Takdir Bersamamu

Takdir Bersamamu
Rumah 2 keluarga


__ADS_3

Hera masih memeluk Dzikra dari belakang, Dzikra tertegun, dia tahu Hera yang memeluknya karena ia melihat cincin yang dikenakan dijari manis tangan itu. Dzikra tidak membiarkan suasana romantis itu berlangsung lama, Dzikra segera menghempaskan kedua tangan yang memeluknya. Kemudian dia berbalik melihat Hera.


" Berani sekali kamu memelukku, jangan menyentuhku tanpa seijinku. Aku tidak suka disentuh oleh orang yang tidak aku inginkan." Ucap Dzikra dengan tatapan tajam sambil berjalan meninggalkan Hera yang masih mematung.


Mata Hera berkaca-kaca, bibirnya bergetar menahan amarah, yang ingin dia ungkapkan. Hera pun menarik nafas.


" Kau juga berani meninggalkanku ditempat itu, kau tidak memberi kabar apapun. Setidaknya angap aku sebagai isterimu meski kau tak memyukainya." Ucap Hera masih membelakangi Dzikra.


" Dasar wanita bodoh! apa kau tidak ingat di malam kita bertemu? kau tidak ingat perkataanku? Jangan mengharapkan belas kasihan dariku, jangan memgharapkan aku akan membalas rasamu!" Kata Dzikra dengan pedas dan tajam.


Setiap kata yang keluar dari mulut Dzikra menghujani hati Hera bagaikan panah api yang membakar emosinya. Rasanya Hera ingin sekali marah.


Iya aku ini bodoh, bodoh sekali masih menyukai lelaki sepertimu. Aku bodoh menikah denganmu karena aku dibutakan cinta. Iya marilah kita menikah tanpa melibatkan hati.


Hera kembali terisak, memukul pelan dadanya yang terasa sesak, iya berjongkok menangisi keputusannya yang salah. Sementara Dzikra tidak memperdulikannya ia keluar dari kamar. Tidak berapa lama pintu diketuk dari luar.


" Nak Hera, kami menunggu dibawah untuk makan siang bersama. Ada yang harus kami bicara, jadi kami tunggu dibawah ya." Suara ibu tiri Dzikra.


Hera segera bangkit, menhapus air matanya dan segera membuka pintu.


" Iya bu, nanti menyusul kebawah, mau mandi dulu."


" Kamu habis menanggis? matamu terlihat merah sekali."


" Oh benarkah bu? Tadi habis di balkon mungkin ada debu masuk jadi merah." Ucap Hera menutupi masalahnya.


"Oh begitu. Cepat ya,ada kakek menunggu dibawah."


Hera hanya menganggukan saja, ibu tiri kemudian meninggalkan Hera. Pintu ditutup kembali, Hera segera pergi ke kamar mandi.


***


Di ruang tengah itu, ternyata ada keluarga besar dari keluarga ini. Kakek, Alfarid ( Kakak Ipar), Rachel, Rasya ( Adik tiri Dzikra), ibu, Dzikra dan Hera. Semuanya sangat tenang, kakek membuka suaranya.


" Kakek ini sudah tua, semenjak nenek meninggal, kakek sangat kesepian. Kakek mengambil keputusan kita semua akan tinggal bersama di rumah ini. Rumah ini cukup besar jika hanya ditinggali dua orang saja."


"Maksud kakek? Dzikra dan isterinya, kemudian Alfarid dan Rachel juga akan tinggal disini?" Ucap Ibu tiri dengan penuh kebingungan.


" Iya, kenapa? apa kau keberatan?" tanya kakek.


" Oh tidak kek, hanya saja itu sampai kapan?" tanya Ibu tiri, menyembunyikan ketidaksetujuannya.

__ADS_1


" Sampai aku dapat memutuskan penerus perusahaan." Jawab kakek.


"Hmm.. Kakek mencari penerus seperti apa? Lalu aku bukannya sekarang sebagai direktur di perusahaan kek?" Tanya Alfarid.


"Iya, kamu pemegang sementara sampai Dzikra pulih. Pemegang perusahan haruslah dia yang memiliki tanggungjawab besar. Kakek hanya akan memutuskan perusahaan itu jatuh ke tangan diantara kalian yang memiliki keturunan banyak. Tapi tidak berlaku bagi yang poligami." Begitu tutur kakek dengan lugas.


Dzikra yang tidak angkat bicara saat itu, berbicara dengan tenang.


" Lalu jika yang tidak memiliki keturunan, dia akan seperti apa kakek?" tanyanya.


"Dia akan mendapatkan rumah ini, dan bisnis kos-kosan." ucap kakek sambil menyelidik ke arah Dzikra.


" Jadi sekarang, pertarungan sehat ini akan dimulai."


Rapat keluarga ditutup oleh kakek.


****


Hera membantu ibu mertuanya mencuci barang-barang yang habis di gunakan. Didekat dapur terdapat kolam renang, setelah menyelesaikan mencuci, Hera melihat Dzikra berada di Kolam renang, segera berjalan menuju ke kolam, namun dari arah lain muncul Rahel berjalan mendekati Dzikra, yang kemudian Dzikra menyambutnya dengan pelukan. Namun Rahel tidak membalas pelukan itu. Kemudian keduanya duduk dipinggir kolam. Terdengar sayup-sayup pembicaraan itu oleh Hera.


" Hel, cerailah dengan kakakku. Dan aku juga akan menceraikan Hera. Aku tidak sanggup hidup dengan wanita yang tidak aku cintai, aku juga tidak sanggup melihat kau bermesraan dengan kakakku." Pinta Dzikra dengan sendu.


" Aku tidak bisa bercerai begitu saja Dzik. Aku baru menikah dengannya. Kita tidak bisa mempermainkan pernikahan." Jawab Rahel.


" Kau gila Dzik. Berpikirlah yang waras. Sudahlah aku tidak mau berbicara denganmu lagi." Rahel bangkit dari duduknya melihat Hera sudah berdiri tidak jauh dari mereka.


" Kau masih mencintaiku bukan?" tanya Dzikra yang belum menyadari keberadaan Hera.


Rahel tidak menyahuti perkataan Dzikra, terus berjalan meninggalkan Dzikra bersama Hera. Dzikra menoleh dan bangkit dari duduknya, berjalan meninggalkan Hera. Namun berjalan belum cukup jauh, ia berhenti mendengar perkataan Hera.


" Mana bisa kau bertindak seperti itu Dzik. Kau ingin membuangku begitu saja. Bagaimana dengan kakek akan malu jika kamu bertindak begitu."


Dzikra yang belum jauh menoleh.


" Berhentilah mencampuri urusan orang lain."


"Kamu suamiku, bukan orang lain. Jika tidak bisa menyukaiku setidaknya kita berteman saja." Tutur Hera.


" Sudahlah tidak perlu banyak permintaan padaku, jalani saja hidup kita masing-masing." Dzikra berbicara dingin sambil berlalu.


****

__ADS_1


Susana di kamar Dzikra sangat hening. Dzikra sudah menengelamkan diri dalam mimpi. Hera masih membuka matanya. Hera mendekatkan diri ke tubuhnya Dzikra. Menyimpan Kepalanya di dada Dzikra, tanganya melingkari tubuh Dzikra. Yang memiliki tubuh menyadari langsung terbangun, langsung mendorong Hera menjauhkannya. Hera pun terbangun dengan sedikit kesal.


" Apa kau lelaki yang tidak pernah terangsang oleh wanita. Kita tidur seranjang tapi kau tidak melakukan apapun padaku." Ledek Hera.


" Kaulah wanita pengoda, wanita murahan, kamu bertindak seperti *******." Ucap Dzikra dengan sadis.


Hera yang mendengar perkataan yang tidak mengenakan terhadapnya, menampar pipi Dzikra dan air matanya mengalir.


" Pandai sekali mulutmu bicara!." Ucap Hera dingin.


Hera beranjak dari ranjang kasur, berjalan ke sofa membawa bantalnya, dan membaringkan badannya di Sofa. Wajahnya ditutupi, dia sedang menyembunyikan kesedihannya. Dzikra yang ditampar Hera cukup terkejut. Pipinya terasa panas. Dia langsung pergi tidur lagi, seolah tidak terjadi apapun. Sedangkan Hera tidak dapat tidur terus terisak. Ponsel Hera berbunyi satu pesan masuk.


Ra kapan masuk kerja lagi?


(Rangga)


Hera langsung membalas pesan sari Rangga.


Minggu depan, Ga. Kenapa?


Gpp, siswa udah pada nanyain lo aja.


Sorry gue gangguin lo lagi enak-enak sama suami lo. wkwkwkkwk. (Rangga)


Dasar cowok ngeres aja lo.


Hahaha.. wajarlah pasti orang baru nikah begitu. Awas lo jangan terlalu agresif. Nanti suami lo kewalahan wkwkkwkwk. (Rangga)


*lo bikin bete. Udah mau tidur.


Cieeee ngehindar, oke deh. Gue tungguin ponakan gue. Moga cepet lahir hahahhaha*. ( Rangga)


Hera tidak membalasnya lagi, ia menyimpan ponselnya kemudiaan kembali mencoba tertidur.


***


" Gooooooiiil"


"Aaaaa sayang jangan kayak gitu"


Suara gaduh terdengar dilantai bawah. Membuat Hera dan Dzikra bergegas keluar dari kamar melihat kegaduhaan itu.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2