Takdir Bersamamu

Takdir Bersamamu
Bisnis baru Dzikra


__ADS_3

Dzikra nampak terus berbicara dengan temannya di telpon pagi itu. Sedangkan Hera sibuk dengan urusan rumahnya seperti mencuci piring dan menyapu lantai.


" Iya gue kesana sekarang!" tutup Dzikra ditelpon sambil berjalan mendekat ke Hera.


"Gimana? " tanya Hera.


" Hmm.. sudah dapat partnernya, doakan ya!" ujar Dzikra yang dibalas anggukan oleh Hera.


" Oh, mm.. Nanti siang pengirim barang bakal kemari mengirimkan barang kantor," tambah Dzikra.


"Iya, " jawab Hera fokus menyedot debu mengunakan alat penghisap.


"Oh, aku harus pergi sekarang buat diskusi bisnis baru, " ujar Dzikra.


"Iya, hati-hati dijalan, " ujar Hera.


Dzikra pun melangkah mengambil jaket dan kunci mobil di lemarinya dan berjalan ke pintu hendak membuka knop tapi diurungkan berbalik menghadap Hera.


"Aku melewatkan sesuatu! " seru Dzikra.


"Apa? " Hera sambil mendongkak.


"Ritual pagi! " Dzikra sambil menyodorkan tangannya.


Hera pun langsung mencium punggung tangan suaminya, Dzikra tersenyum dan mencium kening isterinya lama. Lalu melepaskannya tapi tidak beranjak pergi.


"Kenapa? bukannya sudah ditungguin? " tanya Hera menatap heran.


"Mm... beri aku semangat! " ujar Dzikra sambil menyimpan tangannya dikedua sakunya.


"Semangat, " ujar Hera malas.


"Bukan begitu, " telak Dzikra kesal.


"Harus gimana? Semangat ya! begitu? " dengan senyuman dipaksakan oleh Hera.


Dzikra mengelengkan kepalanya, menunjukan jarinya ke pipinya. Hera pun menghelakan nafasnya, sedangkan Dzikra sudah sedikit membungkuk badannya mensejajarkan dengan badan isterinya. Hera tidak perlu berjinjit, ia pun mencium pipi suaminya sekilas. Tapi Dzikra langsung menyodorkan pipi sebelahnya lagi, Hera menciumnya sekilas, kini tangannya menunjuk ke keningnya, Hera sudah dibuat kesal akhirnya mengecup keningnya. Dzikra masih menunjuk ke bibirnya.


"Dzikra! kamu mau kerja! " tegas Hera.


"Setidaknya berikan disini dulu, baru aku akan semangat kerjanya " ujar Dzikra sambil menunjuk bibirnya.


Hera pun berdecih dan mengecup sekilas bibir suaminya.


"Yang ikhlas dong, biar dapet pahala, biar dosanya berguguran, "goda Dzikra sambil tersenyum


Hera menghela nafasnya kesal, tapi tetap menuruti suaminya, ia segera mengecup bibir suaminya, namun saat hendak menjauhkan wajahnya, Dzikra menahan tengkuknya. Dzikra memperdalam kecupan tersebut. Sampai Hera hampir kehabisan nafas karena ulahnya.


"Makasih ya, " sambil mengelap bibir basah isterinya dengan tangannya.

__ADS_1


"Kamu terlalu mengoda saat ini, kita lanjutkan nanti malam" goda Dzikra sambil terkekeh melangkah keluar apartemen.


Hera menepuk-nepuk dadanya menormalkan detak jantungnya kembali. Meski bukan pertama kalinya, tapi mendapatkan serangan tiba-tiba tetap membuat jantung berdebar tak karuan.


*****


Kini disebuah cafe tengah duduk 5 orang sambil berbincang-bincang serius.


"Oke bro, ini Dzikra! Nah bro ini Dzikra mantan direktur utama," ujar Adit mengenalkan Dzikra pada teman-temannya.


"Oke gue Dzikra" ujar Dzikra menyodorkan tangannya yang disambut salah satu dari mereka saling bergantian.


"Gue Andri," ujar rambut klimis kulit putih


"Gue Roki, " ujar yang berpakaian sedikit urakan.


"Gue Ganjar," ujar berambut panjang bergelombang diiket ke belakang.


"Oke, Dzik sesuai yang udah gue bilang di telpon, Lo baru gabung bisnis gue yang udah jalan setahun. Gue belum bisa ngasih jabatan apapun ke Lo. Saat ini Lo paling bisa kontribusi nanam saham dibisnis gue! gimana? " ujar Adit.


"Oke, gue gak ada masalah!"ujar Dzikra.


"Tapi Lo jangan berkecil hati, gue mau buka cabang baru bisnis kopi ini di Bandung, gue pengen Lo yang megang untuk cabang Bandung! cuman sekarang lagi tahap pembangunan tokonya, kemarin kendala sama dana, jadi belum beres tokonya dibangun!" Jelas Adit.


"Oke, kira-kira beres kapan yang di Bandung! " tanya Dzikra.


"Kayaknya dua bulanan udah bisa digunakan, gue baru bikin pondasinya!" cengir Adit.


"Huh! Lo ini maruk! oke gue gak masalah! " ujar Adit tersenyum membuka berkasnya.


Dzikra menandatangi berkas diatas materai disaksikan oleh keempat orang tersebut. Sebagai bukti kuat dipotret. Semuanya tampak cair setelah itu, mereka mulai menikmati hidangan yang sudah di pesan di cafe tersebut.


"Oke Dzik, gue denger Lo udah nikah? " tanya Adit.


"Serius cowo semuda Lo udah nikah, tampang Lo kayak pejaka! " ujar Roki sambil memamerkan giginya.


"Iya gue udah nikah malahan bentar lagi jadi bapak! " ujar Dzikra tersenyum bangga.


"Gila, hebat Lo, jago bikin cewe bunting!" ujar Ganjar tertawa diikuti gelak tawa yang hadir disana.


"Lah, emang kalian belum pada nikah?" tanya Dzikra menatap semua orang yang disana.


"Gue dulu hampir nikah, eh ternyata cewek gue malah duluan nikah sama selingkuhannya, " ujar Ganjar sambil tertawa.


"Sabar bro, Lo kayaknya belum pantas jadi bapak!" ejek Adit.


"Lo gimana Andri, dari tadi diem aja! " tanya Dzikra.


"Gue udah cerai sama bini gue! " ujar Andri datar.

__ADS_1


"Ow Sorry," ujar Dzikra.


"Gak apa-apa bro, udaah lama juga, " jawab Andri sambil tersenyum.


"Nah kalo gue, lo tau sendiri belum pengen nikah! Gue malas terikat suatu hubungan! " ujar Adit sambil minum.


"Iya bro nikah itu ribet, cewe itu ribet! " ujar Roki.


Kalian belum tahu, nikah tidak sesulit yang dibayangkan kalian, nikah justru membuat kita semakin dewasa. Batin Dzikra.


"Ya gak Dzik? " tanya Roki.


"Gak juga, justru gue yang ngeribetin isteri gue! " canda Dzikra memamerkan giginya.


"Bisa aje Lo! " ujar Ganjar.


"Oh ya, hari ini Lo lihat toko dulu, terus kita ke Bandung, gue mau kenali Lo beberapa hal!" ujar Adit ke Dzikra.


"Oke gue ijin dulu sama isteri, " ujar Dzikra.


"Yaelah Lo ternyata suami takut isteri! " ucap Ganjar sambil diiringi gelak tawa yang lain.


"Hehe... Gue khawatir soalnya isteri gue lagi hamil gede kalo ditinggal jauh, " ujar Dzikra.


"Oke siap Papah Dzikra!" ujar Adit sambil mengangkat satu tangannya menghormat, membuat tertawa kelima orang tersebut.


"Kita bermalam di Bandung Dzik, dirumah ponakan gue! palingan baru besok sore kita balik ke Jakarta!" ujar Andri setelah hening, Dzikra mangut-mangut mendengar penjelasan dari Andri


****


Dzikra dengan keempat lelaki itu sudah berada di mobil menuju ke Bandung, Dzikra segera meronggoh ponselnya untuk mengabari Hera. Nada sambung sudah berubah dengan sapaan lembut suara isterinya.


"Assalamualaikum, " ujar Hera diujung telpon.


"Waalaikumusalam yang, lagi apa?" tanya Dzikra.


"Lagi istirahat, nonton tv. Kenapa? " ucap Hera.


"Yang, aku gak bisa pulang malam ini, aku ke Bandung dulu besok sore baru balik ke Jakarta lagi, gak apa-apa kan sendirian? " ujar Dzikra tidak ada jawaban dari Hera.


"Yang,!" tanya Dzikra.


"Yang, maafin ya ninggalin kamu sendirian," ujar Dzikra merasa bersalah.


"Gak apa-apa, hati-hati dijalannya!" ucap Hera.


"Oke yang, jaga diri kamu ya, kecup basah dari jauh mmuuuuuah," ujar Dzikra membuat orang yang duduk disampingnya ingin muntah dan menahan ketawa.


Hera tidak menjawabnya, jauh dari lubuk hatinya dia merasa gemas dengan Dzikra yang seperti Abg jatuh cinta.

__ADS_1


****


BERSAMBUNG....


__ADS_2