Takdir Bersamamu

Takdir Bersamamu
Topeng


__ADS_3

Sepandai-pandai tupai melompat akan jatuh juga. Sepandai-pandainya kamu memakai topeng akan terlepas juga.


_____________________________________________


Dua keluarga yang disatukan melalui pernikahan itu, tepat hari ini berkumpul dirumah besar AlGhifari. Ada kecangungan yang dirasakan dua keluarga ini, semua tampak seperti dua keluarga asing yang tak saling mengenal.


"Maafkan Dzikra bu, Dzikra yang salah bu," ujar Dzikra pada ibunya Hera sambil bersimpuh dikedua kakinya.


Ibunya Hera hanya terdiam sambil tidak berhenti air matanya menetes, dia memang marah kepada Dzikra, kesal tapi hati seorang ibu tetap mudah tersentuh melihat orang menyadari kesalahannya meminta maaf.


"Ini salah kami, tidak mengenal keluarga nak Dzikra. Hera anak baik kami..." Ibunya Hera tidak sangup melanjutkan kalimatnya ia langsung terisak.


"Ayahmu denganku yang bermasalah, tapi itupun sudah berlalu, aku sudah memaafkan kesalahannya. Kenapa harus membuka luka lama yang sudah kering!" ujar Ayahnya Hera.


"Jika aku mengetahuinya lebih awal, aku seharusnya melarang ini terjadi!" ujar kakeknya Dzikra.


"Semua sudah terjadi! aku sudah kehilangan dua anakku!" ujar Ayahnya Hera.


Dzikra segera bersujud dikedua kaki orang tua Hera, ia meminta maaf dengan sepenuh hatinya. Kedua orang tua itu semakin merasa terpukul dengan sikap Dzikra, kedua orang tua itu tidak berkata apapun.


Mungkin bukan kata maaf untuk mengantikan rasa kehilangan itu. Maaf bukan hal bisa mengubur kesedihan, menghapus duka dan lara seseorang.


"Sudah nak Dzik, bangunlah, memang semuanya sudah takdirnya," ujar Ayahnya Hera merengkuh Dzikra yang bersujud dikaki orang tua Hera.


Ayah Hera merangkul Dzikra yang sudah kusut dan kacau tersebut. Semua yang menyaksikan merasa iba, Rahel dan Alfarid yang juga berada disana hanya terdiam. Mereka juga ikut bersalah dalam hal ini karena bersikap acuh atas apa yang terjadi pada Hera. Namun, mereka tidak berbesar hati untuk mengakui kesalahannya.


****


Seorang wanita berusia 45 tahun, kini tengah duduk dihadapan seorang dokter ahli operasi plastik. Tampak sesekali dia memilih dan memilah wajah yang diharapkannya.


"Jadi bagaimana?" tanya dokter tersebut.


"Saya ingin wajah saya dibuat lonjong, hidungnya dimancungkan, pokoknya saya ingin wajah mirip foto ini! " ujar Laras menunjukan foto seseorang.


"Hhmm.. Bu Laras sudah tiga kali operasi wajah, saya sarankan jangan terlalu sering operasi wajah, saya takutnya wajah ibu menjadi rusak kulitnya," saran dokter spesialis operasi wajah.


Mendengar perkataan dokter tersebut Laras memutar bola matanya, dia tidak suka menerima masukan dari dokter tersebut.


"Kalau anda tidak mampu!Ya sudah saya akan mencari dokter yang lain!" ujar Laras seraya bangkit.


"Tidak, bukan begitu maksud saya, ya sudah saya akan melakukannya. Mari bu Laras!" ujar dokter.


Dokter pun mempersilahkan Laras memasuki ruanhan pemeriksaan kesehatan terlebih dahulu sebelum dilakukan operasi. Tim medis mulai mengambar diwajah Laras memberikan tanda bagian-bagian yang akan dioperasi. Setelah itu, lampu operasi dinyalakan, Laras sudah tidak sadarkan diri, pisau operasi sudah siap. Dokter pun memulai menjalankan tugasnya.

__ADS_1


****


Di ruang kantor seorang Direktur utama, Dzikra sambil membaca berkas, Zidan bersamanya duduk di sofa dengan santai. Pakaian Zidan cukup santai sebagai agen detektif kepolisian, ia hanya mengunakan jaket kulit hitam didalamnya mengenakan kaos warna putih polos dipadukan dengan celana jeans.


"Dzik, ada yang janggal dengan ibu tiri Lo!" ujar Zidan.


"Janggal kenapa?" tanya Dzikra.


"Lo tau wajah asli ibu tiri Lo?" tanya Zidan.


"Ya begitu, soalnya gue ketemu ama die pas gue udah lulus kuliah!" ujar Dzikra.


"Ini gue tunjukin!" ujar Zidan memperlihatkan foto -foto laras.


Dzikra segera meraih foto-foto tersebut dan mengamatinya. Dzikra cukup terbelalak melihat foto-foto tersebut, rahangnya mengeras melihat satu foto yang mirip sekali ibunya.


"Gue udah selidiki foto yang Lu pegang, itu sekitar tahun 2008! Melakukan operasi wajah dengan raut wajah ibu Lo! gue gak tau alasannya!" ujar Zidan.


"Dasar Mak Lampir!" geram Dzikra meluapkan emosinya.


"Sabar Dzik, jangan kebawa emosi dulu! masih banyak yang mau gue sampein!" ujar Zidan sedikit cengegesan.


"Apalagi yang mau Lo tunjukin!" ujar Dzikra sudah emosi.


"Ibu tiri gue kan udah meninggal! Ada apa Lo nunjukin foto-foto ini kenapa?" tanya Dzikra.


"Adiknya Laras, atau Siti kakak ipar Hera tepat dihari kecelakaan mobil Laras, dia menghilang!" ujar Zidan.


"Apakah kecelakaan itu konspirasi?" tanya Dzikra sambil mutar otaknya.


"Gue sebagai dekektif kepolisiaan gak bisa asal berargument, karena gue gak ada bukti, tapi gue berpikiran ke sana!" ujar Zidan.


"Selediki lagi! gue terima hasilnya!" ujar Dzikra kembali membaca berkas.


"Hera dimana?" tanya Zidan menatap Dzikra.


"Masih dibumilah, belum pindah ke planet lain!" ujar Dzikra.


"Gak beres ngomong sama Lo! Ayo makan siang!" ajak Zidan.


Dzikra melihat jam tangannya, kemudian berpikir sebentar, ia meraih ponselnya, ia menelpon seseorang sebentar.


"Ok. yuk! gue traktir" Dzikra menutup berkasnya dan bengkit dari duduknya.

__ADS_1


*****


Senja di sebuah villa yang terpencil, angin sepoi-sepoi menerpa wajah seorang wanita yang duduk kolam. Villa itu terletak didataran tinggi, disana terdapat kebun sayuran kubis dan taman bunga. Wanita tersebut bosan sepanjang hari tidak ada yang bisa diajak berbicara, pembantu dan pejaga villa tidak berbicara dengannya.


Hera melihat langit sudah mengelap, waktu magrib telah tiba, ia segera masuk ke dalam rumah. Ruang tengah rumah itu menampakan foto pernikahan, ia cukup mengenal sosok didalam foto tersebut. Kemudian ia beralih naik ke lantai dua menuju kamar dimana saat pertama dia terbangun tadi pagi. Kamar itu sangat bersih bercat warna putih tapi terlihat elegan.


Setelah isya, Hera makan malam dan memilih lekas istirahat, akhir-akhir ini ia sangat mudah mengantuk. Hera membaringkan dirinya diatas kasur didepannya tergantung foto besar seorang wanita dengan anak lelaki tersenyum riang. Lalu Hera pun menutup kelopak matanya.


Suara mobil memasuki garasi rumah. Lelaki yang masih berjas hitam itu keluar sambil membawa tas. Ia masuk ke dalam rumah dan menyapa pembatu yang telah menunggunya.


" Dimana dia bi?" tanya Dzikra.


"Non Hera sudah tidur sepertinya den Dzikra." ujar wanita yang sudah sepuh tersebuh.


" Oh baiklah, bibi sekarang boleh pulang, terima kasih bi!" ujar Dzikra sambil tersenyum.


Pembantu itu pun undur diri, sedangkan Dzikra menaiki tangga menuju kamar utama. Pintu kamar dibuka, senyumnya mengembang melihat sosok yang tengah tertidur pulas. Dzikra segera menyimpan tas kerjanya kemudian mandi.


Setalah selesai mandi, dia segera mengenakan piyamanya, dan beringsut ke atas ranjangnya, ia menatap Hera yang tertidur menyamping. Ia mengelus rambut Hera yang wangi jeruk. Dzikra pun menjatuhkan kecupan pada pipi isterinya. Lalu membaringkan diri dengan melingkari tubuh isterinya. Hera merasakan ada yang menyentuh tubuhnya ia membuka matanya, matanya melihat tangan kekar memeluknya, Hera mencoba menjauhkan tangan tersebut, tapi justru malah semakin erat pelukannya. Hera sangat kesal mencubit tangan tersebut.


"Awww.. Isteriku galak sekali!" ujar Dzikra sambil membalikan tubuh Hera menghadapnya.


Tatapan tajam dilayangkan ke Dzikra yang tengah tersenyum melihatnya.


"Kenapa membawaku kemari?" tanya Hera dingin.


"Memangnya kenapa? kamu isteriku itu hakku membawamu kemana pun!" ujar Dzikra sambil tersenyum miring.


"bukankah tempat ini bagus!" Lanjut Dzikra yang tidak dijawab oleh Hera.


"Jawab dong, suamimu lagi nanya, itu gak sopan!" ujar Dzikra datar.


"Iya, " jawab Hera malas.


"Tempat ini sangat sunyi, ayo kita buat baby!" ajak Dzikra mengoda Hera.


"Gak!"ujar Hera.


"Hey kau tidak boleh menolak ajakan suamimu!" ujar Dzikra.


Hera merasa kesal, ia membuka piyamanya dan melemparkan ke lantai. Dzikra seketika melonggo melihat Hera melepaskan pakaian yang dikenakannya hingga tidak berbusana, Hera bersembunyi dibalik selimut sampai lehernya, hati sejujurnya malu melakukan itu. Dzikra tersenyum dan tidak menunggu lama itu melaksanakan hajatnya.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2