Takdir Bersamamu

Takdir Bersamamu
Pertemuan


__ADS_3

Mobil merah itu melaju dengan kencang menerobos jalanan. Keduanya masih hening. Rahel kemudian mencoba membuka pembicaraan.


" Hem.. Emm.. Jadi begini, Aku tidak bisa menikah dengan Dzikra. Karena aku sudah menikah, dan sekarang Dzikra sedang sakit, kakinya lumpuh, dia tidak ada yang mengurus, ibunya sudah meninggal, ayahnya juga sudah meninggal, sekarang dia hidup di rumah bersama kakak tirinya dan Ibu tirinya. Kamu pasti paham sampai disini."


" Lanjutkan saja ceritanya, aku akan mendengarkannya."


" Oke, jadi kamu harus menikah dengan Dzikra karena saat ini kondisinya sedang emosional, sangat labil, dia belum bisa menerima kenyataan. Selain itu juga, perlakuan ibu tiri terhadapnya kurang baik. Bagaimana?"


Hera hanya terdiam pandangannya tertuju pada jalanan yang dilewatinya, dan menghela nafas. Tanpa menoleh Hera berkata:


"Kamu mengetahui banyak tentangnya, kalian juga saling mencintai, kenapa kamu meninggalkannya?"


Rahel tidak lekas menjawab pertanyaan Hera. Dia menghentikan mobilnya. Kemudian menyungingkan senyuman yang ketir.


" Kau memang tidak mengenal urusan cinta. Kadang cinta harus mengorbankan. Cinta tidak bertujuan untuk mencari kebahagiaan."


Hera yang mendengar pernyataan itu langsung menolehnya, dengan penuh tanda tanya.


" Kita sudah sampai, ayo turun, semua akan semakin jelas kalau kamu turun dari mobil."


Tungkas Rahel sambil mendorong pintu mobil.


Hera pun mengikuti perkataan Rahel. Mereka berjalan beriringan memasuki rumah makan.


Rahel berjalan menuju salah satu meja yang sudah ditempati seorang pemuda yang menggunakan tongkat penyangga. Rahel menyapa pemuda tersebut.


" Maaf membuatmu menunggu lama."


Pemuda itu pun menoleh, menyungingkan senyumanannya yang dibalas senyuman oleh Rahel. Hera yang berada disana hanya terpaku, jantungnya berdegup kencang, sudah sekian lama tidak berjumpa pemuda itu. Kini pemuda itu melirik pada Hera, dengan penuh keheranan.


"Kenapa dia ikut denganmu"


Hera melonggo, hatinya benar benar terkejut, dan dia hanya menelan ludah seraya berkata dalam hati.


Apah!! jangan jangan dia tidak tahu tentang pernikahan ini. Omoo Rahel, jangan membuatku malu, kalau kau buat ku malu, aku tidak akan membantumu lagi. Sekarang apa aku perkenalkan diri atau bagaimana, ya Tuhan bantu aku.


" Ah dia, kau tahu, ini Hera. Dia menyukaimu dari dulu, dan aku rasa dia cocok denganmu. Kamu harus menikah dengannya, ini perintah dari ibumu. Dan kakek juga meminta kakakmu untuk mencarikan calon isteri, menurut kakek kamu juga harus menikah."

__ADS_1


" Kukira obrolan malam ini bukan itu, aku meminta alasan kamu menikah dengan kakakku. Kenapa kamu menikahinya, KENAPA! KENAPA! emosi Dzikra membeludak.


" Aku tidak bisa menunggu, kamu bersama ayah mertua kecelakaan cukup parah dihari pernikahan itu, ibu dan ayahku tidak mau membatalkan pernikahan. Saat kau dirawat aku terpaksa menikah dengan kakakmu. Aku tidak mau membuat aib keluargaku, kalau aku gagal menikah." Ucap Rahel sambil terisak tangannya menangkup wajahnya.


" AAAARRGH!" tangan Dzikra mengepal dan menghantam meja dengan keras ' BRUK'.


Hera yang tidak sempat duduk hanya berdiri didepan meja menyaksikan dua sejoli ini yang marah. Hera hanya diam, pikirannya bingung, dan perutnya sudah mulai berbunyi.


Kryuk kryuuk kryuk


Suaranya sangat nyaring sehingga dua sejoli yang sedang marah itu meliriknya. Hera yang menjadi pusat perhatian hanya tersenyum penuh malu.


" Emmm hehe, " ucap Hera malu.


*****


Hera menyantap makanannya dengan lahap, karena belum sempat makan malam setelah mengajar tadi. Sedangkan, Dzikra dan Rahel hanya diam saja. Suasana sangat hening. Hera tidak memperdulikannya, dia sudah cukup malu tadi. Keheningan terpecahkan oleh suara ponsel Rahel. Rahel segera meraihnya.


" Sepertinya aku harus pulang, suamiku mencariku. Sekarang aku sudah menuntaskan kewajibanku mencarikan mu calon isteri. ini permintaan ibu mertua dan kakek. Maaf aku harus pergi." Rahel meraih tasnya dan berjalan meninggalkan restoran tersebut.


Dzikra sekali lagi menghantamkan tangannya ke meja berkali-kali. Membuat Hera terhenti dari aktivitas makannya. Suara hati Hera hanya mengatakan.


Hera pun bangkit dari kursinya menenteng makananya, namun Dzikra meliriknya.


" Kau mau kemana?" ujar Dzikra.


" Mm.. Aku rasa ka..kamu ingin sendiri."


" Duduklah, habiskan makananmu, dan kita bicara." Ucap Dzikra.


Hera yang mendengar ucapannya, langsung duduk kembali. Pikir Hera: Hmm Dzikra cukup tenang juga sekarang. Syukurlah, semoga dia tidak memukul meja lagi. Maka aku akan makan dengan tenang.


***


Suasana menjadi hening saat Hera sudah menghabiskan makanannya. Sepatah kata tidak ada yang terlontar dari Dzikra, dia hanya diam pandangannya kosong. Hera melihatnya menjadi iba.


Dzikra adalah lelaki yang sangat dicintainya. Bayangan saat SMA itu terlintas, ia pernah diam- diam menyimpan surat cinta ditasnya Dzikra. Kemudian Dzikra tiba-tiba mengirimkan pesan ke ponselnya dengan mengatakan ' Aku sayang sama kamu Ra'. Kalimat itu membuat Hera berbunga-bunga selama seminggu, namun setelah itu tersebar gosip Dzikra jadian dengan Rahel.

__ADS_1


Pada saat itu juga Hera terkulai lemas, menangis semalaman. Hera pun memberanikan diri menanyakan pesan itu kepada Dzikra. Ternyata dia hanya salah paham, Dzikra mengatakan apa yang salah dengan mengatakan ' sayang', waktu itu aku hanya main-main saja. Jika kita memang jodoh aku akan datang kepadamu saat aku berumur 25 tahun. Tiba- tiba lamunan Hera buyar saat Dzikra mengajukan pertanyaan.


" Sekarang kamu dimana?" tanya Dzikra.


" Hm, aku jadi guru dilembaga swasta," jawab Hera.


" Oh, begitu. Kenapa kamu mau menikah denganku?" tanya Dzikra.


" Em,"Hera tidak dapat menjawabnya.


" Kalau kamu tidak punya alasan jangan menikah denganku. Aku akan membuatmu kesulitan. Aku tidak punya harta, perusahaan dipegang oleh kakakku. Aku lelaki pengangguran. Kau masih mau menikah denganku?" sekali lagi Dzikra bertanya dan menjelaskan keaadaannya.


"Iya, aku akan menerimanya, kita masih bisa hidup, aku tidak menganggur," Hera menjawab pertanyaan tanpa banyak berpikir lagi.


" Hey, aku akan menjadi suamimu, aku harus bisa menafkahimu," kali ini Dzikra kesal.


" Hey, kamu bisa kerja setelah kamu sembuh, lagi pula banyak lapangan pekerjaan. Kamu tidak harus selalu menjadi Direktur atau Bos." Jawab Hera.


" Huh.. Kamu tidak mengerti. Apa kamu bisa jamin, aku akan sembuh? ini sudah hampir 3 bulan aku lumpuh," ujar Dzikra


" Aku memang tidak bisa menjaminnya, kuncinya ada dikamu yakin akan sembuh," timpal Hera.


"Baiklah, aku juga tidak bisa menjamin kehidupan yang layak untukmu jika menikah denganku. Aku jahat, aku cuek, aku juga tidak mencintaimu. Marilah menikah tanpa harus mencintai dan kita akhiri saat kita merasa bosan," putus Dzikra.


" Kau pikir pernikahan itu main-main," sanggah Hera.


Dzikra membisu, diam seribu bahasa. Pandangannya tidak pernah ditujukan kepada Hera yang berada di depannya.


" Kalau begitu, kamu yang mengambil keputusan hidup denganku, jangan menyesal nanti," ujar Dzikra.


" Aku tidak akan tahu penyesalan itu, jika aku tidak mencobanya," ucap Hera.


" Baiklah aku akan melamarmu besok." Dzikra bangkit dari tempat duduknya. Dengan dibopong oleh tongkat. Hera hanya bisa melihat punggung pemuda itu, yang semakin menjauh darinya.


Tunggu Dzikra tidak tahu rumahku bagaimana dia akan ke rumahku besok.


Hera berlari mencari Dzikra namun mobil Dzikra terlanjut keluar dari Parkiran Restoran. Hera hanya mengela nafas..

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2