Takdir Bersamamu

Takdir Bersamamu
Terungkap satu fakta


__ADS_3

Perkataan Rahel dimeja makan sepertinya sengaja memancing Hera. Namun, ia mencoba tidak memperdulikannya. Hera melakukan aktivitas seperti biasa sebelum berangkat kerja. Ia berencana membuat skotel pada hari ini. Hera sibuk mengolah bahan-bahan skotel. Rahel masuk ke dapur dan mengambil air minum dikulkas, ia melihat Hera fokus membuat makanan. Rahel duduk dimeja makan.


" Kau ingin tahu kenapa aku memintamu menikahi Dzikra?" tanya Rahel.


" Tentu saja aku ingin tahu, jadi jelaskanlah!" ucap Hera sambil tetap mengaduk tepung dicampur susu.


" Aku harap setelah kamu tahu ini, kau tidak akan hancur." ucap Rahel tersenyum sinis


" Katakanlah!" ucap Hera.


" Dzikra dan ayahnya mengalami kecelakaan saat akan menikah denganku, dan aku terpaksa menikah dengan kakaknya. Kecelakaan Dzikra tidak murni kelalaian pengendara. Semua sudah dirancang oleh ibu mertua." jelas Rahel.


Rahel menghirup udara dalam, menahan amarahnya. Hera seketika terdiam mencerna kalimat yang diucapkan Rahel.


" Ibu mertua menyuruh seorang mortir mengotak-atik mobil yang dikendarai pengantin. Dan mortir itu aku baru tahu dia adalah Kakakmu!" ujar Rahel menatap tajam kepada Hera.


Hera tersentak mendengar perkataan Rahel, serasa disamber geledek dipagi hari.


"Jika kakek dan Dzikra tahu, aku tidak tahu apa yang akan mereka lakukan terhadapmu! Aku saja setelah tahu ini, setiap melihat wajahmu, rasanya ingin mencincangmu dan menjadikan kamu umpan buaya." lanjut Rahel berlalu meninggalkan Hera yang masih mematung.


Hera menghela nafas panjangnya, air matanya menetes, pikirannya benar-benar kacau setelah mendengar penjelasan. Ia merasa tidak sanggup berdiri lagi, akhirnya terduduk dimeja dan menanggis tersedu-sedu. Farid masuk ke dapur melihat Hera sedang menangis langsung menghampirinya.


" Kau kenapa Ra? Kamu ada masalah?" tanya Farid cemas.


Hera masih terduduk dan kepalanya masih terduduk, menjawab pertanyaan Farid hanya dengan gelengan kepala. Farid kemudian mendekat ke arah Hera, mengelus punggungnya Hera. Saat itu juga Dzikra hendak masuk ke dapur, melihat Farid nampak sedang mengelus punggung Hera, hatinya panas sekali. Ia mengurungkan diri ke dapur, kembali ke kamar. Dzikra melampiaskan kemarahannya dengan mengacak-acak kasur, bantal dan guling dilemparkan ke segala arah.


***


Hera setelah beres membuat skotel dengan hati masih takaruan, memilih kembali ke kamar dan bersiap akan mandi karena badannya sudah bau masakan. Memasuki kamar dia terkejut bukan main semua terlihat seperti kapal pecah. Dzikra sudah duduk termenung di pinggir kasur menatap tajam ke arahnya.


" Ada apa ini? Kenapa semuanya acak-acakan seperti ini?" ucap Hera memunguti seprai dan bantal yang berserakan dan menghampiri kasur.


Saat berada disamping Dzikra, tangannya di tarik Dzikra dan dihempaskan diatas kasur. Dzikra menindihnya, mata mereka saling beradu. Namun, seketika Hera melihat mata itu langsung menangis sesegukan. Teringat perkataan Rahel, pikirannya juga berpikir mungkin alasan sikap Dzikra yang dingin sebenarnya karena sudah tahu sesuatu.


"kenapa kau menangis!" teriak Dzikra di wajah Hera.


Hera tidak menjawab, hanya mengelengkan kepalanya. Dzikra merasa semakin kesal karena melihat Hera semakin menangis.

__ADS_1


"Aneh, bukankah momen seperti ini kamu suka! Sekarang kau bertindak seolah aku seperti pem*rk*sa. Jangan sok suci didepanku! " teriak Dzikra sambil bangkit dari tubuh Hera.


Hera masih terlentang diatas kasur itu, air matanya terus mengalir. Dzikra pun menghentakan kakinya dan pergi ke kamar mandi, setiap melihat Hera selalu merasa senang sekaligus benci pada dirinya. Dzikra pun mandi mendinginkan otaknya. Tapi dia lupa tidak membawa baju ganti, ia mematikan Shower, berteriak meminta Hera membawakannya baju ganti. Hera pun bangkit dan mengambil pakaian untuk suaminya, ia mengetuk pintu kamar mandi, Dzikra pun membuka celah pintu. Tangan Hera yang putih menyodorkan pakaian, seketika Dzikra terdiam dan menarik Hera masuk ke dalam. Hera membelalakan mata karena Dzikra tak berbusana sedikit pun.


" Dzikraaaaaaaa!!!!" teriak Hera.


Dzikra entah kenapa dia masih tenang dan tidak merasa risih sedikit pun. Dia malah mendorong Hera ke dekat Shower.


" Kau mau mandi juga bukan?" tanya Dzikra masih dengan nada dingin.


" Iya, nanti setelah kamu, gak sekarang!" ucap Hera.


Dzikra tidak mendengarkan ucapaan Hera, dia malah menyalakan Shower sehingga membasahi baju Hera. Hal itu membuat Hera panik dia terus mengusap wajahnya yang terkena air. Baju hera basah kuyup membuat badanya terlihat. Seketika itu juga Dzikra langsung menyambar ******* Hera. Dan semua terjadi begitu saja didalam kamar mandi tersebut.


****


Hera mengeringkan rambutnya yang basah kuyup. Batin Hera berkata:


Apa artinya aku dengannya sudah baikan?


Haruskah aku mulai bicara dengannya?


Dzikra pun melangkah keluar dari kamar mandi dengan pakaian sudah rapi. Kemudian melirik ke arah Hera yang memperhatikannya.


" Ada yang ingin aku sampaikan!" ucap Hera.


" Apa? cepatlah aku sudah terlambat." ucap Dzikra datar.


" Aku tidak berselingkuh, dan aku minta maaf atas kesalahan kakaku." ucap Hera sambil tertunduk.


" Kakakmu? Kenapa?"


" Kau tidak tahu?"


Melihat Dzikra ternyata tidak mengetahuinya, Hera kebingungan, tapi kemudian dia tidak mau kesalahan tersebut berlarut, ia menceritakan semua yang disampaikan oleh Rahel kepada Dzikra. Maka, Dzikra lun terlihat matamya sudah dipenuhi emosi dan tangannya sudah mengepal.


" kau jangan marah dulu, belum ada buktinya, aku juga akan berbicara dengan kaka, aku akan berkunjung ke rumah kaka hari ini sepulang kerja. Jika kau mengijinkannya, aku mungkin akan menginap disana." Ucap Hera ragu-ragu.

__ADS_1


Dzikra menimbang permintaan Hera, dahinya dipijit. Kemudian menghela nafas.


" Baiklah."


" Terima kasih Dzik, hmm.. Apa sekarang kau sudah tidak marah lagi padaku?" tanya Hera.


" Masih!" jawab Dzikra seraya berjalan menuju pintu diikuti Hera.


" Kenapa masih? tapi kan kita su..." Bruk kalimat Hera terhenti karena Dzikra berbalik tiba-tiba dan kepala Hera menabrak dada bidang Dzikra.


Dzikra melihat Hera yang tengah menempel padanya dibiarkan.


" Sudah apa?" tanya Dzikra.


Hera langsung membenahi posisinya, pipinya kemerahan menahan malu, bola matanya melirik kekanan dan kekiri.


" I...tu, di kamar mandi" mengaruk kepalanya yang masih basah rambutnya.


Mendengar hal tersebut Dzikra langsung, menghembuskan nafasnya dan berbalik memengang gagang pintu. Tapi kemudian Hera segera berhambur ke depan Dzikra menghalanginya di pintu.


" Kau harus menjawab dulu, mana bisa kau tidak memaafkan aku. Setelah yang terjadi di kamar mandi." Ujar Hera mengkerutkan keningnya menatap Dzikra.


"Kau bisa membuatku terlambat berangkay kerja." ujar Dzikra mulai kesal.


" Aku tidak akan tenang kerja jika tidak jelaskan kenapa tidak memaafkanku, apa kau begitu membenciku, dan kau benar-benar percaya aku tukang selingkuh." Hera mengoceh.


Dzikra hanya menatap wanita yang mengoceh tersebut sehingga Hera pun diam, merasa malu tidak ditanggapi.


" Iya, sudah, berangkatlah, tidak apa apa kalau tidak memaafkan juga." Hera tertunduk lesu.


Dzikra kemudian mendekatkan diri memegang gagang pintu dibelakang Hera, ia menarik pingangnya sehingga bisa meraih ada ruang di belakang pintu agar bisa mnencapai gagang pintu, wajah hera bersemu karena begitu dekat dengan wajah Dzikra. Gagang pintu akan diputar oleh Dzikra tapi seketika niatnya diurungkan, wajahnya yang cukup dekat dengan Hera, kemudian dia mengecup b*b*r Hera cukup lama.


" Tidak semua masalah selesai dengan hal romantis! tapi sebaiknya tak usah membahasnya lagi. Cepat kembalikan jaket lelaki itu, atau alu akan terus marah." ucap Dzikra sambil melepaskan dekapannya kepada Hera.


Dzikra pun berlalu menuruni tangga sambil bersenandung, sedangkan Hera masih melonggo di dalam kamarnya.


lagi.. dan lagi ucap batinnya

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2