Takdir Bersamamu

Takdir Bersamamu
Pertemuan dengan Larisya


__ADS_3

Sejak pembicaraan ruang makan itu, Hera sesungguhnya belum benar-benar ikhlas dimadu. Itu hal yang wajar, karena pada kenyataannya 99 % wanita tidak ada yang mau cintanya dibagi. Namun, jika Hera mempertahankan egonya sama saja menghancurkan Dzikra. Hera juga melihat perubahan sikap Dzikra yang mendiamkannya setelah kejadian tersebut.


"Bang, aku mau belanja, sudah lama aku tidak memasak buat kamu bang," ujar Hera sambil mengancingkan kemeja suaminya.


Dzikra hanya terdiam menatap isterinya yang sibuk mengancingkan kemeja dan memakaikan dasi untuknya.


"gimana bang?"


"Tuliskan bahan-bahan yang dibutuhkan!"


"Itu akan merepotkanmu, biar aku belanja sendiri."


"Aku akan belanja diwaktu makan siang!"


Hera tidak mau menentang lagi, Dzikra nampak tidak menerima penolakan lagi dari Hera. Hera menyerahkan secarik kertas. Dzikra segera mengambil tas kerjanya dan berjalan menuju pintu, yang dibuntuti oleh Hera dari belakang menuju pintu keluar. Dzikra melupakan ritual yang biasa dilakukannya. Hera memanggil Dzikra setengah berteriak yang sudah berjalan menuju lift.


"Bang!" Hera berjalan cepat menuju Dzikra.


Dzikra hanya menoleh membalikan badannya, Hera sampai dihadapan Dzikra, segera meraih tangan suaminya serta mencium punggung tangan tersebut. Lalu Hera menatap suaminya menantikan kecupan hangat dikeningnya yang biasa diberikan Dzikra.


Hera mengerutkan dahinya, karena Dzikra justru hendak masuk ke lift, Hera menahannya dan berjinjit hendak mengecup pipi suaminya tapi gagal karena Dzikra menoleh dan mengecup bibirnya sesaat. Hera terkesiap mendapatkannya dipagi hari serta di tempat umum, bahkan disana ada anak Paud yang sedang melihat tindakan orang dewasa tersebut.


Pipi Hera langsung merona malu sekaligus senang, Dzikra akhirnya mengecup keningnya sedikit lebih lama lalu beranjak masuk lift. Sedangkan, Hera masih mematung wajahnya terasa memanas didepan pintu lift. Dzikra didalam lift tersenyum melihat isterinya merah merona pipinya.


****


Dzikra dikantor melihat grafik saham perusahaannya yang bergerak naik dan turun. Sesekali Dzikra menelpon seseorang, meminta laporan kegiatan ekspor dan impor karet dibawakan ke ruangannya. Kakeknya masuk ke ruangannya. Dzikra yang sedang memeriksa laporan bawahannya, terhenti dari aktivitasnya. Kakeknya langsung duduk disofa. Dzikra segera menonggolkan kepalanya ke ruangan sekertarisnya.


"Ris, buatkan dua gelas kopi!" suruh Dzikra pada sekretarisnya.


"Baik pak!" jawab Risma


Dzikra kembali ke dalam ruangan duduk disofa menghadap kakeknya, yang memperhatikan seisi ruangan.


"Ada apa kek?" tanya Dzikra.


"Nanti makan siang dengan Larisya!" ujarnya.


"Dzikra sudah menolak menikah dengan Larisya kek!" ujar Dzikra.


"Temui dia dulu, dia tidak kalah cantik dari Hera!" ujar Kakek.


"Dzikra ada janji sama Hera!" ujar Dzikra.


"Kakek tunggu direstoran Raa Cha!" tungkas kakek.


****


Ting Tong Ting Tong


Hera melihat jam dinding sudah menunjukan makan siang, sepertinya Dzikra yang pulang ke apartemennya. Hera mengembang senyumannya segera membuka pintu apartemen. Namun, raut wajah bahagia itu berubah seketika.


" Maaf ibu Hera?" ujar Risma.


"Iya, anda siapa?"


"Saya Risma, sekertarisnya pak Dzikra, saya membawa titipan belanja bu Hera," ucap Risma.

__ADS_1


"Oh, Risma. Ya sudah masuk dulu." ujar Hera sambil membuka lebar daun pintu.


"Ini disimpan dimana bu?"


"Di meja makan saja," ujar Hera sambil mengambilkan minuman untuk tamunya.


"Pak Dzikranya kemana?" lanjut Hera sambil menyerahkan minuman ke Risma.


"Oh, pak Dzikra ada janji makan siang dengan Larisya," ujar Risma lalu menyeruput minumannya.


Hera raut wajahnya semakin suram, terasa sesak dihatinya, meskipun hanya makan siang bersama. Padahal Hera ingin memasakan untuk Dzikra dan makan siang bersamanya. Risma yang melihat perubahan wajah Hera langsung terdiam.


"Maafkan saya bu, saya tidak bermak_" ujar Risma terpotong oleh Hera


" Gak apa-apa, kamu tau Larisya?" tanya Hera.


" Sedikit bu, Bu Larisya itu anak pengusaha Ikan tawar terbesar. Mereka sekarang memiliki saham terbesar perusahan kita bu!" ujar Risma.


"Oh begitu rupanya," ujar Hera


"Saya baru pertama bertemu bu Hera, sepertinya saya paham kenapa pak Dzikra begitu menyukai bu Hera!" ujar Risma.


"Memangnya kenapa?" Hera sambil tersenyum.


"Bu Hera ramah dan cantik," ujar Risma sambil menyungingkan senyuman yang disambut gelak tawa juga oleh Hera.


"Bu sudah berapa bulan?," lanjut Risma melihat perut Hera.


"Hmm.. Baru menginjak lima bulan Ris, kamu sudah menikah Ris?" ujar Hera.


"Oh, sudah bu, anak saya sudah dua bu!" ujar Risma.


"Ah bu bisa aja." ujar Risma.


"Ris, mumpung kamu disini, saya buatkan makan siang saja, kalau pulang sekarang tidak bakalan keburu," ujar Hera.


"Wah bu saya jadi gak enak, itu merepotkan," ujar Risma.


" Tidak Ris, sekalian kamu temani saya makan siang ya," ujar Hera. Keduanya pun tersenyum.


*****


Di Restoran Raa Cha, nampak Dzikra bersama Larisya duduk berhadapan. Dzikra sibuk dengan ponselnya menghubungi Risma. Larisya memperhatikan wajah Dzikra tanpa berkedip. Makanan dihadapannya belum disantap oleh dua orang tersebut. Dzikra pun menutup telponnya.


"Ayo kita makan!" ujar Dzikra langsung mengambil makanannya.


"Kita disini untuk saling mengenal," ujar Larisya menghentikan Dzikra yang sedang menyuap makanan.


"Saya Dzikra, direktur utama Perusahan Jawadwipa dan memiliki isteri namanya Hera sedang mengandung lima bulan," ujar Dzikra melanjutkan makannya yang terpotong.


"Oh bukankah isterimu sudah meninggal?" ujar Larisya.


"Tidak!" ujar Dzikra.


"Aku tidak masalah menjadi isteri kedua juga!" ujar Larisya.


"Kenapa begitu? kamu masih muda, pekerjaan kamu bagus, wajah kamu juga lumayan, masih banyak lelaki yang tertarik denganmu!" ujar Dzikra.

__ADS_1


"Cinta! saya sudah mencintai anda pak Dzikra waktu kunjungan di Singapura!" ujar Larisya.


"Oh! menikah itu bukan tentang Cinta saja! Jangan menikah karena jatuh cinta!" ujar Dzikra.


"Saya akan membuat pak Dzikra jatuh cinta pada saya, dan kita akan menikah!" ujar Larisya.


Dzikra menghentikan makannya, menghembuskan nafasnya. Dzikra merasa sedikit kesal dengan lawan bicaranya. Dzikra sudah menolaknya secara halus, tapi Larisya bersihkukuh dengan keinginannya.


"Saya dokter gigi, saya sudah 30 tahun. Sangat sulit mencari pasangan diusia segini bagi wanita," ujar Larisya.


"Saya tidak bisa!" ujar Dzikra singkat.


"Saya akan menunggu, beri waktu saya untuk kencan dengan anda sebulan atau dua bulan, setelah itu baru berikan saya jawaban melanjutkan ke jenjang pernikahan atau menolak saya!" ujar Larisya dengan sedikit bulir-bulir air mata.


Dzikra hanya menghembuskan nafasnya, memandang Larisya yang sudah mulai akan meneteskan air matanya.


"Baiklah! saya yang bayar makan siangnya!" ujar Dzikra bangkit meninggalkan restoran.


****


Hera menata makanan yang sudah dimasaknya di meja makan. Semua makanan yang disajikan Hera adalah makanan kesukaan Dzikra setelah menikah dengannya. Hera memasak semur Jengkol, sayur bayam, pecak ikan emas, lalapan daun singkong rebus, kacang panjang rebus dan pucuk daun labu rebus disertai sambel klenger. Suara pintu dibuka, Dzikra masuk ke dalam apartemen disambut senyuman oleh Hera.


Hera menghambur segera mencium punggung tangan suaminya, Dzikra merasa sangat bahagia melihat Hera sudah kembali seperti biasanya. Dzikra pun mengecup kening Hera.


"Abang bau nih belum mandi!" ujar Dzikra sambil cengir.


"Aku suka bau nya!" ujar Hera tertawa.


"Ya udah abang gak usah mandi berarti!" ujar Dzikra cengegesan.


"Mandilah bang, nanti banyak bakterinya! habis ini kita makan!" ujar Hera.


" Tapi abang kelewat lapar sayang, boleh gak makan dulu aja," dengan wajah memelas.


"Ya udah makan dulu!" ujar Hera gak tahan melihat suaminya yang lucu.


Dzikra pun tersenyum mengecup pipi isterinya kemudian ke perut buncit Hera.


"Ayo nak, kita makan bareng ya!" ujar Dzikra.


" Iya papa," ujar Hera menjawabnya," ujar Hera sambil mengelus perutnya disambut tawa Dzikra.


****


Dzikra dan Hera sedang berada diperaduan, Dzikra sedang mengelus perut Hera sambil mengajak ngobrol bayi didalam sana dengan menceritakan kisah nabi Yusuf, Hera senang karena suaminya cukup paham agama juga.


Drrrt Drrt Drrt


Ponsel Dzikra terbunyi, seseorang menelponnya, Dzikra pun mengecup perut Hera, meraih ponselnya yang terpangpang nomor baru, Dzikra mengeryitkan dahinya, kemudian mengeser tombol hijau.


"Hallo pak Dzikra!" ujar penelpon.


"Siapa?" tanya Dzikra


"Larisya pak! bapak sedang apa?" tanya Penelpon.


Hera mendengar hal tersebut langsung cemberut dan segera menarik selimutnya menjauh tidur membelakangi Dzikra. Terasa sesak dadanya, bulir -bulir air mata sudah meluncur.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2