
Hera pada pagi itu begitu manja, Dzikra sampai kewalahan menghadapinya. Sejak bangun tidur, Hera terus membuntuti suaminya, sampai ke kamar mandi pun Hera memaksa ingin ikut. Sekarang Hera terus memeluk dari samping suaminya, melarang suaminya berangkat kerja. Dzikra mengelus punggung isterinya.
"Sayang, kalo aku gak berangkat kerja, gimana aku mau nafkahi kamu," ujar Dzikra lembut sambil tangannya terus mengelus punggung Hera.
"Tapi aku gak mau sendirian disini, " ujar Hera merajuk memeluk semakin erat.
"Yang, kamu kan udah biasa sendirian, kok sekarang jadi penakut sih, " goda Dzikra sambil membelai pipi isterinnya.
"Gak tau, pokoknya aku cuma mau lihat wajah kamu seharian ini, " celetuk Hera sambil memandang suaminya dengan manja.
"Tapi aku gak bisa sayang, ada yang harus diberesin di cafe, nanti aku langsung pulang kalau sudah beres, " ucap Dzikra melonggarkan pelukan Hera dan menangkup wajah isterinya dengan kedua tangan.
"Kamu pulang pasti malem kan?" ucap Hera yang dibalas senyuman tipis oleh Dzikra.
"Tuhkaaaan... " lanjut Hera cemberut.
"Sayang, dengerin aku ya, aku cuman pergi sebentar aja kok, nanti kalau lagi sengang di cafe aku akan pulang, kita makan siang bareng ya, " ujar Dzikra merayu isterinya sambil mengecup keningnya.
Hera dengan berat hati menganggukan, Dzikra pun tersenyum dan berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan perut Hera yang sudah membesar.
"Anak pintar, jagain mamah ya, papa mau berangkat kerja dulu, " ujar Dzikra mengelus perut besar Hera lalu bangkit.
"Masa bayi dalam perut disuruh jagain mamahnya," gerutu Hera sambil tersenyum.
Dzikra pun ikut tersenyum, "Ya udah aku berangkat dulu ya, " ujarnya sambil berjalan menuju pintu.
"Bang, " ujar Hera mendekat ke suaminya.
"Kenapa lagi, sayang, " Dzikra hampir habis kesabarannya.
"Kasih kiss dulu disini, " ujar Hera menunjuk ke arah bibirnya.
Huh! Hera tahu saja kelemahanku, aku bisa gagal berangkat kalo gini! batin Dzikra menatap Hera menghela nafasnya.
Dzikra pun mendekatkan wajah pada isterinya dan mengecup sekilas. Namun Hera menahan baju Dzikra serta menariknya dengan kedua tangan, matanya berbinar menatap Dzikra dengan senyuman.
"Suamiku tampat sekali, " goda Hera dengan mata mengerjap.
"Jangan mengodaku sayang, " ucap Dzikra sambil melepaskan kedua tangan isterinya yang mengengam bajunya.
"Tapi aku ingin mengodamu, melihat wajahmu memerah, " ucap Hera sambil tersenyum kecil.
Dzikra mengelengkan kepalanya, dan segera berlari kecil keluar dari apartemennya. Ia berjalan cepat menuju lift.
Kenapa aku seperti akan diperkosa oleh isteriku, batin Dzikra.
__ADS_1
Drrt Drrt Drrrt
Ponsel Dzikra bergetar, ia segera meraihnya dan mendapati pesan singkat dari nomor tak dikenal.
08xxxxx: aku tunggu di cafemu, aku punya berita bagus untukmu.
Dzikra tanpa berpikir panjang, mungkin itu pesan dari Andri rekan bisnisnya. Setelah sampai di besment, Dzikra melajutkan mobilnya dengan cepat menuju cafe kopi milik Adit.
Mobil Mercedes itu langsung terparkir di halaman parkiran begitu sampai di cafe. Dzikra memasuki cafe dengan cepat. Suasana cafe belum ramai, di satu sudut seorang wanita dengan rambut digerai, tengah duduk membelakanginya. Dzikra tahu dari belakang gadis itu. Dia duduk dikursi hadapan wanita tersebut.
"Jadi kau yang mengirimku pesan itu!" terdengar suara dingin Dzikra menyapa gadis tersebut.
"Hey, bisakah kau menyapaku dengan lembut, " ujarnya dengan senyuman mengembang.
"Langsung saja! aku tidak punya banyak waktu! " ujar Dzikra.
"Bagaimana kabarmu? aku selalu merindukanmu," ujarnyanya sambil tertunduk.
"Bukan itu yang ingin aku bahas disini nona Larisya! " gertak Dzikra menatap tajam Larisya.
"Baiklah, kamu memang tidak suka basa basi, " ucapnya dengan senyuman bahagia terus terukir.
Larisya menyodorkan ponselnya yang berupa video. Dzikra langsung tercekat saat video diiputar, wajahnya langsung muram.
"Kamu mengenal pelakunya? " tanya Larisya sambil meminum kopinya.
"Aku tidak tahu siapa mbak Siti, tapi dia selau mengawasi kalian," ucap Larisya.
"Kau juga sama saja selalu mengawasi kami bukan? " ejek Dzikra.
"Iya, maaf tapi aku selalu ingin melihat wajahmu," ucap Larisya.
"Sudahlah, jangan mengada-ngada! aku harus mengurus pekerjaanku! " ucap Dzikra bangkit.
"Wanita yang mendorong isterimu ke kolam tahu apartemen kalian, dia mencari kesempatan kedua saat kalian lengah, " ucap Larisya membuat Dzikra bergindik dan bimbang.
Tap
Tap
Tap
Suara langkah kaki mendekat ke salah satu apartemen.
Ting Tong ting tong
__ADS_1
Hera tersenyum bahagia, ia berpikir dzikra kembali lagi ke apartemen. Pintu segera dibuka, wajahnya berubah saat melihat wanita yang berada dihadapanya.
"Mbak Siti? " ucap Hera pelan setengah terkejut.
"Oh hai, " ujarnya sambil memeluk Hera.
Hera masih mematung melihat mbak Siti nampak berbeda dimatanya. Wanita dihadapannya langsung mengerutkan dahi karena tidak lantas disuruh masuk.
"Kau akan terus membiarkan tamumu berdiri di depan pintu terus, " ujar Mbak Siti.
"Mmmm.. Iya mbak, silahkan masuk, " ujar Hera tersadar lamunannya.
Mbak Siti pun langsung dengan gontai melangkahkan kakinya, matanya mengamati sekeliling ruangan tersebut.
"Tempatmu sangat nyaman sekali dan sepi, " ucap Mbak Siti sambil menyerigai namun tidak terlihat oleh Hera.
"Silahkan mbak, duduk dulu. Hera siapin minuman dulu buat mbak, " ujar Hera melangkah ke dapur.
Mbak Siti tidak lantas duduk, kakinya masih terus berjalan berkeliling mengamati ruangan. Hera sedang menyiapkan jus di dapur. Perasaannya tidak enak, mbak Siti suaranya berbeda, suara mbak Siti sangat familiar mirip ibu mertuanya.
"W**ajar saja karena mbak Siti saudaranya ibu mertuaku, sudahlah jangan mikir yang aneh-aneh," batin Hera.
"Mbak kenapa gak sekalian bawa Gilang main ke sini? " ucap Hera dari arah dapur.
"Oh itu, Gilang kan harus ke sekolah, lain kali mbak bawa, " jawabnya dari ruang tamu.
Drrrt Drrrt Drrrt
Ponsel Hera diruang tengah terus bergetar, mbak Siti memperhatikannya, senyumannya terulas melihat panggilan dari Dzikra.
"Tunggu hadiahku saat kau pulang Nak! "batinnya.
Ponsel itu di raihnya dan segera dimatikan oleh mbak Siti menyerigai. Sedangkan Dzikra langsung khawatir karena Hera tidak pernah menolak panggilannya.
"Shit!" ujar Dzikra setelah menelpon berkali-kali ponsel Hera yang sudah dimatikan.
Dzikra bangkit dari duduknya bergegas keluar cafe, dibuntuti oleh Larisya dari belakangnya. Sedangkan, situasi di apartemen nampak tenang. Mbak Siti tersenyum berjalan menuju dapur, Hera nampak sedang menuangkan jus dari blender ke dalam gelas.
Mbak Siti sudah memegang botol kaca, langkahnya perlahan semakin mendekat ke arah Hera yang sedang menuangkan jus. Hera merasa ada seseorang tengah berjalan ke arahnya.
"Mb_" ucapanyanya terpotong saat akan memanggil mbak Siti.
Brak
Botol kaca menghantam keras kepala Hera, daras segar mengucur dari kepalanya. Hera melorot duduk, berusaha menahan kesadarannya untuk melihat seseorang yang memukulnya. Pandanganya jelas menangkap wajah Mbak Siti yang menyerigai. Pisau dapur tengah dimainkannya untuk siap ditancapkan diperut Hera.
__ADS_1
"Mbak jangan.. mbak jangan.. " ucap Hera ditengah hampir tidak sadar.
BERSAMBUNG...