
Sepanjang malam Hera tidak dapat tidur, ia membalik-balikan posisi, mencoba memejamkan matanya namun tidak berhasil membuatnya tertidur. Ia masih bingung untuk menghubungi keluarganya. Semuanya terasa terlalu cepat ia mengambil keputusan. Ia bangkit dari kasurnya, ia meraih ponselnya. Rupanya diponsel itu tertera nomor baru mengirimkan pesan kepadannya. Hatinya semakin terguncang.
Aku akan datang besok pagi ke rumahmu pukul 8.00 bersama keluargaku. Bersiaplah dengan segala kemungkinan besok yang akan terjadi.
Hera tahu ini pesan dari Dzikra, ia pun ingat belum memberikannya alamat rumahnya. Tangannya pun langsung mengetikkan alamat rumahnya dengan detail, pesan pun terkirim dan langsung dua garis centang biru. Tapi pesan itu tidak dibalas oleh Dzikra. Hera langsung menghela nafas.
*Ap*a yang kamu harapkan, tentu dia tidak akan membalasnya. Sebaiknya aku berkemas sekarang.
Hera langsung membuka lemarinya, memasukan beberapa pakaian ke tasnya, peralatan mandinya, dan membersihkan alat-alat memasak. Ia mencuci semua pakaian kotor kemudian menjemurnya ditengah malam itu. Hera masih belum bisa tidur meski sudah lelah badannya. Kemudian Hera pun mencari susu di rak makanannya. Dia memanaskan air dan menyeduh susu itu. Jam sudah menunjukkan pukul 13.00 Hera, perlahan merasa mengantuk, mungkin efek dari susu yang diminumnya. Hera bergegas pergi ke kasur. Ia pun terlelap dengan cepat.
****
Pagi itu pukul 5.00 Hera terbangun, dia hampir kesiangan segara ia pergi ke kamar mandi membasahi seluruh tubuhnya. Ia keluar dari Kamar mandi langsung meraih pakaian yang seadanya. Di mengambil ponselnya dan menghubungi orang tuanya.
Tut...tut...tut.. Telpon tersambung
" Assalamualaikum de, tumbenanan pagi-pagi udah telpon ibu". Suara merdu ibu Hera terdengar.
" Waalaikumusalam bu, hm.. Bu hari ini De mau pulang."
" Loh kenapa? De sakit? mau ibu jemput?"
" Tidak bu, ibu jangan kaget ya. em..."
" Kaget kenapa? ibu seneng de mau pulang, mau ibu siapin makanan apa?"
"Hari ini akan datang orang ke rumah, mau lamar dede. Ibu bisa menyiapkan jamuannya. Maafin ya bu De ngasih tau telat sama ibu."
"Alhamdulillah, ibu memang kaget de, kamu gak perlu minta maaf, ya sudah jam berapa mereka akan datang?"
__ADS_1
" Datang jam 8.00 pagi bu."
" Sepagi itu. Hmmm.. baiklah ibu mau ke pasar dulu, hati - hati dijalan ya. Assalamualaikum". Ibu menutup telpon lebih dulu karena kesenengan.
" Waalaikumusalam, iya bu."
Hera langsung melihat layar ponselnya dan menghubungi manajernya dia akan ijin tidak masuk selama satu hari.
****
Pukul 8.00 pagi.
Dua mobil mewah BMW memasuki pekarangan rumah bercat Oranye, Rumah yang sangat sederhana dipenuhi taman bunga dan tanaman sayuran terdapat beberapa pohon disamping rumah itu yang membuatnya ini terasa sejuk. Pemuda yang pakaian rapi lengkap dengan dasi dan sepatu mengkilap, kedua tongkat penyangga badanya dikenakannya, ia keluar dari mobil, aura ketampanannya semakin terpancar, sorot matanya yang tegas, hidung macung, garis muka tegas, badan tinggi dan dadanya bidang memancarkan kesempurnaan seorang pemuda dari kelas atas, ia berjalan mendekati pintu rumah diikuti rombongan yang lain. Di luar rumah itu tetangga hilir mudik melihat tamu yang datang ke rumah itu. Sang pemilik rumah tidak terkejut, langsung menyapa dengan senyuman.
"Mari masuk, maaf rumah kami kecil, kami tidak menyangka yang datang sebanyak ini." Ucap perempuan yang wajahnya tidak muda lagi tapi aura keibuannya terpampang jelas, disampingnya seorang lelaki tegas juga mengulurkan tangannya menyambut tamu dengan ramah.
Semua tamu memasuki rumah itu, duduk dengan rapih.Sang pemilik rumah langsung membawakan kudapan untuk disajikan kepada para tamu. Para tamu dipersilahkan untuk rehat terlebih dahulu dengan menyantam kudapan yang disajikan. Ayah Hera duduk dengan tegak, menunjukan wibawa yang seorang aya pancarkan, matanya tertuju kepada lelaki yang dihadapannya.
" HaHa tidak juga, kami menghabiskan waktu 3 jam mencari alamat ini, sepertinya cucu saya ini tidak pernah berkunjung kesini, Haha." Ucap kakek Dzikra mencairkan suasana yang canggung.
" Tidak apa-apa, memang anak kami tidak pernah membawa siapapun ke rumah, Haha."
" Pak, saya ini untuk pertama kalinya bertemu dengan bapak. Saya Dzikra, ini kakek saya, dan ini ibu saya, disana Kakak dan adik saya. Mohon maaf kedatangan kami kemari sangat dadakan sekali." Ucap Dzikra mulai membuka suara.
" oh walah, jadi ini Dzikra, apa nak Dzikra ini yang hendak melamar putri bapak? tanya ayah Hera.
" Betul sekali pak."
" Waduh, punya calon menantu seperti nak Dzikra saya merasa tersaingi, saya takut Hera jadi lupa sama ayahnya karena saking terpesona dengan nak Dzikra." Ucapan ayah Hera cukup mengundang gelak tawa seisi ruangan.
__ADS_1
" Bu, panggilkan Hera, kita tidak boleh membuat tamu menunggu lama." sambung ayah Hera.
Ibu Hera pun segera memasuki kamar Hera, dan menyungingkan senyuman kepada Hera. Ia sudah selesai merias wajahnya, tubuhnya dibalut kebaya berwarna merah, kerudungnya terjulur, kulit putih cantik berseri terpancar dibalik pakaian kebayanya, Hera semakin terlihat anggun dengan pakaian adat Sunda itu. Hera berjalan bersama ibunya keluar dari kamar. Semua mata memandang ke arah kedatangan Hera. Tidak terlewatkan Dzikra melihat Hera sedikit terperajat, karena tidak pernah melihatnya dirias. Hera berjalan duduk di samping ayahnya.
" Nah, Nak Dzikra ini anak perempuan satu-satunya dari bapak. Hera anak kedua, kakaknya sudah menikah, adiknya sedang kuliah, mereka tidak bisa hadir karena acara dadakan. Insya Allah nanti acara pernikahan nak Dzikra akan berjumoa dengan kakak dan adik Hera." Ucap ayah Hera dengan ramah.
" Iya pak, tidak apa-apa." melemparkan senyuman kepada ayah Hera.
Senyuman itu membuat Hera berdesir, betapa manisnya Dzikra saat ini. Kekaguman Hera ini membuat pipinya bersemu kemerahan. Semua yang melihat Hera tersenyum ingin mengodanya.
" Sepertinya Hera sudah tidak sabar, lihat pipinya merah " Ucap Alfarid, kakak tiri Dzikra.
Semua yang mendengar langsung melihat ke Hera, Dzikra pun melirikanya, semuanya semakin membuat malu Hera, ia tertunduk menahan malu. Semua yang melihatnya tergelak tertawa.
" Baiklah nak Dzikra, kita langsung to the poin ke intinya saja kalau begitu." Ucap ayah Dzikra.
"Iya, pak seperti yang sudah disampaikan Hera, saya bersama keluarga datang kemari untuk melamar Hera menjadi isteri saya. Oleh karena itu saya meminta izin kepada bapak untuk mengambil tanggungjawab terhadap Hera kepada saya."
" Baiklah, saya sebagai orang tua, Nak Dzikra secara pribadi tidak menolak lamaran ini. Tapi saya tetap harus bertanya pendapat Hera. De kamu mau tidak menikah dengan nak Dzikra?" tanya ayah Hera seraya melihat ke arah puterinya.
Hera yang dipanggil ayahnya, melihat ayahnya kemudian tertunduk dan menganggukan kepalanya dengan suara pelan menjawab.
" Iya ayah, Insya Allah de siap dan menerimanya."
"Alhamdulillah, nah nak Dzikra sudah mendegar sendiri jawabannya dari puteri bapak. Dia siap bersuamikan nak Dzikra. Jadi sekarang mari tentukan tanggal pernikahannya." Ucap ayah Hera.
Kakek Dzikra yang sedari tadi diam dan hanya menyaksikan itu angkat bicara.
"Kami sekeluarga sudah berdiskusi tentang hal ini, jika bapak tidak keberatan, kami ingin hari ini juga dilangsungkan pernikahan. Bapak dan ibu tidak perlu khawatir, kami siap menanggung biaya pernikahannya. Hari ini yang terpenting ijab qobul terlebih dahulu, besok resepsinya akan kamu gelarkan untuk putra putri kita ini. Bagaimana pak?"
__ADS_1
Ayah Hera melonggo mendengar ucapan tersebut, langsung menoleh kepada anak dan isterinya secara bergantian.
BERSAMBUNG....