Takdir Bersamamu

Takdir Bersamamu
Pentingkah cinta bagi pria?


__ADS_3

Setelah kepergian Dzikra, Hera kembali berjalan menuju ke kamarnya ponselnya berdering beberapa kali. Sebuah pesan masuk dari penjadwalan.


Penjadwalan:


bu hari ini bisa masuk tidak, soalnya ada pengajar IPS yang bersangkutan tiba-tiba ada halangan.


Setelah membaca teks tersebut, Hera lekas membalasnya dengan cepat.


Hera:


Bisa pak. Saya mengajar jam berapa pak?


Penjadwalan:


16.00 6 SD


17.00 7 SMP


18.30 10 SMA


Maaf ya bu saya menganggu waktu liburnya, soalnya pengajar lain tidak ada yang menyangupinya.


Hera:


Tidak apa-apa pak. Saya juga sudah berniat untuk masuk kerja.


Penjadwalan:


Terimakasih banyak bu.


Hera yang sudah menerima pesan lekas melihat jam yang masih menunjukan pukul 7, segera membuka laptopnya dan membuat bahan ajar. Hera masih sibuk menyiapkan bahan ajar hingga tidak terasa jam sudah menunjukan pukul 10.00. Hera terpejat melihat jam dan langsung berlari ke kamar mandi, tidak butuh waktu lama ia segera memakai pakai kantornya serta menenteng tas dan laptopnya. Hera menuruni tangga, dengan tergesa-gesa. Ibu dan Rahel melihatnya menegurnya.


" Mau kemana pengantin baru, buru-buru sekali?" tanya ibu mertua.


" Bukannya kau masih cuti Her?" tanya Rahel.


" Hari ini Rara harus masuk kantor, gantiin pengajar yang gak bisa masuk." Ucap Hera bergegas kemudian mencium tangan ibu dan Rahel.


Hera menghidupkan ponselnya menunggu ojek online yang dipesannya. Butuh waktu 2 menit menunggu ojol. Hera meminga sang ojol mempercepat lajunya, karena jarak rumah dengan kantornya cukup jauh butuh setengah jam. Hera sampai di kantor jam 10.50. Setelah bayar ongkos dan mengucapkan terima kasih ke ojol Hera lekas masuk dan Amano (Tanda kehadiran). Dengan terengah-engah Hera memasuki ruangan pengajar. Rangga yang datang lebih dahulu kaget melihat kedatangan Hera.


" Woy, pengantin baru, ngapain masuk? bukannya masih liburan honeymoon ya?" setengah berteriak.


" Ah, udah kelar honeymoonnya," jawab Hera asal, sambil mengelap wajahnya yang sedikit kepanasan.


" What? cepet amat lo. hahahahaha," ujar Rangga.


" Udah deh Ga, berisik amat sih. Malu tau," jawab Hera dengan kesal.


" Iya,, iya maaf, " Rangga terdiam.


Keadaan menjadi hening, Rangga dan Hera sibuk dengan kerjaanya masing-masing. 'Tring' Pesan masuk ke ponsel Hera.

__ADS_1


Suamiku si dingin:


Aku ada perjalanan bisnis selama seminggu.


Hera:


iya, hati-hati disana, jangan lupa makan. Aku akan merindukanmu. Hari ini aku masuk kantor, maaf aku tidak minta ijin terlebih dahulu. Aku akan pulang pukul 20.00. Setelah aku di rumah, aku bolehkan menelponmu?


Pesan sudah terkirim, tetapi hanya di baca saja oleh Dzikra. Hera menghela nafas, kemudian dia menoleh ke belakang melirik Rangga yang ternyata sedang memperhatikannya.


" Ga,"


" Hm"


" Kesini deh, aku mau nanya sesuatu."


" Apa?"


" Kesini dululah, nanti aku kasih tau."


" Kamu aja yang kesini."


"Yaelah, Ga, kamu so cool gitu hahaha."


Hera pun mengalah, dia berjalan mendekati Rangga. Saat melihat Hera berjalan pikiran Rangga melayang membayangkan Hera sebagai pengantinnya yang berjalan ke arahnya sambil mengembangkan senyuman. Namun pikiran itu segera di tepis olehnya.


" Astagfirullah," ucap Rangga sambil mengusap mukanya.


"Kenapa Ga? ngelihat hantu?" tanya Hera terheran.


Hera langsung melihat sekeliling tidak ada orang lain hanya ada Hera dan Rangga saja.


" Jadi maksud lo, bidadarinya gue?" dengan sumrimgah.


"Iya, bidadari kecemplung empang," jawab Rangga cekikian.


Hera langsung merasa kesal, kemudian duduk disebelah Rangga, dan mendekatkan mulutnya ke telinga Rangga.


" Apa bener kalau cowok gak perlu cinta untuk melakukan hubungan?" bisik Hera.


Rangga yang merasa geli di telinganya karena dibisiki oleh Hera, langsung menjauh.


"Kenapa bisik-bisik geli tau. Udah ngomong biasa aja."


" Ya elah , takut ada yang dengerlah."


"Ya, pasti ada yang dengerlah! contohnya gue, jin, setan, nyamuk, Allah juga," jelas Rangga.


Hera mendengus mendengar jawaban Rangga yang banyak protes.


" Ya udah, jadi gimana?" tanya Hera tidak sabar.

__ADS_1


" Hmm.. hubungan apa dulu? yang jelas, soalnya gue gak paham," kata Rangga.


"Eummmmm." Hera berpikir memilih kata yang tepat.


" Maksud loe hubungan suami isteri gitu?" Rangga langsung menebaknya.


" Ah iya itu maksudnya, "Hera sedikit tersipu.


" Loe kenapa nanya ginian, tumbenan, loe ada masalah sama suami lo? " selidik Rangga.


" Ya pengen nanya aja," ucap Hera.


"Oke, jadi gini Ra, cowok itu tidak terlalu memikirkan cinta untuk urusan s*x. Yang penting dia bisa melampiaskan hasratnya. Urusan cinta soal belakangan yang penting bisa tersalurkan hasratnya.Ini beda dengan perempuan, dia gak bisa dipaksa tidur dengan yang tidak disukainya. Perempuan mentingin rasa dibanding nafsu," tutur Rangga.


Hera terdiam mendengar penjelasan dari Rangga, dia kembali memikirkan apa yang diucapkan oleh Dzikra. Hera merasa mungkin benar Dzikra membutuhkannya hanya untuk menyalurkan hasratnya saja. Hera mulai merasa mungkin dia mengambil kesalahan memutuskan menikah dengan Dzikra, dia tidak tahu apakah orang itu mencintainya atau tidak.


" Ra, gue saranin sama loe, menikahlah dengan lelaki yang tulus mencintai loe. Karena kalau lelaki itu sudah mencintai loe, dia gak bakal bikin lo kesulitan, lo bisa membangun rumah tangga tidak sendirian tapi bareng-bareng," lanjut Rangga.


" Kalo lo, menikah dengan orang yang tidak memiliki perasaan sama lo, hidup lo bakal hancur. Inget cinta itu penting dalam pernikahan. Tanpa ada rasa itu, tidak akan ada rasa tanggungjawab dan pernikahan akan menjadikan mu cepat tua," Rangga melanjutkannya.


Hera mendengarkan penjelasan dari Rangga, membuat pikirannya melayang jauh, membayangkan masa depan pernikahannya. Akankah bertahan lama atau bahkan kandas ditengah jalan? Akankah dia berjuang sendirian? Bagaimana dia bisa menerima sikap Dzikra yang dingin, kadang kasar bicaranya. Baru beberapa hari saja serumah dengannya, dia sudah merasa hatinya dikoyak-koyak. Rangga memecahkan lamuanan Hera.


" Suamimu mencintaimu kan?" tanya Rangga.


Hera tidak menjawabnya, hanya diam memperhatikan detik jam di dinding. Semua waktu berlalu dengan cepat saat.


" Hey, kok diem sih? Gue kayak lagi ngomong ama batu deh." tanya Rangga.


Hera kemudian menoleh Rangga dan melemparkan senyumannya.


" Oke deh Ga, makasih ceramah lo udah cocok jadi mentor mentor pra nikah heheh,"jawab Hera sambil bangkit dari duduknya.


****


Jam 9 malam lewat.


Hera sudah duduk dikamarnya, dia kembali melihat foto pernikahan yang dipajang dikamarnya. Ekspresi dua mempelai itu jelas berbeda. Dzikra terlihat tidak bahagia dengan pernikahannya. Hatinya merasa sakit, merasa dirinya terlalu memaksakan diri untuk hidup bersama pria idamannya. Air matanya meleleh membasahi pipinya.


Te**ng telong telong teng teng telong telong teng.


Ponsel Hera berbunyi lelaki yang sedang dipikirkannya menelponnya.


" Hallo Dzik" sapa Hera.


" Hallo, kau bilang akan menelpon? kenapa tidak menelponku, kau masih dikantor?" tanya Dzikra.


Dibelakang suara Dzikra terdengar desahan seorang wanita. Deg Hera merasa jantungan dalam seketika. Dia tidak sanggup berbicara dengan Dzikra lagi.


" Hallo Ra, Hallo!"


Hera langsung mematikan ponselnya. Kemudian beringsut ke atas kasurnya. Pikirannya sudah melayang membayangkan Dzikra sedang melampiaskan nafsunya ke wanita lain. Dzikra tentu saja mampu melakukan itu karena sewaktu SMA dia terpopuler dikalangan wanita sebagai playboy, banyak wanita yang sudah mendapatkan stempel dari Dzikra. Hera hanya menanggis menjadi-jadi. Dia merasa pernikahan ini hanya memberikan kesedihan, keraguan, dan ketidakpastian. Hera yang sudah lama menjadi jomblo tentu sangat mendambakan pernikahan yang dipenuhi cinta kasih. Tapi yang dirasakannya jauh berbeda, berbanding terbalik dengan kenyataannya.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


Rehat dulu ya, untuk sementara mau mengelola cerita yang satunya lagi. Jangan lupa mampir dicerita kedua ane ya😊 selamat membaca semoga suka.


__ADS_2