Takdir Bersamamu

Takdir Bersamamu
Pudarnya kepercayaan


__ADS_3

Hera terbangun dari tidurnya saat menjelang subuh, saat bangun sudah menjadi kebiasaannya ia mengelus perut jabang bayi membangunkannya. Hera beranjak dari kasurnya mendapati kakinya sudah diperban. Hera tersenyum dalam hatinya, itu pasti ulah Dzikra.


Hera melirik disamping ranjangnya sudah tidak ada keberadaan suaminya entah kemana, Hera pun tidak mau ambil pusing langsung pergi ke kamar mandi, mandi dan berpakaian.


Hera melangkahkan kaki ke dapur untuk menyiapkan sarapan untuk Dzikra, tapi ia dikejutkan oleh Dzikra yang sudah memasak nasi goreng. Menyadari keberadaan Hera didekatnya, Dzikra menoleh.


"Sudah bangun rupanya, ayo kita makan!" ujar Dzikra sambil membimbing Hera duduk dikursi.


Hera menurut pada suaminya yang mendudukan dirinya dikursi sebelahnya, dimeja telah tersaji sepiring nasi goreng dengan dua sendok. Mereka pun makan sepiring berdua, dan minum disatu gelas yang sama. Moment tersebut membuat semburat merah muncul dipipinya.


"Bang Dzikra, maaf ya Hera semalam teriak sama abang," ujar Hera menunduk.


"Gak apa-apa abang juga salah, abang minta maaf ya," ujar Dzikra sambil mengangkat dagu Hera agar menatapnya.


Kedua mata itupun saling bertemu, Hera merasakan kembali kelembutan suaminya.


"Bang gak kerja?" tanya Hera.


"Sebentar lagi berangkat," jawab Dzikra menyungingkan senyumannya.


"Kalau gitu, aku siapkan pakaian abang dulu ya," ujar Hera beranjang ke kamar dengan berbunga-bunga.


Dzikra tidak berapa lama ikut menyusul ke kamar untuk mandi. Hera memilih kameja dan jas yang akan dikenakan suaminya. Hera menunggu suaminya menyelesaikan mandinya di tepi ranjang. Beberapa menit kemudian Dzikra keluar dari kamar mandi, segera mengenakan pakaiannya, Hera membantu mengancingkan baju suaminya saat Dzikra merapihkan rambutnya.


Dzikra keluar dari kamar dibututi oleh Hera dibelakangnya yang mengantarkan suamiya sampai pintu apartemen.


"Hati-hati ya papah," ujar Hera melambaikan tangan yang dibalas senyuman oleh Dzikra.


****


Jam sudah menunjukan pukul 8.00 Hera sudah menunggunnya dimeja makan, telponnya tidak diaktifkan, Hera merasa gelisah dengan masih mengenakan daster ia meraih jilbab, keluar dari apartemennya memesan kendaraan online.


Hera kini berada di depan gedung mewah kantor suaminya, ia segera menemui satpam yang bertugas.


"Pak, kalau pak Dzikra sudah keluar gedung belum?" tanya Hera.


"Oh bu Hera toh, sudah bu dari jam 4 sore," ujar satpam tersebut ramah.


"Pak Dzikra kemana perginya pak?" tanya Hera.


"Oh saya kurang tau bu, kalau soal itu sekertarisnya lebih tau," jawab satpam.

__ADS_1


"Saya gak ada kontaknya pak," seru Hera.


"Tunggu sebentarnya, temen bapak karyawan sini pasti ada kontaknya.


Hera mengangguk, tampak satpam tersebut menelpon seseorang dan tidak lama menyodorkan nomor sekertaris Dzikra, Hera langsung berterima kasih dan menelpon sekertaris tersebut.


"Assalamualaikum Risma, ini aku bu Hera, maaf menganggu mu,"


"Iya bu Hera, kenapa bu?" tanya Risma.


"Jadwal pak Dzikra hari ini kemana ya?" tanya Hera.


"Anu..aa..nu bu ketemu klient bu," jawab Risma.


"Dimana?" tanya Hera.


"Hmmm... Ibu tunggu pak Dzikra pasti pulang," ujar Risma.


"Aku tanya pak Dzikra ketemu klient dimana?" ujar Hera.


"Hmm..Di Hotel Pujasera" jawab Risma ragu ragu.


"Oh, terima kasih Ris," ujar Hera telpon ditutup.


Hotel yang megah, Hera memandangi dirinya yang berpakaian daster memasuki hotel rasanya akan aneh, Hera masuk sampai di depan resepsionis.


Seorang wanita cantik menyapanya.


"Apakah pak Dzikra al Fairuz chek in dihotel ini?" tanya Hera.


" Tunggu sebentar ya bu," jawab ramah resepsionis sambil mengecek daftar pengunjung.


"Oh, benar bu, chek in bersama bu Larisya, masuk ke gedung pertemuan," jawab Resepsionis.


Api cemburu membakarnya, ia segera meminta resepsionis mengantarnya ke ruang pertemuan. Hera melihat dua insan itu tertawa, sedang berbincang dengan pengusaha asing nampaknya, namun yang membuat hatinya semakin panas adalah tangan Dzikra merangkul pinggang Larisya.


Hera langsung melangkah dengan cepat dan melepaskan tangan Dzikra dari pinggang Larisya, sontak kedua orang tersebut berbalik menatap Hera. Tamparan keras mendarat dipipi cantik Larisya. Semua yang memandang terkejut menyaksikan yang terjadi. Jangan lupa dalam pertemuan ini ada ayahnnya Larisya dan kakeknya Dzikra.


"Ra!" teriak Dzikra.


"Wanita murahan, kau tau dia suamiku!!" ujar Hera emosi hendak menampar lagi tangannya dicengkram oleh Dzikra.

__ADS_1


"Cukup Ra!" bentak Dzikra menatap tajam Hera.


Hera menyadari semua mata menatap dirinya seolah merasa kasihan, Hera melihat tatapan suaminya lebih menakutkan, tapi rasa sakit lebih menguasainya karena suaminya membela Larisya. Bahkan dikondisi seperti ini dirinya merasa ditelanjangi oleh tatapa banyak orang. Hera perlahan melepaskan tangan Dzikra tersenyum ketir.


"Kau pasti malu, punya isteri seperti aku sampai membawa orang lain ke pertemuan seperti ini!" lirih Hera membalas tatapan Dzikra.


Hera berbalik badan meninggalkan ruangan tersebut dengan bercucuran air mata, ada hal yang lebih terasa sakit Dzikra sama sekali tidak peduli, kepergiannya tidak dikejar oleh Dzikra sekedar menenangkan dirinya yang merasa kacau.


*****


Hera duduk termenung dipinggir kasurnya, menatap hampa ke arah koper dipojokan ruangan tersebut. Dzikra semalaman tidak pulang ke rumah.


"Harusnya aku tidak kembali padamu saat aku diberi kesempatan hidup kembali, harusnya aku tidak bertemu denganmu lagi didunia ini, kamu telah membuangku kedua kalinya. Mari kita akhiri sekarangan pernikahan ini!" gugam Hera sambil meleleh air matanya.


"Nak, ibu orang kuat, kamu tidak perlu takut lahir tidak disertai papah. aku akan menjadi ibu sekaligus ayahmu nak," ujar Hera mengelus perut buncit usia masuk 7 bulan.


Suara pintu dibuka, Dzikra masuk ke apartemen dengan kusut, ia berjalan ke kamar mendapati Hera sedang duduk, menatapnya sebentar lalu beranjak ke kamar mandi.


Hera bangkit menyediakan pakaian kantor untuk Dzikra, pakaiannya disimpan di atas kasur. Hera kemudian beranjak ke dapur dan memasak. Beberapa menit kemudian masaakan sudah tersaji dan Dzikra keluar dari kamarnya dengan pakaian sudah rapi, berjalan duduk diruang makan, Hera meladeninya dengan mengambilkan makanan untuk Dzikra.


"Aku akan dipecat jadi direktur hari ini!" ujar Dzikra memecah keheningan.


"Semua karena kesalahanku semalam," ucap Hera.


Dzikra tidak menyahutinya, kembali fokus dengan makanannya.


"Jangan terlalu cemburuan!" ucap Dzikra.


"Supaya kamu tidak dipecat, kamu harus menikahi Larisya benarkan? Aku juga masih ingat perkataanku kemarin malam!" ujar Hera.


"Aku berangkat ke kantor!" Ujar Dzikra beranjak pergi meninggalkan Hera.


*****


Hari ini Hera mulai pergi ke swalayan untuk belanja bulanan. Matanya kali ini menangkap Dzikra yang sedang memilih sayuran dengan Larisya. Hera segera menelpon Dzikra.


"Lagi dimana?" tanya Hera


"Dikantor!" jawab Dzikra


Hera langsung menutup telponnya, Dzikra berani berbohong saat ini. Rasanya Hera tidak kuasa lagi berbelanja, ia memilih pulang ke apartementnya. Sesak sekali dadanya mengetahui orang yang dicintai berbohong.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2