
Hera menaiki tangga masuk ke dalam kamar, saat pintu dibuka, Dzikra terlihat sedang sibuk melihat Laptopnya diatas kasur. Melihat kedatangan Hera hanya melirik sebentar, kembali fokus melihat layar laptop. Hera menutup pintu dan menguncinya. Kemudian naik ke atas ranjang dan duduk disana. Dzikra membuka suaranya.
" Kalau kau mau keluar kamar jangan mengunakan piyama." Ucap Dzikra tanpa menoleh.
Hera mendengar ucapan itu langsung menoleh dan beringsut mendekat ke samping Dzikra, sambil Hera melemparkan pertanyaan disamping wajah Dzikra.
" Kenapa?"
Dzikra yang merasakan wajah Hera berada didekatnya menoleh dan menatapnya.
" Aku bilang tidak boleh. Jangan banyak tanya," tegas Dzikra.
" Apa itu juga peraturan di rumah ini?" Hera kembali bertanya.
" Bukan! itu peraturanku, kau lihat saja dirimu saat mengunakan piyama, apa kau tak malu?"terang Dzikra.
Hera langsung melihat dirinya. Pikirnya: apa yang memalukan dari piyama yang aku pakai, tidak ada masalah.
" Apa kau melihat piyama aku robek? atau ada yang terbuka. Tapi kalau pun robek pastikan kau yang merobeknya," goda Hera sambil mengulum senyuman.
Hal itu membuat Dzikra berhenti dari aktivitasnya, dan menatap Hera dengan tajam. Hera pun segera melihat ke segala arah, baginya tatapan Dzikra lebih menyeramkan dari film horor. Hera kemudian menghela nafasnya, agar tidak sesak karena tatapan Dzikra.
" Akhir-akhir ini, aku merasa aneh kamu awalnya tidak mau disentuh, tapi sore tadi kau terus menyentuhku. Apa alasan dari perubahan sikapmu, apa kau mulai mencintaiku?" tanya Hera mencairkan suasana.
" Tidak, " Dzikra menjawab dengan singkat.
" Lalu kenapa?" desak Hera.
" Tidak ada alasan, hanya naluri dan nafsu." jawab Dzikra.
__ADS_1
" Mana bisa seperti itu? semua pasti ada alasannya. Sesuatu tanpa alasan sangat tidak wajar," ujar Hera kesal.
Dzikra mendengar ucapan Hera, langsung membuang nafasnya dan menimpalinya.
"Kalau begitu kenapa kau kentut saat aku cumbu?apa kau punya alasan?" tanya Dzikra.
Hera melotot karena Dzikra masih mengingatkannya akan kejadian tadi. Dzikra melanjutkan ucapannya.
" Seperti itulah laki-laki, tidak butuh cinta untuk mencium wanita, dia hanya perlu ada nafsu. Maka kau jangan membuat lelaki lain selain aku bernafsu padamu."
" Apa aku membuatmu bernafsu?" selidik Hera.
" Heu... Kau banyak bertanya, aku mulai besok akan berangkat kerja!" mengalihkan topik pembicaraan Hera yang sedikit memancing dirinya berbicara banyak.
Hera nenyadari Dzikra tidak akan menjawab pertanyaanya.
Hera tidur sambil membelakanginya, dan kemudian menutup kelopak matanya, tapi ia mendengar Dzikra berbicara, membuatnya terbangun kembali dan bangkit melihat Dzikra yang ternyata sudah berada di belakangnya.
" Kata dokter kau sangat subur, aku ingin membuktikannya. Lagi pula untuk menjadi penerus perusahaan aku harus memiliki banyak anak."
Hera mendengar perkataan itu masih terdiam, dia kaget wajah Dzikra tepat berada dihadapannya. Jantungnya masih menderu hebat.
"Kenapa diam saja? diam berarti kau setuju," lanjut Dzikra.
Kemudian Dzikra menarik tubuh Hera sehingga terlentang, dan dirinya tepat diatasnya, Hera tidak memberontaknya, munafik kalau dia menolaknya, toh sama-sama mendambakan malam peraduan itu. Hera melihat Dzikra sedikit memiringkan wajahnya dan mendekatkan bibirnya, Hera menyambutnya dengan mengalungkan kedua tangannya dileher Dzikra. Kedua bibir itu menyatu dan saling mengaitkan, mereka saling *******. Deru nafsu birahi keduanya terlihat jelas. Saat Hera hampir kehabisan nafas, Dzikra menghentikannya beberapa saat kemudian melanjutkannya berciuman lebih dalam lagi, bahkan ciuman Dzikra mulai turun ke leher kini menciumnya dengan kuat disertai hisapan yang menimbulkan tanda merah dileher Hera. Sentuhan itu membuat Hera mendesah pelan. Dzikra mendengarnya merasa terpacu. Kedua tubuh insan itu menegang saat saling bersentuhan. Satu persatu kancing piyama Hera terlepas, sehingga menampilkan bagian dalamnya. Dzikra yang melihat untuk pertama kalinya merasa semakin bergejolak ingin meremas apa yang ada disana. Tapi kemudian diurungkannya, karena terdengar suara kakek di luar memanggilnya. Dzikra sedikit merasa kesal, harus menghentikan aktivitasnya dan menutupkan baju piyama Hera kemudian turun dari ranjang membuka pintu kamar.
" Kenapa kek?" tanya Dzikra.
" Ayo turun kebawah, kamu sudah 3 bulan gak kerja pasti agak kerepotan saat mulai kerja lagi, ada berkas yang harus dibaca!" jawab kakek.
__ADS_1
" Iya kek, nanti aku nyusul, " jawab Dzikra singkat, kakek menganggukannya dan turun lebih dulu ke bawah.
Dzikra kembali masuk ke kamar dan melihat Hera sudah terduduk diatas ranjang. Dzikra dengan bertindak seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya duduk di samping Hera.
" Sepertinya aku gagal malam ini. Jangan menungguku, aku akan bergadang di bawah dengan kakek", ujar Dzikra sambil bangkit meninggalkan Hera.
Tapi kedua tangan Hera meraihnya membuat Dzikra terhenti kemudian membalikan badannya, dan mencium bibir Hera dengan sangat dalam lagi serta mendorongnya sehingga tidur terlentang. Hera yang hendak berbicara tertahan oleh Dzikra yang malah menciumnya. Dzikra kemudian terhenti ingat kakek menunggunya dibawah. Dzikra pun bangkit, dan menyusut bibirnya yang sedikit berair efek bercumbu tadi. Kemudian melangkah keluar dari kamar.
Kini Hera ditinggal seorang diri di kamar, tapi ia tidak merasa sedih, justru hatinya berbunga-bunga, bibirnya yang masih berair dibiarkan dia ingin tetap merasakan kehangatan cumbuan dari Dzikra. Ia pun tertidur dengan pulasnya.
***
Pagi itu, Hera sudah sibuk di dapur membuatkan bekal untuk Dzikra. Hera bukan wanita yang awam memasak, sebenarnya dia cukup lihai membuat masakan. Ia memasak sayur soup ayam, mengoreng ikan gurame, membuat jus buah, dan salad buah. Semua makanan itu di simpan dalam satu wadah besar. Melihat Dzikra hendak berangkat bersama kakek dan kakak iparnya, Hera berlari menghampiri Dzikra. Kemudian menyerahkan bekalnya sambil melemparkan senyuman yang mengemaskan bagi mata yang melihatnya. Semua mata ketiga lelaki itu memandang Hera, namun mata Hera hanya fokus ke Dzikra saja, sehingga tidak menyadari yang lain memandang dirinya.
" Aku sudah bilang semalam, akan membuatkan bekal untukmu, bawalah tanganku sudah pegal memegangnya, ucap Hera mengemaskan.
Dzikra pun mengambilnya dengan cepat dan mengdehem, untuk menghentikan kakak tirinya yang terus memandang Hera.
"Hem..Hemm.. Terima kasih ISTERIKU, mungkin nanti malam aku akan membalasnya." Dzikra menekankan kata 'Isteriku' untuk menunjukan kepemilikannya.
Hera menyadari itu, Dzikra rupanya ingin pamer depan kakek dan kakak ipar, tapi Ia tidak mau memikirkannya. Dia pun hanya tersenyum dan mengangguk, kemudian meraih tangannya Dzikra lalu menciumnya. Dzikra melihat itu mengambil kesempatan dengan meraih pinggang Hera dan mendaratkan kecupan di keningnya. Hal itu cukup membuat Kakak tirinya mengalihkan pandangannya.
" Aku pamit ya, " ujar Dzikra.
Ketiga lelaki itu pun berjalan melewati Hera, mereka melangkah menuju mobil yang terparkir di halaman rumah. Dua mobil sudah siap melaju, kakek dan Dzikra semobil sedangkan Alfarid duduk dimobil sendiri. Ketika mobil pun bergerak meninggalkan halaman rumah, dikaca spion masih terlihat Hera melambaikan tangannya. Dzikra yang melihatnya tersenyum puas, begitupun Farid, diam-diam dia mengagumi Hera.
BERSAMBUNG.....
sorry pembaca setia kalau tidak nyaman dengan adegannya mohon berikan masukan. Saya penulis baru mohon saran dan masukannya, supaya ceritanya tidak membosankan.
__ADS_1