Takdir Bersamamu

Takdir Bersamamu
Kunjungan Larisya


__ADS_3

Malam itu, Dzikra menerima telpon dari Larisya. Dzikra memilih ke balkon untuk berbicara dengan Larisya, karena tidak mau Hera semakin sedih. Dzikra cukup lama berbicara ditelpon, hingga Hera terlelap dalam kesedihan.


Sayup-sayup suara adzan subuh terdengar, dibarengi suara merdu menyapanya yang sedang terbuai dalam mimpi, Hera membuka matanya, wajah suaminya tepat didepannya tersenyum dan mendaratkan kecupan dibibirnya, Hera seketika langsung melek total.


"Puteri tidur sudah bangun!" ujar Dzikra yang dibalas Hera dengan memoyongkan bibirnya.


"Sayang anakku, sekarang udah subuh ayo bangun kita sembahyang," ujar Hera sambil mengelus perutnya.


Dzikra tersenyum melihat isterinya selalu membangunkan bayi yang diperutnya setiap pagi. Dzikra pun akhirnya mengelus perut buncit itu dan mengecup pipi Hera.


"Ayo, jagoan papa harus rajin bangun pagi!" ujar Dzikra berbicara dengan bayi diperut Hera.


Hera tidak dapat menahan senyumannya, dan sejenak ia bisa melupakan kejadian semalam yang memilukan hatinya. Hera mengingat salah satu pembicaraan dengan kakek.


"Bang, bukannya bayinya Rahel sama kak Alfarid sudah lahir? kapan kita akan kesana menengoknya?" ujar Hera menatap suaminya yang sibuk mengelus perutnya.


"Abang udah nengok bayinya," ujar Dzikra.


"Tapi aku belum bang, ayo kita tenggok lagi," ranggek Hera.


"Iya sayang, nanti kita tenggok pas libur ya," ujar Dzikra.


Hera langsung berbinar dan merangkul suaminya, Dzikra mengambil kesempatan itu untuk mengendong isterinya ke kamar mandi, Hera kaget tiba-tiba digendong tapi ia tidak berontak, Hera menyukai perlakuan manis suaminya. Alhasil mereka pun mandi bersama lagi.


****


Hera sudah mulai diberikan alat komunikasi oleh Dzikra setelah berbulan-bulan tidak mengunakannya, tapi Dzikra membatasi Hera untuk bermain media sosial, Hera dilarang mengupdate foto-foto dirinya dimedia sosial bahkan semua media sosialnya dinonaktifkan oleh Dzikra, Hera hanya boleh mengunakan Whattsapp untuk media sosial. Meski awalnya Hera protes tapi mengingat dirinya harus patuh sama suami akhirnya menerima saja. Meski hanya whattsapp Hera tidak diperkenankan menyimpan nomor cowok, kecuali suaminya dan sanak saudaranya.


Hera tersenyum-senyum mengingat hal tersebut, suaminya terlihat posesif sekali. Hera menyiapkan makan siang untuk Dzikra. Menu makan siang Dzikra paling utama harus ada sambal dan krupuk, Hera membuat ayam bakar rica -rica, soup touge, dan tumis kangkung serta menyediakan ikan asin kesukaan Dzikra. Semenjak menikah dengan Hera lidah suaminya ini lebih suka makanan rumahan.


Ting Tong Ting Tong


Hera mengerjitkan dahinya, jika suaminya datang, dia tidak akan membunyikan belnya, dia akan langsung masuk saja. Hera membuka pintu perlahan, seorang gadis berpakaian dress selutut dengan high hell warna merah berdiri dengan menebarkan senyuman.


"Anda siapa?" tanya Hera kebingungan.


"Saya Larisya, apa anda isterinya pak Dzikra?" tanya Larisya dengan mengerjitkan dahinya.


"Oh, iya saya isterinya. Ada apa kemari?" tanya Hera sedikit tidak bersahabat.


"Aku ingin bertamu, apa tidak boleh?" tanya Larisya sambil tersenyum.


"Oh silahkan masuk!" ujar Hera membukakan pintu.


Larisya memasuki apartemen tersebut dan membuka high heelnya lalu disimpan dirak. Larisya melihat seisi ruangan apartemen yang cukup sederhana tapi tertata rapi, wangi masakan tericium di hidungnya.

__ADS_1


"Kau sedang memasak?" tanya Larisya menoleh pada Hera.


"Iya, silahkan duduk dulu, aku akan bawakan minuman untukmu," ujar Hera sambil berlalu menuju kulkas.


Larisya pun duduk dikursi, matanya masih mengamati seisi ruangan, nampak foto pernikahan Hera dengan Dzikra dalam satu pigura. Hera menghampiri sambil membawakan jus jeruk dan kue puteri salju serta nastar. Hera duduk menghadap Larisya.


"Kau berbeda dari foto yang dikirimkan Dzikra, itulah alasanku kemari!" ujar Larisya sambil meminum jus jeruk.


"Hmm, memangnya kenapa?" ujar Hera memperhatikan raut wajah Larisya.


Awalnya aku cukup percaya diri karena melihatmu sangat kucel difoto, tapi rupanya itu foto lama. Meski dia cukup gemukkan saat ini, tapi dia tidak jelek-jelek sekali, aku bodoh mengira isteri direktur utama tidak dapat mengurus diri. Batin Larisya.


Wanita secantik dia, Dzikra mana mungkin menolaknya, bodynya kaya gitar spanyol, wajahnya blasteran, sebelas duabelas sama Katrina Khaif. Batin Hera.


Tidak ada suara dari dua wanita yang saling berhadapan tersebut, mereka sibuk dengan pemikiran dan perang batinnya masing-masing. Hingga akhirnya Larisya berdehem untuk memecahkan kesunyian dan kecanggungannya.


"Hm! Jadi kalian menikah saling mencintai atau dijodohkan?" tanya Larisya membuat Hera kebingungan menjawabnya


"Kedua-duanya," ucap Hera.


"Sepertinya kisah kalian akan aku ulang kembali, apa hubungan kerjasama orangtua kalian sampai menjodohkan kalian?" tanya Larisya membuat Hera tersenyum


"Perjodohan kami tidak ada hubungannya dengan bisnis kedua orangtua kami." Jawab Hera tenang.


"Lalu?" Larisya semakin penasaran.


"Apa kamu mencintai suamiku?" lanjut Hera sambil menelisik.


"Tentu, sejak pandangan pertama di Singapura!" tegas Larisya.


"Apa suamiku menyukaimu juga?" tanha Hera mencoba tenang.


"Tidak, tapi nanti akan jatuh cinta padaku!" tegas Larisya ingin berbangga diri dihadapan Hera.


"Kenapa bisa begitu?" tanya Hera masih bersikap tenang.


"Karirku bagus dan aku cantik, kita pasangan yang cocok, lelaki menyukai perempuan cantik dan cerdas!" ujar Larisya sambil tersenyum.


"Iya ada sedikit benarnya lelaki menyukai wanita cerdas dan cantik!" ujar Hera membuat Larisya berada diatas awan.


"Berarti kau mengijinkan aku menikahi suamimu?" ujar Larisya.


"Hmmm.. Aku memberikan ijin kepada suamiku! aku membiarkannya mengambil keputusan menikahimu atau tidak sama sekali!" ujar Hera.


"Wah kau perempuan bijak rupanya!" puji Larisya.

__ADS_1


"Terima kasih Sya! Aku hanya ingin berpesan padamu bahwa kecantikan fisik tidak akan cukup untuk mempertahankan pernikahan, jadi jangan menikahi lelaki yang hanya melihat fisikmu!" ujar Hera sambil meminum jusnya juga.


"Aku mencintai suamimu! dan dia tidak melihat fisikku aku rasa, tapi dia pasti akan menikah denganku!" ujar Larisya tidak terima dengan ucapan Hera.


"Larisya ini bukan cinta, kamu hanya terobsesi dengan suamiku!" ujar Hera dengan lembut.


"Tidak! ini cinta yang tulus nyonya Hera," menaikan nada bicaranya.


"Baiklah! itu menurutmu nona Larisya," ujar Hera.


Ditengah perdebatan dua wanita yang mencintai satu pria, tiba-tiba Dzikra masuk dan terkejut melihat Hera dan Larisya sedang berdebat sepertinya. Hera yang menyadari Dzikra datang segera mencium tangannya dan tersenyum pada suaminya, ia mengandeng suaminya ke meja makan. Kemudian Hera menghampiri Larisya untuk ikut makan bersama.


Mereka akhirnya duduk dimeja makan yang sama, Hera mengambilkan makanan untuk Dzikra, Larisya tidak hentinya memandang kemesraan sepasang suami isteri tersebut.


"Sopnya yang banyak kuahnya sayang," ujar Dzikra yang tidak peduli dengan orang asing dihadapannya.


"Iya bang, kerupuknya juga?" tanya Hera yang dibalas dengan anggukan oleh Dzikra.


Larisya melihat menu dimeja makan tersebut, bukan makanan mewah layaknya seorang Direktur, hanya masakan sederhana. Larisya sekali lagi terkesima dengan pribadi Dzikra yang sederhana. Senyuman itu mengembang melihat Dzikra begitu lahap menyantap makanannya, terlebih lagi Hera melihat suaminya makan dengan lahap merasa senangnya.


"Jadi pak Dzikra suka makanan rumahan?" ujar Larisya, Dzikra menghentikan suapannya.


"Iya, makanan rumahan adalah kesukaanku, semenjak ibuku meninggal aku tidak pernah makan masakan rumahan. Tapi setelah memiliki isteriku yang cantik dan pintar memasak aku sangat senang memakan lagi masakan rumahan." ujar Dzikra cukup membuat Hera melambung tinggi dengan pujiannya.


"Apa kau bisa masak?" tanya Hera menatap Larisya.


"Aku terlalu sibuk belajar kedokteran sampai tidak ada waktu aku belajar memasak." ujar Larisya sambil menyuapkan makananya.


"Apakah setiap wanita yang menikah harus bisa masak?" lanjut Larisya.


"Tidak! tugas memasak, mencuci baju, mengurus anak, beres-beres rumah itu semua tugas suami," ujar Hera membuat kedua orang bengong.


"Jadi harusnya aku yang memasak untukmu sayang?" ujar Dzikra disambut anggukan.


"Lalu tugas isteri apa? kalau aku yang mengerjakan semuanya!" ujar Dzikra.


"Tugas isteri patuh sama suaminya! kalau suaminya bilang harus memasak, mengurus rumah dan sebagainya, isteri harus menjalankannya!" ujar Hera sambil tersenyum dan mengambil nasi yang menempel disudut bibir suaminya.


Larisya yang melihat pemandangan tersebut semakin menekut wajahnya, dia merasa terdampar ditempat yang salah karena menonton kemesraan suami isteri dihadapannya.


"Sepertinya aku harus segera kembali ke kantor nyonya Hera dan Pak Dzikra," ujar Larisya bangkit dari duduknya.


"Oh iya, terima kasih sudah berkunjung," ujar Hera sambil mengantar Larisya sampai depan pintu.


Hera kembali ke mejanya dengan tersenyum penuh kemenangan menghadapi wanita yang akan merebut posisinya sebagai isteri satu satunya yang dimiliki Dzikra.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2