
Mobil melaju dengan tenang, kedua insan yang berada didalamnya tidak saling membuka suara. Hera lebih banyak menyaksikan pemandangan diluar sambil menyeruput es kelapanya. Dzikra merasa jengkel dengan suasana keheningan itu.
Tiba-tiba Dzikra berteriak," Hah! Apa itu!" ujar Dzikra.
Hera sontak menoleh mendengar suara Dzikra, mencari sesuatu yang membuat Dzikra melonjak. Sedangkan Dzikra sudah cengegesan membohongi Hera.
"Tidak ada-apa!" ucap Hera.
"Memang tidak," ujar Dzikra sambil tersenyum puas melihat wajah isterinya yang kesal.
Hera membuang muka lagi, kembali menikmati pemandangan diperjalanan menuju rumahnya. Tapi dalam kebisuannya Hera membuka suara mengeluarkan unek-uneknya.
"Kemana selama 4 bulan ngilang? g pernah nengok aku! kamu punya yang baru?? kamu selingkuh?" cerocos Hera menatap Dzikra.
"Aku gak pernah kemana-mana! aku selalu dihati kamu!" ujar Dzikra mengoda isterinya.
"Huh Lebay! jawab jujur! kamu selingkuh!" ujar Hera ketus.
" Bumil ini overthingking sekali. Aku bukan lelaki seperti itu!" ujar Dzikra.
"Terus kenapa! kamu bosan sama aku?" tanya Hera semakin menuntut.
"Tidak, aku tidak pernah bosan, aku hanya sedang membereskan masalah dikantor." ujar Dzikra mencoba menenangkan Hera.
"Aku tidak percaya lelaki genit seperti kamu! aku lagi hamil seenak jidat bilang perempuan lain cantik! memangnya aku ini jelek?" ujar Hera mengkerucutkan bibirnya.
Dzikra semakin tidak tahan melihat Hera yang emosinya sedang membara. Dzikra memilih diam karena kalau dijawab, pasti selalu salah dimata Hera. Mobil segera diparkirkan dihalaman rumah, Dzikra turun lebih dulu lalu membukakan pintu untu Hera yang masih cemberut.
"Jelek, kamu sangat jelek!" ujar Dzikra sambil tertawa.
Hera yang emosian akhir-akhir ini semakin marah, ia berjalan masuk ke dalam rumah lebih dulu, segera mengempaskan dirinya duduk disofa, Dzikra terlihat mengejarnya tapi kemudian iia berhenti karena ponselnya berbunyi, dia mengangkatnya. dengan menjauh dari Hera. Tentu saja itu semakin membuat Hera curiga. Hera pun memilih menoton tv, terdengar langkah Dzikra yang mendekat.
"Rupanya bumil disini!" ujar Dzikra sambil menebarkan senyumannya.
Hera tidak menyahutinya, pura-pura fokus menonton tv. Namun Dzikra menganggunya dengan merebahkan kepalanya di paha Hera. Dzikra mengelus perut Hera itu dengan sesekali menciumnya. Hera pun menatap wajah Dzikra dipangkuannya.
"Udah dooong jangan marah terus sayang, kamu tetep yang tercantik dimata aku, kamu kehidupanku, sayang" ujar Dzikra sambil menatap Hera yang sudah merona.
"Kita tidur yuk!" ajak Dzikra sambil bangkit mengendong Hera.
"Aku belum ngantuk!" ujar Hera.
"Papahnya gak boleh ambil jatah 4 bulan kemarin?" ujar Dzikra yang dibalas dengan pukul kecil oleh Hera.
__ADS_1
Mereka pun beranjak pergi ke kamar tidur, menghabiskan sisa siang dengan hanya berduaan didalam kamar. Tidak perlu ditanya lagi aktivitas yang mereka lakukan, itu sudah rahasia umum.
****
Drrrt Drrrt Drrrt
Suara ponsel Dzikra berbunyi, Dzikra yang akhir-akhir ini tidak pernah absen menemui Hera. Kini Dzikra tengah memeluk Hera diranjang terbangun oleh suara ponselnya. Dengan malas Dzikra mengangkatnya.
" Waalaikumusalam, iya." jawab Dzikra.
"Kamu dimana? kenapa gak pernah pulang?" ujar suara disebrang sana.
"Hmm menenangkan diri kek!" ujar Dzikra.
" Huh! ya sudah besok ketemu dikantor ada yang harus dibicarakan denganmu!" ujar suara ditelpon.
" Iya, sudah dulu ya Kek, Dzikra masih ngantuk," tutup Dzikra kembali tidur sambil memeluk Hera.
****
"Pagi sayang," Dzikra sambil mengecup kening Hera.
Hera tersenyum membuka matanya, memandang suaminya yang sudah rapi memakai pakaian kantor, kini Dzikra sedang disamping ranjang. Hera bangkit memeluk Dzikra mencium bau daun mint aroma tubuh suaminya.
"Pagi banget? gak sarapan dulu? nanti pulang jam berapa?" tanya Hera membrondong dengan pertanyaan.
" Banyak banget pertanyaannya!" ujar Dzikra tersenyum sambil mencubit hidung Hera.
"Aku ada kerjaan dikantor, aku bakal sarapan di kantor, aku pulang seperti biasa, mulai besok kita pindah ke apartemen di Jakarta aja ya?" ujar Dzikra.
Hera yang masih setengah sadar hanya menganggukan kepalanya.
"Cepatlah pulang!" renggek Hera pada Dzikra.
Dzikra tersenyum melihat isterinya yang sangat manja akhir-akhir ini. Ia segera mengambil tas kerjanya, Hera segera mencium punggung tangan suaminya.
"Hati-hati dijalan, sama hati- hati jaga hatinya," ujar Hera membuat Dzikra tergelak.
Dzikra pun berpamitan setelah mencium kening Hera, yang akhir-akhir ini harus melakukan ritual cium tangan dan kening saat berangkat kerja dan membangunkan.
***
Dzikra dikantornya sebagai direktur utama sedang serius menatap layar monitornya, sambil sesekali membuka berkas dan menandatanginya. Hingga kakek masuk semua buyar, Dzikra segera menyambut kakek dan mengiringnya duduk disofa.
__ADS_1
"Kakek membuatku penasaran, ada apa kek?" Dzikra membuka suara lebih dulu.
"Dzik. Hera kan sudah lama meninggal, sudah saatnya mencari penggantinya, kamu tidak boleh terus larut dalam kesedihan, kamu masih muda" Ujar kakek.
"Untuk saat ini, aku belum mau nikah lagi," ujar Dzikra.
"kenapa?"
"Hanya ingin sendiri aja dulu, kek" jawab Dzikra.
"Hemm..Dzik kau tahu Larisya?"tanya kakek.
"Larisya?" ucap Dzikra sambil memutar otak.
"Iya, dia pernah bertemu denganmu sekali! gadis itu suka denganmu. Ayahnya berniat menikahkannya dengamu, sebagai imbalannya saham anjlok kita akan dibelinya, dan perusahaan akan mendapat beberapa hektar lahan untuk perluasan perkebunan. Bagaimana Dzik?" tanya kakek.
Tidak ada jawaban dari Dzikra hanya ada hembusan napas, rasanya ingin berteriak. Memiliki isteri lagi? bagaimana perasaan Hera? Otaknya serasa mau pecah memikirkannya. Dzikra menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Kau bisa memikirkannya dulu Dzik!" ujar kakek.
"Iya kek, aku akan mempertimbangkannya dulu," ucap Dzikra.
"Aku harap jawaban yang terbaik, demi perusahaan ini Dzik!" ujar kakek.
Dzikra hanya menganggukkan kepalanya, Kakek pun bangkit dan berpamitan. Meninggalkan Dzikra yang masih berkutat dengan alam pikirannya yang semrawut.
****
Hera yang berada dirumah megah itu merapihkan pakaian dirinya dan Dzikra ke dalam koper. Selesai merapihkan pakaian mulai beberesih dikamar, Hera menemukan album, Ia membuka album tersebut perlahan banyak sekali poto Dzikra waktu kecil. Foto tersebut disusun rapi, hingga Dzikra masuk SMA terpampang wajahnya, Hera tersentak saat melihat terdapat poto dirinya yang diambil tidak sengaja. Dzikra menuliskan kata 'my first love ❤', seketika pipi Hera terasa terbakar haru hingga meneteskan mata, bahkan dialbum tersebut ada poto yang diambil dari media sosial Hera.
Jadi aku cinta pertamanya! Aku pikir dia membenciku, ah bodoh sekali kamu Hera. Batinnya.
Selanjutnya mata tertegun pada surat yang disimpan rapih disana, Hera membacanya dengan teliti. Dahinya berkerut mendapatkan kejanggalan dalam surat tersebut.
"Siapa yang jahil merubah kalimat ini! pantas saja Dzikra selalu menganggap aku perempuan murahan."Ujar Hera sambil menghembuskan nafasnya.
"Ya sudah, nanti aku harus mengobrol sama Dzikra, aku juga akan membuat album keluarga dengan Dzikra." ujar hera sambil tersenyum-senyum
Hera sambil mengelus perutnya yang semakin membuncit itu. Memandang dirinya didepan kaca.
"Dzikra tidak akan meningganlkanku, dia sangat mencintaiku, aku juga sangat mencintai mu bang," ujar Hera berbicara sendiri.
BERSAMBUNG...
__ADS_1