emosinya masih bergemuruh dihatinya.
" Dzikra, kakek tau kamu sangat menyukai Rahel, kamu juga sedih dengan kepergian ayahmu. Kamu tidak bisa seorang diri saja. Kamu butuh seseorang untuk berbagi semua kesedihanmu dan kamu bisa melupakan Rahel." Ucap kakek.
Dzikraa hanya terdiam, tidak menyahuti ucapan kakeknya. Kemudian tanganyanya menutupi wajahnya. Kakeknya tau cucunya sangat tertekan.
" Ikuti saja perkataan kakek. Kakek akan mengurusnya". Sambung kakek. Dzikra hanya dia mengangguk pelan. dihatinya berkata:
Baiklah kita ikuti rencana mereka ini, aku tidak bisa menolaknya.
" Baiklah kek." Dengan ucapan tidak semangat.
Flashback selesai*
****
__ADS_1
Matahari sudah terbenam, suara angin malam sudah menyapa, dikamar yang bercat merah muda, tidak ada hiasan kamar pengantin. Hera duduk diujung kasur menunggu Dzikra yang tidak kunjung keluar dari kamar mandi. Hera sudah menganti pakaiannya dengan pakaian tidur, dia sudah melepaskan kerdungnya, rambutnya terurai sepunggung. Hera beranjak berdiri mondar mandir, dia berjalan menuju kamar mandi, kemudian kembali mondar mandir didepan kamar mandi, suara kran masih sama seperti saat Dzikra masuk terdengar menyala keras. Pikiran Hera:
Apakah Dzikra terjatuh dan pingsan di dalam kamar mandi? Tapi bagaimana kalau tidak. Tapi bagaimana kalau iya. Haruskah aku mengeceknya? bagaimana kalau dia marah? Terserahlah asalkan dia tidak kenapa-kenapa.
Pintu kamar mandi pun di dorong oleh Hera sehingga terbuka, dan disana terdapat sesosok pemuda tanpa sehelai pakaian berada dibawah Shower terperajat. Hera hanya bisa melotot. Dzikra langsung berpura-pura tidak terkenjut berjalan mendekati Hera. Dan menariknya ke dalam kamar mandi, pintu kamar mandi di tutupnya. Hera disenderkan di dinding. Degup jantungnya berdetak beriringan dengan suara degup jantung Dzikra. Hera hanya terdiam, pipinya terasa sangat panas. Dzikra menatapnya dengan tajam, bibirnya mendekat ke bibir Hera, namun tidak menyentuhnya.
" Aku tidak menyangka kamu tidak sabaran." Ucap Dzikra menyungingkan senyumannya.
" Tapi, maaf malam ini bukan malam untukmu." Berjalan dengan sedikit pincang menuju shower kembali.
" Apa kamu akan terus disana, kamu ingin menyaksikan saya mandi?" perkataan itu cukup menyadarkan Hera.
Hera segera lari keluar dari kamar mandi. Dia menutup pintunya, Hera memegang pipinya yang sudah sepanas 38 derajat baginya. Dia berjalan ke atas kasur menahan malu, ia membaringankan badannya, bayangan dikamar mandi itu terus menganggunya sehingga ia memukul keningnya dengan telapak tangannya berkali-kali. Suara pintu kamar mandi terbuka, Hera langsung membalikan badannya menutupi tubuhnya dengan selimut. Dzikra" berjalan dengan sedikit pincang akibat luka kecelakan yang membuat satu kakinya tidak berjalan baik, ia berjalan menuju tas yang berisi pakaiannya. Dzikra melirik ke arah Hera yang sudah terbaring.
" Apa kamu bisa membantuku?"seru Dzikra.
Hera segera membuka selimutnya, dan melirik ke arah datangnya suara, kembali lagi Hera melihat dada telanjang Dzikra.
"Aku tidak bisa memakai pakaianku, kaki yang sebelah kiri masih sakit." Ucap Dzikra.
" Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Dzikra membuat Hera kesal.
" Tadi kau meminta bantuanku".
"Hem, akhirnya kau bersuara juga, kukira kau kehabisan baterai sepanjang hari diam saja.
Bantu aku ke pinggir kasur, aku tidak bisa memakai pakaian sambil berdiri."
" Iya." Hera menurut saja kepada Dzikra.
Tangannya membopong Dzikra menuju pinggiran kasur. Dzikra terduduk.
"Celanaku."
Hera segera mengambilnya sekaligus dengan bajunya. Dan menyimpannya disamping Dzikra. Kemudian diam terpaku.
__ADS_1
" Kenapa kau disana, aku bisa memakai bajuku."
" Baiklah. Semangat" Hera berjalan menuju atas kasur.
Dzikra mulai memakai pakaiannya, Dzikra cukup lama memakai celananya, beberapa kali dia mengerang kesulitan memakainya. Hera akhirnya turun dari ranjangnya dan mengambil celana dalam yang dipegang Dzikra. Sebenernya Hera tidak ingin melalukannya , karena itu membuatnya malu. Tapi tidak tega melihat Dzikra kesulitan, dia dengan sigap langsung memakaikan celana itu dengan wajah kaku lalu memakaikan celana tidur. Dzikra terperangap melihat aksi Hera. Tapi dia tidak berkomentar. Dzikra berangsur merebahkan tubunya dan menyelimutinya dengan selimut. Hera kembali ke atas ranjang dan menarik selimutnya.
" Terima kasih" hanya itu yang diucapkan Dzikra seraya menutup kelopak matanya.
Hera langsung menoleh ke pemuda yang tertidur disampingnya, bibirnya tersenyum, ingin rasanya memeluk pria disampingnya dan bermanja dengannya seperti pengantin baru pada umumnya. Tapi Dzikra berbeda, dia cukup kaku dan sulit ditebak pikirannya.
" Kalau kau menginginkan tidur bersamaku malam ini, aku tidak keberatan." ucapan itu keluar begitu saja dari mulut Hera, dia menyangka Dzikra sudah tidur, namun ternyata Dzikra menolehnya memasang wajah garang. Hera yang melihat itu langsung malu setengah mati.
" Maksudku, em..emm.. Bukankah tidak salah kalau aku melakukannya denganmu, toh kita sudah menikah." Hera berkata mencari alasan.
" Wanita gampangan." Ucap Dzikra membalikan badannya dan tidur.
Hera menjadi menyesal mengatakan hal itu, dia mengutuki dirinya.
Dasar Hera kenapa kamu bicara begitu sama Dzikra. Tuh kan Dzikra memandangku wanita murahan huh. Kenapa kamu jadi salah tingkah dan banyak bicara, dan bicaramu jadi ngelatur.
Hera bangkit dari tidurnya, meraih ponsel kemudian mengetik pesan ke manajernya, dia mengambil cuti seminggu dan memberikan alasanya. Pesan pun terkirim.
" Kalau sudah diatas kasur jangan memainkan ponsel. Itu menganggu teman tidurmu." Suara itu berasal dari Dzikra.
Hera langsung menyimpan ponselnya dan kemudian menyelimuti tubuhnya. Malam ini terasa sangat panjang.
***
Hera merasa bantalnya sangat hangat dan bernyawa. terdengar suara jantung, Hera hanya mengeliat sedikit. Kemudian dia membuka matanya perlahan, dia melihat tangannya melingkari tubuh Dzikra, dia kaget matanya pun langsung melihat ke arah Dzikra. Wajah Dzikra terlihat merah padam. Hera segera menyingkirkan tangannya dan bangkit dari namun bajunya terjepit tangan Dzikra sehingga dia terjerembab tepat diwajahnya Dzikra, bibirnya menyentuh bibir Dzikra yang lembut. Hera mematung, begitupun dengan Dzikra. Beberapa detik mereka berciuman, namun kemudian Dzikra segera menyingkirkan tubuh Hera.
" Morning kiss" ucap Dzikra dengan datar.
Hera menjadi malu, pipinya merah merona, dia menepuk-nepuk wajahnya. Dzikra tidak memperdulikannya. Dia langsung bergegas berajak dari kasur.
BERSAMBUNG....
__ADS_1