
Jam tangannya sudah menunjukan pukul 9.00 malam, Hera sudah bolak balik keluar masuk rumahnya hanya untuk menanyakan pada bodyguardnya mengenai kepulangan Dzikra ke villanya. Dia sudah menunggu dua jam, biasanya Dzikra sudah sampai di Villanya pukul 8.00 malam, tapi hari ini tidak ada tanda-tanda akan datang, Hera sudah menunggunya sambil beberapa kali menguap. Hera pun memutuskan menunggunya di ruang tamu sambil selonjoran.
Hera terbangun, dia tidak ingat diri sudah tertidur saat menunggu Dzikra. Bahkan dirinya sudah berada diatas peraduannya, semuanya terjawab ketika melihat suaminya tengah tertidur disampingnya. Dzikra orang yang memegang perkataannya, rasa marah pada Dzikra sirna sudah melihat wajah tampan itu terlelap.
"Entah kenapa aku sangat mencintaimu akhir-akhir ini, bahkan aku merasa takut kehilangan kamu," ujar Hera pelan sambil membaringkan badannya menghadap suaminya.
"Aku selalu rindu sama kamu," ujar Hera sambil tersenyum.
Hera pun membelai wajah suaminya yang sedang tenang dalam tidurnya, lalu melayangkan kecupan dikening Dzikra.
"Terima kasih sudah menjadi suamiku, terima kasih sudah mencintaiku sangat banyak,"
Dzikra tidak bergeming karena lelah membuatnya terlelap tidak menyadari apapun, Hera menyelimuti suaminya dan mengelus lengan suaminya. Sekarang Hera beranjak bangkit ke kamar mandi, maklum semakin besar usia kehamilannya semakin sering ia bolak balik ke kamar mandi. Hera lalu memutuskan untuk sembahyang dipersetiga malam.
Menjelang Subuh rupanya Hera ketiduran selepas beres sembahyang, Dzikra membangunkan Hera yang tengah terlelap di sejadahnya. Sebuah kecupan mendarat dikeningnya, Hera mengerjapkan matanya melihat Dzikra sudah dihadapannya.
"Kamu kok tidur disini? Marah sama abang?" tanya Dzikra menatap lembut sambil tangannya menmangku wajah isterinya.
Hera seperti gadis remaja yang sedang jatuh cinta, pipinya memerah mendapatkan perlakuan lembut Dzikra. Senyumannya tidak dapat tertahan lagi menampilkan barisan giginya. Dzikra merasa gemas melihatnya, ia mengecup pipi Hera yang masih memerah karena tersipu malu. Hera semakin terlonjak.
"Bang," ucapnya pelan sambil tersipu.
"Mandi dulu sayang," ujar Dzikra.
"Pengen digendong,"ucap Hera membuat Dzikra tergelak.
"Sudah besar, masih pengen digendong," ucap Dzikra sambil tetap mengendong Hera.
"Biarin," ujar Hera sambil mengalungkan tangannya dileher suaminya.
"Ya udah kita mandi bareng aja!" ujar Dzikra sambil menurunkan Hera didalam kamar mandi.
"Tapi kan abang udah mandi!" ujar Hera.
"Biarinlah, gak dosa juga sering mandi!" ujar Dzikra tersenyum pada Hera.
Hera tidak menolak ajakan suaminya, Dzikra membantu Hera membuka pakaian, semburat merah terus memenuhi pipinya, melihat Dzikra yang telaten membantu Hera pakaiannya. Meski bukan kali pertama mandi bersama tapi tetap sensasinya selalu mendebarkan bagi Hera.
Pasangan suami isteri itu kini sudah selesai mandi, Dzikra sudah mengenakan kaos polos dengan celana jeans. Hera terpesona memandang suaminya yang sedang merapihkan rambutnya.
"Hati-hati matanya copot sayang terus menatapku, apa belum puas melihatku dikamar mandi," ujar Dzikra tersenyum memergoki isterinya.
Hera gelagapan kepergok memandangi suaminya tak berkedip, Dzikra melangkah mendekat ke isterinya yang berdiri disamping ranjang. Dzikra tersenyum dan mengecup kedua kelopak mata isterinya bergantian. Kemudian mengelus pipi yang sudah merona.
"Kalo seperti ini terus, aku gak tahan sayang," goda Dzikra.
"Kita harus berangkat ke Jakarta hari ini!" ujar Hera mengalihkan suasana.
__ADS_1
" hmm benar!" ujar Dzikra.
"Aku sudah mengemas pakaian dikoper, aku juga ingin segera bertemu sama ayah dan ibu," ujar Hera berbinar.
Dzikra terdiam mendengar perkataan Hera. Isterinya kemudian mengambil barang-barang dengan semangat, Dzikra segera membawanya dimasukan ke mobil. Lalu Dzikra dan Hera berpamitan kepada Art dan Bodyguardnya.
*****
Dzikra membawa Hera ke apartemen yang dekat dengan kantornya, apartemennya berada dilantai 5. Beres-beres diapartemen baru cukup menyita banyak waktu. Ketika malam sudah larut, Dzikra ditempat peraduannya bersama Hera, mereka baru menuntaskan hajatnya, kedua masih tidak berbusana, Dzikra mengelus perut Hera yang membesar itu, sambil menyenderkan tubuhnya dibantalan.
"Bang, lagi ada masalah?" tanya Hera.
Dzikra hanya menanggapinya demgan anggukan dan mengecup pangkal rambut isterinya.
"Ada masalah apa bang?" ujar Hera menatap suaminya.
"Kalau aku menikah lagi bagaimana perasaanmu?" ujar Dzikra.
"Maksudnya bang?" Hera mulai terlihat gelisah.
"Kalo aku berpoligami bagaimana?" ujar Dzikra membalas tatapan Hera.
"Aku akan mencincangmu! aku juga akan mencari ayah baru untuk anak diperutku!" ujar Hera sambil tersenyum.
Dzikra mengerutkan dahinya mendengar jawaban Hera, kemudian gelak tawanya terlepas memecah keheningan.
"Kalau begitu abang juga jangan coba-coba cari isteri lagi!" ujar Hera mengkerucutkan bibirnya.
"Ra," kini ucapan Dzikra terdengar serius.
"Iya," jawab Hera.
"Untuk melindungimu pihak kepolisian menyatakan kamu sudah meninggal, dan sekarang kakek memintaku menikahi Larisya untuk perbaikan perusahaan," ujar Dzikra.
"Lalu?" tanya Hera.
"Aku tidak tahu harus menjawab apa," ujar Dzikra.
"Aku tidak setuju!" ujar Hera sambil membalikan badannya memunggungi Dzikra.
Hera menanggis dalam keheningan dia tidak sanggup berbagi ranjang, berbagi hati dengan wanita lain.
****
Semenjak pernyataan semalam itu Hera tidak banyak berbicara dengan Dzikra, membuat Dzikra merasa tidak nyaman didiamkan oleh Hera. Dzikra berangkat ke kantor dengan kusut. Selama dua hari Hera hanya bicara seperlunya pada Dzikra. Hal ini membuat Dzikra jenggah, ia memutuskan menemui kakeknya dan menjelaskan semuanya kalau Hera itu masih hidup. Dzikra menolak menikah dengan Larisya untuk menjaga perasaab Hera.
"Kalau begitu bawa Hera kemari!" ujar kakek dengan dingin.
__ADS_1
"Iya kek,!" ujar Dzikra.
Dzikra segera pulang ke apartemenya dan menemui Hera serta membawanya ke kakeknya.
"Tinggalkan kami berdua Dzik!" ujar kakeknya.
Dzikra melemparkan senyuman pada Hera dan berlalu meninggalkan Hera dengan kakeknya didalam ruangan tersebut.
"Saya tau kakek menjodohkan Dzikra dengan Larisya untuk kepentingan perusahaan," ujar Hera.
"Iya, sepertinya kamu cukup paham, dan seharusnya kamu juga mengerti laki-laki diperbolehkan menikahi lebih dari satu isteri," ujar kakek.
"Tentu saya tahu itu, tapi saya tidak akan mengikhlaskan bang Dzikra menikahi wanita lain!" ujar Hera tegas.
"Kenapa kamu egois! ini semua untuk masa depan Dzikra!" ujar kakek
"Kalau begitu kakek juga egois tidak melihat perasaan saya!" ucap Hera.
"Oke sekarang keputusannya ada ditangan kamu, jika Dzikra tidak menikah dengan Larisya perusahan akan jatuh ke tangan Alfarid, dan Dzikra silahkan pergi dari perusahaan. Dan ingat Alfarid baru saja memiliki anak kembar, persaingan sudah jelas dimenangkan oleh Alfarid. Jika ingin mempertahankan posisi Dzikra dia harus memberikan kontribusi besar dalam perusahaan, setidaknya untuk tetap menjadi direktur utama!" jelas Kakek panjang lebar.
Hera seketika termenung mendengarkan perkataan dari kakeknya, semuanya jelas menuntutnya harus ikhlas dipoligami, hatinya belum siap menghadapinya, apalagi kondisinya sedang hamil.
Sepulang dari kediaman kakek, Hera semakin menjadi pendiam, sesekali matanya mengalirkan air matanya. Dzikra melihat perubahan Hera yang semakin mendiamkannya, tapi kali ini diam seribu bahasa, berhari-hari Hera tidak mengajak berbicara Dzikra. Hingga disuatu malam saat makam malam.
"Bang, apakah abang sangat menyukai posisi Direktur utama?" tanya Hera membuat Dzikra tersedak.
Dzikra sudah lama merindukan suara isterinya, dia sangat rindu bercanda denganya. Hera segera mengambilkan air dan mengelus punggung Dzikra yang tersedak.
"Pelan-pelan makannya," ujar Hera.
"Iya, sayang," ujar Dzikra melukiskan senyuman.
"Jadi, jawabannya apa?" tanya Hera.
"Aku menyukai posisi itu," tegas Dzikra dengan semangat, tapi raut wajah Hera berubah.
"Kalau begitu pertahankan," ujar Hera pelan.
"Iya sayang," ucap Dzikra sambil tersenyum.
"Kamu boleh menikah dengan Larisya," ujar Hera.
Dzikra terhenti dari makannya mendengarkan perkataan Hera, yang tiba-tiba membiarkannya menikah dengan wanita lain, yang jelas-jelas kematin menentangnya.
BERSAMBUNG....
Minal Aidzin Walfaidzin , mohon maaf lahir dan batin pembaca setia novelku🤗..
__ADS_1
Salam mrs kang chi