Takdir Bersamamu

Takdir Bersamamu
Malu dan Hukuman


__ADS_3

Dzikra masih mencumbu leher Hera dari belakang, setelah puas sebelah kanan ia berpindah ke sebelah kiri menghisap lehernya dengan kuat dan memberikan gigitan kecil membuat Hera mendesah yang sekaligus mengeluarkan suara di lubang yang lain.


Aaaaaaaahh (Hera Mendesah) ...selanjutnya diikuti suara.. Duuuuuuuuuuuuuuut Duuuuut duuuut...teroet


Dzikra pun terhenti dari aktivitasnya dan melepaskan dekapannya, Hera tahu dirinya kentut saat mendesah hendak berlari ke kamar mandi. Namun, Dzikra lebih gesit membalikan badan Hera, wajahnya penuh tanda tanya.


" Ka..kamuu.. kentut?" tanya Dzikra.


Hera hanya menutup mulutnya, matanya mengkerlip berkali-kali, tidak mau menjawab. Dzikra langsung mundur dan pergi keluar dari kamar. Hera langsung menepuk jidatnya, merasa bodoh dengan yang baru saja terjadi.


ih kenapa harus kentut disaat seperti itu sih. Memalukan sekali, ah Dzikra pasti ilfeel setengah mati.


Hera merasa bersalah sekaligus malu, karena merusak suasana yang baru saja terjadi. Hera langsung mengambil pakaiannya, dan pergi keluar kamar mencari Dzikra, hendak meminta maaf atas kejadian yang tidak di inginkan. Saat menuruni tangga, Hera melihat Dzikra tengah bercengkrama dengan kakeknya. Hera tidak sengaja mendengarkan perbincangan kedua orang yang sedang duduk di ruang televisi.


" Dzik. Kakek tau semua hal yang terjadi sampai saat ini adalah rencana ibu tiri." ujar kakek


" Kenapa kakek bicara begitu?"


" Sebelum kau berangkat, malam itu kakek melihat orang yang sedang menghias mobil tapi dia membuka mesin mobil. Kakek kira dia sedang mengecek mesin. Setelah itu kakek melihat wanita itu memberikan pesangon ke orang yang mengotak atil mobil. Wanita itu tahu kakek melihatnya tapi wajahnya sangat tenang membuat kakek tidak curiga sama sekali. Tapi saat kau dirumah sakit wanita itu sibuk mengangkat telpon dan dia bilang 'kamu berhasil, aku akan transfer setengahnya, Kakek juga melihat ekspresinya tidak menunjukan sedih saat ayahmu meninggal." Terang kakek.


"Kalau sampe terbukti ibu terlibat pembunuhan berencana ini. Aku tidak akan tinggal diam! " tangannya mengepal emosinya naik.


" Kau harus tenang, jangan tunjukan emosimu. Emosi adalah salah satu kelemahan seseorang, yang membuatnya tidak dapat memenangkan permainan orang-orang licik." Ujar kakek menasehi cucunya.


" Hey, kamu yang menguping disana turunlah." Ucap Kakek yang mengetahui keberadaan Hera.


Hera melangkah menuruni tangga, menahan malu ketahuan lagi nguping pembicaraan kakek dan cucu itu.


" Maaf kek, Rara mengupingnya, tapi tenang kakek Rara akan menjaga rahasianya, ucap Hera.


Kakek hanya mengangguk-angguk, sedangkan Dzikra menatapnya dengan tajam penuh ketidak sukaan.


"Seberapa banyak kau mendengar pembicaraan kami?" tanya kakek


"Hmm.. gak banyak kok kek", jawab Hera sambil mengelengakn kepalanya.


" Berapa kalimat yang kau dengar?" tanya kakek kembali.


Hera merasa kebingungan, mana sempat dia menghitung setiap kalimat yang didengarnya.


" Aku tidak ingat kakek, "jawab Hera.


" Dzikra berikan dia bawang putih mentah sebanyak-banyaknya sampai dia tidak ingat." Ucap kakek.

__ADS_1


Dzikra yang mendengarnya langsung bangkit,


" Baik kek."


Hera yang mendengar bawng putih, dia disuruh makan bawang putih, langsung kebingungan, Hera mencoba mencari jawab.


" Tunggu ! sepertinya aku mendengar 3 kalimat saja." Sela Hera memastikan agar mengurangi hukumannya


" Oh tiga kalimat. Berapa kata dalam satu kalimatnya?" tanya Kakek menelusuri .


Hera dibuat semakin bingung. Hera harus mengarangnya lagi. Ia berusaha mengingatnya. Tapi tidak berhasil, Hera pun menyerah.


" Maafkan saya kek." Hera tertunduk lemas.


" Baiklah, Dzik bawa isterimu ke dapur, berikan bawang putih 5 Siung, " suruh Kakek.


Dzikra pun menuruti permintaan kakeknya, memberikan kode dengan gerakan kepala menyuruh Hera mengikutinya ke Dapur. Hera hanya bisa pasrah mendapatkan hukuman dari kakek. Setelah sampai di dapur, Hera duduk di kursi. Dzikra membuka kulkas dan mengambil bawang putih 5 sihung yang sudah dikupas, disimpan dimangkuk kaca kecil dan diletakan didepan Hera. Sedangkan dirinya memanaskan air dispenser. Hera masih diam saja memandangi bawang putih itu, dia bingung akan apa yang hendak diperbuat dengan bawang putih itu. Air dispenser sudah mendidik Dzikra menyeduh kopi dicampur krimer kemudian duduk di kursi yang tidak jauh dari Hera.


" Kakek, menyuruhmu memakan bawang putih." Ucap Dzikra sambil memegang cangkir kopi.


" Hah! Aku tidak suka bawang putih. Apa harus sampai seperti ini? aku jujur tidak disengaja! " Hera masih membatahnya.


" Ini hukuman yang sering diberikan oleh kakek ke anak kecil yang suka berbohong, suka mengunjing, suka nguping pembicaraan orang, makanlah! bawang tidak akan membuatmu keracunan." Jelas Dzikra.


" Kalau kau tidak mau memakannya, kakek akan marah besar, mungkin hukumannya akan berubah!" Ucap Dzikra seraya menyeruput kopinya.


Hera melihatnya Dzikra tampak keren.


" Maafkan aku soal tadi di kamar. Itu diluar kendaliku."


Hera sambil melirik Dzikra yang kemudian di balas oleh tatapan Dzikra. Seperti itu saja sudah membuat Hera malu dan memilih mengalihkan padangannya ke mangkuk kecil, kemudian mengambil ssmua bawang putih itu sekaligus dan melahapnya sehingga tersedak. Dzikra yang melihatnya langsung berjalan kearahnya dan memukul ringan punggungnya membantu Hera mengeluarkan bawang putih yang menyendak tenggorokannya.


" Pelan-pelan, " ujar Dzikra datar.


Kalimat Dzikra membuat hatinya Hera meleleh mendengarnya. Tanpa disadari senyuman terulas di bibirnya, Hera pun memakan bawang putih itu perlahan-lahan dengan tenang dan menghabiskannya. Dzikra yang meihatnya terlihat puas.


" Dalam menghadapi situasi sulit, jangan bertindak buru-buru", ucap Dzikra.


Dzikra menyodorkan cangkir kopi yang dipegangnya ke Hera.


" Minumlah, biar mulutmu netral, " lanjut Dzikra.


Hera mendapatkan perlakuan seperti itu saja langsung, lumer dah hatinya, segera meraih cangkir kopi yang diminum Dzikra, kemudian mencari bekas bibir Dzikra di cangkir dan meminumnya tepat dibekas itu. Dzikra yang memperhatikannya merasa lucu melihat Hera. Dzikra didalam hatinya berbicara.

__ADS_1


Jika harus bertemu lagi dimasa depan, bertemulah lebih awal denganku, maka aku bisa memberikan cinta yang banyak kepadamu.


" Apa itu artinya kau sedang berciuman denganku secara tidak langsung?" tanya Dzikra.


Hera hanya melongo mendengar itu, matanya hanya berkedip- kedip, dia juga bingung kenapa melakukannya.


"Mungkin aku tadi meludah di cangkir itu sebelum kopinya kau minum, " ucap Dzikra sambil bangkit dari kursinya dan kedua tanganya dimasukan ke saku celana berjalan meninggalkan Hera yang masih melonggo.


Hera yang menyadari ucapan Dzikra, terlanjur sudah menghabiskan air kopinya. Langsung bangkit,berlari menuju kulkas mencari air putih.


Hera berkumur-Kumur berkali-kali dan memuntahkannya di washtaffel.


" Percuma saja aku melakukannya. Air ludahnya sudah masuk ke lambungku. Kenapa sih di depan dia rasanya hilang otakku? Jahil sekali dia, apa dia balas dendam? Huh! dasar kekanak-kanakan!" gerutu Hera.


"Siapa yang kekanak-kanakan?" Suara itu muncul memasuki dapur.


Farid dengan gontai menghampiri Hera, kemudian membuka kulkasnya dan mengambil makanan ringan. Hera hanya melemparkan senyuman kepada Farid, yang dibalas pula dengan senyuman. Farid nampak terpukau dengan Hera yang terlihat sangat angun dan semakin hari melihatnya membuatnya ingin memeluknya, menciumnya dan mengajaknya tidur. Farid terus memandangi Hera. Namun tiba-tiba Dzikra datang memasuki dapur, aura awan gelap mengembang di wajahnya, dia berjalan menghampiri kedua orang itu. Dzikra merasa miliknya akan direbut segera merangkul pinggang Hera, kemudian mencium pipinya. Hera terkejut dan menoleh ke arah Dzikra, dan semakin mengejutkan Dzikra mendaratkan bibirnya diatas bibir Hera yang kemudian ******* bibir atas dan bawah Hera secara bergantian. Farid yang melihat pemandangan itu merasa iri, langsung meninggalkan dapur. Dalam hati Dzikra berkata:


Inikan yang lo bayangin saat melihat isteri gue. Tapi sorry, dia punya gue, dan lo gak gue biarin merebut lagi hak milik gue.


Hera yang merasakan sensasi itu, menikmati sentuhan Dzikra yang belum menghentikan akitivitasnya. Hera tangannya bergerak memegang ujung baju Dzikra, karena suaminya ini nampak belum mau mengakhirinya.


" ohok- ohok HEM ..HEM " suara seseorang berdehem memasuki dapur.


Dzikra berhenti, wajahnya tidak kaget masih tenang, kemudian mengelus kepala Hera.


" Dasar nakal,, jangan minta di dapur lain kali, " ujar Dzikra.


Seraya berkata demikian Dzikra melemparkan senyuman nakal kepada Hera dan berjalan dengan santai keluar dapur. Sedangkan Hera merasa bingung dan hatinya mengerutu berkata:


Dia bilang aku memintanya? Wah nih anak hilang otaknya. Kenapa seolah-olah dia jadi korban.


"Tentu saja, pasti kau yang mengodanya. Lelaki memang sama saja tidak akan tahan godaan," ejek Rahel.


" Iya, betul sekali, aku sepertinya pandai mengoda lelaki," timpal Hera tidak mau kalah dengan Rahel.


*****


Di lantai atas Dzikra sedang memukul dinding berkali-kali.


BRUK ..BRUK


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2