Takdir Bersamamu

Takdir Bersamamu
Cemburu lagi


__ADS_3

Dzikra sudah berada diruang kantornya, matanya sendu menatap foto ayahnya yang terletak dimeja. Pintu diketuk dari luar, tanpa menunggu jawaban dari Dizkra, seorang pemuda berpakaian kantoran membuka pintu dan langsung menebarkan senyuman ke arah Dzikra.


" Kau ini kebiasaan Dzik, aku sudah menunggu depan pintu ruanganmu lama sekali. Padahal kau yang meminta aku kesini. Aneh banget kamu ini, ada masalah apa?" gerutu Zidan, sambil dia duduk disofa.


" Huh, kamu akan tetap masuk ruangan meskipun aku tidak membukakan pintu." Ujar Dizkra sambil berjalan ke sofa dan duduk dihadapan Zidan.


" Oke, oke pak bos.. Hehe, jadi apa topik rapat kali ini." Ucap Zidan sambil cengegesan.


"Selidiki kembali kasus kecelakaan 4 bulan lalu! ujar Dzikra menyodorkan berkas diatas meja.


Zidan kemudian meraih map yang berisi berkas tersebut, lalu membukanya, sekilas ia membacanya dan langsung paham.


" Ini kasus kamu Dzik, huh! bisa aja sih dibuka lagi dan mengubah penyebab kecelakaannya asalkan ada bukti dan saksinya." Ujar Zidan.


"Aku sudah punya saksinya!" ujar Dzikra sambil mengepalkan tangannya.


" Oke, Dzik. Berarti kamu sudah siap menyeret keluarga kamu sendiri. Ini mungkin akan jadi blunder bagi diri kamu juga Dzik. Walaupun terlihat ringan, tapi ini masalah rumit Dzik."


" Oke, itu urusanmu. Pokoknya selesaikan secepatnya!" ujar Dzikra.


Zidan hanya bisa mendengus mendengar perintah dari Dzikra, sahabat karibnya yang selalu bersikap bossy.


***


Jam sudah menunjukan pukul 20.00 WIB, diruang kantor Hera sudah merapihkan barang-barangnya. Begitu pun Rangga tidak luput dia ada disana, merapihkan peralatannya. Hera menoleh ke arah Rangga sambil cengegesan.


" Ga, sebelum pulang makan dulu ayam geprek yuk!" Ajak Hera.


"Tumbenan lo, Ra. Gak biasanya, gue curiga sama lo." ujar Rangga sambil berjalan mendekati Hera.


" Yaelah Ga, pake acara curiga segala. Jadi mau gak nih?" Hera menegaskan.


"Ye, udeh mau. Urusan makan mana pernah gue nolak hehehe." ucap Rangga.


Mereka pun berjalan beriringan keluar dari kantor menuju tempat makan ayam geprek yang berada tidak jauh dari kantor. Hanya butuh waktu 5 menit saja sudah sampai di tempat makan kecil dan sederhanan tersebut. Hera langsung memesan dua porsi ayam geprek dengan dua gelas lemon tea.


" Ga, kali ini aku yang traktir ya." ujar Hera sambil tersenyum.


"Wuiiih, ada angin bohorok darimana Ra? Hahahahaha.. Tiba -tiba lo jadi dewi fortuna gini. Makasih deh kalo gitu, lumayan uang gue bisa dipake buat bensin." sahut Rangga.


" Eh, iya. Ini jaket kamu, Ga. Makasih ya." Ucap Hera sambil menyodorkan jaket tersebut.

__ADS_1


Rangga hanya menganggukan, dan mengambil paper bag yang berisi jaket. Makan pun datang, mereka menikmati hidangan tersebut sambil bercerita hal-hal yang terjadi pada hari ini. Sehingga tidak terasa makanan sudah habis disantap, Hera kemudian berjalan ke arah kasir dan membayar harga makanan yang disantapnya. Rangga ikut menghampiri Hera, dan memesan dua minuman segar. Satu minuman diserahkan kepada Hera. Lalu keduanya berjalan ke arah parkiran.


" Jadi, lo hari ini mau ke rumah kaka?" tanya Rangga.


"Iya, udah lama sejak nikah aku gak pernah kesana lagi." jawab Hera.


" Ya udah, bareng aja sama gue. Lagian searah sama rumah kakak lo." ajak Rangga sambil mengambil jaket dalam paper bag dan mengenakannya.


"Ya, hmm.. Kalo lo gak keberatan." Ucap Hera berbinar-binar.


" Ya enggak, gue kan gak ngankat lo, kan lo dibawa pake motor. Hehe, Eh kok ngomong-ngomong tumbenan jaketnya wangi banget Ra?" tanya Rangga.


" Hehehe.. Jadi gini Ga, aku minta maaf nih. Jaket lo sama suami aku dimasukin ke toilet. Ini gue bener-bener minta maaf Ga. Hehe." Jawab Hera dengan malu-malu.


" Maksud lo? Gila suami lo! Ini jaket keramat gue. Awas kalo gue ketemu sama suami lo gue tabok, gue tangkis, gue tendang!" Gerutu Rangga.


BRUK


Rangga yang sedang fokus ngoceh ke Hera ketika menoleh ke depan. Wajahnya menghantam badan seseorang. Rangga mengangkat wajahnya, seketika dia mati kutu melihat Dzikra sudah menunjukan tatapan dingin kepadanya. Hera hanya bisa menutup mulut dengan kedua tangannya. Rangga dengan gugup sambil berusaha tenang karena merasa seperti ketangkap basah lagi maling ayam.


"Euu..Sorry Bro! Hehe. Ra sepertinya lo dijemput, gue duluan ya! Eh makasih ya." ucap Rangga buru-buru menyalakan motornya dan pergi melesat.


" Hmmm.. Dzik, aku mau ke rumah kaka hari ini." ujar Hera memecahkan keheningan.


" Aku tau." Jawab Dzikra singkat.


" Hmm.. Jadi gimana?"


" Apanya yang gimana? tanya Dzikra sekilas menoleh pada Hera.


"Kamu mau ikut ke rumah kakakku?" tanya Hera.


" Iya. Jadi tunjukan jalannya!" kata Dzikra.


" Oh iya, jalannya searah dengan jalan menuju rumah Rangga." ucap Hera kalimatnya mematung karena Dzikra menoleh dengan tatapan tajam.


"Sedekat itukah kamu dengan Rangga sampai tahu rumahnya."


" Iya, aku sangat dekat dengannya, aku sekampus dengannya, awalnya aku bertemu dengan dia disuatu organisasi kampus, ukm panahan. Dia orang yang hamble jadi mudah bergaul. Pas waktu itu dia termenung duduk di sekre dan aku lagi ada disana, berawal dia curhat karena baru putus dari pacarnya, disitu mulanya kami dekat. Aku sering kesana kemari dengannya sewaktu kuliah. Aku juga sering ke rumahnya..." ucapan Hera kembali mematung melihat ekspresi Dzikra yang menatapnya tajam.


" Jadi kau sering main dengannya? main ke rumahnya?" tanya Dzikra datar.

__ADS_1


" Iya, aku sudah dekat sekali. Orang tuaku dan orang tuanya sudah saling mengenal satu sama lain. Terkadang aku diundang ke rumahnya buat membantu Mamahnya Rangga. Aku juga pernah sekali menginap di rumahnya..." ujar Hera, seketika mobil di rem mendadak oleh Dzikra.


Cekiiiiiit!!!!


Mobil yang dikendarai Dzikra berhenti. Ia memandang Hera dengan nanar. Hatinya sudah mendidih, kupingnya serasa sudah compang camping, ditambah otak siap meledak mendengar ocehan Hera menceritakan Rangga. Dzikra langsung keluar dari mobil.


"Aaaaaaarggggggghh!!" Dzikra melepaskan semua emosinya dengan teriak keras.


Hera didalam mobil kebingungan melihat tingkah Dzikra, yang seperti cacing kepanasan. Tidak berapa lama Dzikra masuk lagi kedalam mobil. Ia mengenakan kembali Seat bellnya. Kemudian menyalakan mesin mobilnya.


" kamu kenapa?"tanya Hera menyelidiki Dzikra.


" Panas!" jawab Dzikra singkat dan penuh penekanan.


" Panas gimana, ini ada AC!" sahut Hera penuh kekesalan.


" Gak tau! panas aura gaib kali!" Ujar Dzikra penuh emosi.


Hera kemudian menyodorkan minuman dingin ditangannya ke Dzikra yang sedang menyetir. Ia langsung menyuapinya. Dzikra tidak menolaknya ia meminum setengahnya.


" Ini biar dingin." Ucap Hera


" Minuman dari mana?" tanya Dzikra


" dikasih Rangga tadi." Jawab Hera.


" Habisin sama kamu." Kata Dzikra dengan kesal.


" Baiklah, kamu tidak meludah lagi kan di minumannya?" tanya Hera.


"Ga, aku tahu cara meludah yang tepat." ucap Dzikra sambil menghentikan mobilnya.


Hera menoleh ke arah Dzikra dengan pandangan heran, Dzikra menarik dagu Hera dan mencium bibirnya lama sekali penuh dengan g*i*ah. Lalu ia melepaskannya dan kembali menyalakan mobil kemudian melaju lagi. Hera masih mematung, pipinya kemerahan, karena malu.


" Kemana arah jalan rumahnya?" tanya Dzikra dengan tenang seperti tidak terjadi sesuatu.


" hmm... Lurus aja sampai perempatan lampu merah belok kiri, 200 meter dari sana ada rumah cat kuning. Berhenti disana." Ucap Hera masih malu dan memegang bibirnya.


Mobil pun meluncur dengan cepat menuju tujuannya. Suasana di dalam mobil sangat hening Hera masih sibuk memikirkan dan membayangkan yang baru terjadi. Sedangkan Dzikra sesekali melirik Hera dan menyungingkan senyumannya.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2