Takdir Bersamamu

Takdir Bersamamu
Pertengkaran part 2


__ADS_3

Pukul 20.00, dikantor tempat Hera bekerja, ia sudah berjalan keluar kantor menunggu ojek online yang dipesannya. Kemdian tidak butuh waktu lama Hera sudah berada diperjalanan pulang. Saat tiba dirumah, semua seperti keadaan semula meski dihuni oleh 2 keluarga tapi rumah ini masih tetap sepi. Hera memasuk ruang depan, di ruang televisi ibu mertuanya sedang menonton sinetron. Hera kemudian berjalan ke dapur, menyimpan tasnya di kursi, perutnya terasa sangat lapar ia menghangatkan masakan siap saji. Ia menyantap makan malam sangat lahap, setelah dirasa kenyang, Hera mengambil tasnye kemudian menaiki anak tangga masuk ke kamarnya, aroma parfum lelaki tercium kuat dikamar itu, Dzikra sedang bertolak pinggang menatap tajam kepadanya. Hera cukup terkejut melihat keberadaan Dzikra, ia pun menyimpan tasnya di gantungan.


" Kamu sudah pulang? bukannya perjalanan bisnisnya seminggu?" tanya Hera bersikap biasa saja.


Dzikra berjalan ke arahnya dan menekan serta mendorongnya hingga Hera pun terbentur punggungnya ke pintu, ia sedikit meringgis. Dzikra mengurungnya sehingga jarak mereka cukup dekat. Kedua tangannya menempel di keuda sisi kepala Hera.


" Apa peduli kamu menanyakan hal seperti itu, bukannya tidak penting aku pulang kapanpun? Supaya kamu bisa enak-enakan disini kan?" ucap Dzikra kejam.


" Apa maksudmu?"


" Jangan pura-pura lugu, kamu memang benar-benar *******, kamu sudah menikah tapi masih keluyuran sama laki-laki. Dikasih berapa bayaran oleh lelaki itu? Sudah berapa kali tidur dengannya?" kata Dzikra penuh amarah.


" Kenapa kamu menuduhku seperti itu? Bukanya kamu yang enak-enakan disana? kenapa kamu jadi membalikan faktanya kepadaku?" ucap Hera tidak terima.


" Oke, apa ada bukti aku melakukan hal itu?" tantang Dzikra.


" Kamu pun, memangnya ada bukti aku melakukannya," Hera balik menantang juga


" tentu saja, bahkan aku punya saksinya," ucap Dzikra.


Dzikra meraih ponselnya kemudian menunjukan potret Hera dan Rangga di pekarangan rumah kemarin malam. Hera menghela nafasnya.


" Sekarang kamu gak bisa berkilah kan?" Dzikra tersenyum sinis.


" Dia hanya teman, tidak ada hubungan apapun dengannya." tutur Hera dengan tenang.

__ADS_1


"Kalau tidak ada apa-apa, kenapa kau membawa pakaian pria itu ke kamar ini!" teriak Dzikra diwajah Hera, sambil tangannya mengepal dan di pukulkan ke pintu.


Hera hanya memejamkan mata melihat Dzikra emosinya meledak-ledak, sedangkan Dzikra kecewa karena Hera bukannya minta maaf dan merajuk padanya tapi dia malah masih santai menanggapinya. Luka ditangannya kemarin kembali mengucurkan darah segar.


" Kamu salah paham, kita bicarakan setelah kepalamu dingin," ucap Hera sambil menatap mata Dzikra yang sendu, hatinya merasakan ada luka dihati Dzikra.


Dzikra pun melepaskan cengkaramannya kemudian menjambak rambutnya. Sedangkan Hera memilih pergi ke kamar mandi menjernihkan pikiran dan hatinya yang panas, karena dia difitnah. Dinyalakan shower dan diguyurnya seluruh badan dan kepalanya, di sudut matanya melihat jaket Rangga berada di toilet. Hera langsung segera menyelesaikan mandinya dan mencuci jaket tersebut. Hera keluar dari kamar Mandi dengan handuk terlilit ditubuhnya, rambut basah sedang dikeringkan olehnya sambil berjalan menuju lemari pakaian, rupanya Dzikra masuk ke dalam kamar dan melihat pemandangan tersebut ia melonggo, gejola nafsunya muncul tangannya mengenggam kuat menahan hasratnya. Dzikra dengan gugup membalik badan tapi daun pintu yang belum sempat di tutupnya membuatnya kejedot, darah segar mengucur didahinya. Tapi rasa malunya lebih besar dibandingkan rasa sakit itu, Dzikra kemudian menendang daun pintu dengan keras, lalu berjalan menuruni tangga. Hera menyaksikan kejadian itu menyungingkan senyuman menahan tawanya.


Setelah kepergian Dzikra ia memakai piyamanya dan mengeringkan rambut dengan headrayer. Mengingat kejadian tadi, Hera segera mengambil p3k dan berjalan menuruni tangga. Dzikra tidak di ruang tengah, hanya ada satu pintu yang sedikit terbuka. Bayangan Dzikra terlihat terlentang diatas kasur, pelan-pelan Hera mendekati pintu dan mengintipnya, Dzikra sudah tertidur pulas. Hera pun masuk dan duduk disamping Dzikra kemudian menyibakan rambut yang menghalangi dahi suaminya. Luka itu bekum dibersihkan. Hera membuka p3k kemudian menuangkan alkohol ke kapas, perlahan-lahan diucapkan ke luka tersebut. Dzikra mengetahui Hera sedang mengobatinya memilih pura-pura tidur, tapi alkohol yang mengenai lukanya membuat perih serasa luka yang disayat-sayat, sehingga Dzikra hanya bisa mengencangkan ototnya dengan meremas seprai. Hera begitu serius mengobati lukanya dan kemudian menutupnya dengan handsaplas. Setelah itu ia pandangi wajah tampan suaminya kemudian dia mengecup dibagian luka tersebut. Perlakuan itu hampir membangunkan Dzikra. Jantungnya mula memompa tidak stabil, dirapihkan selimut Dzikra kemudian keluar dari kamar. Dzikra yang sudah menahan nafas itu langsung membuka matanya.


Kenapa dengannya, dia memperlakukan aku dengan manis. Kenapa gue diem aja, menerima perlakuannya.


Sedangkan Hera kembali ke kamarnya dan tidur. Menjelang pagi sekitar pukul 3, Dzikra kembali ke kamar agar tidak ada kecurigaan orang rumah. Ia melihat Hera tengah meringkuk di kasur ditutupi selimut. Dzikra tidur disampingnya saat menoleh ke arah Hera, isterinya tersebut membalikan badan sehingg wajah mereka berhadapan. Dzikra yang tergoda dengan bibir merah Hera kemudian mengecupnya cukup lama. Dia melihat wanita itu dia tidak bergeming. Dzikra mengulanginya lagi dia mencium bibir Hera sangat lama dan mendalam. Membuat tubuhnya menjadi panas.


Hera yang sedang tertidur merasa itu mimpi, ketika dia bangun bibirnya basah, dia berpikir mungkin dia ngiler. Dia menyusutnya dan beranjak ke kamar mandi.


Di ruangan meja makan, semua anggota keluarga sudah berkumpul untuk sarapan. Para menantunya sudah menyiapakan menu sarapan sangat banyak karena kakek dan Alfarid sudah pulang semalam. Suasana sarapan itu sangat hidmat, tidak ada yang berani berkata.


" Bagaimana kondisi kandunganmu, Hel?" tanya kakek.


" Baik Kek, hanya sesekali harus chek up, ya kan sayang?" melirik ke suaminya yang berada disampingnya.


" Baguslah, sekalian juga kamu Hera ikut dengan Rahel, buat tes kehamilan." ucap kakek melirik ke Hera.


Hera tersedak mendengar ucapan kakek, sebelum menjawab pertanyaan kakek, Hera minum terlebih dahulu.

__ADS_1


" Iya kek, nanti kalau jadwal lagi kosong Rara akan mengantar Rahel sekalian cek juga." ujar Hera.


"Kek, aku mau bertanya, kalau wanita yang sudah menikah di keluarga ini terus ketahuan selingkuh apa hukumannya?" tanya Rahel sengaja memancing Hera.


Semua yang mendengar menjadi tersedak mendengar ucapan tersebut, terutama ibu mertua.


" Mana mungkin dikeluarga ini ada yang melakukan hal seperti itu," ucap ibu mertua berusaha tenang.


" Bukankah hal seperti itu mungkin saja terjadi ya kan Ra? " Ucap Rahel memancing Hera.


Dzikra sudah mengepalkan tangannya, dia merasa kesal karena masalah itu diangkat dipembicaraan pagi hari. Ia pun mengebrak meja dengan keras, hingga membuat yang hadir kaget.


Braaaak!


" Tutup mulutmu Rahel, tidak pantas menjadikan itu sebagai topik pagi," ujar ibu mertua dengan emosi.


" Sudah, Sudah! kenapa jadi berantem seperti ini. Jika memang ada masalah itu, selesaikan secara internal dulu, dan jangan menyebarkan rumor." Ucap kakek dengan tegas.


Semuanya kembali fokus menyantap sarapan pagi. Rahel yang sedang kesal karena semua orang nampak menyalahkannya ia meminum susu dan kemudian menyemburkannya ke wajah Hera yang ada di depan. Hera terdiam mendapatkan semburan dari Rahel, kemudian melihat ke kakek, berniat untuk pamit mengakhiri sarapan pagi.


"Ra, kau harus membalasnya," ucap kakek.


Hera membelalakan matanya, kemudian dia menuruti perintah kakek, dia ambil gelasnya dan di masukan ke mulutnya kemudian di semburkan ke wajah Rahel. Semua yang melihat kejadian ini langsung saling menatap. Dan meledaklah ketawa kakek melihat kelakuan menantunya.


" Terkadang untuk mendinginkan suasana butuh tindakan konyol dan berani." ucap kakek.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2