
Sepanjang hari Hera terus memeriksa ponselnya, menanti Rangga menelponya, pesan yang dikirimnya bercentang satu terus. Dia tahu Rangga selalu mengaktifkan ponselnya, tapi kali ini Rangga tidak seperti biasanya. Hingga larut malam pun tidak ada pemberitahuan mengenai Rangga, Hera masih terduduk disamping ranjang. Dzikra yang sedang memeriksa berkas diatas kasur, melihat tingkah Hera merasa kesal.
" Kamu menuggu telpon siapa?" tanya Dzikra.
" Rangga," jawab Hera singkat sambil melihat ponselnya dengan lemah.
" Kenapa menunggunya, bukannya sudah datang ke rumahnya!" jawab Dzikra ketus.
" Rumahnya sudah kosong dua hari yang lalu," ujar Hera sambil menyimpang ponselnya di meja.
" Sudah tidurlah, besok juga ketemu di kantor," ujar Dzikra.
" Mungkin," ujar Hera sambil berbaring dan menarik selimutnya.
Dzikra menutup laptopnya dan segera menyimpannya di meja, lalu ikut berbaring dan menarik selimut. Kedua orang itu tidak menutup mata mereka melihat langit -langit kamar. Dzikra menoleh pada Hera.
"Apakah boleh seorang isteri memikirkan lelaki lain selain suaminya? tanya Dzikra dingin.
Hera mendengar perkataan Dzikra terkejut dan merasa Dzikra sedang menyingung dirinya, ia menoleh pada Dzikra.
" Dia hanya teman," jawab Hera.
" Apa kamu menyukainya?" tanya Dzikra.
"Dia temanku, Dziik!" jawab Hera tegas.
" Tapi kamu bertindak seolah kamu pacarnya! tidak ada pertemanan lelaki dan wanita,"ujar Dzikra sambil berbalik membelakangi Hera.
Dzikra pura-pura tidur, Hera terdiam mendengar perkataan Dzikra, tidak pernah terpikir kalau dirinya menyukai Rangga lebih dari sebatas teman. Hera mulai bergugam sendiri.
" Masa iya aku suka sama bocah itu? benarkah aku suka dia? Iya aku memang menyukainya." Gugam Hera.
Perkataan Hera cukup terdengar oleh Dzikra yang belum menutupkan kelopak matanya, hatinya terasa sakit mendengar Hera menyukai Rangga, rahangnya mengeras menahan amarah dan kesal.
"Tapi jantungku tidak pernah berdebar setiap bertemu dengannya! apa itu juga cinta? ah sudahlah,"ujar Hera.
Hera berbaring menyamping, mereka tidur saling membelakangi. Meski sulit baginya menutup mata, pikirannya tidak tenang, bayangan Rangga masih memenuhi otaknya.
****
Kantor tempat Hera bekerja mulai siang mulai ramai dipadati pekerja dan siswa. Namun, orang dicari Hera tidak muncul batang hitungnya pun sampai sore. Hera memandangi kursi yang biasa diduduki Rangga.
" Bu Hera!" tegus susi salah satu pengajar.
" Iya bu Susi." Jawab Hera terperajat.
"Berasa sepi ya, gak ada Rangga!" ujar Susi.
__ADS_1
" Iya bu," ujar Hera sambil menghela nafas.
" Dia pindah kemana bu?" tanya Susi.
"Pindah?" ucap Hera keheranan.
" Iya, loh gak tau bu Hera?" ucap Susi.
" Iya, gak ngasih tau, " ucap Hera.
" Walaah, bu Hera dikirain pak Rangga cerita, soalnya kalian deket banget," Ujar Susi.
" Iya mungkin gak lagi pengen cerita, " balas Hera sambil tersenyum simpul.
"Loh, saya denger dari manajer, Rangga sudah mengajukan berhenti setelah bu Hera nikah. Apa mungkin pak Rangga kecewa ya bu Hera nikah? Pak Rangga terlihat menyukai bu Hera sedari awal kerja disini," ujar bu susi panjang lebar.
Deg jantungnya terkejut. Pikirannya lagi-lagi diganggu pernyataan tentangg cinta. Namun, kemudian ponselnya berbunyi, sebaris nomor baru tertera.
" Assalamualaikum," ucap Hera.
" Waalaikumusalam de Hera, ini ibunya Rangga." jawab suara disebrang sana.
"Oh bu, bagaimana kabar Rangga? apa dia baik-baik saja bu?" tanya Hera tidak sabar sambil menitikan air mata senang.
"De Hera gak usah khawatir, Rangga baik-baik aja. Justru de Hera gimana kabarnya?" tanya balik penelpon.
" De Hera, ada yang mau ibu obrolkan, mungkin ini terlambat, dan ibu sudah pertimbangkan." ujar. ibu Rangga dibalik telpon.
"Iya bu, silahkan." Jawab Hera lembut.
" Jadi begini de Hera, ibu tau Rangga sangat mencintai de Hera, Rangga sudah menabung dari kuliah untuk menikahi de Hera. Tapi semenjak tau de Hera nikah, Rangga jadi kacau setiap pulang kantor. Jadi Ibu yang memutuskan Rangga keluar dari sana, jangan sedih ya de Hera. Kalau sudah membaik kondisi Rangga, nanti boleh menghubungi Rangga lagi." ujar ibunya Rangga.
Hera mendengar kata demi kata yang keluar dari suara ponsel itu, air matanya mengalir membasahi pipinya, hatinya terasa perih. Entah untuk apa ia merasa perih, apa ia memiliki perasaan yang sama? memang dia selalu merasa bahagia setiap bersama Rangga, kehilangan sosok itu hatinya merasa hampa.
****
Diatas kasur Hera menutup seluruh tubuhnya dengan selimut, ia menanggis sesegukan, hatinya terasa teriris, memikirkan Rangga menahan perasaannya, ia pernah mengalaminya dulu saat SMA.
Kenapa gak bilang Rangga! Kamu bodoh! Kalau kamu bilang, aku tidak akan terjebak dipernikahaan ini! Dzikra tidak mencintaiku! dia labil batin Hera.
Dzikra memperhatikan gundukan selimut itu, ia tahu Hera sedang menanggis dibalik selimutnya. Dari pulang kantor Hera terlihat murung. Dzikra memutuskan tidur disampingnya dan menarik selimut ke arahnya, sehingga wajah kepala Hera terbuka, Hera langsung terperajat dan menoleh, ia melihat Dzikra disampingnya.
" Kau menangisi apa?" tanya Dzikra dengan datar.
" Rangga?" lanjutnya.
"Ya." jawab Hera singkat.
__ADS_1
"Hey, kamu menangisi pria lain saat bersama suamimu?" ucap Dzikra naik pitam.
"Iya,, maaf," ujar Hera.
" Apa kamu mencintainya? kamu berselingkuh dengannya? Sudahlah aku tidak peduli!" ujar Dzika membelakangi Hera
" Aku mengambil keputusan salah menikah denganmu. Aku sangat menyukaimu, tapi aku tidak pernah tau perasaanmu yang sebenarnya. Aku tau hanya aku yang menginginkan pernikahan ini, kamu terpaksa Dzik, kamu masih mencintai Rahel, " Ujar Hera sambil memandangi punggung Dzikra
Hera melihat Dzikra tidak bergeming, ia kembali berbalik membelakanginya juga, air matanya ikut mengalir dikedua pipinya.
"Apa penting perasaan itu sekarang! Apa kamu masih mencintaiku sekarang pun?" tanya Dzika membalikan badan.
" Entah kenapa aku tetap menyukaimu!" ujar Hera membalikan badannya juga.
" Makasih, Ra. Berhentilah menangisi lelaki lain, itu menyakitkanku!" ujar Dzikra.
Hera terhenti, menatap mata Dzikra, sudut bibir Dzikra tersenyum untuk pertama kalinya dihadapan Hera. Dzikra mengecup kening Hera, mereka berpandangan. Hera jantungnya berdebar-debar, saat jaraknya begitu dekat. Hera memejamkan matanya, kecupan pun mendarat dibibirnya. Membuat jantungnya berdegup kencang. Tangannya meremas kain seprai, saat Dzikra melepaskan tali piyamanya.
"baca doa dulu Dziik!" ujar Hera
" Panggil abang!" ujar Dzikra kesal.
" Iya, bang Dzik , baca doa dulu ya," ujar Hera membelai pipi Dzikra.
" Iya sayang," ujar Dzikra
Dzikra tersenyum, lalu keduanya membaca doa bersama-sama. Dzikra memegang kepala Hera dengan satu tangan dan mengelusnya. Dzikra membalikan posisi berada di atas Hera.
"isteriku, ridhlokah untuk aku gauli?" tanya Dzikra.
" Iya bang, aku serahkan semuanya untuk abang malam ini," ujar Hera malu-malu.
Dzikra kembali mencium bibir isterinya cukup lama dan turun ke lehernya, lalu melepaskan semua helai pakaian yang melekat dibadan Hera dan juga dirinya. Malam itu menjadi malam penyatuan yang panjang untuk keduanya. Dzikra melakukannya dengan lembut.
****
Pagi menyingsing, diperaduan itu dua insan masih terlelap saling berpelukan tanpa busana. Mereka baru menyelesaikannya menjelang subuh. Pintu kamar diketuk berkali-kali dari luar, karena Hera tidak biasanya bangun siang dan tidak memasak. Hera membuka matanya, bangkit hendak membuka pintu tapi tangannya ditarik lagi oleh Dzikra.
" Sesekali dimarahin ibu mertua!" ujar Dzikra .
" iih gak mau, gak enak bang!" ujar Hera.
" Udah istirahat lagi, nanti kita makan diluar," ujar Dzikra mengelus kepala Hera yang tergeletak di dada bidangnya.
Hera mendengar hal tersebut tersenyum, dan mengangguk, ia kembali meletakan kepalanya diatas dada Dzikra, suara jantung berdetak sangat lembut.
*****
__ADS_1
BERSAMBUNG...