
Suara gaduh dipagi hari itu, suara sepasang suami isteri. Rahel sedang dipangku oleh Alfarid dengan berputar-putar, seisi rumah berhampur menghampirinya.
"Ada apa Farid?" tanya ibunya.
" Mah, Farid bakal jadi ayah." Farid menjawab sambil mendaratkan ciuman di pipi dan keningnya Rahel.
Kakek yang ikut keluar dari kamarnya menyaksikan hal tersebut, langsung melemparkan tatapannya ke lantai dua yang sudah berdiri Dzikra dengan Hera. Pandangan itu memberikan banyak arti, Dzikra tangannya mengepal, dadanya terasa sesak melihat mantan kekasihnya tengah hamil. Hatinya marah karena Dzikra merasa semua hal akan direnggut oleh Alfarid, pertama Rahel sekarang perusahaan juga. Tanpa berniat turun ke lantai bawah, Dzikra malah menyeret Hera masuk ke kamar. Hera yang ditarik tanganya oleh Dzikra tersentak dan dia hanya mengikutinya, masuk ke dalam kamar.
Suasana di dalam kamar cukup hening. Hera berdiri tidak jauh dari Dzikra yang terus mondar-mandir. Entah apa yang sedang dipikirkan Dzikra.
" Ayo kita turun ke bawah, tidak sopan kalau kita tidak memberikannya selamat atas kehamilan kakak ipar." Hera mengajak Dzikra turun.
Dzikra melihat kearah suara itu, lalu tertegun. Selanjutnya Dzikra menarik tangan Hera, dan menghempaskan tubuh Hera diatas kasur, kemudian menindihnya. Hera terkejut dengan perilaku Dzikra.
"Dzik, apa yang kamu lakukan, kita harus turun ke bawah." pinta Hera berontak.
Dzikra tidak bergeming dia malah menahan kedua tangan Hera, supaya tidak terus memberontaknya.
" Bukankah kamu bilang, aku boleh melakukannya terhadapmu. Sekarang aku ingin melakukannya!" ucapanya bernada penuh emosi.
Hera kaget mendengar ucapan Dzikra, seandainya dia memintanya ketika tadi malam, Hera akan menyambutnya dengan senang hati. Tapi kali ini Hera berubah pikiran, karena semalam Dzikra mengatakan dirinya berperilaku selayaknya *******.
"Sepertinya tamparan semalam membuatmu lupa, akan perkataanmu. Aku tidak mau melakukannya. Lepaskan aku!"
Hera sekuat tenaga mendorong tubuh Dzikra, tapi gagal. Hera justru mendapatkan kecupan dibibirnya. Hal itu membuat Hera berhenti memberontak. Wajahnya sudah berubah menjadi kepiting rebus. Bibirnya Dzikra kembali menyentuh bibirnya Hera, tapi sebelum aksinya dapat dilanjutkan. Pintu sudah diketuk dari luar.
" Kak, sudah bangun? Kita udah nunggu dibawah buat sarapan." Suara Adik tiri Dzikra.
Karena tidak ada jawaban, Adiknya terus mengetuk pintu, hingga akhirnya Dzikra dengan terpongoh-pongoh membuka pintu. Wajah mungil itu tersenyum.
" Hehehe, maafin ganggu ya kak Hehehe".
kata adik tiri Dzikra sambil cengegesan.
"Iya, nanti nyusul ke bawah." Jawab Dzikra dengan cepat menutup kembali pintu tapi ditahan oleh adiknya.
" Kaka harus ke bawah SEKARANG! dokter juga udah dateng mau ngobatin kaki kaka." Jelas Adik tirinya.
__ADS_1
"IYA!" Jawab Dzikra dengan kesal.
Hera yang setengah bingung, langsung bangkit melihat Dzikra berdiri mendekat ke kasur, Hera bergegas menuju kamar mandi. Jantungnya berdegup kembali.
Ada apa dengan Dzikra, apa dia ingin melampiaskan emosinya kepadaku. Huh! Tapi apa yang barusan dia lakukan sama aku, bibirku oh tidak. Ya ampun.
Hera mulai menutup wajahnya karena malu, dia pun segera menyalakan shower, memnbersihkan badannya.
***
Di ruang depan, Dzikra sedang diobati oleh dokter, dan latihan berjalan. Kakek, ibu tiri dan Alfarid menyaksikannya. Sedangkan di dapur kedua menantu keluarga ini diserahi tugas membuat kudapan, ini sudah menjadi tradisi keluarga Al Ghifari dikala muncul berita kehamilan salah satu anggota keluarga, maka para menantu akan nembuat kudapan. Rahel nampak trampil membuat pie susu, sedangkan Hera masih kebingungan hendak membuat apa. Hera tidak ahli membuat kue -kue, Hera memutuskan mencari bahan-bahan makanan di kulkas, dia menemukan sayuran satu-satunya keahlian Hera membuat gorengan, akhirnya hera memilih membuat bakwan sayuran dicampur udang.
"Apa yang kau buat Hera?" Rahel bertanya penuh keheranan.
" Aku membuat yang bisa aku buat. Aku tidak bisa membuat makanan sepertimu." Ungkap Hera.
" Hey, ini bukan di kampung, jangan membuat makanan yang kampungan, ini keluarga Al ghifari tidak pantas menyantap makanan sampah seperti itu. Buatlah makanan yang manis." Rahel mengungkapkan perkataannya dengan sinis.
" Oh rupanya kau tahu, ini memang makanan sampah. Dirty-Dirty. Aku akan belajar nanti membuat makanan sepertimu lebih jago dan lebih enak. Saat ini aku belum mahir." timpal Hera dengan tenang, padahal hatinya dongkol karena diejek Rahel.
"Ah iya, kau memang hanya cerdas tapi gak bisa masak, selama ini kamu pasti tidak pernah memasak.Kamu memang anak manja." Rahel semakin memicu amarah Hera.
" Hmm... Enak sekali, Pas banget rasanya."
Rahel yang dipuji langsung mengulum senyuman. Melihat hal itu, Dzikra hatinya berkobar panas, dia meraih piring berupa pie susu dan menyantapnya sendiri. Semua orang terheran melihatnya, Farid juga memandang Dzikra, ia paham maksudnya, kemudian ia melihat ekapresi Hera yang sudah murung, Farid langsung mengambil gorengan yang dibuat Hera.
" Hmm.. Ini juga lumayan."
Semua orang akhirnya mengambil gorengan yang dibuat Hera, karena Pie susu dikuasai Dzikra. Namun wajah mereka berubah saat menyantap Bakwan itu.
" Iya ini lumayan asin." Seru adik iparnya.
"Hehe.. ini terlalu keras dan terlalu banyak minyaknya" tutur ibu mertua.
" Ini tidak ada rasa apapun." ucap Rahel yang ikut mencobanya, seraya memperlihatkan ekspresi mengejeknya.
" Ini sangat tidak layak dimakan." Ucap Dzikra dengan dingin yang penasaran ikut mengambilnya.
__ADS_1
Melihat situasi yang semakin serasa neraka bagi Hera. Hatinya sudah terluka , malu, dan sedih dia tidak berkata apapun, karena bingung harus mengatakan apa. Dan tidak juga dia berniat membela. Hera pun mengambil gorengan yang dibuatnya, dan melahapnya.
Iya ini memang tidak enak sama sekali. Rasamya berubah aneh. Kenapa bisa, aku rasa sudah menakarnya dengan benar.
" Maaf masakan saya kali ini sangat mengecewakan ibu, kakek dan semuanya, saya akan berusaha lagi membuatkan yang layak dimakan. Sekali lagi maafkan saya." Hera berbicara formal meminta maaf.
Airmatanya sudah tidak bisa dibendung lagi, dia memilih berjalan ke taman belakang dan meraih handphonenya. Dia duduk menghadap kolam ikan memperhatikan air terjun buatan di dinding kolam. Hera terisak, ponselnya berbunyi dan langsung mengangkatnya.
"Ra, lo lagi nangis ya?" sapa suara pemuda yang menelpon diujung sana
"Enggak." Dengan singkat dijawab Hera
"Bohong lo, gue tahu orang nanggis, gue kenal lo udah 4 tahun. Kenape lo, cerita ama gue. Tenang gue gak bakal ember kok." Cerocos Rangga.
"Ga. Aku gak bisa masak." Ungkap Hera.
"Emang lo gak bisa masak. Terus kenapa?" Jawab Rangga watados.
"Lo sama sekali gak ngehibur gue Ga." Hera kesal.
" Hahahah.. oke gue paham lo pasti habis dihina mertua gak bisa masak. Eh gue jelasin ke loe ya, cewe gak bisa masak itu biasa, yang penting cewe bisa nyenengin suami" Gelak tawanya terdengar lagi.
"Dasar kamu Ga. Makin ngaco ngobrol sama kamu." Ucap Hera tambah kesal.
Dzikra sedari tadi sudah berada di belakang Hera mendengarkan percakapan tersebut. Dzikra pun menegur Hera.
" Yang lain sudah menunggu di ruang depan." Tutur Dzikra dengan dinginnya.
Hera langsung kaget mendengar suara Dzikra dan langsung mengakhri telpon Rangga. Dia segera bangkit mengikuti Dzikra yang sudah berjalan ke ruang depan. Disana seorang dokter tengah memeriksa Rahel. Kemudian Hera di suruh duduk untuk diperiksa juga. Dokter tersenyum setelah memeriksa Hera.
"Bu Hera ini subur sekali, rahimnya kuat. Bu Hera punya peluang melahirkan banyak anak." Jelas Dokter kandungan ke semua orang yang Hadir.
Hera langsung melihat ke arah Dzikra yang sedari tadi menatapnya dengan tajam. Dzikra sedang memikirkan sesuatu dengan suara hatinya berkata.
Hmmm ... masih ada harapan aku menguasai perusahaan. Sudahlah lupa soal cinta, malam ini harus menjadi awal membuka hubungan dengannya.
***
__ADS_1
Malam itu, Hera keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk, dan menyadari ternyata Dzikra ada dikamar itu, kakinya sudah mulai pulih. Hera yang hendak menuju lemari mengambil baju, mengurungkan niatnya. Berbalik kembali ke kamar mandi, namun dari arah belakang tangannya ditarik kemudian dipeluknya dari belakang. Badannya dilingkari tangan kekar Dzikra. Jantung Hera langsung mendesir, nafas Dzikra terdengar melalui telinganya, bibirnya menempel di leher Hera yang putih mulus dan mengecup seraya menghisapnya kemudian turun ke pundaknya. Hera hanya bisa mengengam erat ujung handuk, jantungnya semakin berdegup kencang.
BERSAMBUNG....