
Pagi itu, cctv di ruang jengguk diamankan oleh polisi sebagai barang bukti. Para polisi sudah dikerahkan untuk menangkap pelaku. Beberapa polisi sudah dikerahkan ke kediaman pelaku. Namun si pelaku tidak ditemukan dirumah sudah dua malam menurut penuturan keluarga dirumah tersebut, tampak wajah Alfarid memucat saat diwawancara oleh pihak kepolisian. Laras ibunya Alfarid (ibu tiri Dzikra) menghilang tanpa jejak secara tiba-tiba. Tidak ada satupun pihak keluarga yang mengetahuinya.
Ponsel Alfarid berdering saat tengah diwawancara, Alfarid melihat dilayar tersebut nama mamahnya, Alfarid cukup gugup saat polisi mengamatinya dan mengetahui si penelpon adalah orang yang sedang dicari. Polisi segera merebut ponsel tersebut dan telpon pun diputus oleh penelpon. Polisi segera menyerahkan ponsel Alfarid untuk diperiksa GPSnya.
Ahli IT segera melaporkan titik lokasi Laras, polisi pun segera bergegas menuju lokasi yang dicari tersebut. Mobil dilajukan dengan kecepatan yang tinggi menuju jalan tol cipularang. Terlihat satu mobil yang dicari tersebut nampak berjalan melambat saat mobil polisi hendak mendekat.
BLUDAK!!
Mobil tersebut meledak, polisi langsung menghentikan laju kendaraannya, mereka melonggo kaget melihat kejadian tersebut, kemudian polisi bertindak cepat memblokir pengguna jalan. Para polisi dan detektif keluar mengamati mobil yang sudah hangus. Dimobil tersebut ditemukan identitas Laras dan seoggok mayat yang sudah gosong terbakar. Para polisi hanya bisa menghela nafas, mayat pun segera dievakuasi karena terlalu menghambat penguna jalan yang lainnya.
"Aarrgh!" ujar Zidan mengacak rambutnya melihat yang barusan terjadi.
"Bagaimana sekarang?" ujar seorang tim detektifnya.
"Bawa dulu ke kantor jenazahnya!" ujar Zidan.
"Baiklah!" ujar dekektif tersebut.
*****
Dzikra sudah termenung dikamar jenazah melihat, mayat gosong tersebut. Benar-benar sudah tidak bisa dikenali, Dzikra setengah tidak percaya jika ibu tirinya yang berada disana. Zidan yang berada diruangan tersebut mulai membuka suaranya.
"Dzik, sejauh ini kasus ini sangat berat, mungkin akan berakhir dengan pembantaian!" ujar Zidan.
"Kenapk a Lo ngomong gitu?" tanya Dzikra menatap Zidan yang berwajah serius.
"Laras mati seperti ini, orang tuanya tidak akan tinggal diam. Bos Mafia itu akan membantai siapapun. Ini yang gue khawatirkan akan muncul kekacauan." Ujar Zidan sambil menatap langit-langit ruangan tersebut.
"Lo jangan bikin parno!" ujar Dzikra.
"Ya gue mikir sisi terburuknya," ujar Zidan.
"Ya semoga saja tidak terjadi, gimana hasil tes kakaknya Hera?" tanya Dzikra.
"Hasilnya mencengangkan! ahli forensik tidak menemukan jejak dna lain selain Hera." ujar Zidan.
"Kok bisa?" ucap Dzikra sambil mengeryitkan dahinya.
__ADS_1
"Pembunuhnya main rapih, Psikofat juga. Sidik jari ditangannya hilang, tp tangannya dililitkan rambut Hera. Dia tidak merusak wajahnya, tapi isi perutnya dihancurkan, korban disiksa sebelum dibunuh lalu dimutilasii, sangat kejam." Ujar Zidan membuat Dzikra bergindik.
"Lalu apa mungkin Hera pembunuhnya?" tanya Dzikra.
"Jelas bukan! korban dibunuh sehari setelah Hera diipenjara, tapi korban disiksa cukup lama mungkin lima harian," jelas Zidan.
"Apa Hera bisa lepas dari tuduhannya?" ujar Dzikra sambil melipat bibirnya.
"Selalu ada cara menangkap pelakunya, karena setiap cukuppsikofat punya pola dalam membunuh korbannya." tungkas Zidan yang disambut anggukan oleh Dzikra.
*****
Dzikra berjalan memasuki rumah sakit sambil membawa makanan dan sebuket bunga. Hatinya cukup riang untuk bertemu Hera hari ini. Sesekali melirik kaca memastikan wajahnya bersih dan pakaiannya rapi. Segera berjalan memasuki ruangan yang sudah tertidur Hera disana. Dzikra tersenyum ia menyimpan makanan dinakas, kemudian mencium kening Hera cukup lama. Dzikra tahu Hera pura-pura tidur, ia sengaja mengerjainnya. Dzikra kemudian menyimpan bunga di samping badan Hera.
Dzikra mendekatkan wajahnya ke Hera, kemudian mengesekkan hidung mancungnya, Hera merasa cukup terganggu, wajahnya sudah memanas dan jantungnya berdebar kencang. Dzikra berbisik ditelinga Hera.
"Sudah sandiwaranya! Aku sudah tahu!" Ujar Dzikra sambil tersenyum.
Hera sangat kesal segera membalikkan badannya sambil membuka matanya. Cukup kesal melihat wajah Dzikra akhir-akhir ini. Tapi anehnya Dzikra malam semakin menempel padanya.
"Ra, aku sudah puasa berhari-hari tidak menyentuhmu!" pancing Dzikra dibelakang Hera.
"Aku menginginkanmu sekarang!" ujar Dzikra yang disambut wajah melonggo Hera.
"Kok diem sih?" lanjut Dzikra.
" Apa kau tidak berpikir sekarang dimana!" ujar Hera cemberut.
" Emangnya gak boleh" ujar Dzikra tidak mau kalah.
"Terserah!" ujar Hera datar.
Dzikra langsung bangkit mendekati Hera, menatap tajam wajah Hera, Dzikra mengunci Hera di atas kasur rumah sakit, sebuah kecupan dilayangkan ke bibir Hera.
"Kamu harus balik ke penjara!" ujar Dzikra sambil tersenyum.
"Kenapa aku harus kesana?" tanya Hera dengan wajah menegang.
__ADS_1
"Jangan terus berbohong! kau pura-pura amnesia agar bebas dari hukuman kan?" ujar Dzikra dengan wajah serius.
"Aku tidak berhak ada disana! aku tidak bersalah!"ujar Hera menatap tajam Dzikra.
"Kau tidak bisa membuktikan, kalau kamu tidak bersalah!" ujar Dzikra membalas dengan tatapan tajam.
Hera langsung membuang wajahnya ke samping, kesal bercampur marah membara di dadanya. Dzikra masih saja ingin menjebloskannya ke penjara.
"Kamu aneh! Suami paling aneh yang ada didunia ini!" ujar Hera sambil menahan air matanya.
Dzikra bangkit merapihkan jas kemejanya. Ia menghirup udara disekeliling ruangan tersebut.
"Kau bisa menikmati udara ini sebentar lagi, dua jam cukup?" tanya Dzikra memasukkan tangannya ke dalam saku celananya.
Hera tidak menyahuti perkataan Dzikra, ia hanya menghembuskan nafasnya dengan kasar. Matanya mengamati bunga mawar disebelahnya. Dzikra melihat dirinya diacuhkan segera keluar dari ruangan tersebut.
****
Dua jam kemudian beberapa orang dengan pakaian medis tertutup memasuki ruangan Hera dengan sigap, salah satu dari mereka membekam mulut Hera, dua orang samping kanan kiri masing-masing memegang lengan Hera. Satu orang bersiap menyuntikan cairan ke lengan Hera. Para medis itu seperti menghitung dirinya yang mulai tidak berdaya. Terakhir telinganya mendengar salah seorang dari mereka berkata.
"misi satu beres!" ujar orang tersebut.
Hera matanya mulai terasa berat, kesadarannya mulai menurun hingga ia melihat satu dari mereka menghitung dengan jarinya tepat diwajahnya, sampai akhirnya semua pandangannya menghitam.
Kasur didorong keluar ruangan, mereka membawanya melalui lift rumah sakit, sebuah mobil sudah disiapkan ditempat parkir. Mengevakuasi tubuh Hera tidaklah sulit. Tubuh tersebut sudah berpindah tempat. Mobil segera dilajukan dengan kecepatan poll.
****
"Bagaimana dengan Hera pak!" ujar ibundanya Hera.
" Mohon maaf bu, kami perlu jenazah Hera untuk keperluan autopsi." ujar Seorang polisi.
"Kalau begitu, bagaimana dengan abangnya, apa kami sudah boleh mengkebumikannya?" ujar ibunda sambil air matanya mengalir.
Diwaktu yang bersamaan ditinggalkan oleh putra putrinya, membuat dadanya sesak. Ayahanda Hera hanya memeluk isterinya yang menanggis mulai histeris.
****
__ADS_1
Suara burung-burung berkicauan diluar ruangan, pepohonan rimbun menghias daerah diluar jendela. Seorang wanita tertidur disana.
BERSAMBUNG....