
Kau tidak akan pernah bisa memenjarakan kejahatan, kau hanya bisa memenjarakan orang yang berbuat kejahatannya. Itulah kenapa, jeruji besi sekalipun kuat tetap tidak akan merubah sikap orang untuk tidak berbuat jahat setelah ia keluar darinya.
________________________________________________
Aku Hera, wanita umur 25 tahun, bekerja sebagai guru diilembaga pendidikan nonformal. Setelah 8 tahun berlalu, tiba-tiba aku bertemu kembali dengan Dzikra, cinta pertamaku masa SMA dan tidak pernah aku mencintai seseorang melebihinya. Entah keberuntungan apa pertemuan ini berakhir dengan pernikahan. Setelah 6 bulan berlalu aku merasakan pernikahan dengannya seperti berada dalam roll coaster. Jantungku tidak pernah berhenti berdetak dengan kecepatan yang tidak terhitung oleh speadometer. Namun, kini rasanya jantungku berhenti memompa darah, aku mendekam dipenjara untuk sesuatu yang aku pun tidak tahu alasannya. Batin Hera dibalik jeruji besi sambil termenung menyender di tembok.
Seorang polisi dengan detektif berulang kali memeriksa dokumen kejahatan. Sambil sesekali melirik melihat tersangka dibalik jeruji, sesekali kepalanya mengeleng.
"Sekalipun isteriku berbuat kejahatan, tapi aku tidak akan sanggup melihatnya dibalik jeruji besi". ujar seorang polisi.
"Tapi dia melakukan kesalahan. Tidak akan baik. jika tetap melindungi kesalahannya." ujar detektif di sampingnya.
Hera yang terus menanggis, akhirnya terlelap dilantai dingin tanpa selimut itu. Dirinya masih mengenakan seragam kantornya. Besok ia akan mulai di introgasi selama tiga hari. Selama itu pula, dia tidak akan mendapatkan kunjungan.
****
Pagi yang sepi, tidak ada wajah manis disampingnya yang tersenyum menyiapkan pakaian kerjanya. Semuanya terasa berbeda, kehampaan merasuki jiwanya. Baru semalam terpisah darinya, tapi rasa kehilangan sudah menyeruak sampai ke ubun-ubun. Dzikra termenung dipinggir kasurnya, nafasnya lambat. Ponselnya berdering, ia segera menekan tombol hijau.
"Dzik, kenapa lo gegabah! main lapor gak minta persetujuan gue!" bentak Zidan dengan nafas memburu.
"Semua bukti mengarah padanya!" jawab Dzikra dingin
"Bukti apa yang lo punya?" tanya Zidan masih membludak emosinya.
"Bukti transaksi!" ujar Dzikra.
" Dari siapa lo dapet?" bentak Zidan.
" Gilang." ujar Dzikra singkat.
" Lo gak percaya ama gue! Hera bukan dalang!" Ujar Zidan.
" Mungkin! Tapi orang yang menjadi dalangnya akan muncul setelah dia ditangkap!" ujar Dzikra tenang.
" Lo gila, isteri Lo dijadiin pancingan? Sumpah Lo pembunuh berdarah dingin!" ujar Zidan masih membara emosinya.
" Diem Lo! Ini urusan gue, biar gue yang beresin!" ujar Dzikra.
" Lo dipikir siapa Lo! keluarin isteri Lo sekarang juga, Lo bikin penyelidikan gue ancur!" bentak Zidan sambil menutup telponnya.
Dzikra setelah itu, langsung membanting ponselnya ke kasur. Nafasnya bergerak cepat, tangannya mengepal, ia mengucek rambutnya yang sudah di sisir rapi.
****
Hera dengan tatapan sayu, terduduk diruangan dingin kedap suara. Ia hanya menatap meja dan kursi kosong dihadapannya. Seorang berjas hitam memasuki ruangan dengan membawa berkas, yang disimpan dimeja. Ia menatap wanita dihadapannya, kemudian duduk dengan menyilangkan kakinya, dia mulai membuka halaman berkas.
__ADS_1
"Kau kenal dia!" ujar orang tersebut menyodorkan photo Dzikra dan ayahnya.
"Tentu!" ujar Hera melihat photo kecelakan Dzikra dan ayahnya yang terkulai tak berdaya dengan berlumuran darah.
Penyidik tersebut mengamati wajah Hera, mencari jawaban dari balik wajahnya yang sayu tersebut. Namun, ia tidak mendapatkan jawaban yang diharapkan, hanya melihat aura kesedihan dan rasa iba disana.
" Apa yang kau lakukan pada mereka?" tanyanya lagi.
" Aku tidak melakukan apapun!" ujar Hera beralih pandangannya mentapa penyidik tersebut.
"Bagaimana dengan ini!" ujar penyidik menyodorkan bukti transaksi pembelian.
Hera dengan tenang meraih bukti pembelian tersebut, ia membaca listnya belanjaan atas namanya.
" Aku membelikannya untuk saudaraku!" ujar Hera dengan tenang.
"Siapa saudaramu itu?" tanya penyidik pada Hera.
Hera tidak membuka suaranya, ia terdiam. Semuanya terasa jelas saat ini. Mereka memancing kakaknya menyerahkan diri, dengan melibatkan dirinya dalam kasus tersebut.
" Tolong jawab saya, maka hukumanmu akan dikurangi, bahkan kau bisa terbukti tidak bersalah!" ujar Penyidik.
"Jika anda bisa mendapatkan bukti yang melibatkan saya dalam kasus ini, kenapa anda tidak bisa mencari sendiri orangnya!" ujar Hera dengan menyunggingkan senyuman.
BRUK!
Introgasi terhadap Hera dihentikan, dia dikembalikan ke ruang isolasi. Penyelidikan akan dilanjutkan malam nanti. Hera kembali termenung menatapi kedua tanganya yang bagaikan penjahat diborgol.
****
" Sudah kau bereskan!" ujar seorang wanita berbibir merah disebuah gudang yang remang-remang.
"Sudah nyonya, apa yang harus kita lakukan sekarang?" ujar lelaki paruh baya yang sudah berlumuran darah.
" Buat Hera sebagai pembunuh kakaknya!" ujar wanita tersebut sambil tersenyum senang.
" Baik! saya akan lakukan!" ujar lelaki tersebut.
" Tugasmu satu lagi, buat Dzikra kecelakaan sampai mati!" ujar Wanita tersebut.
Wanita tersebut melemparkan uang segepok ke arah lelaki tersebut, berjalan melangkahi jasad yang sudah membujur kaku disana. Dia keluar diam - diam daro gudang memakaikan kacamatanya, seorang bodyguard membukakan pintu mobil. Mobil segera melesat menerobos jalan sepi.
****
Polisi membawa sekantong jenazah ke ruang otopsi. Polisi yang lainnya sibuk melaporkan kasus pembunuhan yang baru terjadi. Seharian Hera tidak diintograsi tapi tiba menjelang malam ia digiring ke ruang introgasi. Seorang polisi menyodorkan layar monitor ke wajah Hera. Wajahnya langsung menegang, air matanya mengalir.
__ADS_1
"Dia kakakmu?" tanya penyidik mengamati wajah Hera.
"Kenapa bisa seperti ini?" tanya Hera pada penyidik itu dengan tatapan tidak percaya.
" Anda pura-pura tidak tahu?" tanya penyidik menaikkan alisya.
" Maksud anda apa?" tanya Hera kebingungan.
"DNA anda ada pada korban!" ujar penyidik.
Hera seketika tersungkur menangis tersedu-sedu dilantai, sambil terus mengatakan 'fitnah', kepalanya terus mengeleng tangisannya tidak berhenti. Sehingga polisi dan penyidik menghentikan introgasinya.
****
"Hera membunuh kakaknya?" ujar Dzikra dengan tidak percaya ucapan keluarganya dimeja makan.
"Kita tidak tahu kebenarannya, kita serahkan sama yang berwajib!" ujar kakek.
"Itu tidak mungkin!" lirih Dzikra sambil terduduk.
Rahel menatap Dzikra yang terlihat tidak bersemangat menjalani hidupnya. Hanya ibu tirinya yang terlihat tenang mendengar berita tersebut. Rahel pun sedikit mengeluarkan senyuman diujung bibirnya.
"Aku harus menemuinya!" ujar Dzikra sambil bangkit.
"Besok kamu baru bisa menemuinya!" ujar Kakek menghentikan Dzikra.
****
Hera pada hari itu mendapatkan kunjungan dari orang tuanya, sepanjang pertemuan tidak ada perkataan apapun mereka hanya berpelukan sambil menangis. Sebagai orang tua tahu betul, Hera tidak akan membunuh kakaknya dan Alfedro ayahnya Dzikra.
Dzikra yang melihat diluar, Hera sedang bersama keluarganya tidak berani masuk. Ia kembali masuk ke dalam mobil. Menunggu orang tuanya Hera pulang.
Langkah kaki Dzikra perlahan duduk dikursi, seorang wanita dengan pakaian sudah berubah sebagai tahanan keluar. Mata mereka beradu, ada kerinduan, benci , marah dari tatapan itu. Hera duduk dihadapan Dzikra.
"Jika kamu berpikir aku pembunuh kakakku dan ayahmu, aku bukan orangnya." ujar Hera dengan menatap dingin Dzikra sambil mengalir air matanya.
"Lalu siapa?" tanya Dzikra.
"Ibu tirimu!" ujar Hera.
"Aku tahu!" jawab Dzikra.
"Kenapa aku yang dipenjara!" ujar Hera hatinya sesak.
"Buktikanlah kalau kamu tidak bersalah!" ujar Dzikra berjalan meninggalkan ruangan tersebut.
__ADS_1
*****
BERSAMBUNG...