Takdir Bersamamu

Takdir Bersamamu
Pertengkaran


__ADS_3

Setiap mengingat suara ditelpon Dzikra. Hera mulai memikirkan hal yang tidak-tidak.


Apakah aku telah diselingkuhi. Apa sekejam itu karena tidak menyukaiku.


Hatinya terasa perih memikirkannya, air matanya mengalir deras tidak berhenti sepanjang malam. Hingga pagi mata Hera sembab. Seharian selama dikantor pun Hera tampak murung. Rangga merasa heran dengan sahabatnya itu, dia tidak seperti biasanya.


" Ra, kamu kenapa sih?" tanya Rangga.


" Gak, kenapa-napa," jawab Hera singkat.


"Em.. kita semua sekantor bakalan nobar dibioskop, lo ikut gak?" tanya Rangga.


" Hm.." jawab Hera.


Rangga menyerah mengajak Hera mengobrol, akhirnya beranjak pergi dari hadapannya. Telpon Hera berbunyi kembali. Menampilkan nama 'my husband'. Hera hanya meliriknya, tak berniat mengangkat telpon dari Dzikra. Ponselnya langsung dimatikan. Hera melirik jam didinding menunjukan pukul 14.00, ia segera beranjak dari kursi di ruang pengajar, berjalan mengambil map absen, remote dan spidol. Tidak lama bel tanda masuk pelajaran pertama berbunyi, Hera melengangkan kakinya menaiki anak tangga menuju kelas.


***


Sekitar pukul 6 sore setelah magrib rombongan pekerja di kantor tersebut memiliki agenda menonton bareng di Bioskop. Para pegawai dibebaskan membawa sanak saudaranya untuk ikut. Hera duduk berdampingan dengan Rangga, itu hal yang lumrah, karena mereka benar-benar terlihat seperti adik-kakak sehingga tidak ada yang menyangka salah satu hati dari mereka memiliki perasaan. Lampu dimatikan, cahaya hanya tinggal berasal dari layar. Suara mengema memenuhi ruangan. Film yang diputar memakan waktu 2 jam. Dimenit-menit akhir cerita menampilkan adegan romantis, membuat Hera hampir kehilangan kesadarannya, dia melirik ke arah Rangga, dan mereka saling bertatapan, hampir saja kedua bibir mereka akan menyatu, namun kemudian Hera mengurungkannya.


"Dzikra," ucapnya kemudian menolehkan wajahnya kemudian berdiri keluar dari gedung bioskop.


***


Di Singapura, tepatnya dikamar hotel pemuda dengan setelan jas berwarna hitam itu duduk termenung dipinggir kasur.


" Gak beres," gugam Dzikra.


Ponsel diraihnya di saku bajunya, dia masuk ke sebuah akun pemesanan tiket. Dia akan pulang lebih cepat dari yang direncanakan.


***


Jakarta

__ADS_1


Pikiran Hera benar-benar kacau, dia tidak dapat berpikir sehat. Hera duduk di salah satu kursi diluar gedung Bioskop, kedua tangannya menutup wajahnya menutupi air matanyanya yang tidak tertahankan. Rangga dengan kilat sudah duduk disamping Hera, menepuk punggungnya.


"Lo, kayaknya lagi ada masalah. Sabar Ra." kata Rangga.


Hera yang mendengarkan ucapan Rangga semakin menangis menjadi-jadi. Jaket pun dilepaskan dari tubuh Rangga dan diletakan dikepala Hera untuk menyembunyikan Hera yang sedang menangis. Hera langsung bersembunyi dibalik Jaket itu. ia menanggis cukup lama, dan Rangga dengan setia masih menungguinya.


" Ra, gue anterin ke rumah lo, nanti lo lanjutin nangisnya. Soalnya gue udah ngantuk banget." Ucap Rangga masih memberikan senyuman.


Hera mengangguk dibalik jaket itu, mereka pun bangkit dari kursi. Hera tidak berani menampakkan wajahnya yang sudah kusut didepan umum, ia hanya berjalan dibelakang Rangga, sambil memegang ujung kamejanya.


" Kalo, kayak gini gue berasa jadi bapak-bapak yang nyolong anak orang." goda Rangga.


Hera yang mendengarnya memukul punggung Rangga.


"Eh, loe bukan mahrom, mukul-mukul gue sih." kata Rangga pura-pura marah.


" Maaf," hanya itu yang keluar dari mulut Hera.


" Lo gak apa-apa naik motor bareng gue? apa sebaiknya lo telpon suami lo minta jemput." ujar Rangga.


"Ya udah deh, tapi lo jangan meluk-meluk gue." goda Rangga.


" Siapa yang mau meluk juga." Hera menghela nafas.


" Ya lo lah, tadi aja berani mau nyium gue. Hehe" goda Rangga.


" Siapa juga yang mau cium lo, orang lagi merhatiin lubang idung lo ditempat gelap." Hera berkilah karena menahan malu.


"oke okelah.. hahaha.." Rangga didalam hatinya tidak percaya perkataan Hera.


Mereka pun naik motor berjalan dari parkiran menuju rumah Hera. Tas sengaja dijadikan penghalang duduk mereka. Rangga sudah biasa sebenarnya boncengan dengan Hera diwaktu kuliah, hanya setelah menikah Rangga mulai memberikan batasan atas hubungan persahabatannya. Mereka dipertemukan diorganisasi intra kampus panahan, dan persahabatan itu langeng hingga sekarang. Menembus perjalanan malam dalam kesunyian keduanya tidak saling bicara, Rangga yang biasanya aktif berbicara, malam itu hanya fokus menerobos jalanan. Hingga akhirnya sampai didepan rumah Hera, kemudian ia berpamitan kepada Rangga, dia segera pergi. Sepasang mata memperhatikan Hera dan Rangga.


Hera memasuki rumahnya dengan tenang lalu menaiki tangga dan masuk ke kamar, Hera baru menyadari jaket Rangga dibawanya. Kemudian ia pun mengantungnya didekat pintu. Hera membuka ponselnya yang telah penuh oleh pesan dan panggilan telpon. Ia membalas pesan dari para siswanya, dan mengabaikan pesan dari Dzikra.

__ADS_1


Hera masih belum bisa menghadapinya. Setelah mandi ia memutuskan untuk langsung tidur.


***


Notif pesan muncul dari kakak ipar di ponsel Dzikra, ia baru keluar dari kamar mandi langsung melihat pesannya.


Rahel:


Kelakuan isterimu saat kamu gak ada di rumah. Dia jalan sama cowo lain, dan aku gak bisa jamin dia masih perawan atau enggak, soalnya dia pulang sambil menutupi wajahnya pake jaket cowonya. Mungkin dia mencari benih dari lelaki lain.


Dzikra:


Jaga bicaramu Hel. Jangan memfitnah orang sembarangan.


Rahel:


Aku memiliki bukti yang sangat kuat. Dijamin kamu gak bakal bisa mengelak.


Satu potret Hera dengan Rangga dipekarangan rumah di kirimkan. Deg Jantung itu terasa menyakitkan saat berdenyut, ponsel dilemparkan sembarang diatas kasur. Seketika itu juga tangannya dipukulkan ke dinding, sehingga membuat tangan itu mengucurkan dasar segar. Amarah membuncah didalam hatinya.


Rupanya kau memang benar-benar ******* Hera,


Tak bisa ku maafkan penghiantan ini. Oh ini alasannya dia mengabaikanku.


Malam itu, menjadi malam yang penuh amarah bagi Dzikra, dia tidak sabar ingin segera bertemu dan mengoyak-goyang Hera dan membuatnya merasakan sakit seperti hatinya.


***


Malam telah berlalu, pagi telah menyambut awal hari ini. Pagi itu Hera disibukan dengan pekerjaan rumah. Urusan Rumah tangga semenjak keberadaan menantu mulai dikurangi para pembantu rumah tangga. Pembantu urusan membersihkan rumah masih dipertahankan, untuk urusan dapur harus dikerjakan para menantu.


Setiap pagi sebelum berangkat ke kantor Hera selalu membuat makanan-makanan seperti puding, bolu, pan cake, donat, dan kue-kue kering, sehingga kulkas selalu terisi makanan. Hal inu membuat Ibu mertua tidak banyak mengoceh ke Hera meski jarang tinggal di rumah karena masih tetap menjadi pegawai kantoran.


Setelah menyelesaikan pekerjaan rumahnya, Hera seperti rutinitas hariannya pergi ke kantor dengan mengunakan ojek Online. Hari itu Dzikra tengah berada di pesawat diperjalanan pulang ke Indobesia, perjalanan ke singapura tidak lama hanya memakan waktu 3 jam saja. Setelah sampai di rumahnya Dzikra disambut ibu tiri dan dihidangkan makan kering buatan Hera. Dzikra kemudian naik ke kamarnya, dia mengamati ada jaket pria yang mengantung dipintu kamar itu. Hatinya mulai panas kembali. Jaket itu di raihnya kemudian dia lempar-lempar, lalu diinjak-injaknya dia lapkan jaket itu ke toilet, kemudian di biarkan terongok di toilet begitu saja.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan, jangan emosian kaya Dzikra ya nanti puasanya makruh 😂


__ADS_2