
Zidan dan Dzikra sudah berada di ruang pengawas melihat seorang lelaki yang usianya sekitar 50 tahunan tengah berada diruang introgasi. Raut wajahnya tampak tenang, hingga seseorang masuk dengan gontai menghampiri pria tersebut lalu duduk lantas menatapnya tajam.
"Sudah 5 jam dia tidak buka suara," ujar Zidan.
"Kenapa?" tanya Dzikra.
"Dia memiliki rahasia! dia pelaku pencuri ayam!" ujar Zidan.
"Lah terus, ngapain Lo manggil gue kalo buat lihat tukang maling ayam, Lo buang-buang waktu gue," ujar Dzikra kesal.
"Hehehe.. Sorry bro, biar Lo fresh aja!" ujar Zidan sambil cengegesan.
"Tau ah, gue balik ke kantor!" ujar Dzikra hendak pergi tapi ditahan oleh Zidan.
"Tunggu bro! Dia gak sekedar maling tapi dia psikofat juga!"ujar Zidan.
Didalam ruangan seorang detektif dengan tenang berhadapan dengan psikofat tergila. Pria paruh baya itu sama tenangnya berhadapan dengan dekektif tersebut.
"Berapa banyak orang yang kau bunuh?" tanya detektif.
"Aku tidak pernah membunuh," jawab pria tua tersebut.
"Oh iya kau kan hanya tukang maling ayam, ya sudah tidak perlu diintrogasi lagi," ujar detektif.
Detektif sengaja mengintimidasi psikofat tua tersebut, benar saja perkataan detektif itu cukup menaikan emosi psikofat yang dipandang rendah. Dia bangkit dengan mengebrak meja, matanya melotot dan tersenyum menakutkan.
"Hey, aku ini sudah membunuh 40 manusia! bukan tukang maling ayam!"ujar psikofat sambil tersenyum bangga.
"Kau ini bohong! kau hanya tukang maling ayam, sudah jangan ngarang cerita!" ujar Detektif.
"Tidak! Kalian tahu.. aku ini yang sudah membunuh mayat lelaki tanpa sidik jari itu," ujar Psikofat sambil menyerigai.
"Elaah mana mungkin! itu cuma ngarang kamu!" ujar detektif.
"Kau lihat aku meniggalkan jejak disana!" bentak Psikofat mengeraskan rahangnya.
"tidak ada jejak apapun dimayatnya, kau lagi-lagi ngarang nih," ujar detektif tersebut berbohong.
"Pasti ada setiap korbanku selalu ada jejak di lidahnya aku ukir huruf HK."ujar psikofat dengan nafas terengah menahan emosi tapi kemudian tergelak bangga.
"Aku hebat!" lanjutnya
"Wah, luar biasa ceritamu!" ujar Detektif bertepuk tangan belum puas memainkan emosi psikofat.
"Kau sedang mempermainkannku?" bisik psikofat tersenyum miring.
"Kau yang sedang mempermainkanku pak tua!" ujar detektif sambil tersenyum.
"Aku pembunuhnya! aku yang membedahnya, aku menyilet jarinya, itu KARYAKU! bukan hasil wanita lugu!" ucap psikofat sambil tertawa terbahak-bahak.
"Apa buktinya?" tanya Detektif menyenderkan badannya.
"Jadi kau berpikir aku pembunuhnya?" ujar psikofat mulai memainkan detektif.
__ADS_1
"Baik kalu begitu kau dihukum atas pencurian ayam!" ujar detektif dan beranjak pergi.
"Heyyy! wanita yang dimobil itu palsu!" teriak Psikofat.
Detektif terhenti sebentar kemudian dia berjalan keluar, psikofat merasa kesal diabaikan seperti itu, ia memukul meja dengan keras. Sedangkan beberapa polisi masuk dan menjatuhkan hukuman kurungan yang akan dilanjutkan hukuman mati. Psikofat cukup terkejut, ternyata dia dimainkan oleh detektif tersebut.
"Nah, sekarang Lo udah lega kan?" tanya Zidan pada Dzikra.
"Iya, makasih bro!" ujar Dzikra.
*****
Kasus pembunuhan terhadap kakaknya Hera sudah ditutup begitupun tuntutan terhadap Hera oleh Dzikra sudah ditarik lagi. Hera merasa senang mendengar berita ditelevisi. Namun semenjak kejadian tersebut, Dzikra tidak pernah menampakan batang hidungnya dihadapan Hera. Sudah hampir empat bulan Dzikra menghilang bagaikan ditelan bumi. Sedangkan perut Hera semakin lama semakin membesar kandungannya sudah menginjak usia 4 bulan, dan hingga perutnya sudah membuncit Dzikra belum mengetahuinya. Sejujurnya dia sangat merindukan suaminya, Hera selalu mencium baju terakhir Dzikra yang ditinggalkan untuk mengobati rindunya dan memeluk baju itu hingga terlelap.
Hera terbangun karena ingin pipis, tapi matanya membulat ketika melihat sosok yang dirindukan tertidur lelap disampingnya. Hera berjalan pelan menuju kamar mandi takut membangunkan Dzikra. Lalu ia kembali ke atas kasur dan memandangi wajah suaminya yang jambang tipisnya sudah mulai tumbuh. Hera memegang hidung Dzikra.
"Lucu sekali," tawanya pelan.
"Jangan dipegang terus, aku gak bisa napas!" ujar suara serak Dzikra.
Hera terkesiap, segera melepaskan tangannya dari hidung Dzikra. Kini giliran Dzikra merangkul badan Hera, tapi kemudian Dzikra bangun merasa ada yang menghalangi perutnya. Perlahan dia membuka matanya.
"Apa ini?" suara serak Dzikra dan padangannya jatuh ke perut Hera.
"Apalagi kalau bukan hasil perbuatanmu!" ujar Hera kesal karena Dzikra bertanya polos.
"Oh," Dzikra kembali tertidur.
Hera berdecak kesal melihat ekspresi suaminya yang sama sekali tidak terkejut. Ia pun memilih tidur kembali. Tiba pagi hari, Dzikra sudah duduk dimeja makan menyantap sarapannya sambil memainkan ponselnya. Hera menuruni tangga duduk disebelah Dzikra dan ikut menyantap makanannya, ada rasa kecewa Dzikra terlihat mengabaikannya. Dzikra malah asyik tersenyum-senyum dengan ponselnya, Hera benar-benar tidak tahan melihatnya.
Dzikra yang kaget karena Hera berteriak didekatnya, menoleh kemudian pandangannya jatuh ke perut Hera yang terlihat membuncit. Dzikra kemudian mengelus perut Hera dan menciumnya, beralih kembali ke ponselnya. Sesaat Hera hampir senang melihat Dzikra menunjukan perhatiannya, tapi melihat Dzikra biasa saja mengetahui dirinya hamil cukup membuatnya kecewa dan sakit hati. Padahal dirinya sudah membayangkan Dzikra akan kegirangan mendengar kehamilannya. Hera pun menanggis terisak, sehingga membuat Dzikra terhenti dari aktivitasnya.
"Kenapa nanggis?" tanya Dzikra.
"Gak tau!" Ujar Hera datar bangkit dari duduknya meninggalkan Dzikra.
Dzikra pun berlari kecil mengejar Hera yang sedang cemberut. Dzikra kemudian mengendongnya ala bridal style membuat Hera terkejut.
"Bumil marah aja!"goda Dzikra.
"Dzik turunin!" ujar Hera.
"Ah iya berat juga," ucap Dzikra sambil tersenyum.
Hera semakin membulatkan matanya mendengar Dzikra mengatakan dirinya berat. Dzikra pun menurunkkannya, Hera berdecak kesal. Dia membalikan badanya, Dzikra dengan sigap memeluknya dari belakang dan mendaratkan kepalanya di bahu Hera, sambil mengelus perut buncit Hera.
"Sayang, aku sangat merindukanmu," ujar Dzikra sambil mencium pipi Hera.
Wajah Hera sudah merah merona mendapatkan kecupan dari suaminya. Hera pun membalikan badannya menatap wajah suaminya, menangkup wajah suaminya dengan kedua tanganya.
"Aku juga rindu!" ujar Hera yang disambut kecupan dikening oleh Dzikra.
"Sayang mau makan apa?" ujar Dzikra lembut sambil meraih ponselnya.
__ADS_1
"Aku mau seafood, dan memakannya dekat pantai." Hera sambil berbinar matanya.
"Susah sekali permintaanmu sayang," decak Dzikra.
Hera sambil tersenyum mendekatkan wajahnya, ia mengecup kening dan pipi Dzikra.
"Boleh kan bang?" tanya Hera dengan lembut.
"Belum boleh, karena yang ini belum dapat jatahnya!" ujar. Dzikra menujukkan ke arah bibirnya.
Hera menarik bibirnya kesal dengan kejahilan Dzikra.
"Ya udah gak jadi!" ujar Hera.
"Ya udah ayoo berangkat!" ujar Dzikra langsung mengendong Hera ke mobil.
****
Matahari hampir terbenam, angin sepoi-sepoi menerpa wajah dua insan yang menikmati senja dipinggir danau yang menyediakan seafood. Seorang pelayan dengan dress mini dan ketat menghampiri meja Dzikra dan Hera. Pandangan Dzikra tidak berhenti menatap gadis pelayan yang seksi itu. Hera tentu menyadarinya.
"Mau pesan apa?" ujar pelayan itu secara bergantian ke arah Hera dan menatap Dzikra lama.
"Udang saos tiram dua porsi, dan cumi balado, lemon teanya dua!" ujar Hera sedikit kesal.
Suaminya berpandangan dengan gadis pelayan itu, dan pelayan itu juga sama genitnya. Setelah berlalu pelayan tersebut Dzikra masih memperhatikannya.
"Cantik!" ujar Dzikra sambil tersenyum.
"Tundukan pandanganmu Dzikra! kau tidak sadar aku disini!" ujar Hera menekan Dzikra.
Dzikra langsung melipat bibirnya, sadar Hera sudah naik pitam dihadapan sudah status waspada gunung meletus, Dzikra pun tertunduk tersenyum kecil, merasa lucu melihat Hera cemburu.
"Jangan sok ke gantengan!" ujar Hera.
"Aku memang tampan, makanya kau mengirimiku surat!" ujar Dzikra tersenyum cukup membuat Hera terdiam.
Gadis pelayan itu kembali membawa makanan dan menyajikannya tidak lupa menebar pesona pada Dzikra, bahkan berani menyelipkan kertas ke Dzikra. Hera menangkap hal tersebut, sesaat ia mengatur emosinya, gadis itu tersenyum bangga melihat Dzikra membalas senyumannya. Hera cepat memakan seafood bagiannya selagi Dzikra masih asyik bermain mata dengan gadis itu, Hera ingin mencolok matanya dengan kepala udang rasanya. Tanpa disadari bagian Dzikra pun disantapnya oleh Hera.
"Udah ayo pulang!" ujar Hera menyadarkan Dzikra.
Dzikra melonggo makanan dihadapannya sudah habis, Hera langsung bangkit kemudian merebut kertas dari tangan Dzikra yang berisi nomor telpon. Hera langsung berjalan ke arah gadis pelayan tersebut kemudian membayar makanannya, tak lupa kertas yang tadi diberikan ke suaminya tepat dihadapan gadis itu dirobek oleh Hera.
"Jangan ganjen!" ujar Hera dingin.
Hera berjalan sambil mengandeng Dzikra yang sudah terkekeh melihat Hera kebakaran jenggot. Hera menghentikan langkahnnya didepan penjual kelapa muda dan memesan es kelapa satu. Hera membalas dendam pada Dzikra. Ia mengoda penjual es kelapa yang masih muda.
"Aa ganteng es kepalanya satu ya," ujar Hera lembut sambil tersenyum.
Jelas yang dipuji langsung merkah senyumamnya, jadi salah tingkah menghadapi sikap Hera. Sedangkan Dzikra wajahnya sudah ditekuk.
"Eh aa juga manis ya kalo lagi senyum," ujar Hera.
Gelak tawa pemuda tersebut semakin menjadi, Dzikra tidak tahan isterinya bercanda dengan lelaki lain, segera mengambil pesanan dan langsung menarik lengan Hera memasuki mobil.
__ADS_1
lagu diradio diputar oleh Dzikra dan menyetir mobil sambil mendengarkan lagu berjudul 🎼I like you so much you'll know it
BERSAMBUNG...