
Sinar mentari memancarkan cahayanya dipagi hari memasuki jendela dapur. Seorang wanita tengah sibuk memasak. Hera merupakan orang yang tidak suka membuang-buang waktu untuk bersantai-santai dihari libur, baginya hari libur sangat bermanfaat untuk menyalurkan hobinya, hari itu ia berniat memasak chikken white curry, ia sudah sedang membuat kuah currynya sebanyak satu panci, saat Rahel memasuki dapurnya.
Rahel berjinjit hendak mengambil kotak susu yang berada dirak atas, Hera hanya menolehnya sebentar kemudian fokus mengaduk kuahnya, tiba-tiba sudut matanya menangkap tangan Dzikra sedang mengambilkan kotak susu untuk Rahel, dengan cepat Hera langsung menoleh dan melototi Dzikra.
"Kamu mau minum susu?" tanya Dzikra dengan lembut sambal menyodorkan kotaknya.
"Iya, nih. Hehe" jawab Rahel sambal tersenyum malu.
"Ya udah, aku panasin airnya ya", ucap Dzikra dengan lembut dan mengabil air kemudian mengisinya dengan air.
"Eh, makasih ya" jawab Rahel sambil tersenyum memanas-manasi Hera.
Hera matanya terus menatap Dzikra yang bersikap lembut pada Rahel, Dzikra tahu Hera sedang memperhatikannya tapi pura-pura tidak memperdulikan keberadaannya. Hera semakin kesal, kuah kari yang diaduknya tumpah kemana-mana.
" Ra, itu loh kuahnya tumpah kemana-mana.' ujar Rahel mengalihkan panddangan Hera yang terus menatap Dzikra penuh emosi tidak memperhatikan tangannya.
"Oh iya." Jawab Hera panik segera mematikan kompor.
Hera kemudian berjinjit mengambil bumbu diatas rak, sedangkan disampingnya Dzikra sedang memanaskan air dipanci tidak memperdulikannya. Hera semakin sebal, ia pun mendengus dan mengambil kursi. Dzikra lalu menyeduhkan susu dan menyerahkannya kepada Rahel. Hera terus menatap dua orang tersebut dengan sangat tajam, kakinya tidak memperhatikan tumpuan.
Bruk! Aww! teriak Hera terjatuh membentur lantai,kakinya terkilir.
Dzikra hanya menolehnya dan tidak membantunya, ia berpikir Hera sedang mencari perhatiannya. Hera terus menatap Dzikra yang malam mengalihkan pandangannya menatap Rahel.
"Dziiiiiik! kamu bias tolong aku berdiri?" seru Hera namun tidak ada jawaban dan Dzikra acuh.
" Loh Ra, " Alfarid tiba-tiba muncul dan membantu Hera berdiri. Dzika seketika menoleh mendengar suara Alfarid, ia langsung mendecih.
" Makasih kak," ucap Hera sambil menatap marah pada Dzikra yang menatapnya juga,
" Kaki kamu biru, Ra!" ujar Alfarid menunjuk ke arah kakinya.
"Ah, iya gak apa-apa kak, nanti juga sembuh pake salep" ujar Hera tersenyum simpul pada Alfarid,
Alfarid memapah Hera berjalan keluar dapur, namun segera Dzikra menyambar lengan Hera dan menyeretnya, Hera meringgis kesakitan.
"Dzik, jangan kasar saa perempuan!" bentak Alfarid.
Hera pun menatap tajam Dzikra, dan berusaha melepaskan tangannya, namun Dzikra melototinya dan semakin mencengkarmanya. Mereka pun saling melototi.
" OK!" Teriak Dzikra pada Hera.
Dzikra kemudian mengendong Hera dengan gaya Bridal style, Rahel dan Alfarid heran dengan sikap Dzikra, Hera menjerit memukul-mukul dadanya minta diturunkan, tapi Dzikra dengan tatapan melihat kedepan tidak memperdulikan Hera yang meronta-ronta, ia mempercepat langkahnya menaiki tangga kemudian masuk ke kamar dan melemparkan Hera ke atas kasur. Hera pun langsung menatap tajam Dzikra yang pergi keluar kamar begitu saja. Hera hanya bias menghela nafasnya, ia diam-diam menangis karena luka dikaki dan luka dihatinya. Tapi kemudian pintu terdengar dibuka lagi, Hera segera berbaring menyamping, lalu menarik selimutnya sampai kepala.
Hera bersembunyi dibalik selimut menutupi tangisannya, tapi Dzikra bias mendengar suara sesegukan Hera. Dzikra langsung melirik gundukan selimut dikasur itu.
Dasar wanita! batin Dzikra
__ADS_1
Selimut yang menutupi kaki Hera terasa tersingkap, seseorang menyentuh pergelangan kakinya, Hera langsung bangkit, rupanya Dzikra sedang duduk disamping ranjang dan memijat kaki Hera.
"Merepotkan saja!" gerutu Dzikra tanpa melihat Hera.
"Kalau merepotkan, tak usah kamu melakukannya," ujar Hera yang sempat luluh kembali sebal dan menarik kakinya, tapi ditahan oleh Dzikra yang menatatp tajam ke arahnya.
"Dziiik! Hentikan! ini sakit!" ucap Hera tanpa menatap Dzikra, ia tidak suka melihat Dzikra yang sedang marah.
“Pakaikan sendiri!” Dzikra melemparkan salep ke arah Hera sambil keluar dari kamar.
Hera hanya bisa menatap punggung lelaki yang dingin dan labil itu berlalu pergi keluar dari kamarnya, Hera lalu
mengambil ponsel di nakasnya, dia melihat tujuh panggilan tidak terjawab dari Rangga. Hera keheranan tidak
biasanya Rangga memanggilnya berkali-kali seperti ada hal penting. Hera kemudian mencoba menelpon balik. Namun ponsel Rangga tidak aktif, Hera mulai merasa khawatir sesuatu terjadi, ia segera menelpon ibunya Rangga, tapi sama juga tidak aktif. Hera segera beranjak dari kasurnya kakinya diseret ia berjalan keluar dari
kamar tergesa-gesa. Dzikra segera mencegatnya.
“Mau kemana kamu?” tanya Dzikra menghadang Hera dan menatapnya tajam.
“ Aku mau ke rumahnya Rangga,” jawab Hera.
“Untuk apa?” tanya Dzikra semakin menatap tajam.
“Aku khawatir sesuatu terjadi padanya.” Ucap Hera sambil matanya berkaca-kaca.
“ Aku pergi dulu,” ujar Hera berlalu meninggalkan Dzikra yang masih mematung disana.
****
Hera sudah berdiri disebuah rumah yang cukup asri diperkomplekan perumahan. Hera menekan bel dan mengucapkan salam, namun tidak ada jawaban, rumah nampak tidak berpenghuni. Hera terdiam merasa semakin cemas, ia mondar-mandir didepan gerbang. Ia kemudian tertunduk duduk menyender digerbang tersebut. Rangga sewaktu kuliah sering merasa sakit kepala yang luar biasa, akibat kena panah salah sasaran saat latihan. Seorang ibu dengan seorang anak pulang dari pasar berhenti melihat Hera terduduk depan gerbang.
“Neng, kenapa disana? Rumah itu sudah kosong dua hari yang lalu,” ujar ibu-ibu tersebut.
Hera langsung menegadah melihat ke arah suara dan menatapnya. Ibu tersebut tersenyum kemudian pergi berlalu meninggalkan Hera. Ia kemudian terdiam, Rangga tidak dapat dihubungi dan juga orang tuanya.
Dasar bocah itu pergi kemana? dan apa yang terjadi padanya? Kenapa membuatku khawatir? Batin Hera, sambil memutuskan pulang ke rumah.
****
Hera terduduk dikursi sambil kakinya disetrum oleh tukang pijat, yang membuat Hera mengaduh berkali-kali. Otot kakinya serasa mau pecah, ditambah kakinya memutar membuatnya berkali-kali mengaduh sampai menitikan air
mata. Si tukang pijat tersenyum.
“ Aduuuh neng, baru sakit segini aja udah mau nanggis, gimana kalau mau ngelahirin anak,” ujar tukang pijat perempuan itu sambal mengulum senyuman.
“ Hem... Iya mbok, aku kan tidak pernah disetrum,” ujar Hera tersipu.
__ADS_1
“ Hahaha Neng, kalo udah ngelahirin segini gak ada apa-apanya.” Ujar si tukang pijak sekali lagi membicarakan melahirkan.
Iya deh-iya deh bu, aku belum pernah melahirkan, jadi aku gak bisa bandingin, batin Hera merasa kesal tukang pijat merendahkan rasa sakit yang dialaminya.
“ Neng mau sekalian dipijat itunya?” tanya tukang pijat sambil tersenyum malu-malu.
“ Apanya?” tanya Hera Heran.
“ Itunya, biar cepet punya anak.” Ujar si ibu sambal mengulum senyumnya.
“ Enggak deh bu, ini aja cukup,” ujar Hera tidak paham perkataan tukang pijat.
“ Bagaimana mbok? Parah tidak?” tanya Dzikra yang tiba-tiba muncul dikamar Hera.
“Waah, Den. Palingan dua hari juga udah sembuh,” ujar tukang pijat yang dipanggil mbok.
“Oh Syukurlah,” ujar Dzikra sambil duduk disisi ranjang memperhatikan Hera yang sedang dipijat sembari disetrum.
“Den Dzikra pasti gak bisa lama-lama ya,” ujar si tukang pijat tersipu.
“ Iya, “ jawab Dzikra singkat dan fokus menatap Hera.
“ Den Dzikra mau sekalian dipijat juga gak? Biar puas neng Heranya?” ujar tukang pijat sambil tersenyum-senyum.
“Hah?” Dzikra masih kebingungan menatap Hera yang sedang menatapnya juga.
“Ah, den Dzikra ini suka gitu, masa itu gak paham!” ujar tukang pijat.
“ Maksudnya mbok?” tanya Dzikra.
“ Itunya, biar Ok, “ ujar tukang pijat sambil menunjuk dengan matanya ke arah Dzikra. Hera dan Dzikra pun saling bertatapan dan membelalakan matanya
“TIDAAAK!” serepak jawaban kedua pasangan tersebut cukup mengagetkan si tukang pijat, hampir membuatnya jantungan.
Seketika si tukang pijat tangannya langsung gemeteran, membereskan alat-alat setrumnya. Hera dan Dzikra merasa bersalah kepada si Mbok tukang pijat, yang sudah tampak ketakutan. Dzikra segera memberikannya minum, yang diterima oleh si Mbok dengan gemeteran. Hera pun tersenyum kemudian meraih tangan si tukang pijat.
“Makasih ya mbok, kami gak marah sama mbok” ucap Hera sambil tersenyum.
***
“ Kopi?” tanya seorang pramugari kepada seorang pemuda.
“ tidak” jawab pemuda tersebut tanpa menoleh pada pramugari tersebut, matanya hanya menatap kearah jendela.
BERSAMBUNG....
__ADS_1