Takdir Bersamamu

Takdir Bersamamu
Perjalanan di Bandung


__ADS_3

Kini kelima pemuda pembisnis kopi itu sudah berada rumah milik keponakannya Andri yang berada di Dago, Bandung. Kedatangan mereka disambut baik oleh tuannya, dihidangkan makan malam dirumah tersebut.


Setelah melepas penat, mereka berempat bersenda gurau di ruang tengah. Seorang gadis remaja memakai teng top berjalan menyuguhkan minuman. Tatapannya ke arah Dzikra tidak berkedip, sekalipun yang ditatap sama sekali tidak memperhatikannya, Dzikra sibuk dengan ponselnya mengirimi pesan pada Hera.


"Ey Neng geulis, jangan lihatin aa Dzikra terus, ujar Ganjar sambil ketawa.


"Iya Neng, aa Dzikra sudah ada yang punya, " tambah Adit.


"Sama abang aja neng, masih single," gelak tawa Roki.


"Ah aa ini, bisa aja! " ujar Gadis tersebut tersipu.


"Neng umur berapa sih!" goda Roki.


"Masih 17 a, " jawab gadis itu malu-malu.


"Wuiiih muda, udah punya pacar?" lanjut Roki menatap gadis tersebut. Si gadis menggelengkan kepala.


"Mantap! Sosor terus Ki! " ujar Ganjar bersorak.


"Udah Lo bocah jangan digodain! " ujar Adit.


Andri masuk ke ruangan menatap tajam sama anak gadis itu, tatapan tidak senang.


" Eh Ci, masuk! pake baju yang bener depan temen aa! " tegas Andri melotot ke arah gadis tersebut.


Gadis yang dipanggil 'Ci' langsung bangkit menunduk berjalan keluar dari ruangan tersebut, Dzikra mendengar suara Andri langsung mendongkak. Andri pun berjalan ikut bergabung dengan temannya.


"Sorry, anak keponakan gue agak bangor!"kesal Andri.


" Iya santai aja bro!" ujar Adit.


"Itu bocah kurang didikan gue bete!" keluh Andri.


"Iya sabar bro! " Roki menepuk pundak Andri.


"Eh, gue mau telpon isteri dulu, " ujar Dzikra beranjak pergi keluar.


"Yaelah gak bakal ada yang nyulik isteri Lo bro! " canda Ganjar.


"Gue penasaran bininya secantik apa sampe segitunya, " ujar Roki.


"Yang jelas cantiklah, Dzikra aja tampangannya kebangetan! " ujar Adit.


Sedangkan Dzikra disana sedang bertelponan dengan Hera, karena pesannya sedari tadi tidak dibalasnya. Terdengar Dzikra mengoda Hera dalam telpon tersebut, Dzikra pun menutup telponnya seperti biasa melayangkan kecupan basah.


Dibelakang Dzikra tengah menunggu seorang gadia remaja mendengarkan percakapan Dzikra ditelpon. Saat berbalik Dzikra kaget, sedangkan gadis remaja tersebut melemparkan senyuman.


"Saudaranya Andri ya? " tanya Dzikra ramah pada orang yang sudah memberikan tumpangan.

__ADS_1


"Iya, aa Dzikra, " dengan suara dilembutkan ke arah Dzikra.


"Ya udah saya masuk dulu ya, banyak nyamuk diluar!" ujar Dzikra berjalan hendak masuk.


"Aa dzikra! "seru si gadis.


"Kenapa de?" jawab Dzikra.


"Aa Dzikra, saya suka sama aa!" teriak si gadis.


Dzikra yang hendak masuk ke rumah berbalik memutar badannya, melihat gadis tersebut dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"Kamu terlalu kecil mengenal cinta cintaan de!"jawab Dzikra


"Ih bukan gitu aa, neng beneran suka sama aa!"kesal si gadis


"Aku sudah punya isteri, dan aku gak suka perempuan terbuka pakaiannya kaya kamu de!" ujar Dzikra.


"Ini kan seksi aa, "goda si gadis.


" Nih, de, aku kasih tau. Kalau ada penjual yang menjual buah rambutan satu sudah dibuka kulitnya yang satu masih tertutup. Kira-kira pembeli milih yang mana? " ujar Dzikra.


"Yang ditutup atuh a, soalnya yang kebuka banyak debu nempel." Jawab si gadis.


"Nah, kalau gitu pake baju yang ketutup de, jangan diumbar auratnya! " ujar Dzikra melenggos ke dalam membuat si gadis melonggo tidak paham.


*****


"Dzik Lo tau gak? Kenapa gue pengen bikin cabang di Bandung? " tanya Adit.


"Ya gue gak tau Dit! " jawab Dzikra.


"Oke, gini Lo tau Bandung punya sejarah kuat dengan kopi!"


"Masa preanger stelsel maksud Lo? " ujar Dzikra.


"Hahahah.. Lo pinter sejarah rupanya gak nyangka gue! "puji Adit sambil tertawa.


"Gak juga, gue tau dikit aja! "ujar Dzikra.


"Ok, jawaban Lo udah menjawab pertanyaan gue! Bandung adalah kota yang berhasil menciptakan kopi terbaik di dunia namanya kopi arabika, Kopi paling lezat Dzik! awalnya Jakarta sebagai lokasi penanaman cuma karena langanan banjir, akhirnya pindah ke Bandung" jelas Adit.


"Gile, Lo sampe tau sejarahnya segala! " ujar Dzikra.


"Pecinta kopi sejati harus tau segala hal tentang kopi! " ujar Adit yang dibalas mangut-manggut oleh Dzikra.


"Oke sekarang kita udah sampe! " seru Adit menghentikan mobilnya.


Teman-temannya yang tadi terlelap bangun, segera beranjak keluar, Dzikra juga menatap hamparan tanah yang sudah berpondasi tersebut.

__ADS_1


"Oke sebenarnyan gue juga pengen mengulang kegemilangan Abraham van Riebek yang berhasil nanam kopi di Bandung! " ujar Adit.


"Lah terus kenapa gak Lo nanam kopi disin?" ujar Dzikra.


"Harga tanah mahal Dzik! gue lagi nunggu warisan kebon singon milik bapak gue! " jelas Adit.


Kembali mereka berdiskusi berlima sambil memperhatikan lahan kosong tersebut. Mereka semua larut dalam perbincangan bisnis.


*****


Dzikra tergesa-gesa masuk ke apartemen. Senyumannya merkah saat mendapati isterinya sedang memakan buah di meja makan. Dzikra langsung memeluk pundaknya dan mengecup pucuk rambutnya. Bungkusan besar diletakan diatas meja.


"Yang, aku bawa martabak kamu suka kan?" tatap Dzikra pada isterinya.


"Iya, aku suka!" ujar Hera langsung membuka martabak dan melahapnya


Dzikra memperhatikan Hera yang lahap menyantap martabak yang dibawanya, tidak peduli coklat belepotan disudut bibirnya. Dzikra mengusapnya sambil tersenyum.


"Kamu kok makan gak ada manis-manisnya sih," ujar Dzikra membuat Hera cemberut.


"Biarin," ucap Hera melanjutkan melahap makanan tersebut.


"Aku pengen nyobain, " ujar Dzikra.


"Itu masih banyak, makan aja, " ujar Hera.


"Pengen nyobain yang lagi kamu makan sayang," ucap Dzikra


"Mau? aku muntahin nih! " ujar Hera


"Bukan gitulah, " ujar Dzikra terkekeh.


Dzikra pun menyosor mengecup bibir isterinya yang sedang mengunyah. Hera membulat matanya dan langsung menelan makanannya. Dzikra menarik tengkuk isterinya sehingga mereka pun saling mengecap manis bibir pasangannya. Lalu Dzikra memangku tubuh isterinya yang sudah hamil besar tersebut ke kamar.


Hera dibaringkan diatas kasur tersebut, Dzikra berbaring disampingnya. Dzikra tubuhnya menyamping mengelus perut isterinya. Dzikra berbicara dengan jabang bayi didalam perut.


"Papa lagi mulai bisnis baru nak, bisnis kopi nak! kemarin papa ke Bandung, maafin ya ninggal kamu sama mamah, " Ujar Dzikra tak lupa mengecup perut tersebut.


Hera diam-diam tersenyum dengan sikap Dzikra, perasaan kesalnya sedikit demi sedikit luntur. Bagaimana pun Dzikra manusia yang bisa berbuat salah. Hera pun mengelus kepala suaminya yang sedang melantunkan sholawat ke perutnya.


selesai bersholawat, Dzikra mendongkakkan kepalanya, menatap wajah isterinya, Dzikra mengecup kening isterinya, dan kembali saling mencium bibirnya begitu dalam. Lalu beralih ke leher sang isteri.


"Dzik!" seru Hera


"Hmm, " jawab Dzikra masih dalam aktivitasnya


"Punggung aku berasa panas," ujar Hera


Dzikra menghentikan aktivitasnya tersenyum menatap isterinya, Hera pun tidur menyamping memunggungi suaminya, Dzikra mengelus punggung isterinya sambil bersholawat.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2