Takdir Bersamamu

Takdir Bersamamu
Pudarnya rasa dihati


__ADS_3

Hera mengirimkan foto melalui pesan whatsapp pada Dzikra.


Hera: Pindah kantornya ke mall ya! sudah jangan menutup satu kebohongan dengan kebohongan lain lagi.


*pesan terkirim langsung bercentang biru


Kaget bukan kepalang Dzikra yang sedang menemani Larisya langsung pergi meninggalkannya. Ia segera meluncur dengan mobilnya menuju apartemen.


****


Hera membersihkan apartemen tersebut, semua pakaian Dzikra sudah dilipat dan digantung sebagian dilemari. Semua sepatu sudah dicucikannya. Hera membuat masakan untuk makan malam Dzikra yang disimpan dikulkas. Sebagian pakaiannya sudah dirapihkan ke koper.


Nafasnya menghembus berat dibarengi tetesan air mata dirinya sekarang berada dibalkon. Semua rasa sesak itu ia keluarkan dengan berteriak.


"AAAAAAaaaaa" teriak Hera melepaskan penat dihatinya.


Tiba-tiba suara bass menegurnya dari balkon sebelahnya.


"Wooooy, ganguin orang tidur, Ini bukan dihutan!" ujar suara tersebut.


Hera langsung menelan salivanya, ia menoleh pada asal suara. Kedua mata saling beradu, keterkejutan menyelimuti dua orang tersebut. Pemuda tersebut langsung tergesa-gesa masuk kembali ke apartemennya. Hera juga segera masuk ke apartemennya tapi berjalan keluar mengetuk-ngetuk pintu apartemen sebelahnya.


"Ga...Ga... Buka pintu Lo, Cepatan! Ga.. Ngapain Lo sembunyi dari Gue!" ujar Hera sambil menanggis depan pintu apartemen.


Hera menanggis untuk rasa sakit yang diberikan oleh Dzikra dan juga tanggisan kebahagiaan bertemu sahabat lamanya kembali. Pintu apartemen tersebut tidak pernah dibuka. Tapi lelaki yang didalam sana berdiri dekat pintu. Ia bisa merasakan gadis pujaannya kini tengah menanggis pilu.


Dzikra sudah sampai dilantai 5 tempat apartemennya berada, namun seketika hatinya merasa pilu melihat Hera menanggis didepan pintu apartemen tetangganya. Dzikra pun mendekat dan mengendong Hera secara paksa masuk ke apartemen.


"Kenapa nanggis disana?" tanya Dzikra.


Hera terdiam enggan menjawab pertanyaan Dzikra, bahkan sangat tidak ingin bertegur sapa sekalipun.


"Hera jawab pertanyaan aku!" ujar Dzikra gusar.


"Aku tidak ingin bicara denganmu!" ujar Hera menatap Dzikra.


"Ra, aku tidak bermak_" ucapan Dzikra terpotong oleh Hera.


"Sudah tidak ada tempat untuk mempercayaimu lagi!"ujar Hera membuat Dzikra terdiam.


"Kita akhiri pernikahan ini sampai disini saja Dzik! bukankah ini sesuai perkataanmu saat awal kita bertemu! Kita akhiri pernikahan kita, saat kita merasa bosan! Dan aku sekarang bosan hidup dengan pembohong" jelas Hera.


"Raa.."Dzikra menelan salivanya secara kasar.


"Bicaralah Dzik sebelum aku pergi!" ujar Hera dingin dan datar.

__ADS_1


"Jangan pergi! Jangan meminta berpisah!" ucap Dzikra menunduk.


"Sudahlah, kamu punya kesempatan tapi kamu menyia-yiakannya."


"Ra, aku mohon demi anak kita," ujar Dzikra


"Selamatkan saja perusahaanmu dan kedudukanmmu! menikahlah dengan Larisya, dan ceraikan aku!"ujar Hera sambil menahan untuk tidak mengeluarkan air matanya.


Dzikra duduk bersimpuh depan Hera, meraih tangan Hera dan diletakan diatas kepala Dzikra.


"Aku tidak akan pernah menceraikanmu! aku tidak akan pernah menemuinya lagi! aku tidak akan menikahi Larisya! aku hanya mencintaimu Ra!" ucap Dzikra sambil bergetar bibirnya sambil menanggis.


Hera untuk pertama kalinya melihat Dzikra menangis dihadapannya. Bagi Dzikra ini kedua kalinya menanggisi wanita yang sama. Hera segera menarik tangannya dari kepala Dzikra dan meninggalkannya masuk ke kamar.


Cinta macam apa yang kamu berikan padaku Dzikra!! Cinta yang penuh dengan topeng, cinta yang penuh dengan kebohongan!"batin Hera diatas peraduan.


*****


Tangan kekar melingkari perut Hera, saat ia terbangun pagi hari, rupanya Dzikra memeluknya dari belakang begitu erat. Hera segera menyingkirkan tangan suaminya perlahan.


"Jangan pergi, jangan pergi!" ujar Dzikra.


Hera langsung membalikan posisinya menghadap suaminya, ternyata Dzikra mengigau. Hera pun menepuk-nepuk pipi Dzikra.


"Bangun! bangun!"


"Lepaskan Dzik! aku mau mandi!


"Kita mandi bareng!"


"Gak mau!


"Ra, masih marah?" tanyanya pelan.


"Aku tidak bisa melupakan perselingkuhanmu!"


"Ra, aku tidak selingkuh!"


"Mataku berbicara lebih benar dari ucapanmu!"


Hera menyingkirkan tangan kekar Dzikra dan beranjak ke kamar mandi membersihkan diri. Dzikra kini termenung, sulit membuat hubungan itu baik lagi. Kepercayaan Hera sudah dirusak oleh perilakukanya. Hera keluar dari kamar mandi sudah berpakaian.


"Kita chek up ke dokter ya? sekalian di USG ya? " ajak Dzikra melihat perut Hera dibalik daster.


Pura-pura sok perhatian, kemarin kemana aja! batin Hera sambil memutar bola mata dan mendengus.

__ADS_1


Dzikra merasa sakit melihat Hera mengabaikannya. Dzikra pun masuk ke dalam kamar mandi. Sedangkan Hera merapihkan kasur, dan menyediakan baju Dzikra. Lalu pergi ke dapur untuk memasak.


Dzikra melihat Hera masih melayaninya dengan baik, menyiapkan pakaian untuknya merasa tenang. Dzikra pun keluar dari kamar menuju dapur, dan duduk dikursi menyaksikan Hera yang sibuk memasak .


"Aku bantu ya?" tawar Dzikra.


"Tidak usah!


Dzikra hanya bisa menghela nafasnya melihat sikap Hera yang dingin. Hera kemudian membawa hidangan sarapan ke meja makan. Sikapnya tetap melayani suaminya dengan baik.


"Ra maafin aku!"


"Iya,"


"kamu udah maafin aku?"


" Memaafkan itu mudah tapi mengembalikan kepercayaan itu tidak bisa!"


Hera memang gelas kaca kemudian menjatuhkannya, Dzikra kaget bukan kepalang melihat hal tersebut. Tapi wajah Hera masih tenang menatap Dzikra.


"Apa kamu bisa mengembalikan gelas yang pecah itu ke dalam bentuk semula?" ucap Hera


"Tidak akan bisa kan Dzik! meski kamu bisa membentuknya kembali, keadaannya tidak akan seperti semula, akan tetap menampilkan bekas pecahan!" lanjut Hera.


"Begitu pun kepercayaanku Dzik! sama rusaknya dengan pecahan gelas itu! tidak akan mudah mengembalikannya! sekali kamu berbohong akan sulit aku mempercayai lagi semua kata-katamu,"


ucap Hera.


Dzikra hanya tertunduk menatap makanan dihadapannya, sedih tentu hatinya pilu, marah pada diri sendiri itu pasti. Menyesal tentu sudah memenuhi hatinya, tapi sama sekali tidak membantu memperbaiki keadaan. Ini murni dia melakukan kesalahan.


****


Hera pergi chek up ke dokter dan pulangnya pergi ke swalayan berbelanja pakaian bayi, tapi hanya sendirian. Hera pergi ke toko buku sebrang swalayan, membaca beberapa buku disana.


Dzikra yang melihat arlojinya menunjukan jam makan siang segera menancap mobilnya ke apartemen. Sampai disana langsung membuka pintu. Tidak ada bau masakan, tidak ada Hera yang menyambutnya. Debaran jantungnya semakin kuat, Dzikra segera ke kamarnya membuka lemari, terdapat pakaian Hera hanya beberapa helai.


"Ra, Heraaaaaaaaa!" teriak Dzikra mencari ke setiap sudut ruangan.


"Maafkan aku Hera, aku salah! aku memang salah menyakitimu!" teriak Dzikra dalam tangisannya didalam kamar.


Dzikra segera meraih ponselnya menelpon Hera, tapi Hera mengabaikan panggilan dari suaminya. Ia tetap menengelamkan dirinya dalam bacaan dipojok ruang baca.


Biarlah sesekali aku menjauh darimu Dzik! aku belum siap melanjutkan pernikahan denganmu lagi! batin Hera.


Sedangkan Dzikra sedang ketar ketir memikirkan Hera pergi kemana? Berkali-kali telponnya tidak diangkat. Dzikra sudah benar-benar frustasi.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2